Kendaraan Tempur dan Badminton

Foto Biro Pers Media dan Informasi, Setpres.
Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah mencoba kendaraan tempur di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5). Foto Biro Pers Media dan Informasi Setpres.

Kedatangan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah ke Indonesia membawa dua misi : memastikan pembelian kendaraan tempur dan bermain badminton. Misi itu tergambar pada pertemuan Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei di Istana Bogor, Jawa Barat hingga di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5/2018). Lalu, mana yang lebih penting, membeli kendaraan tempur atau main badminton ?

Mari merunut cerita dari awal. Presiden Jokowi ternyata sudah mengetahui jika Sultan Bolkiah gemar bermain badminton. Informasi itu diperoleh Presiden setelah mengonfirmasi langsung ke Sultan di berbagai pertemuan. Dalam sehari, kata Presiden, Sultan bisa main badminton tiga kali, sekali main bisa tiga set. Karena itu, Presiden mengundang Sultan untuk main badminton di Indonesia.

Barangkali belum lazim di mata dunia, jika kedua pemimpin negara bertetangga ketemu hanya untuk main badminton. Meskipun hal serupa beberapa kali dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mohamad Najib Razak, saat ke Indonesia dengan tujuan bermain golf, bukan kunjungan kenegaraan.

Walau undangan awal Presiden untuk main badminton, namun kunjungan Sultan Bolkiah ini berstatus kunjungam kenegaraan. Karenanya paket protokoler penyambutan pun dilakukan dengan standar kenegaraan, sejak upacara, dentuman meriam 21 kali, makan siang kenegaraan, hingga membicarakan kerjasama kedua negara.

Andy Riza Hidayat

Kamis sore, pertemuan Sultan dan Presiden berlanjut di Mabes TNI, di Cilangkap, Jakarta. Di tengah guyuran hujan, Sultan Bolkiah datang bersama putranya yaitu pangeran Abdul Mateen, dan petinggi kesultanan. Ribuan pasukam TNI sudah siap dengan atraksi seni, beladiri, menjinakkan binatang buas, penanganan aksi teror, hingga aksi melumpuhkan lawan dalam mata tertutup. Presiden dan Sultan yang sama-sama mengenakan seragam militer itu terlihat puas.

Tidak jauh dari lokasi acara, beragam jenis kendraan tempur dipamerkan di sana. Kendaraan tempur buatan PT Pindad itulah yang rencananya dibeli Sultan. Sepaket dengan itu, Sultan juga akan membeli beragam jenis senjata tempur. Wacana pembelian tersebut sudah muncul di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, butuh waktu dan perhitungan macam-macam hingga akhirnya dapat dipastikan (beli). Mungkin salah satunya dengan main badminton.

Foto BPMI Setpres

Pertarungan tiga set

Hari semakin petang dan hujan mulai reda. Keduanya melanjutkan perbincangan ke Gedung Olahraga Ahmad Yani di Cilangkap yang disulap menjadi lapangan badminton. Lantai lapangannya baru, begitu pun papan skor digital, dan perangkat pertandingan lain. Pihak protokol acara, menyediakan tenda khusus untuk ruang ganti Sultan dan Pangeran.

Sementara di lapangan sudah terlihat pemain senior Indonesia Alan Budi Kusuma dan isterinya Susi Susanti. bisa ditebak, keduanya akan menemani Sultan dan Pangeran Abdul Mateen bermain badminton. Alan dan Susi bukan orang lain lagi bagi Sultan dan keluarganya. Dua bintang Indonesia itu pernah diundang ke Brunei untuk bermain badminton bersama dengan Sultan dan keluarganya di tahun 1990 an, saat keduanya bersinar terang sebagai bintang badminton Indonesia.

Presiden Jokowi tiba lebih dahulu di dalam lapangan pertandingan. Presiden mulai pemanasan dengan Alan. Kurang dari sepuluh menit, Sultan dan Pangeran masuk lapangan dengan kaus dan celana olahraga yang diduga keras barang mahal untuk ukuran pegawai kantoran Jakarta.

Sultan tak banyak pemanasan, lalu segera dipandu wasit bermain ganda. Kali ini Sultan bermain melawan
Presiden berpasangan dengan Alan, sementara Sultan berpasangan dengan Hendry Syaputra, pelatih bulu tangkis. Pertandingan yang dimulai pukul 17.20 berlangsung seru. Sultan suka sekali bermain di depan net, dia jarang melakukan pukulan panjang. Sedangkan Presiden beberapa kali mencoba melakukan smesh keras.

Foto BPMI Setpres

Sempat tertinggal 16-20, pasangan Jokowi/Alan mengejar pasangan Sultan/Hendry hingga kedudukan 25-25 saat pukul 17.43. Pada saat itu, Presiden terlihat lelah, dia ingin istirahat di pinggir lapangan. Pada set berikutnya menggantikam Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto Wiranto masuk lapangan.

Sementara Sultan melanjutkan pertandingan dengan pasangan yang sama. Di set kedua, Sultan/Hendry menang 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Di set ketiga, Sultan berganti pasangan yaitu dengan Susi Susanti. Kali ini Sultan/Susi kembali menang dengan skor 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Susi yang sebelumnya di lapangan sebelah mendampingi Abdul Mateen tetap terlihat trengginas. Sisa-sisa keperkasaan peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992 itu terlihat jelas.

Sementara Alan saat ditanya mengapa tidak terlalu ngoyo, ia menjawab, “Saya menyesuaikan permainan Sultan dan Presiden saja,” kata Alan.

Lewat magrib, Presiden dan Sultan sepakat mengakhiri pertandingan badminton itu. Sultan dan Abdul Mateen sempat melambaikan tangan menyapa hadirin yang duduk di tribun penonton. Presiden pun puas, menurutnya pertandingan itu bentuk persahabatannya dengan Sultan. “Persahabatan antar negara tidak selalu dilakukan dalam sebuah forum yang formal saja. Ada yang namanya soft diplomasi,” kata Presiden.

Diplomasi itu bagian dari upaya Indonesia untuk memperlancar penjualan senjata dan kendaran tempur ke Brunei. Proses yang sudah berjalan bertahun-tahun itu baru dapat terealisir dengan acara bertajuk “main badminton.” Tidak kalah berjasa pada diplomasi ini adalah prajurit TNI yang unjuk kebolehan di tengah guyuran hujan. Dan yang boleh disebut, mereka yang telah memulai negosiasi penjualan senjata jauh sebelumnya hingga akhirnya dapat terwujud saat ini.(Andy Riza Hidayat)

Kebiasaan Baru Menteri Kabinet Kerja

Ada kebiasaan baru yang terlihat pada menteri Kabinet Kerja. Kebiasaan ini muncul pada saat mereka mengawali pidatonya di depan Presiden Joko Widodo. Sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat, kini sebagian menteri mulai terbiasa meneriakkan yel yel. Inilah ceritanya…

Yel Yel Penyemangat Acara

Banjar Baru, Kompas – Sebulan tetakhir, ada yang baru dalam kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Jika sebelumnya pidato-pidato menteri itu langsung disampaikan, kini tidak lagi Menteri memekikkan yel yel penyemangat. Warga yang menghadiri acara pun ikut tergerak, acara Presiden pun diawali dengan pekik yel yel.

Sejak dilantik sebagai Menteri Pendidikan 27 Juli 2016, tidak pernah terlihat oleh penulis meneriakkan yel-yel di acara resmi. Namun belakangan Muhadjir mulai menggunakan yel. Setelah melakukanya di sejumlah tempat sebelumnya, hari Senin (26/3) ini Muhadjir melakukannya di Lapangan DR Murjani, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Di depan hadirin penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan program sertifikasi guru, Muhadjir mengawali pidato seraya mengatakan kwinginanya untuk membuat acara lebih meriah. “Seperti tadi yang diajarkan Menteri Sosial Idrus Marham, mari kita teriakkan yel yel dulu,” pinta Muhadjir kepada hadirin.

Lalu Muhadjir menuntun hadirin sambil mengatakan, “Siapa kita ?” Hadirin menjawab, “Indonesia !” “Indonesia !” Jawabnya, “Sehat dan Kuat !” “Siapa Presiden Kita ?” Jawabnya, “Haji Jokowi !”
Presiden yang menyaksikan yel-yel iti tersenyum. Begitu pum Idrus Marham yang mengusulkan adamya yel.

Mihadjir juga melakukamnya di Gedung Olah Raga (GOR) Tri Dharma, Gresik, Jawa Timur pada 8 Maret 2018 lalu. Tidak hanya Muhadjir, beberapa menteri lain juga meneriakkan yel-yel serupa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukanya saat Presiden melakukan kunjungan di Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018.

Saat itu Darmin menyampaikan, “Siapkah kita menyampaikan ucapan selamat datang kepada bapak Presiden?” Hadirin menjawab, “Siap !” “Saya hitung satu, dua, tiga !” Semua yang hadir menjawab, “Selamat datang bapak Presiden dan Ibu Iriana !” Hadirin menyambungnya dengan tepuk tangan.

Kebiasaan baru ini, menurut berbagai sumber berita yang sering mengikuti kegiatan Presiden, diawali oleh Menteri Sosial Idrus Marham di Padang, 8 Februari 2018. Setelah itu, sejumlah menteri mulai melakukan yel yel saat mengawali pidatonya.(NDY)

Haul. ulama besar, yg sanfat sihormati. i8ta lihat kemarin brapa juta yang datang. empat tahun lalu saya pernah ke sekumpul. dan kemudian tadi malam saya ke sini lagi.

Kepala Kantor Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko enggan mengomentari bursa Cawapres yang sedang ramai dibicarakan. Menurut Moeldoko, dia tidak terlalu mengikuti bursa pencalonan itu. “Saya tidak tahu, tidak mikir. Saya masih konsentrasi dengan tugas saya,” kata Moeldoko.

Mereka Membuat Gagap Pengambil Keputusan

trio copy

Caption foto : Dari kiri Travis Kalanick pendiri Uber, Nadiem Makarim pendiri Go-Jek, dan Anthony Tan pendiri Grab. Foto diambil dari www.e.27.co, www.iese.id, dan www.iava.org.

Sampai hari ini, Kamis (24/3) saya belum bisa menerima, kekerasan yang terjadi di Jakarta, Selasa (22/3) lalu. Kekerasan itu begitu massif, para sopir angkutan konvensional berhadap-hadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Sesama sopir angkutan pun terlibat konflik. Sementara penumpang terlantar dan tercekam rasa takut.

Siang itu, banyak sopir marah karena penghasilannya “terampas” kehadiran angkutan berbasis aplikasi. Mereka menggalang solidaritas untuk mogok, yang tidak mogok dihajar, mobilnya dirusak. Sementara saat berhadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi, mereka terlibat tawuran, saling kejar. Lalu, siapa yang salah ?

Tulisan ini tidak ingin mencari kesalahan siapa, namun ingin membawa kesadaran kita bahwa perubahan sedang terjadi begitu cepat dan dinamis. Perubahan ini yang ternyata lambat dipahami oleh banyak orang, dalam kasus ini adalah perusahaan transportasi dan pemerintah.

Penumpang angkutan mana yang tidak tergiur layanan yang nyaman, ada kepastian harga, dan murah. Ketika ada layanan ojek yang menawarkan jasa tanpa harus adu mulut soal harga lebih dulu, orang mulai berlari memilihnya. Begitu pun ketika hadir angkutan mobil dengan layanan seperti sopir pribadi, bahkan seperti memiliki mobil sendiri dengan tarif jauh di bawah tarif umum taksi, siapa yang tidak tertarik.

Bukankah mereka menerabas aturan yang sudah lama ada ? Pertanyaan ini bisa berbuntut diskusi panjang, tetapi ada hal lain yang patut dicermati. Regulasi, apapun itu, termasuk di sektor transportasi, yang membuat adalah manusia, yang menggunakan manusia, apakah tidak mungkin diubah sejalan dengan kompleksitas perubahan zaman. Saya lebih tertarik ketika ide-ide baru muncul dalam ekonomi yang disebut akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali, sebagai eranya sharing economy.

Dengan menerapkan sharing economy maka banyak hal menjadi murah. Tidak perlu ada korporasi besar, tempat parkir kendaraan, koordinator timer, atau segala perangkat lain yang ujungnya menambah biaya operasional. Karena kendaraan milik orang per orang, dapat diparkir di rumahnya sendiri, tanpa ada biaya operasional lain, cukup dengan panduan teknologi digital, angkutan penumpang berbasis aplikasi dapat beroperasi.

Bagaimana dengan legalitas mereka ? Ini yang harus diantisipasi pemerintah. Ketika konsumen membutuhkan, maka pemerintah harus mewadahinya. Usaha ini bisa jadi akan terus menjamur, tidak hanya di sektor transportasi, di dunia perhotelan mulai muncul airBnB.com yakni bisnis kamar rumah bagi para pelancong. Model bisnis ini menarik pagi pelancong yang ingin bepergian ke tempat negara-negara mahal, karena harga kamar yang ditawarkan airBnB.com bisa lebih murah.

Di sektor perdagangan, sudah lama menjamur toko online (dalam jaringan). Fenomena ini memanjakan pembelanja tanpa harus keluar rumah dengan memilih banyak penyedia barang. Lalu, apakah mereka perlu ditutup dan diprotes karena menerabas banyak aturan ? Mereka nyata-nyata tidak bayar izin usaha perdagangan seperti tempat dagang lain di pusar perdagangan konvensional.

Semoga demonstrasi para sopir tidak dilanjutkan unjuk rasa pemilik hotel dan pemilik pertokoan modern. Sebelum itu terjadi, sebaiknya merenung sebentar, apa yang sesungguhnya terjadi saat ini.

Siapa mereka ?

“Biang kerok” dari semua ini adalah anak-anak muda yang penuh kreativitas. Pembawa perubahan yang tak henti-hentinya berinovasi mencari peluang dengan bantuan teknologi digital. Dunia bisnis seakan tak berbatas di mata mereka, aktivitas dagang tidak mengenal waktu, birokrasi yang ribet mereka lipat seakan tak ada penghalang, maka wajar jika ada yang mengatakan mereka telah menerabas tatanan yang sudah lama ada.

Adalah Travis Cordell Kalanick pria Amerika Serikat kelahiran 6 Agustus pendiri Uber di San Fransisco. Pada awalnya Kalanick ingin memudahkan pengguna angkutan mencari kendaraan yang ditumpanginya tanpa harus capek-capek keluar rumah dan berdiri di tepi jalan. Kalanick, mendirikan Uber tahun 2009 untuk memediasi para pemilik kendaraan dengan penumpangnya.

Pria berusia 39 tahun ini pada tahun 2014 oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 290 dari 400 orang kaya yang terdata. Ketika itu, nilai kekayaannya mencapai 6 miliar Dollar AS dan kini semakin bertambah seiring meluasnya Uber di berbagai kota di dunia, termasuk Jakarta dan Denpasar. Tidak hanya di Jakarta, Uber juga dikecam di negara-negara Eropa bahkan di kota kelahirannya sendiri San Fransisco.

Salah satu pernyataan Kalanick tentang bisnisnya adalah “Saya sangat fokus, pro-efisiensi, dan ingin kegiatan ekonomi berjalan dengan harga serendah mungkin. Ini baik untuk semua orang, itu bukan persoalan merah atau biru,” seperti dikutip www.businessinsider.co.id.

Konsep ini yang kemudian menular hingga lahir Go-Jek Indonesia pada bulan Maret 2014. Go-Jek didirikan Nadiem Makarim, warga Indonesia yang lahir di Singapura 4 Juli 1984. Sama halnya dengan Kalanick Go-Jek mengidentifikasi dirinya sebagai perusahaan teknologi, bukan perusahaan penyedia jasa. Kehadirannya di ibu Kota sempat dikecam, beredar larangan naik Go-Jek di perumahan-perumahan warga. Kini pengemudinya makin banyak, jika tidak salah lebih dari 200.000 orang. Tidak hanya mengantar orang, Go-Jek juga menyediakan jasa pesan antar, pijat, dan belanja lewat teknologi digital.

Serupa dengan Grab, perusahaan ini didirikan teman se kampus Nadiem, yaitu Antony Tan. Pria Malaysia berumur 35 tahun ini melebarkan jaringan bisnis di sejumlah negara Asia Tenggara. Di Jakarta, nasib pengemudi Grab serupa dengan pengemudi Go-Jek sempat mengalami ancaman di banyak tempat.

Sampai hari ini, pemerintah belum mengakui legalitas Uber, Go-Jek, maupun Grab. Hanya saja, pemerintah membiarkan mereka beroperasi karena, belum menemukan cara yang tepat memperlakukannya. Rapat terakhir di Kantor Kementerian Koordinator Politik dan Hukum, Rabu (23/3) belum menghasilkan keputusan kongkret.

Sejalan dengan dinamisnya perubahan dan perkembangan zaman, sebaiknya sama-sama tanggap dengan itu semua. Semoga mereka yang punya kuasa, tidak bingung lagi dengan kreativitas baru yang akan hadir nanti.

(Andy Riza, Jurnalis)

 

Wawancara Narasumber “Bisu”

wawancara foto

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo dalam sebuah diskusi menanyakan kepada kami para jurnalis, apa yang kalian lakukan jika narasumbermu seorang yang bisu. Memaksanya bicara tidak mungkin, mempersilahkan menggunakan bahasa isyarat boleh jadi bisa. Tetapi seberapa banyak dan mendalam informasi yang bisa digali dengan mengandalkan cara-cara biasa ?

Menurut saya, pertanyaan tersebut mengandung kritik pada sebagian jurnalis yang terlalu mengandalkan omongan narasumber. Bahwa yang disampaikan narasumber merupakan satu-satunya bahan membuat berita. Kebiasaan kerja seperti ini disebut Budiman sebagai jurnalisme ‘katanya.’ Dengan kata lain, tanpa pernyataan narasumber, maka sebagian jurnalis bakal kelimpungan membuat berita. Jurnalisme katanya ini yang kemudian menyederhanakan penggalian berita, seolah-olah, hanya dari mulut narasumber lah berita keluar. Padahal tidak demikian seharusnya.

Selama menjalankan tugas liputan, jurnalis selalu dituntut kreatif. Jika hanya mengandalkan pernyataan narasumber, maka tidak bakal bunyi bahan berita yang disusun. Bahkan juga tidak akan menemukan konteks pernyataan narasumber. Beberapa menteri, bahkan Presiden Joko Widodo sendiri jarang sekali memberi pernyataan panjang lebar. Begitu pun bagi rekan-rekan jurnalis yang meliput di bidang kriminal, kemampuan menggali berita selain dari yang disampaikan narasumber menjadi sebuah tuntutan.

Tidak hanya pejabat negara, pernyataan polisi, atau tersangka kasus kriminal misalnya, kerap tak memuaskan. Lewat petunjuk yang secuil itu jurnalis harus bergerak, mengembangkan kemampuannya menggali informasi.

Cara yang sering diajarkan para mentor adalah mengasah kemampuan deskriptif ; situasi yang sedang terjadi, mengamati pakaian narasumber, mimik wajah, intonasi suara, perhiasan yang dipakai, tinggi badan, orang yang ada di sekitarnya, atau deskripsi lain yang banyak sekali ragamnya. Tidak kalah penting dengan itu, mengulas sebuah berita perlu membiasakan dengan riset literatur tentang persoalan yang diulas. Ternyata ada lagi yang lain…

Ekspresi mikro

Di sini, saya ingin bicara salah satu pendekatan kreatif yang lebih spesifik. Sejak pertengahan tahun 2015 lalu, saya mulai menggunakan teori ekspresi mikro (micro expression) sebagai salah satu cara mengulas persoalan di media tempat saya bekerja. Pendekatan itu membantu saya menganalisa yang kira-kira terjadi pada narasumber yang saya ulas. Hasilnya, tanpa harus menanyakan banyak hal pada narasumber, saya bisa mendapatkan banyak hal.

Analisa ini dipopulerkan peneliti Paul Ekman dan Wallace V Friesen tahun 1970 an. Para peneliti itu menyebutkan ada tujuh tanda emosi universal antara lain kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Emosi ini spontan muncul tanpa bisa dikontrol dan disadari. Tanda-tanda ini, oleh para peneliti dapat dilihat dari raut muka dan gerak tubuh narasumber yang akan diulas.

Melalui pisau analisa itu, saya mencoba menggunakan teori ekspresi mikro lewat bantuan praktisi Handoko Gani, analis kebohongan lulusan University of Central Lancashire, Manchester, Inggris. Melalui Handoko, saya menganalisa kegaduhan politik nasional di akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015 lalu. Kegaduhan politik terjadi ketika Presiden Joko Widodo mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Namun, tanpa diduga, tiga hari pasca pencalonan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Budi sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi.

Ketegangan antara KPK dan Polri memuncak. Presiden diminta ketegasannya mengambil sikap. Tetapi tidak banyak pernyataan yang muncul dari mulut Presiden. Publik hanya dapat sepenggal pernyataan tanpa mengerti hal apa yang sebenarnya terjadi pada Presiden. Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi pada Persiden ? Ini yang harus dikejar.

Analisa kami fokuskan pada peristiwa yang terjadi pada rentang waktu 23-29 Januari. Kami sama-sama melihat rekaman video yang terjadi hari Jumat (16/1), saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan Budi. Ketika itu alis mata Presiden turun, sorot mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, dan kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu. Hipotesa Handoko menyebutkan Presiden sedang marah pada situasi yang berlangsung.

Jumat (23/1), Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang jumpa pers, alis Jokowi dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik. Baru pada hari Kamis (29/1), di Istana Bogor, saat Presiden bertemu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto, kemarahan itu mulai reda.

Pisau analisa serupa juga saya pakai ketika melihat “kejujuran” Presiden saat bertemu rakyat biasa dan kalangan elit. Ternyata Presiden lebih jujur bersikap ketika bertemu dengan orang-orang biasa. Hal itu terihat dari ekspresi mikro di raut muka, senyum, dan sorot matanya. Peristiwa ini saya ulas dalam harian Kompas terbitan edisi, Sabtu 19 September 2015 dengan judul, “Presiden Saat dengan Elite dan Rakyat.”

Hal serupa saya manfaatkan ketika mengulas skandal Freeport yang melibatkan nama-nama penting. Ketika itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia merekam pembicaraan antara dirinya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha Muhammad Riza Chalid. Masih dibiantu Handoko Gani, saya mengulas ekspresi muka nama-nama yang dominan disebut dalam rekaman suara itu. Hasil ulasan ini termuat di harian Kompas, 7 Desember 2015 dengan judul, “Ekspresi Mereka yang Ada dalam Rekaman.”

Salah satu bahan yang perlu disiapkan untuk membuat analisa seperti ini adalah rekaman video. Lewat video tersebut, gerakan kecil dapat dilihat berulang-ulang lalu mencocokkan dengan teori yang dipakai. Gerakan kecil yang terjadi dalam hitungan detik sangat menentukan sebuah hipotesa, seperti ketika Handoko menyampaikan hipotesanya terhadap tersangka pembunuh Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso. Jessica tertangkap kamera tersenyum, senyum kemenangan usai peristiwa itu. Hipotesa ini bukan kesimpulan, namun dapat menjadi pertimbangan penyidik menelusuri jejak pelaku.

Jadi, jika anda sedang melakukan wawancara dengan narasumber bisu sekali pun, tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan. Masih banyak hal yang bisa anda lakukan. (Andy Riza, jurnalis)

Peristiwa di Minggu Pagi

Peristiwa di Minggu Pagi

Drama pagi itu, 7 Februari 2016, dimulai sesaat sebelum subuh, sekitar pukul 04.30. Setelah azan, saya putuskan ke rumah sakit di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Ketika itu, istri saya merasakan perutnya semakin kencang, kontraksi sudah beraturan, dan tandanya harus segera mengambil keputusan.

Inikah ujung dari penantian yang sudah berjalan 38 minggu empat hari ? Hari itu, dokter Ismail Yahya, dokter kandungan yang memeriksa istri saya, memprediksi hari persalinan jabang bayi di dalam perut istri. Saya berharap semua berjalan lancar, sehat, itu saja dulu. Saya masih kepikiran kondisi istri saya sebelum persalinan yang sempat mengkhawatirkan.

Tepat sepekan sebelumnya, 1 Februari, istri saya harus menjalani rawat inap karena terserang virus tipus. Saya khawatir, sebab sudah memasuki minggu-minggu persalinan.

Pagi itu, saya kuatkan, harapan saya panjatkan, selanjutnya saya berserah diri pada sang penyelenggara kehidupan. Sesampainya di RS Buah Hati, Pamulang, saya langsung menuju Instalagi Gawat Darurat dan menyampaikan bahwa istri saya sepertinya akan melahirkan.

Layanan tak berlangsung lama, istri masuk ke ruang persalinan dan ditangani bidan. Menurut bidan, saat itu istri sudah pembukaan empat. Setengah jam kemudian meningkat menjadi pembukaan enam, dan sekitar pukul 07.00 pembukaan delapan. Saya telepon ibu mertua, ayah, dan saudara-saudara lain meminta doa.

Sekitar pukul 07.30, istri saya mengerang sakit, puncak sakit setelah berbulan-bulan mengandung jabang bayi. “Ambil napas panjang, keluarkan pelan-pelan. Sekarang boleh mengejan, tahan, kumpulkan tenaga,” kata bidang.

“Oekk, oekk,” tangis bayi memecah ketegangan. “Laki-laki!” kata bidan. Aku lega, mataku berlinang, tapi tak sampai jatuh menetes. Istriku mengangis. Aku bersyukur anak lanang akhirnya lahir ke dunia, menemani kami sekeluarga. Dia adalah anak ketiga setelah sebelumnya lahir dua perempuan cantik menemani hidup kami.

Sepekan setelah kelahirannya, kami sepakat memanggilnya Alan, anak lanang. Namanya belum kami sepakati secara final, bukan apa-apa, kami ingin benar-benar menyematkan nama yang bagus, sebesar harapan kami padanya kelak.

Bojongsari, 14 Februari 2016

Burung Hendak Terbang

Mas Cahyo Pramono, sahabat ngobrol saya dari Medan Sumatera Utara melontarkan teka-teki. Saat ngobrol melalui telepon, kami saling memberi kabar, menanyakan akivitas saat ini yang sedang dijalani. Mas Cahyo, salah satu teman ngrobol saat berada di Medan (empat tahun di sana), sering memberi inspirasi lewat kata-katanya.

Sore itu, di akhir Januari 2016, saya sampaikan, mengapa banyak sekali keinginan saya yang masih tinggal rencana. Padahal semua keinginan itu terasa meyakinkan, keren, dan syaa bayangkan, jika berhasil merealisasikan, akan memperbaiki kehidupan saya.

Saya kerap jenuh dengan rutinitas yang mekanis, membelenggu dari pagi hingga malam, nyaris tidak ada ruang untuk melakukan hal-hal lain. Saya tahu, itu karena manajemen waktu saya yang belum bagus. Begitu pun juga dengan manajemen kerja yang belum rapi. Sesibuk apapun orang, jika mampu mengelolanya, pasti bisa melakukan hal-hal lain.

Berdalih rutinitas yang membelenggu itu, saya sampaikan, saya belum bisa merealisasikan impian kecil, sedang, hingga besar yang saya simpan.

Tak banak kata, Mas Cahyo langsung melontarkan teka-teki. “Coba tebak, ada lima ekor burung bertengger di dahan pohon. Tiga di antaranya hendak terbang. Tinggal berada di dahan pohon itu ?” tanyanya.

Saya jawab, tetap ada lima. Sebab tiga ekor burung itu masih “hendak” terbang. Mereka belum terbang. “Nah, kamu benar. Sebaiknya kamu jangan seperti burung itu. Jika hanya ‘hendak’ melakukan sesuatu, sesuatu yang kamu bayangkan takkan terwujud,” kata Mas Cahyo.

Lakukan saja. Saya merenungkan cerita itu. Memang benar adanya.

Salam, Jakarta, 1 Februari 2016.

Menulis Ulang Kegelisahan Jurnalis

Kegelisahan melanda sebagian jurnalis saat ini. Ada perubahan besar yang sedang terjadi. Perubahan itu meliputi tradisi baca penyimak berita, pengiklan, dan kemudian diikuti kultur perusahaan media.

Perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi pada sajian produk jurnalistik yang mulai beda. Di sejumlah platform, produk jurnalistik disajikan dengan satu standar utama, yakni kecepatan. Standar utama yang saya maksud mendominasi standar lainnya yang menjadi pelengkap yaitu akurasi dan kedalaman.

Di sini, saya tidak akan mendiskusikan benar salah maupun baik buruk. Tetapi saya sedang mengutarakan kenyataan yang harus dicari solusinya. Agar, jurnalisme tetap menjadi tumpuan masyarakat yang memberi arah dan pencerahan. Jika tidak, maka jurnalisme akan ikut arus omongan orang atau peristiwa sumir yang belum tentu menyentuh akar persoalan.

Saya tergerak menulis tentang ini setelah membaca tulisan Mas Bre Redana, senior saya di Kompas pada hari Minggu (27/12) kemarin. Tulisan berjudul “Inikah Senjakala Kami…” itu menjadi bahan diskusi di sejumlah media sosial. Mas Bre mengkritik tradisi jurnalis yang mulai pragmatis, mengambil gampangnya saja, karena ingin mengejar kecepatan penyajian berita. Tentunya, kenyataan ini tidak terjadi paa semua jurnalis. Masih ada jurnalis yang ingin mengejar kedalaman dan mau melakukan pengayakan informasi sebelum menyajikan berita. Namun sampai kapan tradisi ini bertahan….

Andy Riza Hidayat, Depok 28 Desember 2015

Inilah tulisan Mas Bre di Kompas Minggu 27 Desember 2015

CATATAN MINGGU

Inikah Senjakala Kami…

Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat. Terakhir, di penghujung tahun, Ignatius Haryanto, pengamat pers yang luas referensinya, salah satu anggota Forum Ombudsman surat kabar kami, memberikan notifikasi dengan judul Senjakala Suratkabar di Indonesia?. Pertanyaan lebih lanjut ia ajukan: apakah ini akhir dari peradaban surat kabar cetak saat ini?

Faktor-faktor yang mendasari pertanyaannya berupa kondisi yang niscaya sudah diketahui banyak orang, antara lain perkembangan teknologi digital. Ini membawa konsekuensi bisnis. Pengiklan memilih berinvestasi pada media yang lebih gemebyar seperti televisi, dengan penyiar yang kinyis-kinyis, berikut kru lapangan yang militan, sampai kalau perlu mengabaikan tata krama.

Harus diakui, media cetak, koran, majalah, buku, kebiasaan membaca yang mendasari tradisi dan terbentuknya sivilisasi manusia sampai penghujung milenium kedua, sebagian kini tinggal kenangan belaka. Termasuk jurnalisme.

Di mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor.

Kalau kemudian muncul sekolah atau pendidikan jurnalisme, itu semata-mata reaksi pedagogis dari kesadaran akan kurangnya endorsement akademik pada bidang pekerjaan ini. Pada perkembangannya, namanya bukan lagi jurnalisme, tapi ilmu komunikasi, komunikasi sosial, marketing dan komunikasi, dan lain-lain. Spektrum pendidikannya terus meluas, kini mencakup multimedia dengan multiplatformnya, atau di masa mendatang entah apa lagi, karena yang sekarang pun saya kurang paham apalagi yang akan datang.

Inilah era baru dunia media masa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik.

Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia public relations menuturkan, enak menghadapi wartawan sekarang. Tinggal sediakan press release. Mereka melakukan copy paste dari press release tadi apa adanya. Tidak perlu pusing menjawab pertanyaan, karena mereka tidak bertanya. Dalam press tour ke luar negeri untuk peliputan masalah tertentu, pertanyaan hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan, belanja.

Dalam konstelasi baru media, koran disebut ”media konvensional”. Boleh jadi sekonvensional wartawannya, yang memegang notes, bolpen, mencatat yang diomongkan sumber berita. Wartawan media mutakhir tidak mencatat. Mereka khusyuk dengan gadget. Barangkali merekam, mencatat, atau bisa saja tengah berhubungan entah dengan siapa. Istilahnya: multitask. Sambil mendengarkan yang di sini, berhubungan dengan teman yang di sana, pacar, saudara, dan lain-lain.

Sikap seperti itulah yang tidak bisa diikuti wartawan konvensional. Kami tidak mendelegasikan otak kami pada alat rekam. Kami sadar akan signifikansi kehadiran, being there. Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan wawancara. Wawancara bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari jurnalisme, semacam dimensi nonteknis taruhlah moral, etik, dan kemanusiaan.

Tahun segera berganti. Inikah senjakala surat kabar? Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan manusia.

 

 

 

Usai Wawancara…

Presiden Joko Widodo saat memberikan pernyataan pers di Istana Negara, Jakarta. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.
Presiden Joko Widodo saat memberikan pernyataan pers di Istana Negara, Jakarta. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.

Usai Wawancara..

Momen kecil, kadang menentukan dalam pekerjaan. Begitupun ketika proses pencarian berita seorang jurnalis. Seringkali, jurnalis dihadapkan pada acara resmi lembaga swasta maupun pemerintah.

Saya tidak terlalu menarik mengikuti acara itu. Sebab materi yang disajikan dapat diterima semua yang hadir tanpa terkecuali. Ada potensi berita yang dibuat jurnalis di acara itu mirip-mirip. Bahkan bisa sama dalam pemilihan angle (sudut pandang), maupun runtutan cerita. Ini sangat mungkin terjadi jika sang jurnalis menerima apa adanya yang ada dalam konferensi pers itu.

Lalu bagaimana menghadapinya ? “Janga puas hanya dari acara itu.” Saya tidak akan puas dengan informasi yang begitu saja tersaji di acara resmi. Memindahkan informasi dari nara sumber ke media tempat jurnalis bekerja, nyaris mirip dengan pekerjaan tukang ketik, tidak beda jauh.

Saya butuh elaborasi, pengayaan dengan sumber lain, dan mencari celah berbeda dengan runtutan cerita yang disampaikan. Mengapa ? Jika semua berita yang tersaji kemudian sama, pembaca akan bosan. Lalu tidak ada perbedaan “menu” berita, ini yang saya hindari.

Elaborasi bisa dari sumber situs resmi, nara sumber lain yang tidak ada di tempat itu, atau data-data yang terkait dengan tema pembicaraan. Tetapi harus hati-hati memilih sumber informasi. Tidak hanya itu, saya memanfaatkan momen setelah jumpa pers itu untuk menanyakan poin-poin yang paling menarik. Konfirmasi ulang itu perlu untuk menegaskan pernyataan, maupun mencari bingkai dan konteks pernyataan yang disampaikan.

Contoh kasus ketika Presiden Joko Widodo menggelar jumpa Pers di Istana Negara, Selasa (15/12) di Jakarta. Presiden siang itu, berbicara singkat sekali, dan saya yakin memang dibuat singkat dengan maksud tertentu. Presiden tidak mau terlalu banyak bicara, namun ingin membangu opini terkait kinerja Mahakmah Kehormatan Dewan (MKD).

Begini kira-kira pernyataan Presiden :

Sidang MKD selalu saya ikuti. Saya ingin agar MKD melihat fakta-fakta yang ada, lihat fakta-faktanya. Yang kedua, dengarkan suara publik, dengarkan suara masyarakat, dengarkan suara rakyat. Cukup,” kata Presiden, seraya bergegas meninggalkan jurnalis peliput.

Kami semua melongo, mengapa hanya sepenggal itu ? Pernyataan itu tidak akan berarti apa-apa tanpa dibingkai konteks persoalan. Bagaimana dengan pernyataan sebelumnya, apa yang melatarbelakangi Presiden bicara itu. Saya berusaha memperkaya informasi, mengelaborasi pernyataan sebelumnya 7 Desember lalu. Pernyataan tajam Presiden ini merupakan yang kedua dalam dua pekan terakhir.

Mengapa Presiden bicara itu ? Saya menggali ke Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Saya curiga, bahwa ada hal-hal yang mendorong Presiden bicara itu, di depan jurnalis. Teten membenarkan asumsi saya, memang Presiden tidak menginginkan MKD memutuskan di luar harapan masyarakat. Cukup bagi saya mendapatkan bingkai pernyataan Presiden sepenggal itu.

Model pendekatan seperti ini juga saya pakai pada liputan lain dengan persoalan yang berbeda. Hasilnya bisa berbeda dengan pemberitaan umumnya, silahkan coba.

salam

Andy Riza Hidayat, 17 Desember 2015

Kesalahan yang Tidak Diinginkan

salah sebut

Siapa di antara kamu yang tidak pernah berbuat salah ? Saya yakin, sulit menemukan orang tanpa kesalahan. Pada dunia jurnalistik pun demikian, saya yakin tidak ada media yang tidak pernah salah produk jurnalistiknya. Begitu pun media sekelas The Washington Post (TWP) pernah melakukan kesalahan fatal, pada 27 Oktober lalu. Ketika itu TWP menurunkan foto karya Jim Watson dari Agence France Presse via Getty Images. Foto ada di sisi kiri.

Saat itu, Menteri PertahananRi Ryamizard Ryacudu disebutnya sebagai Presiden RI Joko Widodo. Semua bertanya, apakah media AS itu tiak tahu wajah Jokowi. Padahal wajahnya pernah muncul di sampul depan majalah TIME. Tetapi kesalahan, bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja selama dia bukan malaikat.

Sehari kemudian TWP merevisi, foto sisi kanan dengan penjelasan sebagai berikut ;

“A photo caption with an October 27 A-section article about Indonesian President Joko Widodo’s visit to Washington misidentified Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu as Widodo. The photo appears here with a corrected caption.”

Foto tersebut ditampilkan kembali dengan caption yang benar.

Moral cerita dari peristiwa ini adalah, kesalahan itu produk manusia, tetapi kejujuran harus diperjuangkan. Jurnalis boleh salah, tetapi tidak boleh tidak jujur, kesalahan harus diakui produknya salah dan cepat-cepat diperbaiki.

Peristiwa serupa saya alami pada hari Jumat (13/11) lalu. Saya melakukan kesalahan fatal yang tidak pernah saya inginkan. Kesalahan itu berbuntut protes pihak-pihak yang dirugikan atas pemberitaan yang saya buat. Hari itu juga sejumlah redaktur menghubungi saya. Duh, rasanya hari yang paling berat di minggu itu. Rasanya malu, dan ingin marah dengan keadaan, mengapa saya bisa berbuat salah…

Saya sadar, kesalahan itu salah saya. Saya minta maaf kepada semua pihak yang dirugikan. Saya siap menghadapi risiko kesalahan itu. Saya jelaskan juga mengapa saya sampai bisa melakukan kesalahan, semua itu karena kecerobohan dalam bekerja.

Kepada kamu yang bekerja di bidang manapun, kusarankan ; istirahatlah jika beban kerjamu sedang tinggi, jika kamu teruskan, kelelahan itu akan membuatmu tersandung pada kesalahan yang tidak kamu inginkan. Saat saya melakukan kesalahan itu, kondisi tubuh saya sedang lelah, lelah sekali.

Jakarta, 23 November 2015