Hari-hari yang Mencemaskan

Menyimak hari-hari ini, serasa negara dalam kondisi yang tidak terlalu aman. Paling tidak terkait persoalan ekonomi. Presiden dua pekan terakhir menggelar rangkaian pertemuan dengan banyak pihak. Tema besarnya tentang kondisi ekonomi.

Keseriusan (bukan kepanikan) ini terjadi karena devaluasi mata uang yuan, penguatan mata uang dollar, krisis Yunani, konflik di semenanjung Korea, dan fenomena dunia lain. Semuanya membawa kondisi perekonomian global yang makin tidak menentu. Ekonom bilang situasi ini disebutnya dengan sebutan black monday. Senin kelabu. Situasi kelabu di saat bisnis dimulai di awal pekan.

Kekhawatiran perekonomian akan makin buruk terjadi pada saat rupiah menyentuh angka Rp 14.000 per satu dollar AS. beberapa hari bahkan lebih dari Rp 14.000 per satu dollar AS. Di media sosial, nilai tukar rupiah terhadap dollar sempat menjadi olok-olok karena mirip dengan call center makanan cepat saji.

Saya bukan orang ekonomi, tetapi mau tidak tidak mau harus memantau situasi yang tengah berkembang. Meliput peristiwa-peristiwa itu lalu menjahitnya menjadi rangkaian berita.

Kemarin, Kamis (27/8) pemerintah kembali menggelar pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta. Pemerintah menyatakan sedang menyiapkan paket kebijakan ekonomi baru untuk menjawab pelemahan ekonomi global yang sedang terjadi. Adapun target yang diharapkan dari langkah tersebut adalah menggerakkan perekonomian nasional dan mendorong masuknya valuta asing.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan bahwa pemerintah berkepentingan menarik valuta asing masuk. Harapannya langkah itu dapat menurunkan tekanan dollar terhadap rupiah. “Paket ini menyangkut sektor riil, keuangan, deregulasi kelembagaan dan aturan, penerbitan kebijakan baru, serta pemberlakuan tax holiday,” kata Darmin Nasution usai bertemu Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden.

Bagaimana ujung dari cerita ini ? Saya tertarik untuk terus menyimaknya..

Jakarta, Jumat 28 Agustus 2015

Podium Pertama Sang Presiden

*Pidato Kenegaraan

Banyak tokoh dunia menggunakan pidato untuk membakar semangat maupun menggalang solidaritas sebuah bangsa. Dari podium pidatolah Barrack Obama dikenal sebagai figur penting Amerika Serikat setelah tampil pada konvensi Partai Demokrat 27 Juli 2004.

Saat itu Obama menyerukan semangat antidiskriminasi. Dia meyakini bahwa semua manusia diciptakan sama. Mereka yang lahir ke dunia diberkati Sang Pencipta mereka dengan hak-hak asasi untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan.

Pidato selama 16 menit itu membuat nama Obama makin dikenal di Amerika Serikat. Richard Greene, dalam bukunya “Words That Shook The World” menilai Obama telah mendobrak masalah diskriminasi yang berkembang ratusan tahun. Karena hal itulah, nama Obama naik daun ke panggung politik AS.
Mirip dengan itu, Presiden Joko Widodo ingin membangun semangat optimisme rakyat. Saat pertama kali menyampaikan pidato kenegaraan 14 Agustus lalu, Presiden banyak menyinggung tentang potensi Indonesia sebagai sebuahbangsa besar.

Di pungkasan pidato 42 paragraf itu, Presiden mengatakan, “Kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya. Untuk hidup sejahtera perlu kerja keras, butuh pengorbanan. Ayo kerja untuk bangsa! Ayo kerja untuk negara ! Ayo kerja untuk rakyat !”

Serupa dengan Obama saat di Boston AS, Jokowi juga mendapat tepuk tangan hadirin yang menyaksikan pidatonya di Gedung DPR MPR. Dr Felicia N Utorodewo, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berpendapat pidato Presiden mirip apologia atas hal yang terjadi sekarang ini.

Hal ini terlihat pada paragraf 18—23 pidatonya. Di paragraf-paragraf tersebut Presiden lebih banyak menyampaikan harapan dan ajakan kepada rakyat Indonesia. Di paragraf 19 misalnya, Presiden mengutarakan program mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor-sektor produktif.

Presiden berupaya menjelaskan bahwa program itu dilakukan dengan mengalihkan dana subsidi senilia Rp 240 triliun untuk membangun sekolah, membangun rumah sakit, meningkatkan kesejahteraaan rakyat melalui program ekonomi produktif, dan perlindungan sosial, serta membangun lebih banyak lagi infrastruktur.

Sementara pada paragraf 27 dikatakan bahwa pemerintah telah memperbanyak pasar rakyat. Namun sayangnya, tidak ada angka yang menunjukkan jumlah perbanyakan pasar tersebut. Adapun di paragraf 25—35 pidato Jokowi lebih banyak berisi harapan yang ingin dicapai. Paragraf-paragraf tersebut mengandung deskripsi harapan yang ingin dicapai oleh pemerintah.
“Kita juga akan membangun kekuatan pertahanan Negara yang tangguh dengan memberdayakan alutsista produksi dalam negeri,” kata Presiden dalam pidatonya di paragraf 35.

Masih muda

Felicia berpandangan pidato tersebut belum sepenuhnya membicarakan capaian atau keberhasilan Pemerintah. Materi pidato Presiden masih minim dengan pembuktian faktual berupa rincian logis, uraian kuantitatif atau alasan kualitatif.
Dia menduga kenyataan ini terjadi karena masa pemerintahan pimpinan Jokowi masih sangat muda, belum genap setahun, belum banyak yang dapat dilaporkan oleh Presiden. Semua masih dalam rencana.

Ada sejumlah hal yang sebenarnya ditunggu publik yakni
penjelasan perombakan kabinet dari Presiden langsung. Hal ini disampaikan di paragraf 15 pidato Presiden. Namun sayang Jokowi hanya menyinggung sedikit alasan perombakan kabinet.

“Saya juga tidak tahu apakah peraturan protokoler keistanaan memilki kebijakan untuk tidak membahas hal perombakan kabinet dalam pidato kenegaraan. Padahal hal itu menjadi perhatian masyarakat,” kata Felicia.

Betata pun juga, pidato ini tetap memberi harapan baru kepada masyarakat Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan. Pesan positif tersebut yang dapat ditangkap Felicia dari pidato perdana kenegaraan Jokowi di DPR.
Belum tersampaikan

Sutejo, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) menyoroti tentang penggunaan bahasa Presiden. Ajakan presiden untuk bersatu membangun bangsa agar berdaulat secara politik, ekonomi, dan budaya adalah hal yang baik.
Namun, Presiden sebaiknya juga menyinggung kedaulatan Bahasa Indonesia. Di usia RI yang ke-70, tidak salah jika Presiden mengingatkan salah satu unsur pemersatu bangsa adalah Bahasa Indonesia.
Dia mengapresiasi pidato Presiden yang telah mengutamakan bahasa Indonesia di dalam pidatonya. Hal ini terbukti dari minimnya penggunaan istilah asing di tiga pidatonya di hari Jumat 14 Agustus lalu. Seharusnya hal ini menjadi teladan pejabat negara lain saat menyampaikan pidato resminya di depan publik.

Tidak hanya pejabat negara, warga biasa juga menunggu materi pidato Presiden pekan lalu. Muslichun, warga Petamburan, Jakarta Pusat penasaran dengan materi pidato presiden. Sebagai keluarga kalangan pegawai negeri sipil (PNS), dia ingin tahu pandangan presiden tentang kesejahteraan pegawai.
Biasanya dalam pidato kenegaraan, maupun pidato tentang rancanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, hal itu disampaikan Presiden sebelumnya. Namun Muslichun tidak mendapatkan informasi tentang itu.
Menurut dia, pidato Presiden itu lebih mirip sebagai seorang motivator bagi rakyatnya. Bukannya tidak baik, namun sebaiknya pidato tahunan seperti itu menyentil hal-hal sedang ditunggu-tunggu publik. (Andy Riza Hidayat)

#dimuat di harian Kompas, Jumat 21 Agustus 2015

Great Ways to Generate Much more Persuasively

Great Methods to Produce Extra Persuasively

There?ll be moments when you have to complete it formally – for instance, if you are elevating revenue for just a great bring about so you want some information for your personal JustGiving site. More typically, there?ll be periods if you need to have to get persuasive with no it seeming much too clear – for example, in masking letters, as well as inside a last-ditch ?I have not finished my essay but please do not make me fail this class? email to the professor at college. In either scenario, creating a great occupation of your respective persuasive creating is vital.

But it?s also challenging. You never need to go overboard and begin sounding similar to a nineteen fifties door-to-door salesman placing around the challenging provide. You furthermore may never choose to undersell the subject a lot that the audience does not conclusion up persuaded. And there are actually a large number of cliches in persuasive creating (?you just will not believe what they did!? ?Nothing could possibly be much more obvious!? ?Eight outside of ten cats adore Whiskas!?) which can be also best avoided. Here?s a look at some transferable persuasive creating procedures which will have your viewers won spherical for your perspective very quickly.

Continue reading “Great Ways to Generate Much more Persuasively”

Mudik, Perjalanan untuk Belajar (1)

 

Setiap orang memiliki kesan dengan perjalanannya, saya pun demikian. Perjalanan mudik yang saya jalanani kapan hari saya anggap sebagai perjalanan untuk belajar. Bagi saya, terutama bagi dua anak saya.

Bahwa perjalanan itu yang penting bukan tujuannya, melainkan proses menuju ke sana. Setiap mencapai tujuan, perlu proses dan kesabaran, itulah salah satu pembelajaran yang bisa saya petik untuk Elinga dan Lui, dua anak saya.

Setelah sebelumnya saya selalu mudik dengan pesawat, tahun ini saya mudik dengan kereta. Kami berangkat dengan kereta Agro Anggrek pukul 09.30 dari Stasiun Gambir tujuan Stasiun Pasar Turi Surabaya. Elinga dan Lui riangnya bukan main ketika kereta yang mereka tunggu tiba. Dalam perjalanan mereka juga senang melihat pemandangan di balik jendela kereta.

Pada paroh perjalanan, dua anak saya itu mulai bosan. Lui menanyakan mengapa tidak sampai-sampai ke rumah eyangnya di Jawa Timur ? Saya bilang, sabar, nanti akan sampai. Sementara Elinga mulai menghabiskan waktu dengan memainkan gawai ibunya.

Agar tidak bosan, mereka saya ajak jalan ke gerbong 4, lokasi gerbong makan berada. Mereka heran, mengapa di dalam kereta ada “restoran.” Saya senang dapat menemani mereka mengenal banyak hal baru. Kami duduk di restoran itu dan memesan makanan.

Namun makanan kesukaan Elinga tidak ada, ayam bakar kecap, yang ada ayam bakar taliwang yang pedas. Elinga kecewa, saya bilang sabar, masih ada menu lain. Tidak semua keinginan itu harus terlaksana, itu pelajaran berikutnya. Saya pesan ayam goreng tanpa sambal, sementara Elinga masih menggerundel. Tetapi itulah pilihan terbaik daripada tidak makan. Pada saat kemudian, Elinga juga mau memakannya.

Silaturahmi

Begitu sampai di Surabaya, hari sudah mulai gelap. Mereka girang, bergegas membantu mendorong koper kami. Lalu keduanya berlari keluar gerbong, menghampiri Om nya yang menjemput di stasiun. Kali mereka mulai belajar bersilaturahmi.

Kegirangan itu berlanjut hingga ke rumah eyangnya di Gresik. Mereka salim lalu memeluk eyangnya sambil bercerita pengalaman menggunakan kereta. Esok harinya kami melanjutkan silaturahmi ke keluarga lain di Gresik. Kebosanan kembali datang, dan mereka tidak tahan dengan obrolan orang-orang dewasa di sekitarnya. Ponakan kami yang ikut datang juga sibuk dengan mainannya sendiri. Seharusnya mereka bisa berbaur dan membicarakan urusan anak-anak. Tetapi mereka mencari tempat kesukannya, ada yang di teras, jalan depan rumah, dan di kamar.

Bersambung….