Lawatan Pertama Presiden Jokowi ke Timur Tengah

Untuk pertama kalinya, sebagai Presiden,  Joko Widodo memimpin delegasi Indonesia bertandang ke Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, dan Qatar pada 11-15 September. Kunjungan dini dilakukan untuk membuka peluang investasi dari negara-negara Timur Tengah ke Indonesia.

Presiden mendarat di Jeddah, Jumat (11/9) malam waktu setempat, bertepatan dengan  hari di mana saat itu terjadi musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram, Makkah.

(Andy Riza Hidayat)

Misi Indonesia di Tengah Badai Gurun

Misi Indonesia di Tengah Badai Gurun

Lawatan Presiden Joko Widodo ke tiga negara di Timur Tengah dianggap sebagai upaya untuk membuka gembok pintu yang lama terkunci. Lawatan tersebut dilakukan untuk menghidupkan kembali hubungan erat yang pernah terjalin abad ke-13. Ketika itu, hubungan dagang saudagar nusantara dengan saudagar di Jazirah Arab sangat kental.

Namun kini, investasi negara-negara di Timur Tengah tergolong masih minim. Nilainnya masih kalah dominan dengan investasi dari Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, maupun Amerika Serikat. Seakan-akan, dana dari Timur Tengah sulit sekali masuk ke Indonesia. Mitos inilah yang akan dipatahkan oleh Presiden Jokowi saat bertandang ke Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, dan Qatar pada 11-15 September.

Misi dimulai dari Arab Saudi, negara berpenduduk 27,34 juta. Harapannya, setelah “menaklukkan” negeri itu, maka banyak negara di Jazirah Arab bisa menerima misi Indonesia.

Tiga bulan persiapan misi ke Arab Saudi, sempat diwarnai dengan ketidakpastian. Sebab pihak kerajaan baru memastikan kesiapan menerima kedatangan Presiden Joko Widodo dan rombongan sepekan sebelum keberangkatan. Informasi yang dihimpun Kompas, keluarga kerajaan sebelumnya masih melewatkan liburan di Amerika Serikat.

Sambutan ke Presiden

Meski terkesan mendadak, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis Al Saud tidak main-main menyambut kedatangan Presiden, Jumat (11/9) malam waktu setempat. Malam itu, negara penghasil minyak itu masih dilanda badai pasir. Bahkan angin kencang disertai pasir gurun meorobohkan alat berat di Masjidil Haram, Mekkah hingga menimpa ratusan jamaah calon haji.

Di tengah bencana itu, Raja Salman tetap datang ke Bandara Internasional Jeddah, menyambut Jokowi di depan pintu pesawat. Raja menyampaikan, malam itu sedang terjadi badai dan musibah di Mekkah. Upacara penyambutan yang sudah disiapkan batal.

Presiden memulai jadwal kenegaraan di Jeddah Sabtu (12/9). Dari pagi hingga malam hari, Presiden Jokowi harus menghadiri 13 pertemuan terjadwal dan satu pertemuan tidak terjadwal. Hari itu Presiden bertemu Raja Salman, jajaran menteri Kerajaan Arab Saudi, pelaku usaha, pimpinan organisasi internasional yang berkantor di Arab Saudi, serta tamu kenegaraan lain.

Dari Arab Saudi, terdapat sejumlah kesepakatan penting, di antaranya rencana investasi perusahaan perminyakan Arab Saudi yaitu Saudi Arabian Oil Co atau Saudi Aramco senilai total 14,3 miliar dollar Amerika Serikat, penambahan kuota haji 10.000 orang, permohonan peringanan hukuman Indonesia bari empat warga yang terancam hukuman mati, dan program investasi melalui pinjaman Islamic Development Bank (IDB).

Minggu (13/9) pagi, Presiden melanjutkan misinya ke Persatuan Emirat Arab (PEA). Pesawat mendarat di Bandara Internasional Abu Dhabi dan kali ini juga disambut langsung Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Mohammed bahkan meniadakan protokoler yang lazim diberlakukan di banyak negara.

Putra mahkota yang baru berusia 51 tahun ini meminta Jokowi duduk di jok depan mobilnya. Lalu menjamunya dalam jamuan makan siang di sebuah restoran umum di Abu Dhabi. Pada pertemuan itulah, Jokowi meminta PEA meningkatkan investasinya di Indonesia. Tanpa basa-basi pembicaraan mengalir, semua permintaan Presiden diamini Mohammed.

Salah satu investasi dari PEA yang akan masuk ke Indonesia adalah pengelolan Pelabuhan Tanjung Api-api, Sumatera Selatan (bukan Bagan Siapiapi, Riau). Pemerintah ingin menjadikan pelabuhan itu berkelas internasional dengan menjalin kemitraan pada pengelola Dubai Port.

Di Doha, Qatar, Jokowi memanfaatkan pertemuan empat mata dengan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad. Lagi-lagi di pertemuan itu, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia ingin investasi dari Qatar masuk ke Indonesia. Emir Thamim berbisik pada Jokowi, jika ada persoalan, silahkan menelponnya langsung. “Tidak usah formal-formal,” kata Thamim kepada Jokowi di Istana Diwan Emiri, Doha, Senin (14/9) siang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pilihan Indonesia mengunjungi tiga negara tersebut bukan tanpa alasan. Secara politik, Arab Saudi dipilih karena memiliki pengaruh kuat di jazirah Arab. Hal ini ditandai beberapa organisasi internasional berkantor di negara ini, di antaranya Organization of Islamic Cooperation atau Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Gulf Organization of Islamic Cooperation, Gulf Cooperation Council, Muslim World League, dan Islamic Development Bank (IDB).

Kunjungan Presiden ke sana sekaligus membuka dialog strategis dengan negara-negara di kawasan Teluk Persia. Ungkapan yang pas untuk kunjungan Presiden kali ini adalah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali datang, banyak hal yang dicapai.

Negara seluas 2,149 juta kilometer persegi itu menguasai seperlima cadangan minyak dunia. Ekonomi Arab Saudi ditopang leh produsi minyak, lebih dari 75 persen pendapatan negara dan 90 persen pendapatan ekspor diperoleh dari ekspor perminyakan.

Peran penting

Azyumardi Azra, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tidak terlalu yakin masuknya investasi tiga negara Arab itu ke Indonesia. Mereka saat ini sedang membutuhkan dana membiayai konflik di kawasan itu. Konflik bersenjata di kawasan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Kedatangan delegasi Indonesia, kata Azyumardi, diyakini dapat memperkuat langkah politik negara-negara yang dikunjungi Presiden. Lepas dari persoalan ekonomi, menurut Azyumardi, secara politis, kunjungan Presiden ke tiga negara tersebut menguntungkan mereka.

Indonesia sebenarnya bisa memainkan peran penting tanpa harus dimanfaatkan kehadirannya. Indonesia bisa menyebarkan Islam moderat yang berkembang di tanah air ke negara-negara itu. Harapannya, dengan cara itu, konflik di sana dapat mereda dan membawa perdamaian bagi mereka yang sedang berkonflik.

Arab Saudi, PEA, dan Qatar, kata Azyumardi, sama-sama ingin tampil sebagai negara kuat di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, peran Iran juga kuat di kawasan tersebut. “Pendapat saya, pemerintah agar tidak terlalu berharap besar mereka datang dengan investornya. Ada peran penting yang bisa dimainkan Indonesia daripada persoalan investasi,” kata Azyumardi.

Jika peran sebagai penengah konflik itu dapat dimainkan Indonesia, dia meyakini posisi Indonesia semakin terhormat di mata mereka dan dunia. Indonesia memiliki modal meredakan badai konflik yang melanda sebagian negara-negara gurun. (Andy Riza Hidayat, Doha, Qatar)

#tulisan serupa juga dimuat di Harian Kompas, Senin 21 September 2015