Masih Ada Harapan Pada Jurnalisme

bukit botak

Dua potong foto di atas, yang saya gabung jadi satu adalah sepenggal cerita di Bukit Botak, Kabupaten Buru, Maluku. Foto pertama diambil pada tanggal Senin, 9 November 2015, ketika bukit masih dipenuhi penambang emas. Bukit itu sebenarnya bukan area penambangan, karena khawatir akan kerusakan alam lebih jauh, Presiden Joko Widodo memerintahkan agar aktivitas penambangan ditutup. Perintah disampaikan Presiden bulan Mei 2015 saat Presiden mengunjungi wilayah itu.

Sampai awal November 2015, perintah Presiden tidak dijalankan. Bahkan, lokasi penambahan dijaga aparat kepolisian dan pemerintah daerah setempat. Presiden lewat Menteri Sekretaris Negara Pratikno maupun Deputi IV Kantor Staf Presiden meminta agar Pemda Maluku menjalankan perintah Presiden.

Rekan yang melilput sempat khawatir. Sebab yang berjaga di sana adalah aparat bersenjata, pemerintah daerah, serta unsur-unsur pemerintah lain. Kantor tempat kami bekerja, meminta bantuan Panglima Kodam setempat untuk membantu pengamanan rekan peliput penambahan itu. Dua hari setelah pemberitaan pertama 9 November, rekan peliput “diungsikan” ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Itulah risiko pekerjaan, sekaligus bagi saya pribadi nilai berharga dari kerja jurnalistik. Mengemban kepentingan umum selain juga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hari ini, Kompas memuat foto yang diambil, Rabu 11 November 2015 (foto kedua di bawah foto pertama). Dalam foto terlihat aktivitas penambangan nyaris tidak ada. Pemda telah mengosongkan aktivitas penambangan di sana. Walau ekosistem sudah mulai rusak, namun masih ada kesempatan untuk mengembalikan kelestarian gunung itu. Tak terkira puasnya bagi peliput masalah ini. Salut.

Ternyata, jurnalisme masih dibutuhkan. masih ada harapan di tengah kelesuan ekonomi global yang merenggut “nyawa” sebagian perusahaan media.

Foto di atas karya Frans Pati Herin dan fota kedua (yang bawah) karya Ichwan Susanto, keduanya jurnalis harian Kompas

Salam, Andy Riza Hidayat

Jakarta, 12 November 2015