Komunikasi, Komunikasi, Ternyata Tak Sepele

Soal komunikasi, ternyata bukan hal sepele. Karena persoalan itu terjadi konflik terbuka antara Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dengan DPRD. Kedua pihak saling tuding sebagai pihak yang salah soal penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2015. Saya amati, ini memang berakar pada komunikasi, jika gaya politik Pak Ahok lebih luwes saya kira polemik ini tidak akan terjadi. Di luar persoalan itu, saya yakin, ada tikus-tikus kantor yang memancing di air keruh. Mereka ini yang mencari keuntungan dari birokrasi pemerintahan, bisa di DPRD dan Pemprov DKI.

Melawan korupsi, memang tidak bisa dengan frontal dan ceplas-ceplos. Malingnya keburu lari atau bisa bersatu melawan pendekar galak. Jika analogi saya salah, tulisan ini bisa diganggu gugat, silahkan. Inilah sekelumit kisah itu di Ibu Kota.

Polemik Anggaran

Kesempatan Terakhir pun Kandas

Senin (23/3) lalu, seharusnya menjadi hari istimewa untuk mengakhiri polemik panjang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta 2015. Namun harapan itu tidak tercapai. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama tidak menyepakati pembahasan APBD 2015.

Konsekuensinya, Pemprov DKI pada tahun anggaran 2015 ini, menggunakan pagu anggaran tahun 2014. Program pembangunan yang disusun tahun 2015 tak dapat dijalankan. Sebab program yang dipakai adalah program tahun lalu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menyayangkan hal ini. Lobi dengan sejumlah pimpinan partai belum mampu menyelesaikan masalah.

Walau tak tercapai kesepakatan, Kalla tidak ingin perseteruan elit di DKI Jakarta terus berlanjut. Sebab jika berlangsung terus, maka rakyat yang akan dirugikan.

Kalla melihat ada ketidakharmonisan antara Gubernur DKI dan pimpinan DPRD, hal ini dipicu oleh komunikasi yang buruk. Mediasi Senin lalu sebenarnya untuk mencairkan kebekuan komunikasi tersebut. Kepada Basuki Tjahaja Purnama, Kalla meminta agar memperbaiki cara bertutur. Boleh tegas, namun Basuki diharap lebih sopan dan tidak kasar menggunakan kata-kata.

Basuki menerima masukan itu. Dia menganggap masukan Kalla seperti petuah orangtua pada anaknya. Dia berjanji akan memperbaiki cara bertutur ke publik agar lebih santun.

“Saya kira yang disampaikan Pak JK itu benar, jadi Pak Wapres sampaikan alangkah baiknya semua seperti satu keluarga, masa mau berantem terus,” kata Basuki.

Kalla menyampaikan hal itu di Kantor Wakil Presiden ketika menggelar pertemuan tertutup dengan Basuki dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang datang pukul 15.00. Sekitar 15 menit kemudian Basuki tiba di Kantor Wapres mengenakan batik cokelat. Kurang dari satu jam, pertemuan itu usai, Tjahjo dan Basuki meninggalkan Kantor Wapres.

Pukul 16.30, rombongan pimpinan DPRD DKI tiba di tempat yang sama. Raut muka seluruh pimpinan DPRD itu datar, sedikit sekali melempar senyum walau sebagian jurnalis menyapa mereka. Sebelum pertemuan dengan Kalla, pimpinan DPRD DKI tersebut membuat keputusan politik bahwa mereka tidak akan menandatangani APBD 2015. Mereka menyerahkan ke Gubernur DKI agar membuat Peraturan Gubernur.

Mediasi Senin itu, berlangsung pada hari di mana dokumen APBD harus diserahkan ke Kementerian Dalam Negeri. Karena waktunya sudah mepet, pembicaraan tidak bisa dilanjutkan untuk sementara waktu. Pilihan “buruk” terpaksa diambil, agar jalannya pemerintahan tetap berlangsung. Menurut Kalla menggunakan pagu APBD tahun 2014 sebuah pilihan sulit.

“Seharusnya ini tidak boleh terjadi, persoalan pribadi tidak boleh mengganggu kepentingan rakyat,” kata Kalla.

Komunikasi

Menjelang magrib, pertemuan Kalla dengan pimpinan DPRD DKI usai. Berkali-kali Ketua DPRD DKI Parasetio Edi Marsudi menyoroti gaya bertutur Basuki yang dinilainya kasar. Hal itu membuat harga diri pimpinan DPRD terusik. Mewakili seluruh anggota DPRD, Prasetio merasa, ucapan Basuki

melecehkan wakil rakyat.

Selama proses pembahasan APBD, nama baik pimpinan DPRD sudah tercoreng. Sebab dituduh maling, penipu, dan kata-kata kotor lain. Padahal, DPRD memiliki hak juga mengusulkan program pembangunan. Jika Gubernur tidak setuju, sebaiknya dihapus saja usulan dewan. “Tidak perlu teriak di media. Kami ini punya keluarga,” kata Prasetio.

Lantaran persoalan itu juga, DPRD tetap meneruskan hak angket. Hal itu, kata Prasetio, belum dapat dicabut karena sudah menjadi keputusan politik. Prasetio dan pimpinan DPRD lain belum dapat memastikan kebekuan hubungan tersebut dengan Gubernur DKI.

Menurut Prasetio, hubungan dengan Basuki bisa akan lebih baik jika komunikasi terjalin baik. Begitu pun pembahasan APBD mungkin tidak sepelik saat ini. “Persoalannya hanya komunikasi, ke depan jangan sampai ada kata-kata kotor lagi. Tetapi siapa yang bisa menjamin ada perubahan sikap Pak Ahok (panggilan akrab Basuki),” kata Prasetio.

Polemik panjang APBD di DKI baru pertama terjadi di Indonesia. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo tidak menginginkan hal itu terjadi di wilayah lain.

Menurut Tjahjo Pemprov dan DPRD DKI satu kesatuan dalam tatanan pemerintah daerah. Namun sepertinya hal ini terganjal masalah komunikasi yang buruk. (NDY)

Mereka Juga Ingin Nonton Bioskop

Baru kali ini saya tahu, orang tunanetra dapat menonton bioskop. Mereka punya cara sendiri menonton agar dapat menikmati setiap adegan seperti layaknya orang lain. Mereka membuktikan, dunia tidak berbatas, oleh sekat apapun. Inilah kisahnya, ulasan yang saya buat 30 Maret, saat peringatan Hari Film Nasional ke-65 di Istana Negara Jakarta. Ulasan ini dimuat di Kompas, Rabu 1 April 2015. Selamat menikmati…

Dua Jam Presiden Menjadi Pembisik

Dunia memang tak berbatas. Kesempatan mengetahui sesuatu berlaku untuk semua orang, termasuk bagi mereka yang hidup dalam “kegelapan.” Kenichi Satria Kaffah (12), lelaki penderita low vision sejak lahir itu tetap bisa menonton film. Hanya saja, dia perlu bantuan pembisik untuk memperjelas adegan tanpa dialog selama pertunjukan.

Malam itu, Kenichi dibantu pembisik istimewa yaitu Presiden Joko Widodo. Selama 120 menit, Joko Widodo berbisik pada Kenichi di setiap adegan penting film “Cahaya dari Timur”. Kenichi yang duduk di sisi kiri Presiden menyimak suara bisikan itu. Dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Lebak Bulus, Jakarta Selatan dapat menikmati film itu seperti ratusan penonton lain.

Film peraih piala Citra 2014 itu diputar di Istana Negara dalam rangka memperingati hari perfilman nasional, Senin (30/3) malam. Kenichi hadir bersama 30 anak-anak penyandang tunanetra di ruangan itu. Mereka disebar berdampingan dengan para aktris dan aktor nasional. Sebagian tunanetra didampingi relawan dari perusahaan digital Think Web yang rela menjadi pembisik.

Selama pemutaran film, Jokowi bersandar di kursinya. Dia mendekatkan kepalanya ke kepala Kenichi. Suara Jokowi terdengar jelas di telinga Kenichi. Tanpa bertanya, Jokowi sudah tahu bahwa di sisi kirinya adalah anak yang mengalami gangguan penglihatan. Dia bertugas layaknya relawan yang sedang menggelorakan gerakan bioskop berbisik.

Kenichi gembiranya bukan main. Penjelasan Jokowi cukup memberinya gambaran memahami alur film garapan Angga Dwimas Sasongko. Pada awalnya Kenichi deg-degan, sebab baru pertama mendengar suara Presiden dari dekat. “Tetapi Pak Jokowi cepat akrab, dia langsung berbisik pada saya selama film berlangsung,” kata Kenichi.

Pada malam perayaan Hari Film Nasional ke-65 itu, Kenichi duduk di deretan bangku paling depan di Istana Negara. Selain Presiden, dia satu deret dengan sejumlah menteri Kabinet Kerja dan sineas senior nasional. Rekan-rekannya juga mendapat perlakuan serupa, sejumlah relawan membisikkan informasi selama film berlangsung.

“Itu mereka lagi berantem, yang satu ayahnya mati karena polisi, yang satuya anak polisi. Padahal mereka satu tim sepakbola, mereka mewakili Maluku,” terdengar bisikan relawan kepada penyandang tunanetra. Adegan itu begitu cepat, ketika Salembe anak Tulehu berantem dengan rekan sesama tim Maluku. Bagi orang dengan penghilatan normal, adegan itu dapat dimengerti. Namun bagi penyandang low vision perlu penjelasan lebih detail dari orang terdekat atau perangkat elektronik.

Gerakan kritis

Kenichi dan sejumlah rekannya yang mengalami gangguan penghilahan sebenarnya masih bisa melihat samar-samar. Namun untuk adegan tanpa dialog atau silent scnene, penyandang tunanetra perlu bantuan. Di sejumlah negara maju, pengelola bioskop menyediakan perangkat elektronik yang membantu tunanetra menikmati film.

Perangkat tersebut menyediakan narasi tambahan ketika adegan tanpa dialog berlangsung. Perangkat itu tersedia di kursi-kursi khusus yang ada di bioskop. Persoalannya, bioskop di Indonesia belum dilengkapi perangkat itu.

Jika pun melihat film levat DVD (digital video disk), produsen DVD seharusnya menyediakan narasi tambahan pada adegan tanpa dialog.

Humas Yayasan Mitra Netra Aria Indrawati mengatakan perlu gerakan bioskop berbisik untuk mengakomodir kepentingan tunanetra. Yayasan Mitra Netra memulai gerakan ini tahun 2007, namun belum mendapat sambutan publik. Baru tahun 2015, gerakan bioskop berbisik mulai direspon sejumlah kalangan.

Salah satu proyek awal gerakan ini adalah dengan melengkapi film Janji Jhoni dengan narasi tambahan untuk kaum tunanetra. Aria berharap, pengelola bioskop maupun produsen industri film memahami persoalan ini. Untuk sementara relawan yang mendukung gerakan ini menyediakan waktu dan tenaganya mendampingi mereka yang terganggu penglihatan menonton bioskop.

Malam itu, Presiden mencanangkan gerakan “Ayo Nonton Film Indonesia.” Gerakan ini merupakan tonggak upaya untuk membangkitkan industri film nasional di rumah sendiri. Pemerintah akan memberikan insentif produksi film dan memudahkan masyarakat menonton film. Peresmian gerakan itu dilakukan oleh Presiden Joko Widodo sebelum menjadi pembisik Kenichi di Istana Negara.

Tidak hanya komunitas bioskop berbisik, hadir dalam acara itu, komunitas Minikino Denpasar, Kremov Serang, Bandung Art Council, Kineklub Malang, SOI Medan, Dejavu Balikpapan, Sinesofia, UCDC lampung, Batam Film Festival, dan Sanggar Ciliwung Merdeka. Olga Lydia, salah satu anggota panitia menyampaikan film harusnya dapat dinikmati oleh siapapun, termasuk mereka yang terganggu penglihatannya.

Di akhir acara, Kenichi begitu bangga. Dia menyampaikan terimakasih ke Presiden yang mau menjadi pembisiknya untuk film Cahaya dari Timur. Malam itu, Kenichi semakin yakin, bahwa dunia tak berbatas oleh sekat apapun, termasuk baginya yang menderita low vision. (Andy Riza Hidayat)