Kesalahan yang Tidak Diinginkan

salah sebut

Siapa di antara kamu yang tidak pernah berbuat salah ? Saya yakin, sulit menemukan orang tanpa kesalahan. Pada dunia jurnalistik pun demikian, saya yakin tidak ada media yang tidak pernah salah produk jurnalistiknya. Begitu pun media sekelas The Washington Post (TWP) pernah melakukan kesalahan fatal, pada 27 Oktober lalu. Ketika itu TWP menurunkan foto karya Jim Watson dari Agence France Presse via Getty Images. Foto ada di sisi kiri.

Saat itu, Menteri PertahananRi Ryamizard Ryacudu disebutnya sebagai Presiden RI Joko Widodo. Semua bertanya, apakah media AS itu tiak tahu wajah Jokowi. Padahal wajahnya pernah muncul di sampul depan majalah TIME. Tetapi kesalahan, bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja selama dia bukan malaikat.

Sehari kemudian TWP merevisi, foto sisi kanan dengan penjelasan sebagai berikut ;

“A photo caption with an October 27 A-section article about Indonesian President Joko Widodo’s visit to Washington misidentified Indonesian Defense Minister Ryamizard Ryacudu as Widodo. The photo appears here with a corrected caption.”

Foto tersebut ditampilkan kembali dengan caption yang benar.

Moral cerita dari peristiwa ini adalah, kesalahan itu produk manusia, tetapi kejujuran harus diperjuangkan. Jurnalis boleh salah, tetapi tidak boleh tidak jujur, kesalahan harus diakui produknya salah dan cepat-cepat diperbaiki.

Peristiwa serupa saya alami pada hari Jumat (13/11) lalu. Saya melakukan kesalahan fatal yang tidak pernah saya inginkan. Kesalahan itu berbuntut protes pihak-pihak yang dirugikan atas pemberitaan yang saya buat. Hari itu juga sejumlah redaktur menghubungi saya. Duh, rasanya hari yang paling berat di minggu itu. Rasanya malu, dan ingin marah dengan keadaan, mengapa saya bisa berbuat salah…

Saya sadar, kesalahan itu salah saya. Saya minta maaf kepada semua pihak yang dirugikan. Saya siap menghadapi risiko kesalahan itu. Saya jelaskan juga mengapa saya sampai bisa melakukan kesalahan, semua itu karena kecerobohan dalam bekerja.

Kepada kamu yang bekerja di bidang manapun, kusarankan ; istirahatlah jika beban kerjamu sedang tinggi, jika kamu teruskan, kelelahan itu akan membuatmu tersandung pada kesalahan yang tidak kamu inginkan. Saat saya melakukan kesalahan itu, kondisi tubuh saya sedang lelah, lelah sekali.

Jakarta, 23 November 2015

 

Masih Ada Harapan Pada Jurnalisme

bukit botak

Dua potong foto di atas, yang saya gabung jadi satu adalah sepenggal cerita di Bukit Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Foto pertama diambil pada tanggal Senin, 9 November 2015, ketika bukit masih dipenuhi penambang emas. Bukit itu sebenarnya bukan area penambangan, karena khawatir akan kerusakan alam lebih jauh, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar aktivitas penambangan ditutup. Perintah disampaikan Presiden bulan Mei 2015 saat Presiden mengunjungi wilayah itu.

Sampai awal November 2015, perintah Presiden tidak dijalankan. Bahkan, lokasi penambahan dijaga aparat kepolisian dan pemerintah daerah setempat. Presiden lewat Menteri Sekretaris Negara Pratikno maupun Deputi IV Kantor Staf Presiden meminta agar Pemda Maluku menjalankan perintah Presiden.

Rekan yang melilput sempat khawatir. Sebab yang berjaga di sana adalah aparat bersenjata, pemerintah daerah, serta unsur-unsur pemerintah lain. Kantor tempat kami bekerja, meminta bantuan Panglima Kodam setempat untuk membantu pengamanan rekan peliput penambahan itu. Dua hari setelah pemberitaan pertama 9 November, rekan peliput “diungsikan” ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Itulah risiko pekerjaan, sekaligus bagi saya pribadi nilai berharga dari kerja jurnalistik. Mengemban kepentingan umum selain juga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hari ini, Kompas memuat foto yang diambil, Rabu 11 November 2015 (foto kedua di bawah foto pertama). Dalam foto terlihat aktivitas penambangan nyaris tidak ada. Pemda telah mengosongkan aktivitas penambangan di sana. Walau ekosistem sudah mulai rusak, namun masih ada kesempatan untuk mengembalikan kelestarian gunung itu. Tak terkira puasnya bagi peliput masalah ini. Salut.

Ternyata, jurnalisme masih dibutuhkan. masih ada harapan di tengah kelesuan ekonomi global yang merenggut “nyawa” sebagian perusahaan media.

Foto di atas karya Frans Pati Herin dan fota kedua (yang bawah) karya Ichwan Susanto, keduanya jurnalis harian Kompas

Salam, Andy Riza Hidayat

Jakarta, 12 November 2015