Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Jejak Kuliner Presiden (2)

Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Siang itu, cuaca Kota Ambon, Maluku begitu cerah. Kunjungan Presiden ke Maluku, dalam statusnya sebagai Presiden, saat itu yang keempat kalinya. Hati itu, Presiden telah menghadiri jadwal kegiatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2017. Jika tak ada angin menghembus pelan, mungkin suhu udara terasa terik. Anginlah yang menyejukkan suasana di kota yang pernah dilanda konflik horizontal itu.

Kedamaian Ambon begitu terasa saat kami tiba di Rumah Makan Lateri Beach, Kota Ambon. Debur ombak kecil dan nanyian merdu penyanyi Ambon menemani kami. Pemilik rumah makan rupannya sudah menyiapkan menu andalannya sebelum Presiden tiba. Tidak perlu menunggu lama, sajian terbaik mereka sudah terhidang di atas meja makan.

Namun ketenangan itu pecah saat kami dikejutkan aksi spontan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Menteri Basuki tidak tahan melihat seperangkat alat musik dan nyinyian merdu di rumah makan itu. Basuki meminta izin naik panggung kecil tempat musisi memainkan alat musiknya, aktivitas makan kami terhenti sesaat.

“Bener nih, Pak Basuki mau nyanyi ?” tanya rekan jurnalis yang melihat aksi Basuki. Menteri Basuki mengambil pelantang suara dan mengajak penyanyi rumah makan itu berdendang bersama.

Basuki memilih lagu berjudul “Parcuma,” lagu pergaulan warga Maluku. Parcuma adalah salah satu lagu yang disukai Basuki selain lagu-lagu asal Maluku yang lain. Layaknya penyangi panggung, Basuki memulai melantunkan suara. Suaranya kuat dengan kepercayaan diri. “Kalo ada yang mo maso minta//nona tarima saja//jang ale pikir beta lai//perkara cinta beta cinta//mo sayang paling sayang//marsio mo biking apa//parcuma beta susah di rantau,” suara Basuki mematahkan keraguan orang.

Sepotong lagu “Parcuma” tak memuaskan mereka yang hadir di rumah makan. Basuki didaulat menambah satu lagu lagi. Basuki tak menolak dan sepertinya memang senang bernyanyi. Kali ini ini Basuki melantunkan lagu “Maluku Tanah Pusaka” ciptaan Eddie Latuharhary. Suaranya larut dengan debur ombak kecil air laut di Teluk Ambon. Sebagian ikut bernyanyi ketika sampai lirik ini, “Dari ujung Halmahera//Sampai tenggara jau//katong samua basudara.”

Sementara Basuki menyanyi, Presiden Joko Widodo berbincang-bincang dengan sejumlah menteri di depan meja makan. Presiden sesekali memerhatikan Basuki menyanyi sambil melempar senyum. Di hadapan Presiden, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Siang itu, Presiden tampak menikmati sajian olahan ikan laut di meja makan. Kenikmatan masakan itu serasa lengkap dengan nyanyian Basuki. Basuki kerap menyampaikan bahwa dia suka musik. Seni musik menjadi media yang universal untuk memperluas pergaulan. Kebetulan dia suka dan bisa memainkan alat musik.

Sementara Presiden kerap menjadi makanan sebagai media komunikasi. Lewat makan bersama, Presiden membicarakan hal yang santai hingga serius. Kebiasaan itu telah dilakukanya sejak di Solo, hingga saat dia memangku jabatan kepala negara saat ini.

Ambon, 9 Februari 2017.

 

Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Baliho Rumah Makan Pak Elan 2 di Gresik, Jawa Timur yang menjadi tempat makan Presiden Joko Widodo, Kamis 8 Maret 2018.

Jejak Kuliner Presiden (1)

Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Hari belum benar-benar tengah hari. Jadwal kegiatan Presiden Joko Widodo yang pertama sudah selesai. Menurut urutan kegiatan, Presiden dijadwalkan makan siang di Rumah Makan Pak Elan II di Jalan Veteran No 100, Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Sementara jam belum melewati pukul 12.00 tengah hari, waktu yang kepagian bagi Presiden untuk makan siang.

Biasanya dalam kunjungan kerja di daerah-daerah, Presiden sering makan siang di atas jam 13.00. Makan siang baru sah setelah berkeringat mengikuti jadwal yang padat dan menemui warga. Namun ini begitu selesai menemui warga di GOR Tri Dharma, Gresik, Presiden dijadwalkan ke rumah makan itu.

RM Pak Elan sudah dikenal orang Gresik dan sekitarnya sejak puluhan tahun silam. Masakan favoritnya adalah aneka masakan bandeng dengan minuman legen, air minum dari fermentasi air bunga pohon siwalan. Soal ketenaran, jangan ditanya, hampir semua orang Gresik yang sudah dewasa kenal dengan rumah makan ini.

Di sepanjang jalan dari GOR Tri Dharma ke rumah makan, Presiden menyapa warga. Beberapa kali memberikan buku, dan bingkisan kecil untuk warga Gresik yang sudah siap di pinggir jalan. Dan akhirnya kami tiba di RM Pak Elan II.

Saya sendiri sudah mendengar ketenaran tempat ini. Dalam benak saya rumah makan ini punya nama besar bagi pecinta makanan Jawa Timur. Namun kebesaran nama RM Pak Elan sungguh-sungguh jadi pertanyaan siang itu. Hal mendasar yang kami sayangkan adalah lambannya pelayanan, di mana nasi untuk para tamu telat datang. “Mana nasinya, apa mungkin begini cara makannya,” Deputi Bidang Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin di depan meja makan.

Menikmati menu yang ada dahulu.

Lantaran terlalu lama, Intan seorang fotografer Biro Pers Media dan Informasi mengambil nasi sendiri ke dapur. Intan membawa tempat nasi itu ke meja tempat kami makan, langsung laris tanpa menunggu lama. Kami menduga, karena kami tidak makan semeja dengan Presiden, jadi tidak terlalu menjadi prioritas. Begitukah ?

Tidak hanya soal nasi, menu yang tersedia di meja tidak proporsional. Meja yang dihadapi sepuluh orang lebih, hanya ada satu mangkuk sayur asem. Sementara kami meminta tambahan dua mangkuk ke meja itu. Pelayan bilang ,” Iya Pak.”

Sampai sesi makan siang habis, dua mangkuk sayur asem pesanan kami tidak datang. Pelayan yang kami minta agar mendatangkan sayur itu kami tanya lagi, “Mas mana sayur asem nya ?” Dia hanya melengos, tidak menjawab. Tidak lama kemudian seorang berusia sekitar 50 an tahun mendatangi meja kami. “Bagaimana bandeng gresik nya, enak tidak ?” Kami semua tidak menjawab.

Lalu obrolan kami lanjutkan dalam kendaraan sesaat setelah makan siang usai. Kami bercerita tentang pengalaman di rumah makan itu. Di ujung obrolan, masing-masing dari kami memberi penilaian dari 1 untuk yang terendah hingga poin 10 untuk yang tertinggi. Coba tebak berapa nilainya? (Andy Riza Hidayat)