Ayam Kering Istana

Saya ingin cerita sesuatu yang ringan di tempat tugas baru di Istana Kepresidenan.

Ada banyak hal yang menyita perhatian sejak pertama meliput di istana 8 Desember 2014 lalu. Namun cerita tentang ayam kering ingin lebih dahulu saya bagi. Ayam kering adalah salah satu menu yang disediakan di ruang wartawan Istana Kepresidenan. Ruang ini sering disebut ruang bioskop, saya belum tahu mengapa disebut demikian.

Ayam kering itu menu yang paling dihindari dan dicari wartawan. Mereka menghindari karena bentuknya yang kecil banget. Bahkan sebagian wartawan menyebutnya sebagai anak ayam atau DOC lantaran saking kecilnya. Ukurannya mungkin setengah dari genggaman tangan orang dewasa.

Namun di balik bentuknya yang kecil, rasa ayam ini begitu gurih. Karena alasan inilah sebagian memburunya. Perburuan dilakukan dengan membuka satu persatu bungkus putih kotak nasi.

jika ketemu yang dicari, “Wah untung nemu ayam kering,” kata Sabrina Asril, wartawan Kompas.com penggemar ayam kering.

Rekan wartawan yang suka ayam kering tetapi tidak puas dengan bentuknya yang kecil, melakukan sedikit kecurangan. Mereka mencari bungkusan ayam kering lalu menggabungkannya dengan bungkusan yang lain. Jadi mereka memakan dua ayam kering dengan satu porsi nasi dan sayuran. Sementara bungkusan yang diambil ayamnya dibiarkan menganga tanpa ayam.

Kehadiran menu ayam kering itu memang fenomenal. Wartawan Bloomberg Indonesia Agus Salim Suhana mengatakan, menu itu sudah ada sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat. Agus tidak tahu mengapa menu itu selalu ada di ruang wartawan. Pihak Istana dua kali menyediakan makanan untuk wartawan, siang dan petang.

Saya teringat perlakuan yang serupa di kantor Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang kemudian menjabat sebagai Gubernur. Basuki juga menyediakan makanan untuk wartawan dua kali pada waktu yang sama. Namun menu di dua tempat ini berbeda. Staf Basuki menyediakan menu yang amat beragam setiap hari.

Usut punya usut, menu ini disediakan oleh Rumah Makan Padang “Sari Minang Baru.” Rumah makan ini beralamat di Jalan Tanah Abang I Nomor 6,  Jakarta Pusat, berjarak kurang dari 5 kilometer dari Istana. Seorang sumber di istana menyebutkan seluruh makanan yang dipasok ke sana melalui kontrak kerja sama. Mereka harus siap menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan yang tertera dalam kontrak perjanjian kerja.

Lalu menu ayam kering itu pilihan siapa ? mengapa tidak banyak variasi pada menu yang disediakan ? Rasa penasaran ini masih belum terjawab.

Cerita ini adalah awal dari banyak cerita yang akan saya buat di tempat tugas, meliput kegiatan kepala dan wakil kepala negara. Sekian…