Tak Lelah Menjaga Pintu Istana

Ini bukan cerita tentang satpam. Tetapi cerita tentang mereka yang tidak mengabarkan berita dari lingkungan Istana. Kata orang, wartawan yang liputan di sana “wah”. Setelah saya alami sejak Desember 2014, tidak sepenuhnya benar.

Memang bisa disebut wah karena bertemu dengan narasumber penting. Namun soal tantangan dan kesulitan bekerja di ring 1, tidak kalah dengan medan liputan di tempat lain. Hanya bentuk tantangannya yang berbeda bro.

Kami kadang kehujanan bahan berita, karena saking banyaknya bahan yang harus kami buat, untuk makan pun sering telat.

Berjarak Pada Tugas

Judul tulisan ini terinspirasi pada tugas sehari-hari saya sebagai jurnalis. Seorang jurnalis itu mendapat anugerah bisa bergaul dengan siapa saja, dari masyarakat di level bawah hingga Presiden. Ini benar-benar saya alami dalam tugas yang sudah menginjak tahun ke-12.

Karena keistimewaan itu, maka perlu ada kode etik yang sudah diatur dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Ada pagar-pagar yang seharusnya dipatuhi jurnalis. Ini demi menjaga independensi sikap dan karya. Namun kenyataan di lapangan tidak sesimpel aturan kode etik. Pada banyak kondisi jurnalis dihadapkan pada hubungan personal terlalu jauh, begitu dekat dan hampir tidak berjarak.

Kadang kondisi ini mengalir begitu saja, karena memang ada kecocokan chemistry. Saya pernah mengalaminya di Surabaya, Medan, dan Jakarta. Pada saat kasus bus transjakarta karatan terungkap, sebagian rekan-rekan saya menanyakan, “Bagaimana “bapakmu” itu, kok berani-beraninya korupsi ?” “Dia terlalu dekat sama Mas Andy sih, coba dekat dengan kita-kita.”

Saya akui, memang saya dekat dengan narasumber yang dimaksud. Tetapi saya tidak pernah menganggapnya sebagai bapak. Tetapi saya tidak menyalahkan sorotan-sorotan itu, karena memang saya dapat menjalin hubungan baik dengan narsum yang dimaksud. Tetapi “Saya tidak menjadi bagian dari hidupnya, saya bukan juru bicara resmi atau pribadinya, saya juga tak pernah terima gaji apapun dari dia.”

Tidak enak pada posisi dituding seperti itu.

Sebaliknya, sebagian rekan-rekan sesama profesi larut di tempat tugasnya. Karena bertugas di tempat tertentu, menjadi yang terdepan membela kepentingan tempat tugasnya. Dua situasi yang berbeda yang saling terkait. Betatapun, menurut saya, pada saat menjalankan tugasnya, jurnalis harus berjarak pada narasumbernya.

Begitu pun saat saya bertugas di Istana meliput Presiden yang saya pilih saat pemilu 2014 lalu. Saya masih menyisakan ruang kecewa dan ruang kritik. Saya ingin membangun pola pikir yang sehat. Presiden pilihan saya belum tentu benar terus, ada kalanya perlu dikritik, dan diingatkan agar mampu memimpin negeri ini.

Demikian pandangan saya.

#diketikketikamatabelumdapatterpejam

Andy Riza Hidayat

Ekspresi Marah di Wajah Presiden

*Ulasan ini juga bisa dibaca di Kompas edisi Sabtu (14/2). Sebuah pendekatan alternatif mengulas materi politik

20150213ndy2-foto jokowi bilang sabar

Ekspresi Marah di Wajah Presiden

Suasana politik negeri ini gaduh dalam empat terakhir. Kisah ini bermula ketika Presiden mencalonkan Komisaris Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kepala Polri. Beberapa setelah pencalonan itu, Selasa (13/1), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan BG sebagai tersangka kasus korupsi.

Kegaduhan makin memuncak, dan hingga kini belum berakhir. Kompas mengajak pembaca melihat sisi lain dari kegaduhan ini melalui ekspresi wajah Presiden Joko Widodo dan tokoh-tokoh lain. Ekspresi tersebut dilihat melaui analisa micro expression (ekspresi detail) dan cepat pada wajah seseorang. Ada tujuh emosi universal sesuai penelitian Paul Ekman, profesor ilmu psikologi yang khusus meneliti ekspresi manusia.

Tujuh tanda emosi universal yang dimaksud antara lain kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Tujuh emosi ini secara spontan muncul tanpa bisa dikontrol, bahkan bisa tidak disadari pemilik wajah. Dalam rentang waktu antara 23 hingga 29 Januari, Presiden banyak terlihat tidak bahagia. Presiden lebih banyak terlihat marah. Inilah gambaran yang terpancar sepanjang kasus ini merebak di tengah masyarakat.

Sabtu 16 Januari, saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan BG, alis matanya turun, pandangan mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu. Handoko Gani SE MBA, kandidat master science di bidang forensik emosi di Paul Ekman International Group dan University of Central Lancashire, Manchanster, Inggris menduga Presiden sedang marah.

Kemarahan Presiden terlihat jelas ketika dia menjelaskan proses dengan politik yang sudah berlangsung di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sidang paripurna DPR sebelumnya menyetujui pencalonan BG sebagai Kepala Polri, Kamis (15/1).

Ketika itu, untuk pertama kali Presiden merespon secara resmi penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK. Anggota Komisi Kepolisian Nasional Adrianus Meliala mengatakan ada pihak yang kehilangan muka karena keputusan KPK. “Seharusnya keputusan itu tidak perlu diumumkan, tetapi dibicarakan sebelum Presiden mengambil keputusan pencalonan Kapolri. Jika begini, Kompolnas dan Presiden kehilangan muka. Sebab kami tidak memiliki informasi lengkap terkait semua calon Kapolri,” kata Adrianus.

Menurut Handoko, pernyataan Adrianus mengkonfirmasi bahwa ada pihak yang marah, termasuk Presiden.

Jumat 23 Januari, Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang acara jumpa pers dengan wartawan, alis Presiden dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik.

Ada yang menarik pada peristiwa itu. Presiden sempat beberapa kali menoleh ke Ketua KPK Abraham Samat yang berada di sisi kanan belakang. Namun hal serupa tidak dilakukan Presiden kepada Wakil Kepala Polri Komisaris Badrodin Haiti. Handoko menduga, Presiden ingin menyampaikan pesan bahwa acara itu digelar membicarakan nasib KPK.

Pagi hari sebelum jumpa pers berlangsung, penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto di Kota Depok. Pengguna internet ramai mengecam langkah itu yang dinilai sebagai upaya kriminalisasi KPK. Bahkan di dunia maya sempat muncul tanda pagar #whereareyoujokowi. Publik mempertanyakan sikap Presiden terkait penangkapan itu.

Dalam kesempatan itu, Presiden menggunakan kata-kata, ”Sebagai kepala negara saya meminta KPK dan Kapolri memastikan bahwa proses hukum yang ada, harus obyektif dan sesuai peraturan undang-undang yang ada.” Presiden juga melanjutkan pernyataanya dengan mengatakan, ”Sebagai Kepala Negara. Saya meminta agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing.”

Penggunaan kepala negara dalam kalimat itu dipakai Presiden sebagai niat untuk menegaskan sesuatu. “Kalimat ini menegaskan bahwa publik harus melihat dia sebagai Presiden, lalu Presiden ingin menggunakan cara-cara persuasif menyelesaikan persoalan tersebut,” tutur pemimpin PT Karakter Transformasi Pertiwi, perusahaan yang bergerak memberikan jasa konsultasi karakter dan emosi sumber daya manusia. Versi video peristiwa di Istana Bogor ini bisa dilihat di http://youtu.be/iTSjQcFwjnI.

Sabtu 24 Januari, saat wawancara dengan Kompas di Kantor Presiden, mantan Wali Kota Solo itu menekankan semua pihak bahwa KPK dan Polri harus diselamatkan, harus lebih dewasa sebaga institusi, dan menghormati semua proses hukum yang ada tanpa intervensi Prediden. Menariknya, Presiden memberi penegasan bahwa jangan ada yang sok di atas hukum sambil mengangkat dua bahunya.

Selama jalannya wawancara, ekspresi wajah Presiden lebih dominan terlihat, apalagi ketika menyampaikan kata “KPK.” Presiden juga memperlihatkan ekspresi sangat tidak suka ketika menyebut kata “intervensi.” hal ini ditunjukkan dengan ujung bibir kiri Presiden tertarik ke belakang. Maksudnya Presiden tidak ingin intervensi dalam persoalan ini.

Minggu 25 Januari, saat tampil bersama tim independen di Istana Merdeka Jakarta, Presiden berkali-kali menegaskan agar tidak ada kriminalisasi. Pada saat mengucapkan kata “kriminalisasi,” Bibir atas mulut tertarik ke atas mendekati hidung dan pangkal hidung tertarik ke atas sehingga terlihat kerutan horizontal di pangkal hidung. Pada saat yang sama, pangkal hidung Presiden naik membentuk kerutan.

Hipotesa Handoko, Presiden sangat tidak menginginkan peristiwa kriminalisasi. Hal inilah yang membuat dia marah tentang persoalan tersebut. Kamis 29 Januari, di Istana Bogor, Presiden bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto. Pertemuan ini banyak menyita perhatian publik. Kedua tokoh ini sempat saling melempat senyum. Menurut Prabowo Subianto sebelum menemui Presiden, dia dan Presiden sama-sama ingin bertemu. Kebetulan Prabowo belum pernah bertemu Presiden secara resmi sejak Presiden bertandang ke rumah Prabowo, 17 Oktober 2014.

Di akhir pertemuan sambil melempar senyum ke arah jurnalis, Presiden menyampaikan kata “ditunggu.” Pada saat kata tersebut keluar, kata Handoko, ada bahasa tubuh yang tidak lazim yaitu mengatupkan jempol dan telunjuk ke arah wartawan. Gerakan tubuh ini berlangsung spontan dan cepat.

Lazimnya, kata ditunggu satu makna dengan kata sabarm yang lazimnya diikuti dengan bahasa tubuh seperti orang menekan dengan jari terbuka semua. Menurut Handoko, ada pesan yang ingin disampaikan Presiden bahwa kasus ini segera akan selesai.

Namun persoalan ini berlarut hingga satu bulan terakhir. Presiden ingin menunggu kepastian hukum yang terlanjur sudah berjalan. Ekspresi wajah ini terlihat beberapa kali saat Presiden menjelaskan persoalan KPK dan Polri. Pada saat waktu yang dianggap tepat, Presiden akan menjatuhkan keputusan. Ekspresi inilah yang tersirat usai bertemu Prabowo Subianto di Istana Bogor.

“Pasti akan saya putuskan,” kata Presiden dengan ekspresi dan bahasa tubuh yang tegas. (Andy Riza Hidayat)