Menulis Ulang Kegelisahan Jurnalis

Kegelisahan melanda sebagian jurnalis saat ini. Ada perubahan besar yang sedang terjadi. Perubahan itu meliputi tradisi baca penyimak berita, pengiklan, dan kemudian diikuti kultur perusahaan media.

Perubahan-perubahan itu membawa konsekuensi pada sajian produk jurnalistik yang mulai beda. Di sejumlah platform, produk jurnalistik disajikan dengan satu standar utama, yakni kecepatan. Standar utama yang saya maksud mendominasi standar lainnya yang menjadi pelengkap yaitu akurasi dan kedalaman.

Di sini, saya tidak akan mendiskusikan benar salah maupun baik buruk. Tetapi saya sedang mengutarakan kenyataan yang harus dicari solusinya. Agar, jurnalisme tetap menjadi tumpuan masyarakat yang memberi arah dan pencerahan. Jika tidak, maka jurnalisme akan ikut arus omongan orang atau peristiwa sumir yang belum tentu menyentuh akar persoalan.

Saya tergerak menulis tentang ini setelah membaca tulisan Mas Bre Redana, senior saya di Kompas pada hari Minggu (27/12) kemarin. Tulisan berjudul “Inikah Senjakala Kami…” itu menjadi bahan diskusi di sejumlah media sosial. Mas Bre mengkritik tradisi jurnalis yang mulai pragmatis, mengambil gampangnya saja, karena ingin mengejar kecepatan penyajian berita. Tentunya, kenyataan ini tidak terjadi paa semua jurnalis. Masih ada jurnalis yang ingin mengejar kedalaman dan mau melakukan pengayakan informasi sebelum menyajikan berita. Namun sampai kapan tradisi ini bertahan….

Andy Riza Hidayat, Depok 28 Desember 2015

Inilah tulisan Mas Bre di Kompas Minggu 27 Desember 2015

CATATAN MINGGU

Inikah Senjakala Kami…

Belakangan ini, seiring berlayarnya waktu, kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat. Terakhir, di penghujung tahun, Ignatius Haryanto, pengamat pers yang luas referensinya, salah satu anggota Forum Ombudsman surat kabar kami, memberikan notifikasi dengan judul Senjakala Suratkabar di Indonesia?. Pertanyaan lebih lanjut ia ajukan: apakah ini akhir dari peradaban surat kabar cetak saat ini?

Faktor-faktor yang mendasari pertanyaannya berupa kondisi yang niscaya sudah diketahui banyak orang, antara lain perkembangan teknologi digital. Ini membawa konsekuensi bisnis. Pengiklan memilih berinvestasi pada media yang lebih gemebyar seperti televisi, dengan penyiar yang kinyis-kinyis, berikut kru lapangan yang militan, sampai kalau perlu mengabaikan tata krama.

Harus diakui, media cetak, koran, majalah, buku, kebiasaan membaca yang mendasari tradisi dan terbentuknya sivilisasi manusia sampai penghujung milenium kedua, sebagian kini tinggal kenangan belaka. Termasuk jurnalisme.

Di mana pun di dunia, jurnalisme berangkat dari semangat coba-coba, didasari kebutuhan untuk mengembangkan fondasi kultural bagi perkembangan masyarakat. Semangat tersebut menyemaikan atmosfer kerja yang setengahnya beraura misi suci, menegakkan kebenaran, mengembangkan compassion, mengeksplorasi truth alias kasunyatan. Para pelakunya adalah figur-figur otodidak, yang pada perkembangannya sebagian memiliki kewibawaan intelektual melebihi doktor.

Kalau kemudian muncul sekolah atau pendidikan jurnalisme, itu semata-mata reaksi pedagogis dari kesadaran akan kurangnya endorsement akademik pada bidang pekerjaan ini. Pada perkembangannya, namanya bukan lagi jurnalisme, tapi ilmu komunikasi, komunikasi sosial, marketing dan komunikasi, dan lain-lain. Spektrum pendidikannya terus meluas, kini mencakup multimedia dengan multiplatformnya, atau di masa mendatang entah apa lagi, karena yang sekarang pun saya kurang paham apalagi yang akan datang.

Inilah era baru dunia media masa, dengan sifat bergegas, serba cepat, tergopoh-gopoh. Mereka berilusi menampilkan informasi yang pertama, yang tercepat, sekaligus lupa, bahwa yang pertama belum tentu yang terbaik.

Seorang teman yang berkecimpung sejak lama di dunia public relations menuturkan, enak menghadapi wartawan sekarang. Tinggal sediakan press release. Mereka melakukan copy paste dari press release tadi apa adanya. Tidak perlu pusing menjawab pertanyaan, karena mereka tidak bertanya. Dalam press tour ke luar negeri untuk peliputan masalah tertentu, pertanyaan hanyalah kapan free time atau waktu senggang. Mereka ingin jalan-jalan, belanja.

Dalam konstelasi baru media, koran disebut ”media konvensional”. Boleh jadi sekonvensional wartawannya, yang memegang notes, bolpen, mencatat yang diomongkan sumber berita. Wartawan media mutakhir tidak mencatat. Mereka khusyuk dengan gadget. Barangkali merekam, mencatat, atau bisa saja tengah berhubungan entah dengan siapa. Istilahnya: multitask. Sambil mendengarkan yang di sini, berhubungan dengan teman yang di sana, pacar, saudara, dan lain-lain.

Sikap seperti itulah yang tidak bisa diikuti wartawan konvensional. Kami tidak mendelegasikan otak kami pada alat rekam. Kami sadar akan signifikansi kehadiran, being there. Internet menyediakan semua data, tapi dia tidak akan pernah bisa menggantikan proses pertemuan dan wawancara. Wawancara bukanlah penampungan omongan orang, melainkan konfrontasi kesadaran. Pada kesadaran ini terdapat dimensi lain dari jurnalisme, semacam dimensi nonteknis taruhlah moral, etik, dan kemanusiaan.

Tahun segera berganti. Inikah senjakala surat kabar? Sekadar mengingatkan para juragan: di balik cakrawala senja, nilai-nilai di atas tetap diperlukan manusia.