Strategi Komunikasi Pada Pakaian Jokowi

Screen capture ulasan Strategi Komunikasi Jokowi Berpakaian yang dimuat di Kompas, 6 Mei 2018 di Halaman 2. Capture by me.

Ini adalah salah satu tulisan yang saya sukai. Saya garap bersama teman-teman saya Anita Yossihara dan Nina Susilo. Kelak saya ingin membuat riset mendalam soal ini. Selamat menikmati…(tulisan dibawah ini versi asli sebelum muncul di koran). Versi koran ada di screen capture.

Bukan sekali saja pakaian Presiden Joko Widodo menjadi pembicaraan publik. Dari sarung, sepatu, jaket jins, seragam militer, kaus oblong, hingga jaket Asian Games yang menjadi fenomena terbaru. Bukan tanpa sengaja, Presiden memang ingin menyampaikan pesan simbolik lewat pakaian yang dikenakannya. Lebih mudah diingat, tahan lama, dan minim risiko kesalahan.

Jaket Asian Games ke-18 yang dipakai Presiden pada hari Kamis (3/5/2018) dan Jumat (4/5/2018) lalu misalnya, mencuri perhatian banyak orang. Jaket itu dipakai ketika Presiden menemui 252 siswa berprestasi se-Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Jaket berwarna dasar hitam itu dihiasi motif logo Asian Games 2018 warna-warni. Sementraa bagian lengan jaket bertulisan Indonesia dengan corak logo Asian Games.

Jurnalis yang meliput acara penasaran, lalu menanyakan maksud Presiden mengenakan jaket tersebut. “Supaya bisa menjadi perhelatan besar dan rakyat juga merasa memiliki. Karena itu, semua saya ajak sama-sama mempromosikan bahwa negara kita tahun ini akan ada perhelatan besar Asian Games ke-18,” jawabnya.

Presiden balik bertanya, “Keren, nggak?,” ujarnya sambil berbalik menunjukkan lukisan di bagian belakang jaket yang menggambarkan atlet bermain basket, voli, angkat besi, tinju, dan anggar. Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi yang mendampingi Presiden terkejut. Dia tidak tahu asal muasal jaket itu.

Jas-seragam militer-kembali ke jaket

Pada hari yang sama, Presiden menerima kunjungan kenegaraan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah dan HM Duli Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Pada acara ini, Presiden Jokowi mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih, dasi merah, dan peci hitam. Pakaian senada dipakai tamunya, Sultan Bolkiah.

Saat pertemuan Sultan Bolkiah dilanjutkan di Markas Besar TNI di Cilangkap, Presiden berganti pakaian yaitu seragam militer. Pakaian doreng dengan kabaret hitam itu dipakai menyambut Sultan yang juga mengenakan baju militer. Kedua kepala negara hadir untuk melihat kemampuan prajurit TNI, senjata, dan kendaraan tempur buatan Indonesia. Acara ini bagian dari negosiasi penjualan senjata dan kendaraan tempur Indonesia ke Brunei.

Acara itu dilanjutkan dengan bermain badminton bersama di Gedung Olahraga Ahmad Yani yang berada di area Mabes TNI Cilangkap. Pada kegiatan itu, Presiden kembali mengenakan jaket Asian Games, sebelum main dengan kaus putih. Usai pertandingan, jaket Asian Games itu dipakai lagi. Presiden mengaku bangga dengan jaket yang dikenakannya.

Wajar saja jika jaket itu kembali dikenakan saat memimpin rapat terbatas tentang persiapan Asian Games 2018 di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (4/5) lalu. Jaket itu tidak hanya dikenakan saat memimpin rapat terbatas, tetapi juga saat memimpin ratas membahas peningkatan kerja sama dengan negara-negara kawasan Pasifik Selatan di hari yang sama.

Karya anak negeri

Deputi Protokol Pers dan Media Sektretariat Presiden Bey Mahmudin mengatakan Presiden Jokowi sengaja membeli jaket polos berwarna hitam agar bisa dilukis dengan logo Asian Games. “Jadi Presiden membeli jaket polos, kemudian meminta anak-anak muda untuk melukis di atas jaket,” tuturnya.

Sama seperti jaket jins bergambar peta Indonesia yang dikenakan Jokowi saat touring di Sukabumi, gambar pada jaket Asian Games juga dibuat oleh Muhammas Haudy, pendiri Never Too Lavis, sebuah kelompok pelaku industri kreatif di Tanah Air. Jaket bergambar ilustrasi berbagai cabang olahraga itu memang khusus dibuat untuk memromosikan perhelatan Asian Games 2018 yang dimulai 18 Agustus mendatang.

Presiden Jokowi seakan tak sabar ingin memromosikan Asian Games dengan caranya sendiri. Sebab hingga 100 hari menjelang pembukaan, gaung Asian Games belum begitu terdengar. Kurangnya promosi dan publikasi itulah yang dikeluhkan Jokowi sejak pertengahan April lalu.

Efektif

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai cara Presiden menyampaikan pesan lewat pakaian itu menarik. Secara psikilogis, ingatan visual masyarakat jauh lebih kuat daripada ingatan verbal. Bentuk visual juga dapat bertahan lebih lama daripada ingatan verbal. Visual, menurut Hamdi, lebih efektif mengggugah perasan sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, satu gambar berbicara ribuan kata.

“Sejauh yang sama amati, pesan visual Presiden berdampak positif. Target pengiriman pesan juga mengenai sasaran, terutama pada anak-anak muda,” kata Hamdi.

Pandangan serupa disampaikan Monica Kumalasari, praktisi pengamat gerak tubuh dan mikroekspresi. Mengutip teori Albert Mehrabian, psikolog Armenia keturunan Iran, yang berpendapat bahwa tanda-tanda visual memegang peranan penting dalam memberikan kesan yang ingin disampaikan seseorang. Penanda visual pengaruhnya lebih besar dari penanda verval dan suara dengan perbandingan 7-38-55 (verbal – voice – visual). Dalam strategi politik, bahasa non verval selain lebih lama diingat, juga memiliki risiko kesalahan kecil.

“Bahasa non verbal lebih aman digunakan dalam konteks komunikasi massa. Walaupun merupakan bahasa persepsi, namun ini lebih mudah dipahami dan berdampak bagi penerima pesan,” kata Monica.
Sementara komunikasi verbal berisiko pada munculnya perdebatan publik jika ada kesalahan dala materi maupun cara penyampaian. Pada dampak yang lebih serius, bahasa verbal bisa berujung pada perkara hukum.

Falsafah Jawa

Menurut Monica, Presiden memahami benar falsafah Jawa yang berbunyi ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono. Artinya, harga diri seseorang dinilai dari perkataannya, begitu pun juga penghormatan pada seseorang dilihat dari pakaian yang dikenakanya. Prinsip-prinsip inilah yang melandasi Presiden adaptif dengan aneka acara yang dihadiri lewat pakaian yang dikenakan.

Jaket bermotif Asian Games 2018 misalnya, itu adalah kritik agar promosi lebih gencar dilakukan. Hal ini senada dengan yang disampaikan Presiden sebelum mengenakan jaket itu. Menyadari dirinya dapat memberi pengaruh (influencer), maka Presiden mengenakan jaket itu.

Sementara seragam militer yang dipakai Presiden saat menerima Sultan Bolkiah dinilai sebagai upaya untuk membangun kedekatan. Caranya adalah membuat kesamaan busana dengan tema acara. Dengan cara ini, terbangun kesamaan di antara kedua kepala negara. Bila ini sudah sudah terbangun, maka negosiasi kerjasama akan lebih mulus dilakukan. Hasilnya, Brunei memastikan memberi senjata dan kendraan tempur buatan Indonesia.

Begitu pun saat Presiden menghadiri pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2018 di Jakarta, (19/4/2018). Presiden saat itu mengenakan jaket jins yang sedang banyak diperbincangkan setelah dipakai sebelumnya di Sukabumi. Baju itu sengaja dipakai untuk menarik perhatian generasi muda dengan cara menanamkan kebanggaan pada kreativitas produk lokal.

Masih segar diingatan pembaca bahwa Presiden pernah mengenakan kaus kuning saat berolahraga bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Bogor (24/3/2018). Presiden ingin menyampaikan, bahwa dirinya dekat dengan Golkar. Lebih dari itu, Presiden ingin mengatakan bahwa dia bagian keluarga besar Golkar, sama seperti warna dasar lambang partai itu. Benarkah demikian ? (NDY/INA/NTA)

Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

 

Tulisan ini saya buat saat meliput pertemuan  High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Selasa (1/5/2018). Hadir di pertemuan ini ulama dan cendekiawan muslim dari dalam dan luar negeri, salah satunya Imam Besar Al Azhar. Terbersit pada pikiran saya, mereka mewakili negara, yang sebagian masih dilanda konflik dan ketegangan. Bukan mereka yang tegang, melainkan posisi negara di mana tempat mereka berada. Sementara di Bogor, mereka disatukan dalam kenikmatan kuliner nusantara. Maka, lahirlah cerita ini…

Menu pembuka di untuk ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5).

Diplomasi

Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

Berkali-kali makanan Indonesia menjadi menu utama para tamu negara. Peristiwa ini kembali terjadi pada Selasa (1/5) siang, di meja makan sebuah restoran di area Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Menu itu dihadirkan untuk menghormati kedatangan delegasi konferensi wasatiyyat (jalan tengah) Islam bertajuk High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor.

Bagi yang pertama kali datang ke Indonesia, acara makan siang ini begitu berharga. Paling tidak, acara itu dapat menjadi pengantar mengenal negeri yang memiliki keragaman budaya begitu tinggi. Pengalaman mereka ini melengkapi perkenalan Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat pembukaan konferensi pada pagi harinya di Istana Bogor, sekitar 1 kilometer dari restoran.

Setelah salat dhuhur berjamaah, para tamu bergerak ke restoran itu dengan menggunakan Kebun Raya Bogor. Mereka melintasi lembah, hutan, dan sungai sebelum akhirnya tiba di restoran yang berada di ketinggian lereng tanah rerumputan. Pada tempat itulah mereka berkenalan dengan tahu goreng isi udang sebagai menu pembuka makan siang. Tahu tersebut tampil agak berbeda dengan isi sayur, garnis acar, dan saus sambel.

Pada menu utama, para tamu menikmati nasi goreng nanas, ayam taliwang, rendang, udang, telur asin, karedok, oseng-oseng, dan aneka macam sate. Di akhir santap siang, peserta konferensi menikmati es cendol, pisang goreng, dan buah potong. Sajian yang cocok kala Bogor diterangi terik matahari.

Suasana makan siang para ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5).

Menurut Kepala Biro Umum Sekretariat Presiden Darmastuti Nugroho, semua masakan itu disiapkan di tempat. Adapun pilihan menu itu sengaja dipilih masakan Indonesia untuk mengenalkan kuliner nusantara. Memang beberapa makanan itu mewakili daerah yang berbeda, misalnya karedok populer di Jawa Barat, rendang di masyarakat Sumatera Barat, dan ayam taliwang yang dikenal di Nusa Tenggara Barat. Jadi, kata Darmastuti, keragaman budaya itu dapat terlihat dapat dinikmati di meja makan.

Keragaman inilah yang dikenalkan Presiden Jokowi saat membuka konferensi. Di hadapan para tamu Presiden menyatakan, ”Dengan ini rakyat Indonesia ingin perkenalkan diri. Indonesia adalah negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Warga negara kami yang beragama Islam sekitar 210 juta dari total penduduk 260 juta. Ada 714 etnis, ada 1.100 bahasa lokal, dan mereka hidup tersebar di 17.000 pulau. Kami hidup dalam keberagaman suku, berbeda agama, dan beragam budaya.”

Bukti keragaman

Gambaran ini membutuhkan contoh nyata, yang kemudian ditemui tamu undangan kurang dari dua jam kemudian. Begitu tiba di restoran itu, mereka disambut 20 penari Sunda yang berjingkrak-jingkrak sambil diiringi musik calung, angklung, dan degung. Entah apa yang dipikirkan tamu udangan, sebagian melempar senyum melihat atraksi seni itu.

Sebagian yang lain melihat hamparan hutan Kebun Raya Bogor dari restoran. Sebelumnya, di tempat yang sama, Presiden pernah menjamu mantan Presiden AS Barack Obama dalam jamuan makan siang, 30 Juni 2017.

Dari lokasi itu, terlihat sungai jernih yang mengalir. “Ada yang bilang mirip gambaran surga seperti tertulis di Al Quran,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini. Helmy aktif mendampingi para tamu sejak awal acara pembukaan hingga selesai. Lantara merasa nyaman, sebagian tamu menambah menu yang disajikan. Suasana pertemuan pun menjadi cair.

Presiden Joko Widodo di antara para tamu undangan pertemuan High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Jawa Barat.

Masakan nusantara bukan saja mewakili budaya Indonesia di hadapan tamu asing, melainkan menjadi saksi pertemuan para pihak yang sering dianggap “berseberangan.” Siang itu, Helmy Faishal duduk di meja makan dengan Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar dan ulama dari Arab Saudi. Keduanya tidak lagi membicarakan paham yang barangkali mereka sering berbeda pandanga. Namun siang itu, mereka menghadapi kenikmatan yang sama, masakan nusantara.

“Enak sekali. Es cendolnya banyak yang suka. Tokoh Islam dari Mesir, Italia dan Amerika bertanya, saya jelaskan seperti seorang duta es cendol,” kata Helmy.

Barangkali pandangan Sam Chapple-Sokol, pemerhati kuliner lulusan Tufts University, Amerika Serikat dapat dijadikan rujukan. Dia menyakini bahwa kuliner dapat dipakai sebagai alat diplomasi seperti yang ditulis di situsnya culinarydiplomacy.com. Tidak hanya mengenalkan budaya sebuah bangsa, namun kuliner juga dapat dipakai sebagai sarana untuk mengurangi konflik kekerasan yang terjadi.(Andy Riza Hidayat)

Kendaraan Tempur dan Badminton

Foto Biro Pers Media dan Informasi, Setpres.
Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah mencoba kendaraan tempur di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5). Foto Biro Pers Media dan Informasi Setpres.

Kedatangan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah ke Indonesia membawa dua misi : memastikan pembelian kendaraan tempur dan bermain badminton. Misi itu tergambar pada pertemuan Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei di Istana Bogor, Jawa Barat hingga di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5/2018). Lalu, mana yang lebih penting, membeli kendaraan tempur atau main badminton ?

Mari merunut cerita dari awal. Presiden Jokowi ternyata sudah mengetahui jika Sultan Bolkiah gemar bermain badminton. Informasi itu diperoleh Presiden setelah mengonfirmasi langsung ke Sultan di berbagai pertemuan. Dalam sehari, kata Presiden, Sultan bisa main badminton tiga kali, sekali main bisa tiga set. Karena itu, Presiden mengundang Sultan untuk main badminton di Indonesia.

Barangkali belum lazim di mata dunia, jika kedua pemimpin negara bertetangga ketemu hanya untuk main badminton. Meskipun hal serupa beberapa kali dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mohamad Najib Razak, saat ke Indonesia dengan tujuan bermain golf, bukan kunjungan kenegaraan.

Walau undangan awal Presiden untuk main badminton, namun kunjungan Sultan Bolkiah ini berstatus kunjungam kenegaraan. Karenanya paket protokoler penyambutan pun dilakukan dengan standar kenegaraan, sejak upacara, dentuman meriam 21 kali, makan siang kenegaraan, hingga membicarakan kerjasama kedua negara.

Andy Riza Hidayat

Kamis sore, pertemuan Sultan dan Presiden berlanjut di Mabes TNI, di Cilangkap, Jakarta. Di tengah guyuran hujan, Sultan Bolkiah datang bersama putranya yaitu pangeran Abdul Mateen, dan petinggi kesultanan. Ribuan pasukam TNI sudah siap dengan atraksi seni, beladiri, menjinakkan binatang buas, penanganan aksi teror, hingga aksi melumpuhkan lawan dalam mata tertutup. Presiden dan Sultan yang sama-sama mengenakan seragam militer itu terlihat puas.

Tidak jauh dari lokasi acara, beragam jenis kendraan tempur dipamerkan di sana. Kendaraan tempur buatan PT Pindad itulah yang rencananya dibeli Sultan. Sepaket dengan itu, Sultan juga akan membeli beragam jenis senjata tempur. Wacana pembelian tersebut sudah muncul di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, butuh waktu dan perhitungan macam-macam hingga akhirnya dapat dipastikan (beli). Mungkin salah satunya dengan main badminton.

Foto BPMI Setpres

Pertarungan tiga set

Hari semakin petang dan hujan mulai reda. Keduanya melanjutkan perbincangan ke Gedung Olahraga Ahmad Yani di Cilangkap yang disulap menjadi lapangan badminton. Lantai lapangannya baru, begitu pun papan skor digital, dan perangkat pertandingan lain. Pihak protokol acara, menyediakan tenda khusus untuk ruang ganti Sultan dan Pangeran.

Sementara di lapangan sudah terlihat pemain senior Indonesia Alan Budi Kusuma dan isterinya Susi Susanti. bisa ditebak, keduanya akan menemani Sultan dan Pangeran Abdul Mateen bermain badminton. Alan dan Susi bukan orang lain lagi bagi Sultan dan keluarganya. Dua bintang Indonesia itu pernah diundang ke Brunei untuk bermain badminton bersama dengan Sultan dan keluarganya di tahun 1990 an, saat keduanya bersinar terang sebagai bintang badminton Indonesia.

Presiden Jokowi tiba lebih dahulu di dalam lapangan pertandingan. Presiden mulai pemanasan dengan Alan. Kurang dari sepuluh menit, Sultan dan Pangeran masuk lapangan dengan kaus dan celana olahraga yang diduga keras barang mahal untuk ukuran pegawai kantoran Jakarta.

Sultan tak banyak pemanasan, lalu segera dipandu wasit bermain ganda. Kali ini Sultan bermain melawan
Presiden berpasangan dengan Alan, sementara Sultan berpasangan dengan Hendry Syaputra, pelatih bulu tangkis. Pertandingan yang dimulai pukul 17.20 berlangsung seru. Sultan suka sekali bermain di depan net, dia jarang melakukan pukulan panjang. Sedangkan Presiden beberapa kali mencoba melakukan smesh keras.

Foto BPMI Setpres

Sempat tertinggal 16-20, pasangan Jokowi/Alan mengejar pasangan Sultan/Hendry hingga kedudukan 25-25 saat pukul 17.43. Pada saat itu, Presiden terlihat lelah, dia ingin istirahat di pinggir lapangan. Pada set berikutnya menggantikam Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto Wiranto masuk lapangan.

Sementara Sultan melanjutkan pertandingan dengan pasangan yang sama. Di set kedua, Sultan/Hendry menang 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Di set ketiga, Sultan berganti pasangan yaitu dengan Susi Susanti. Kali ini Sultan/Susi kembali menang dengan skor 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Susi yang sebelumnya di lapangan sebelah mendampingi Abdul Mateen tetap terlihat trengginas. Sisa-sisa keperkasaan peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992 itu terlihat jelas.

Sementara Alan saat ditanya mengapa tidak terlalu ngoyo, ia menjawab, “Saya menyesuaikan permainan Sultan dan Presiden saja,” kata Alan.

Lewat magrib, Presiden dan Sultan sepakat mengakhiri pertandingan badminton itu. Sultan dan Abdul Mateen sempat melambaikan tangan menyapa hadirin yang duduk di tribun penonton. Presiden pun puas, menurutnya pertandingan itu bentuk persahabatannya dengan Sultan. “Persahabatan antar negara tidak selalu dilakukan dalam sebuah forum yang formal saja. Ada yang namanya soft diplomasi,” kata Presiden.

Diplomasi itu bagian dari upaya Indonesia untuk memperlancar penjualan senjata dan kendaran tempur ke Brunei. Proses yang sudah berjalan bertahun-tahun itu baru dapat terealisir dengan acara bertajuk “main badminton.” Tidak kalah berjasa pada diplomasi ini adalah prajurit TNI yang unjuk kebolehan di tengah guyuran hujan. Dan yang boleh disebut, mereka yang telah memulai negosiasi penjualan senjata jauh sebelumnya hingga akhirnya dapat terwujud saat ini.(Andy Riza Hidayat)

Kebiasaan Baru Menteri Kabinet Kerja

Ada kebiasaan baru yang terlihat pada menteri Kabinet Kerja. Kebiasaan ini muncul pada saat mereka mengawali pidatonya di depan Presiden Joko Widodo. Sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat, kini sebagian menteri mulai terbiasa meneriakkan yel yel. Inilah ceritanya…

Yel Yel Penyemangat Acara

Banjar Baru, Kompas – Sebulan tetakhir, ada yang baru dalam kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Jika sebelumnya pidato-pidato menteri itu langsung disampaikan, kini tidak lagi Menteri memekikkan yel yel penyemangat. Warga yang menghadiri acara pun ikut tergerak, acara Presiden pun diawali dengan pekik yel yel.

Sejak dilantik sebagai Menteri Pendidikan 27 Juli 2016, tidak pernah terlihat oleh penulis meneriakkan yel-yel di acara resmi. Namun belakangan Muhadjir mulai menggunakan yel. Setelah melakukanya di sejumlah tempat sebelumnya, hari Senin (26/3) ini Muhadjir melakukannya di Lapangan DR Murjani, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Di depan hadirin penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan program sertifikasi guru, Muhadjir mengawali pidato seraya mengatakan kwinginanya untuk membuat acara lebih meriah. “Seperti tadi yang diajarkan Menteri Sosial Idrus Marham, mari kita teriakkan yel yel dulu,” pinta Muhadjir kepada hadirin.

Lalu Muhadjir menuntun hadirin sambil mengatakan, “Siapa kita ?” Hadirin menjawab, “Indonesia !” “Indonesia !” Jawabnya, “Sehat dan Kuat !” “Siapa Presiden Kita ?” Jawabnya, “Haji Jokowi !”
Presiden yang menyaksikan yel-yel iti tersenyum. Begitu pum Idrus Marham yang mengusulkan adamya yel.

Mihadjir juga melakukamnya di Gedung Olah Raga (GOR) Tri Dharma, Gresik, Jawa Timur pada 8 Maret 2018 lalu. Tidak hanya Muhadjir, beberapa menteri lain juga meneriakkan yel-yel serupa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukanya saat Presiden melakukan kunjungan di Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018.

Saat itu Darmin menyampaikan, “Siapkah kita menyampaikan ucapan selamat datang kepada bapak Presiden?” Hadirin menjawab, “Siap !” “Saya hitung satu, dua, tiga !” Semua yang hadir menjawab, “Selamat datang bapak Presiden dan Ibu Iriana !” Hadirin menyambungnya dengan tepuk tangan.

Kebiasaan baru ini, menurut berbagai sumber berita yang sering mengikuti kegiatan Presiden, diawali oleh Menteri Sosial Idrus Marham di Padang, 8 Februari 2018. Setelah itu, sejumlah menteri mulai melakukan yel yel saat mengawali pidatonya.(NDY)

Haul. ulama besar, yg sanfat sihormati. i8ta lihat kemarin brapa juta yang datang. empat tahun lalu saya pernah ke sekumpul. dan kemudian tadi malam saya ke sini lagi.

Kepala Kantor Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko enggan mengomentari bursa Cawapres yang sedang ramai dibicarakan. Menurut Moeldoko, dia tidak terlalu mengikuti bursa pencalonan itu. “Saya tidak tahu, tidak mikir. Saya masih konsentrasi dengan tugas saya,” kata Moeldoko.

Janji Jakarta untuk Papua

Satu lagi cerita tentang Papua, saat Presiden mengunjungi provinsi ini yang ketiga kalinya, di akhir tahun 2015 menuju 2016.

Aktivitas Presiden

Janji Jakarta untuk Papua

Kami tidak mengira, ribuan warga memadati jalanan di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu 12 Desember 2015, sore itu. Dari pandangan di atas udara, kami tidak melihat kerumunan orang sebanyak itu. Namun setibanya di Bandara Wamena, ribuan orang berlarian menyambut kedatangan Presiden Joko Widodo.

Mereka berduyun-duyun mengiringi kendaraan Presiden menuju Stadion Mini Pendidikan, markas klub sepakbola Persiwa Wamena. Sepanjang perjalanan dari bandara ke stadion sekitar 30 menit, warga tetap berjalan kaki dan setengah berlari mengiringi rombongan. Rupanya di stadion itu telah berkumpul sekitar 2.000 warga. Mereka menyiapkan acara bakar batu, acara yang digelar tidak hanya untuk menyambut kehadiran Presiden, melainkan juga merayakan peresmian operasional Terminal Bandara Wamena dan gedung dinas otonom yang menjadi gedung tertinggi di kota itu.

Kedatangan Presiden ke Wamena, merupakan kedua kalinya dalam satu tahun terakhir, setelah sebelumnya datang pada Senin, 29 Desember 2014. Presiden datang untuk memenuhi janjinya kepada warga yang disampaikan sebelumnya. “Wa wa wa wa wa wa,” Presiden Joko Widodo membuka pertemuan dengan salam khas warga Wamena siang itu.

Kedatangan Presiden ke Wamena itu merupakan pelunasan janji untuk mengubah pendekatan pemerintah pusat, yang bisa disebut sebagai Jakarta, terhadap Papua. Tahun sebelumnya, di tempat yang sama, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lenis Kogoya meminta agar pemerintah pusat mengubah pendekatan ke masyarakat Papua. Pemerintah pusat di Jakarta, kata lenis, jangan terus memerangi mereka yang terlibat gerakan separatis. Namun, Jakarta harus memberi peluang agar mereka ikut aktif dalam pembangunan di tanah Papua, Kompas 29 Desember 2014.

Lenis meminta Presiden agar pemerintah mengedepankan pendekatan budaya yang lebih lunak. Dengan pendekatan itu, maka Jakarta diharapkan dapat menggenjot ketinggalan infrastruktur Papua dengan daerah lain di Indonesia. Saat itu, Presiden mengaku siap mendengarkan suara masyarakat Papua. Bahkan beberapa bulan setelah peristiwa itu, Presiden mengangkat Lenis sebagai Staf Khusus Presiden dalam bidang Papua.

Presiden kembali mendatangi Papua Mei 2015. Ketika itu, Presiden memberikan grasi kepada lima narapidana politik di Papua dan Papua Barat. Pemberian grasi itu merupakan upaya sepenuh hati dan tulus dari Pemerintah Indonesia untuk memadamkan konflik yang selama ini terjadi di dua provinsi tersebut, Kompas 10 Mei 2015.

Langkah ini menjadi awal perubahan Jakarta memandang Papua. Lewat tender-tender proyek infrastruktur, pemerinah membuka peluang terlibatnya pengusaha asli Papua. Tujuannya agar uang tidak kembali ke luar provinsi itu, namun tetap beredar di Papua dan berdampak pada pergerakan ekonomi setempat.

Namun harapan tidak semulus yang terjadi lapangan. Pengerjaan proyek infrastruktur di Papua masih terganggu ancaman keamanan. Salah satunya dialami Malik Maulana, Manajer Operasional proyek jalan darat Nduga-Wamena sejauh 278 kilometer (km). Malik pernah disandera kelompok bersenjata, begitu pun tujuh rekannya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kelompok bersenjata meminta uang tebusan Rp 1 miliar jika Malik ingin dibebaskan.

Pemerintah sangat berkepentingan membangun jalan darat itu. Pembangunan jalan tersebut diharapkan membuka isolasi 11 kabupaten di pegunungan tengah Papua. Dampak yang diinginkan adalah turunnya harga-harga kebutuhan yang tinggi karena minimnya sarana perhubungan. Sejalan dengan itu, perekonomian rakyat Papua diharapkan bisa ikut bergerak. Presiden menargetkan tahun depan jalan itu dapat diresmikan penggunaannya. “Saya ingin mencoba melewatinya tahun depan,” kata Jokowi.

Tidak hanya gangguan kelompok bersenjata, tantangan percepatan pembangunan di Papua ada pada kelompok elit lokal. Menurut Lenis Kagoya, mereka tidak semua nya memiliki komitmen sama untuk mempercepat pembangunan di Papua. Hal ini dibuktikan dengan persoalan pengelolaan dana otonomi khusus Papua, yang jumlahnya meningkat di era Presiden Jokowi. Dia meminta, Kementerian Dalam Negeri mengambil langkah tegas kepada pejabat pemerintah lokal yang masih ‘malas’ mendukung percepatan pembangunan Papua.

Ubah haluan

Kunjungan Presiden ke Papua akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016 lalu, merupakan janji pusat untuk mengubah haluan pembangunan yang bersifat Indonesia sentris. Kunjungan ketiga dalam satu tahun itu, diawali di Merauke, Selasa (29/12). Di sana, Presiden meresmikan dimulainya pembangunan Monumen Kapsul Waktu 2015-2085 yang menyimpan 238 impian anak-anak Indonesia.

Keesokan harinya, Rabu (30/12), Presiden menuju Wamena dan bermalam di Lembah Baliem. Meski sempat diwarnai insiden padamnya aliran listrik, Presiden tidak merasa was was. Padahal malam itu, pasukan pengaman Presiden (Paspampres) langsung meningkatkan kewaspadaan saat listrik padam. Kecemasan adanya gangguan keamanan saat ‘gelap’ nyatanya tidak terjadi, hingga esoknya kami dapat menyaksikan segarnya udara pagi Wamena sebelum melanjutkan perjalanan ke Timika.

Di Timika Presiden langsung berganti moda helikopter menuju Kabupaten Nduga, wilayah yang masih berstatus rawan. Di daerah rawan itu, Presiden dan rombongan menghabiskan waktu sekitar 2 jam berdialog dengan warga berkeliling ‘Kota’ Kenyam. Di pengujung tahun 2015, setelah meresmikan Bandara Domine Eduard Osok di Sorong sore harinya, Presiden larut dalam pesta pergantian tahun di Pantai Wasai Torang Cinta, Raja Ampat. Pergantian tahun di pantai itu terasa berbeda, sorotan publik tidak lagi ke Jakarta, melainkan di Raja Ampat, Papua Barat.

Pendekatan ke Papua, kata Presiden, harus berubah. Mereka tidak bisa terus dimusuhi, melainkan dibuka peluang dialog. Papua, kata Presiden, juga perlu disentuh dengan pembangunan. Sebab persoalan inilah yang memicu harga semen, bahan bakar minyak, dan barang kebutuhan lain jauh lebih tinggi dari harga di Jawa.

Presiden puas melewati jadwal kunjungan yang padat dalam empat hari itu. Perjalanan yang ditempuh dengan moda angkutan darat, udara, dan laut tersebut terasa tepat momentumnya. Papua membutuhkan sentuhan.

Kedatangan Presiden tersebut tidak hanya diapresiasi Eti, pedagang sayur di Pasar Tradisional Kenyam, Kabupaten Nduga. Eti, seumur-umur belum pernah berinteraksi langsung dengan Presiden negeri ini. Dalam Bahasa Indonesia yang terbatas, Eti bangga kepala negara dapat melihat langsung kondisi pasar Kenyam.

Gubernur Papua Lukas Enembe pun mengapresiasi kedatangan Presiden itu. Kehadiran Presiden di wilayah rawan seperti Nduga telah menepis anggapan banyak orang tentang Papua. Papua, kadang tidak seperti yang disampaikan orang dari ‘luar sana.’ Jika mereka diajak bicara, mereka bisa menjadi sahabat baik. (Andy Riza Hidayat)

Nduga, Kabupaten yang Tak ”Semerah” Status Kerawanannya…

Foto ulasan saya yang dimuat di Kompas pada hari Senin 4 Januari 2016.

Ini adalah cerita tentang kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kabupaten Nduga, Papua, bulan Januari 2016. Nduga saat itu masih dinyatakan belum aman oleh Polri maupun TNI, sehingga Presiden pun tidak disarankan ke sana. Tetapi Presiden bergeming, dia tetap ingin melihat wilayah itu.

Sesampai di sana, di pusat ibu kota kabupaten, kami tidak menjumpai sepotong jalan beraspal. Pusat keramaian satu-satunya adalah pasar, yang ketika itu, tidak lebih dari 100 orang pedagang. Kota tak beraspal itu memang baru dibangun, kantor bupati juga baru berupa tembok yang belum jadi.

Iring-iringan Presiden seperti iring-iringan personel bersenjata dengan mobil kendaraan dobel kabin. Di belakangnya TNI bersenjata laras panjang yang siap ditarik pelatuknya jika terjadi gangguan keamanan. Beginilah ceritanya…

KUNJUNGAN PRESIDEN

Nduga, Kabupaten yang Tak ”Semerah” Status Kerawanannya…

Nduga adalah salah satu kabupaten di pesisir Provinsi Papua yang menghubungkan ke 11 kabupaten lainnya yang berada di pegunungan tengah Papua. Karena posisinya ini, Kabupaten Nduga sangat strategis untuk membuka keterisolasian kabupaten-kabupaten lainnya di Papua.

Meski demikian, kabupaten ini berstatus ”merah” karena sering muncul gangguan keamanan dari kelompok bersenjata di Papua.

Tak heran jika sesaat setelah Presiden Joko Widodo tiba di kota Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua, menjelang akhir tahun lalu, anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pun menanyakan siapa sosok berpakaian seperti warga biasa, dan bukan dinas, yang ikut mendampingi Presiden bersama Gubernur Papua Lukas Enembe dan Bupati Nduga Yarius Wijangge serta sejumlah menteri lainnya.

Kecurigaan Paspampres baru pupus setelah diketahui orang tersebut ternyata Malik, Manajer Pelaksana Proyek Jalan Darat Nduga-Wamena, yang bekerja pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Malik memimpin pengerjaan proyek jalan sepanjang 278 kilometer yang melintasi perbukitan dan hutan belukar. Pembangunannya juga melibatkan personel TNI yang juga ikut sekaligus membantu pengamanannya.

Malik mengaku memilih berpakaian biasa daripada harus berpakaian dinas sebagaimana layaknya pejabat di Kementerian PU dan Perumahan Rakyat karena status Nduga yang masih berstatus wilayah rawan akibat masih terjadinya gangguan keamanan. Maklum, Malik pernah disandera kelompok bersenjata dan harus dibebaskan setelah ditukar dengan uang tebusan senilai Rp 1 miliar.

”Saya berpakaian begini demi keamanan. Jika tidak menyamar, mereka bisa menculik saya lagi. Di sini masih belum aman, terutama bagi pelaksana proyek,” tutur Malik.

Bagi Malik, bekerja di daerah rawan memang penuh risiko. Apalagi akses transportasi masih terbatas. Demikian pula sarana pendukung lain yang masih minim, seperti listrik dan alat komunikasi. Padahal, kawasan Nduga masih berupa hutan, permukimannya pun masih jarang. Jarak tempuh ke pusat keramaian juga sangat jauh. Namun, Malik justru harus hadir untuk memimpin percepatan pengerjaan jalan penghubung antara Nduga ke Wamena dan kawasan pegunungan tengah Papua.

Akibat statusnya yang ”merah”, wajar jika dalam kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Nduga dijaga ketat polisi dan TNI. Didampingi Ibu Negara Ny Iriana Joko Widodo beserta dua anaknya, Kahiyang dan Kaesang, Presiden Jokowi mendarat dengan helikopter yang terbang dari Timika.

Penjagaan ketat

Kota Kenyam di Nduga tidak bisa disamakan dengan kota-kota pada umumnya di Pulau Jawa. Kenyam masih belum menjadi sebuah kota karena kawasan tersebut benar-benar baru dibangun menjadi kota. Sarana infrastruktur jalan dan jembatan serta fasilitas lainnya sama sekali belum memadai. Gedung-gedung pemerintahannya yang tengah dibangun terlihat masih belum siap ditempati.

Sesuai prosedur keamanan, kendaraan dobel gardan yang ditumpangi Presiden Jokowi pun dikawal tak hanya di bagian depan, tetapi juga di belakang. Meskipun tak ada anggota Paspampres bermotor di kiri kanan mobil Presiden, sebagai gantinya, sejumlah anggota Paspampres dan personel TNI lainnya berjaga-jaga di antara semak belukar, pepohonan, bangunan kosong, dan kerumunan warga. Sebagian aparat tambahan menggunakan seragam militer dengan posisi siap tembak.

Walaupun pengamanan terbuka dan tertutup sangat ketat, Presiden Jokowi terlihat santai. ”Saya yakin, seiring pembangunan di kawasan ini, kekerasan akan mereda. Model pendekatan ini bisa jadi solusi efektif meredakan kasus kekerasan yang kerap terjadi,” kata Presiden.

Presiden memiliki keyakinan, jika jalan darat dari Nduga-Wamena terbangun, mobilitas orang dan barang akan menjadi lancar. Harga BBM jenis premium Rp 50.000 per liter di Wamena diyakini dapat berkurang separuhnya jika jalan tersebut terwujud. Begitu pun barang-barang kebutuhan lain.

Menurut Lukas, wilayah ”merah” di Papua memang kerap tak seseram yang dibayangkan. Kuncinya, jika ada komunikasi dan itikad yang baik dengan tokoh dan warga setempat, gangguan keamanan yang dikhawatirkan tak akan terjadi. Presiden Joko Widodo sudah membuktikannya.

Menteri Luhut dan Tugas-Tugasnya

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan memberi penjelasan kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Jumat (23/3) lalu.

Kerja Kementerian

Menteri Luhut dan Tugas-Tugasnya

Jakarta, Kompas – Sebagian kalangan berpendapat, Presiden Joko Widodo beruntung mendapatkan Menteri Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut kerap menjadi orang paling galak dalam membela kepentingan pemerintah. Luhut juga memainkan peran dalam banyak hal, meski itu bukan bidang tugasnya sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman.

Namun tidak selamanya Luhut galak, seperti yang terjadi saat ini. Pria kelahiran 28 September 1947 ini sedang tidak mau ditanya di luar tugas-tugasnya. “Tanyalah apa saja terkait tugas saya. Jangan tanya hal lain di luar itu,” kata Luhut Pandjaitan saat berada di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/4).

Pernyataan ini disampaikan saat seorang jurnalis meminta tanggapan Luhut terkait pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengkritik elit politik nasional. Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan kekesalamnya pada elit Indonesia. “Terutama elite, kita terus terang saja minta ampun, deh. Gue sudah kapok sama elite Indonesia,” kata Prabowo di acara kampanye calon gubernur-wakil gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Depok, Minggu (1/4), sebagaimana dikutip harian Kompas, Senin (2/4).

Luhut tidak mau terpancing dengan pertanyaan tersebut. Dia meminta kepada wartawan yang menanyakan itu untuk mengkonfirmasi ke Prabowo saja. Jurnalis yang menanyakan itu tidak putus asa. Dia kembali bertanya, mengapa pada saat Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional Amien Rais, Luhut ikut berkomentar.

Luhut segera membantah, tidak ada pernyataannya menyangkut pernyataan Amien Rais. “Tidak pernah saya respon. Kapan saya respon. Kamu mulutnya jaga juga,” kata Luhut seraya menoleh ke wartawan yang bertanya. Saat ini, Menteri Luhut benar-benar tidak mau ditanya di luar pekerjaannya.

Mengapa Luhut menahan diri, tidak seperti biasanya “bermain lepas ?”. Salah seorang sumber Istana Kepresidenan berpendapat bahwa Luhut sebaiknya berbicara terkait tugasnya sebagai Menko Kemaritiman. Pertimbangannya, agar situasi politik tidak semakin gaduh.

Luhut Pandjaitan melayani berbagai pertanyaam dari wartawan di sisi timur Istana Negara, Jakarta, Senin (2/4). Pada kesempatan itu, Luhut menolak menjawab pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya.

Inisiatif

Namum dalam beberapa kali kesempatan, Luhut justru inisiatif melangkah di luar tugasnya. Saat tensi politik pemilihan kepala daerah DKI Jakarta akhir tahun 2017 lalu. Saat itu, Menteri Koordinator Kemaritiman bertemu Ma’ruf Amin di kediamannya Jalan Deli Lorong 27, Koja, Jakarta Utara, Rabu, 1 Februari 2017.

Pertemuan itu terjadi usai digelarnya sidang penodaan agama atas terdakwa Basuki Tjahaja Purnama. Luhut ingin meredakan situasi yang memanas karena persidangan itu.

Menurut Luhut, kunjungannya ke rumah Ma’ruf Amin itu atas inisiatif sendiri. Sementara Presiden Jokowi menanggapi biasa saja. Menurut Presiden, selama dilakukan untuk kepentingan negara, pertemuan seperti itu tidak ada persoalan.

Sementara pada bidang lain, Luhut juga aktif menyukseskan program prioritas pemerintah, salah satunya program pengampunan pajak atau tax amnesty. Luhut bergerilya lobi elit-elit partai agar mendukung program tersebut.

Langkah Luhut ini diceritakan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Mohamad Sohibul Iman pada akun twitternya @msi_sohibuliman, Senin (2/4). “Saat bang LBP (Luhut Binsar Pandjaitan) datang ke DPP PKS disertai bbrp ekonom hebat lulusan Amerika, saya sampaikan PKS tdk haramkan TA (tax amnesty) asal didahului Tax Reform (TR). Tp LBP keukeuh TA hrs skrng n TR nanti aja. Ya kami tolak,” tulis Sohibul.

Luhut juga ikut andil dalam membentuk Unit Kerja Presiden Bidang Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang kini berubah menjadi Badan Pemantapan Idiologi Pancasila (BPIP). Meski Menko Kemaritiman, Luhut menyampaikan penjelasan mengenai kelahiran lembaga itu.

Organisasi ini kira-kira hampir sama dengan organisasi Kepala Staf Kepresidenan. Yang memiliki kedudukan, hak keuangan, fasilitas, yang setara dengan Menteri Negara. Itu kira-kira sementara yang kita usulkan,” kata Luhut kepada wartawan usai di Kantor Presiden, Jakarta, Senin 19 Desember 2016.

Saat itu hadir Yudi Latif yang kini menjadi Kepala BPIP di Kantor Presiden. Yudi yang baru kali itu ikut diundang hadir pada rapat terbatas bersama Presiden, memberi penilaian atas peran Luhut. “Pak Luhut orangnya dominan, dia mengurusi banyak hal. Menteri yang lain sampai kurang terlihat perannya,” kata Yudi usai pertemuan.

Kini Luhut mengemban tugas baru, menjadi Ketua Panitia Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia. Atas tugasnya ini, dia melakukan lobi-lobi internasional di tingkat Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat. Salah satu tugasnya ke Eropa adalah membawa surat Presiden Joko Widodo ke Paus Fransiskus di Vatikan.

Tidak semua hal bisa saya sampaikan. Masa saya lapor ke kamu,” kata Luhut saat ditanya surat Presiden tersebut.

Sejak bergabung dalam Kabinet Kerja, sudah tiga kali Luhut pindah posisi. Sebelum menjadi Menko Kemaritiman, Luhut pernah menjabat Kepala Staf Kepresidenan dan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan. Di setiap posisi yang diembannya, Luhut kerap jadi sasaran pemberitaan jurnalis karena pernyataan dan langkah-langkahnya.(Andy Riza Hidayat)

Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Presiden menghadiri haul Guru Sekumpul di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3).

Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Sepeninggal Guru Sekumpul Agustus 2005, tidak hanya para muridnya yang kehilangan. Mereka yang pernah mendengarkan ceramahnya ikut bersedih. Sosok yang adem dalam berdakwah itu pergi saat dibutuhkan warga. Rasa kehilangan warga itu bagai sebuah sandaran yang tiba-tiba hilang, saat badan bertumpu padanya.

Salah satu cara terbaik mengenangnya adalah mengingat dan mengamalkan ajaran kebaikan Sang Guru yang bernama asli Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Tak terkecuali saat haul (peringatan hari kematian) ke-13 Guru di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3), acara ini dipakai untuk kembali mengingat ajarannya.

Tidak ada undangan resmi yang disampaikan keluarga pada khalayak umum. Namun jauh-jauh hari keluarga sudah merencanakan kegiatan ini digelar pada 25 Maret di Musala Ar Raudah, yang bersebelahan dengan makam Sang Guru. “Siapa pun yang datang, kami hormati sebagai tamunya abah (ayah). Kami hormati semampu kami,” kata Agus Syamsurijal (46), salah satu panitia acara
haul.

Menurut Agus, hampir semua unsur masyarakat terlibat di acara ini. Syaratnya mereka harus mau bekerja dengan ikhlas, mengorbankan waktu, tenaga, dan dana. Agus memperkirakan orang yang hadir di acara ini sekitar 1,2 juta jiwa. Hitungan ini didasakan pada kepadatan manusia yang tersebar hingga 2,5 kilometer dari titik acara.

Para tamu yang datang ke acara haul sudah tiba sejak tujuh hari sebelum puncak acara. Mereka menginap di rumah-rumah warga, hotel dengan berbagai kelas, serta tempat-tempat lain yang bisa dipakai untuk tinggal. Mereka tergerak datang meskipun bukan murid Guru Sekumpul. Sebagian memanfaatkannya sebagai ajang silaturahmi antar keluarga yang sama-sama terkesan dengan ajaran Guru.

Penglihatan Kompas di lokasi acara, antusiasme warga terlihat sejak lima kilometer dari titik acara. Mereka menyediakan makanan, minuman, jasa tambal ban, dan tempat untuk dipakai ibadah maupun istirahat. Semua diberikan gratis. Dalam catatan Agus, ada 43 dapur umum (yang terlapor), dan 99 posko dan tempat parkir, dengan melibatkan 10.000 relawan.

Sebelum pembacaan tahlil, panitia memutar ceramah Guru Sekumpul semasa masih hidup. Layar-layar ini terpasang di setiap jarak 500 meter. Bagi yang berada di rumah-rumah warga, rangkaian acara ini disiarkan langsung lewat televisi yang terhubung di rumah-rumah warga sekitar lokasi.

Guru Sekumpul merupakan tokoh agama yang populer di mata masyarakat Kalsel. Ajarannya disarikan dalam sepuluh wasiat Guru, antara lain menghormati ulama dan orang tua, berbaik sangka terhadap muslimin, bermurah harta, bermanis muka, tidak menyakiti orang lain, mengampuni kesalahan orang lain, tidak bermusuhan, tidak serakah, berpegang kepada Allah, dan yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Lantaran kesan yang dalam, Guru Sekumpul juga dikenal dalam sebutan
Abah Guru. Warga menganggap Zaini sebagai orang tuanya sendiri yang selalu menyampaikam masehat kebaikan pada anak-anaknya. “Karena ajaran beliau, keluarga kami bisa berkumpul saat ini. Kami ingin mengikuti haul meskipun bukan murid Abah Guru,” kata Abdurrahman (49) yang rumahnya disesaki saudara-saudaranya.

Berbeda dari sebelumnya

Tak dimungkiri, haul tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, untuk pertama kalinya, Presiden Joko Widodo menghadiri haul Guru. Namun di acara ini Presiden tidak menyampaikam sepatah kata pidato kepada semua hadirin. Panitia dan pihak Sekretariat Presiden menyepakati hal itu, merujuk pada wasiat Sang Guru yang tidak ingin tempatnya jadi tempat berpolitik.

Sama halnya dengan warga lain, Presiden hadir tanpa undangan. Pihak Sekretariat Presiden pun memahami wasiat Guru Sekumpul, sehingga tidak mempermasalahkan meski Presiden tidak berpidato. “Acaranya ya sesuai yang biasa digelar. Kami ikut saja kebiasaan yang sudah mereka jalankan,” kata Wawan Setiawan, Kepala Bidang Pers, Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Presiden tiba di lokasi acara pukul 17.45 waktu Indonesia tengah. Kedatangannya disambut massa yang memadati lokasi. Lantaran sesaknya warga di sekitar lokasi, Presiden memilih berjalan kaki sekitar 400 meter. Presiden hadir dengan mengenakan jas biru, baju putih, peci hitam, dan sarung biru. Mendampingi Presiden ke acara ini Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP.

Sesampainya di lokasi acara, Presiden menuju Musala Ar Raudah untuk mengikuti ibadah salat magrib dilanjutkan pembacaan tahlil (kalimat tauhid) hingga memasuki waktu salat isya. Presiden duduk bersila hikmat mengikuti acara hingga selesai. Sesuai kesepakatan awal, tak ada pidato dari Presiden. Di penghujung acara Presiden “hanya” bersalam-salaman dengan keluarga Guru, lalu meninggalkan lokasi acara.(Andy Riza Hidayat)

Tak Lelah Menjaga Pintu Istana

Ini bukan cerita tentang satpam. Tetapi cerita tentang mereka yang tidak mengabarkan berita dari lingkungan Istana. Kata orang, wartawan yang liputan di sana “wah”. Setelah saya alami sejak Desember 2014, tidak sepenuhnya benar.

Memang bisa disebut wah karena bertemu dengan narasumber penting. Namun soal tantangan dan kesulitan bekerja di ring 1, tidak kalah dengan medan liputan di tempat lain. Hanya bentuk tantangannya yang berbeda bro.

Kami kadang kehujanan bahan berita, karena saking banyaknya bahan yang harus kami buat, untuk makan pun sering telat.

Novel dan Cairan Keras

Novel dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?