Berjarak Pada Tugas

Judul tulisan ini terinspirasi pada tugas sehari-hari saya sebagai jurnalis. Seorang jurnalis itu mendapat anugerah bisa bergaul dengan siapa saja, dari masyarakat di level bawah hingga Presiden. Ini benar-benar saya alami dalam tugas yang sudah menginjak tahun ke-12.

Karena keistimewaan itu, maka perlu ada kode etik yang sudah diatur dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Ada pagar-pagar yang seharusnya dipatuhi jurnalis. Ini demi menjaga independensi sikap dan karya. Namun kenyataan di lapangan tidak sesimpel aturan kode etik. Pada banyak kondisi jurnalis dihadapkan pada hubungan personal terlalu jauh, begitu dekat dan hampir tidak berjarak.

Kadang kondisi ini mengalir begitu saja, karena memang ada kecocokan chemistry. Saya pernah mengalaminya di Surabaya, Medan, dan Jakarta. Pada saat kasus bus transjakarta karatan terungkap, sebagian rekan-rekan saya menanyakan, “Bagaimana “bapakmu” itu, kok berani-beraninya korupsi ?” “Dia terlalu dekat sama Mas Andy sih, coba dekat dengan kita-kita.”

Saya akui, memang saya dekat dengan narasumber yang dimaksud. Tetapi saya tidak pernah menganggapnya sebagai bapak. Tetapi saya tidak menyalahkan sorotan-sorotan itu, karena memang saya dapat menjalin hubungan baik dengan narsum yang dimaksud. Tetapi “Saya tidak menjadi bagian dari hidupnya, saya bukan juru bicara resmi atau pribadinya, saya juga tak pernah terima gaji apapun dari dia.”

Tidak enak pada posisi dituding seperti itu.

Sebaliknya, sebagian rekan-rekan sesama profesi larut di tempat tugasnya. Karena bertugas di tempat tertentu, menjadi yang terdepan membela kepentingan tempat tugasnya. Dua situasi yang berbeda yang saling terkait. Betatapun, menurut saya, pada saat menjalankan tugasnya, jurnalis harus berjarak pada narasumbernya.

Begitu pun saat saya bertugas di Istana meliput Presiden yang saya pilih saat pemilu 2014 lalu. Saya masih menyisakan ruang kecewa dan ruang kritik. Saya ingin membangun pola pikir yang sehat. Presiden pilihan saya belum tentu benar terus, ada kalanya perlu dikritik, dan diingatkan agar mampu memimpin negeri ini.

Demikian pandangan saya.

#diketikketikamatabelumdapatterpejam

Andy Riza Hidayat