Mudik, Perjalanan untuk Belajar (1)

 

Setiap orang memiliki kesan dengan perjalanannya, saya pun demikian. Perjalanan mudik yang saya jalanani kapan hari saya anggap sebagai perjalanan untuk belajar. Bagi saya, terutama bagi dua anak saya.

Bahwa perjalanan itu yang penting bukan tujuannya, melainkan proses menuju ke sana. Setiap mencapai tujuan, perlu proses dan kesabaran, itulah salah satu pembelajaran yang bisa saya petik untuk Elinga dan Lui, dua anak saya.

Setelah sebelumnya saya selalu mudik dengan pesawat, tahun ini saya mudik dengan kereta. Kami berangkat dengan kereta Agro Anggrek pukul 09.30 dari Stasiun Gambir tujuan Stasiun Pasar Turi Surabaya. Elinga dan Lui riangnya bukan main ketika kereta yang mereka tunggu tiba. Dalam perjalanan mereka juga senang melihat pemandangan di balik jendela kereta.

Pada paroh perjalanan, dua anak saya itu mulai bosan. Lui menanyakan mengapa tidak sampai-sampai ke rumah eyangnya di Jawa Timur ? Saya bilang, sabar, nanti akan sampai. Sementara Elinga mulai menghabiskan waktu dengan memainkan gawai ibunya.

Agar tidak bosan, mereka saya ajak jalan ke gerbong 4, lokasi gerbong makan berada. Mereka heran, mengapa di dalam kereta ada “restoran.” Saya senang dapat menemani mereka mengenal banyak hal baru. Kami duduk di restoran itu dan memesan makanan.

Namun makanan kesukaan Elinga tidak ada, ayam bakar kecap, yang ada ayam bakar taliwang yang pedas. Elinga kecewa, saya bilang sabar, masih ada menu lain. Tidak semua keinginan itu harus terlaksana, itu pelajaran berikutnya. Saya pesan ayam goreng tanpa sambal, sementara Elinga masih menggerundel. Tetapi itulah pilihan terbaik daripada tidak makan. Pada saat kemudian, Elinga juga mau memakannya.

Silaturahmi

Begitu sampai di Surabaya, hari sudah mulai gelap. Mereka girang, bergegas membantu mendorong koper kami. Lalu keduanya berlari keluar gerbong, menghampiri Om nya yang menjemput di stasiun. Kali mereka mulai belajar bersilaturahmi.

Kegirangan itu berlanjut hingga ke rumah eyangnya di Gresik. Mereka salim lalu memeluk eyangnya sambil bercerita pengalaman menggunakan kereta. Esok harinya kami melanjutkan silaturahmi ke keluarga lain di Gresik. Kebosanan kembali datang, dan mereka tidak tahan dengan obrolan orang-orang dewasa di sekitarnya. Ponakan kami yang ikut datang juga sibuk dengan mainannya sendiri. Seharusnya mereka bisa berbaur dan membicarakan urusan anak-anak. Tetapi mereka mencari tempat kesukannya, ada yang di teras, jalan depan rumah, dan di kamar.

Bersambung….