Kekuatan Kata-kata

Tersangka HS saat melakukan rekonstruksi pembunuhan empat orang di Pondok Melati, Bekasi, Rabu 21/11/2018. Foto Kurnia Yunita Rahayu di kompas.id 21 November 2018.

Saya masih percaya pada ungkapan “Tak ada yang lebih tajam daripada lidah.” Begitulah adanya kehidupan manusia dengan lidahnya. Bagian tubuh lunak yang ada di dalam mulut ini bisa memainkan peran vital. Setelah pikiran memerintahkan mengeluarkan kata-kata tajam, maka lawan bicara akan tersabet hatinya. Barangkali tidak seketika itu dia menunjukan lukanya, tetapi bisa di malam gelap ketika lawan bicaranya telah tertidur lelap.

Lelaki berinisial HS (23) dengan keji menghabisis empat saudaranya satu per satu di Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. Nyaris tidak ada yang mengetahui kekejaman lakunya, hanya dengan ketersinggungan kata-kata korban dia buta. HS tak rela disebut dirinya “sampah” oleh salah satu korban.

Memang pembunuhan seperti yang dilakukan HS bukan semata didorong motif mencari uang. Ada dua faktor penting yang memicu seseorang membunuh, yaitu faktor komunikasi dan kecerdasan emosional manusia. Sosiolog kriminal dari Universitas Gadjah Mada, Soeprapto mengatakan persoalan uang tak selalu melatarbelakangi seseorang untuk membunuh. Menurut dia, ada dua faktor kunci yang memicu terjadinya pembunuhan.

Pertama, faktor komunikasi. Menurut Soeprapto, komunikasi yang berjalan tidak baik bisa memengaruhi seseorang untuk membunuh. ”Misalnya, ketika seseorang meminta haknya karena telah bekerja, tetapi tidak dibayar dengan baik. Akibatnya, pelaku putus harapan dan mengambil langkah untuk membunuh,” kata Soeprapto saat dihubungi pada Kamis malam.

Faktor kedua, rendahnya kemampuan kendali diri dari pelaku pembunuhan. Soeprapto menjelaskan, selain kecerdasan intelektual (IQ), manusia juga dibekali kecerdasan spiritual (SQ), dan kecerdasan emosional (EQ). Adapun kecerdasan emosional merupakan faktor penting terkait kendali diri.

Seorang pembunuh biasanya memiliki level rendah dalam mengendalikan diri secara emosional. ”Dalam sosiologi, level kendali diri ada empat tingkatan. Adapun yang terendah adalah level satu,” kata Soeprapto.

Adapun level satu dalam kecerdasan emosional melingkupi kemampuan memahami diri sendiri, tetapi tidak mampu mengendalikan diri secara emosi. Sementara level dua mampu mengendalikan diri sendiri, level tiga mampu memahami orang lain, dan keempat mampu mengendalikan orang lain.

Jika ditelisik, beberapa kasus pembunuhan belakangan ini dipicu oleh dua faktor itu. Kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi yang dilakukan HS, misalnya, terjadi karena HS sakit hati oleh ucapan Daperum yang menyebutnya sampah. Komunikasi yang tidak terjalin baik membuat HS emosi, Kompas (23/22/2018).

Sementara catatan Mabes Polri, dalam kurun Januari hingga Oktober 2018, Polri mengungkap 574 kasus pembunuhan dari 625 kasus. Dari 574 kasus pembunuhan itu, diketahui bahwa 80 persen di antaranya terjalin interaksi dan komunikasi antara pelaku dan korban. Adapun motif pembunuhan didorong oleh motif persoalan pribadi, sakit hati, dendam, pencurian dan kekerasan yang berakibat korban meninggal.

Pada 2016, Polri menangani 1.197 kasus pembunuhan, dan 1.156 kasus diungkap tuntas. Tahun 2017, terjadi 783 kasus pembunuhan dan 773 kasus diungkap para pelakunya dan motif di balik pembunuhan itu, Kompas (23/11/2018). Kawanku sayang, berhati-hatilah menggunakan lidah kalian untuk berkata-kata.

Bapuk

 

Sabtu (24/11/2018) malam, Francisca Natalia calon wartawan Kompas buru-buru meminta maaf. Laporannya hari itu minim dengan data. Padahal, banyak narasumber yang hadir di acara yang diliput pagi harinya. “Bapuk Mas, tidak ada yang mau ngomong. Hanya Kepala Polda saja saya kutip pidatonya. Maaf ya,” kata Natalia.

Saya paham maksudnya bapuk. Kata itu mengacu pada sesuatu yang tidak sesuai harapan. Dia berharap, akan mendapatkan informasi banyak di acara yang diliput. Namun ternyata tidak ada yang bisa diwawancara. Akhirnya dia menganggap, liputannya pagi itu bapuk.

Bagi jurnalis yang bertugas di kepolisian kata ini cukup sering dipakai. Biasanya bapuk juga disematkan ke narasumber yang tidak mau ngomong, memberi informasi minim, atau menghindar saat diwawancara. “Bapuk narsum nya,” kata wartawan menggambarkan narsum tersebut.

Saya sendiri kenal kata bapuk saat bertugas di Jakarta periode sekitar tahun 2010 an. Kenalnya dari senior saya bernama Windoro Adi, yang kini bertugas di Cirebon dan sekitarnya. Mas Win, begitu saya memanggilnya, sudah faseh dengan kata-kata itu saat menjelaskan narsum yang sulit diwawancara.

Kata bapuk sendiri belum ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Barangkali kata ini perlu dimasukkan ke perbendaharaan kata ke KBBI. Jika tidak, mungkin ada ungkapan lain yang artinya sepadan dengan bapuk. Apakah ada yang tahu ?

Salam, Depok 25 November 2018

ISIS, IS, NIIS, atau ISIL

ISIS, IS, NIIS, atau ISIL  

Belakangan singkatan ISIS kembali mengemuka setelah bom meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Narasumber berita paling banyak menyebut ISIS atau IS sebagai pengganti kelompok yang diduga terlibat dalam pengeboman itu.

ISIS mengacu pada kepanjangan Islamic State in Iraq and Syria, sedangkan IS kependekan dari Islamic State. Namun sebagian media massa memilih menggunakan NIIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Di luar itu semua, ada istilah lain yang juga mengemuka di media massa yaitu ISIL. ISIL dipakai sebagai kependekan dari The Islamic State of Iraq and the Levant.

Semua singkatan itu mengacu pada kelompok yang sama, kelompok yang diidentikkan sebagai pelaku teror dan menguasai wilayah Irak dan Syiria. Baiklah, itu persoalan lain. Bisa berkerut anda membacanya, dan sudah banyak ulasan mengenai hal itu. Kini saya ingin bicara tentang singkatan yang dimaksud.

Sebenarnya mana istilah yang tepat untuk menyebutkannya. Mengapa narasumber suka menyebut ISIS atau IS. Istilah itu kerap dipakai media luar negeri seperti New York Times, Financial Times, CNN TV, dan media lainnya.

Tak peduli siapa yang bicara dan darimana asalnya, jika menyebut ISIS atau IS seharusnya pelafalannya menggunakan ejaan Bahasa Inggris. Sehingga mengucapkannya dengan begini : ai sis. Jika IS maka menyebut dengan ; ai es.

Tetapi narasumber berita di tanah air, baik aparat, pengamat, narsum lain tetap menyebut dengan pelafalan Bahasa Indonesia (walau mengacu pada singkatan berbahasa Inggris). Mereka menyebutnya dengan ; i sis.

Kompas mencoba menggunakan istilah NIIS, yang mengacu pada kependekan berbahasa Indonesia. Penyelaras Bahasa Kompas Nur Adji mengatakan, penggunaan istilah NIIS mengacu pada istilah yang digunakan sebelumnya pada singkatan PBB. Singkatan ini dipakai untuk memendekkan lembaga dunia itu Pererikatan Bangsa Bangsa. Sehingga Kompas tidak menggunakan kependekan UN (United Nations).

Lalu mengapa Kompas menggunakan kata IMF (International Monetary Fund), mengapa tidak menggantinya dengan kata Dana Moneter Internasional (DMI) ?

“Pengunaan istilah di media massa tidak ada rumusan baku. Penggunaan itu dipengaruhi oleh rasa, ejaan, dan situasi sosial-politik yang berkembang,” kata Nur Adji.

Bagaimana pendapat anda ?

Aku Tulis Pamplet Ini

Pengarang: WS. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !