Menunggu Ujung dari Rentetan Pertemuan…

Ketika rakyat menunggu sikap tegas Istana terkait polemik antar lembaga Polri dan KPK, Presiden terus menggelar rentetan pertemuan dengan sejumlah orang. Hal ini mengkonfirmasi sikap Presiden bahwa dia tidak akan mengambil keputusan sebelum mendengar pendapat dari banyak pihak.

“Saya tidak mau mengambil keputusan sebelum bertanya dengan banyak pihak. Itu sudah tipe saya,” kata Presiden Joko Widodo merespon harapan publik di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (24/1).

Pertemuan dengan Prabowo Kamis (29/1) melengkapi daftar tokoh yang bertemu Presiden Joko Widodo setelah polemik penegakan hukum di KPK dan Polri memanas. Pertemuan sekitar 30 menit ini mengejutkan jurnalis yang meliput kegiatan Presiden di Istana Bogor. Sebab jadwal tersebut tidak tercantum dalam daftar acara resmi Presiden yang sebar Biro Pers Istana.

Kabar pertemuan dengan Prabowo sudah merebak sehari sebelumnya. Wartawan menunggu pertemuan itu hingga Rabu (28/1) malam di kompleks Istana Kepresidenan. Namun pertemuan tidak jadi digelar. Sejak Kamis (29/1) pagi, kabar pertemuan itu semakin santer beredar.

Pertemuan dengan Prabowo ini mengingatkan pada pertemuan Presiden dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (8/12). Serupa dengan pertemuan Prabowo, pertemuan dengan Yudhoyono juga berlangsung 30 menit mulai pukul 13.05. Ketika itu, Yudhoyono tiba di istana didampingi Sudi Silalahi yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Sementara Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Sama halnya ketika menemui Prabowo, Presiden mempersilahkan tamunya Yudhoyono untuk berbicara terlebih dahulu ke jurnalis. Presiden juga mengantarkan Yudhoyono hingga ke depan pintu mobilnya. Ketika itu, suasana politik nasional sedang tertuju pada pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Wali Kota.

Tersebab Budi Gunawan

Awal mula kegaduhan soal KPK dan Polri terjadi ketika Presiden mengajukan nama Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat 9 Januari 2015. Kegaduhan makin gaduh ketika KPK menetapkan Budi sebagai tersangka kasus korupsi, Selasa 13 Januari.

Publik gerah. Mereka mendatangi Kantor KPK dan memberikan dukungannya atas pemberantasan korupsi. Pengamatan penulis, Presiden menerima sejumlah tamu petinggi partai politik pendukungnya di Istana Kepresidenan. Di tengah panasnya situasi, Polisi menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto di Depok, Jumat (23/1).

Pada hari itu juga, Presiden memanggil sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara di Istana Bogor. Mereka yang dipanggil antara lain Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, Ketua KPK Abraham Samad, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno, Jaksa Agung M Prasetyo, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Kepala Staf Kepresidenan Luhut B Panjaitan, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan Bogor yang berisi agar tidak ada gesekan antar lembaga Polri dan KPK.

Minggu (25/1), Presiden memanggil sejumlah tokoh antara lain Hikmahanto Juwana, Oegroseno, Bambang Widodo Umar, Tumpak Hatorangan Panggabean, Erry Riyana Hardjapamekas, dan Jimly Ashidiqie di Istana Merdeka. Pada pertemuan Minggu malam itu, Presiden meminta agar jangan ada kriminalisasi pada lembaga penegak hukum.

Rabu (28/1) Presiden bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden di pagi hari. Presiden menerima rekomendasi saran dan masukan terkait situasi yang berkembang. Di hari yang sama setelah pertemuan itu, Presiden menerima Tim Konsultatif Independen terkait hal yang sama.

Imam Prasodjo, salah satu anggota Tim Konsultatif Independen membenarkan bahwa Presiden lebih banyak mendengar. Selama berlangsungnya pertemuan, belum ada sinyal keputusan yang akan diambil Presiden. “Saya memahami posisi beliau, tetapi kami menyarankan agar nilai moral dikedepankan dalam mengambil keputusan,” kata Imam.

Dan sampai malam ini, Presiden masih memikirkan jalan terbaik buat negeri ini, semoga.