Hujan dan Gerobak Dorong

Peristiwa masa kecil kadang susah hilang. Peristiwa ini terbawa dalam bayanganku saat melamun, sebelum tidur, atau pas mengamati sesuatu. Peristiwa puluhan tahun lalu melintas tiba-tiba. Peristiwa itu tergambar begitu detail, suasana, bahkan perasaan yang terjadi ketika itu.

Hujan, mengingatkanku pada kerasnya ayah mendidikku. Saat aku dan adikku Wahyu alias Bakti mengangkut potongan kayu dan buah kelapa dari kebun. Kami harus membawa hasil kebun itu sejauh sekitar 5 kilometer dari rumah. Suasana saat itu hujan deras sekitar pukul 15.00. Karena hujanlah membuat perasaan malu sebagai remaja lenyap. Yang ada semangat dan menganggapnya sebagai latihan mental.

Ketika itu aku masih SMA sekitar tahun 1993-1996. Tahun-tahun menjelang pergolakan politik di Indonesia. Ratusan buah kelapa kami dorong dengan gerobak secara bergantian, posisi yang mendorong dan yang menarik gerobak. Beberapa kali sebagian buah kelapa jatuh dan kami harus memungutnya ke atas gerobak.

Bukan hanya mengangkut hasil kebun di Desa Ngebruk, Kabupaten Malang, tetapi di awal penanaman pohon sengon kami juga “wajib” menyirami pohon itu hingga membesar. Kebun itu dibeli ayahku dari seorang warga yang butuh uang. Kebetulan ada rejeki sedikit dari pejualan tanah di tempat lain, dan pinjam bank ayahku nekat membeli tanah itu.

Jual beli tanah, walau tak pas disebut tuan tanah, sangat membantu perekonmian keluarga. Ayah dah ibuku bekerja sebagai guru. Penghasilannya biasa saja untuk menghidupi empat anak. Karena kebun itulah, pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia, sekitar tahun 1996-1998, menolong perekonomian keluarga dari krisis keuangan.

Usai krisis kebun itu dijual dan kemudian menjadi modal ayah dan ibu menunaikan haji ke tanah suci.  Saya dan anak-anaknya merasa, dapat pembelajaran dari kebun sengon itu. Hormatku untuk ayah dan alhmarhum Ibu.

Jakarta, 1 Februari 2015