Burung Hendak Terbang

Mas Cahyo Pramono, sahabat ngobrol saya dari Medan Sumatera Utara melontarkan teka-teki. Saat ngobrol melalui telepon, kami saling memberi kabar, menanyakan akivitas saat ini yang sedang dijalani. Mas Cahyo, salah satu teman ngrobol saat berada di Medan (empat tahun di sana), sering memberi inspirasi lewat kata-katanya.

Sore itu, di akhir Januari 2016, saya sampaikan, mengapa banyak sekali keinginan saya yang masih tinggal rencana. Padahal semua keinginan itu terasa meyakinkan, keren, dan syaa bayangkan, jika berhasil merealisasikan, akan memperbaiki kehidupan saya.

Saya kerap jenuh dengan rutinitas yang mekanis, membelenggu dari pagi hingga malam, nyaris tidak ada ruang untuk melakukan hal-hal lain. Saya tahu, itu karena manajemen waktu saya yang belum bagus. Begitu pun juga dengan manajemen kerja yang belum rapi. Sesibuk apapun orang, jika mampu mengelolanya, pasti bisa melakukan hal-hal lain.

Berdalih rutinitas yang membelenggu itu, saya sampaikan, saya belum bisa merealisasikan impian kecil, sedang, hingga besar yang saya simpan.

Tak banak kata, Mas Cahyo langsung melontarkan teka-teki. “Coba tebak, ada lima ekor burung bertengger di dahan pohon. Tiga di antaranya hendak terbang. Tinggal berada di dahan pohon itu ?” tanyanya.

Saya jawab, tetap ada lima. Sebab tiga ekor burung itu masih “hendak” terbang. Mereka belum terbang. “Nah, kamu benar. Sebaiknya kamu jangan seperti burung itu. Jika hanya ‘hendak’ melakukan sesuatu, sesuatu yang kamu bayangkan takkan terwujud,” kata Mas Cahyo.

Lakukan saja. Saya merenungkan cerita itu. Memang benar adanya.

Salam, Jakarta, 1 Februari 2016.