Mereka Membuat Gagap Pengambil Keputusan

trio copy

Caption foto : Dari kiri Travis Kalanick pendiri Uber, Nadiem Makarim pendiri Go-Jek, dan Anthony Tan pendiri Grab. Foto diambil dari www.e.27.co, www.iese.id, dan www.iava.org.

Sampai hari ini, Kamis (24/3) saya belum bisa menerima, kekerasan yang terjadi di Jakarta, Selasa (22/3) lalu. Kekerasan itu begitu massif, para sopir angkutan konvensional berhadap-hadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Sesama sopir angkutan pun terlibat konflik. Sementara penumpang terlantar dan tercekam rasa takut.

Siang itu, banyak sopir marah karena penghasilannya “terampas” kehadiran angkutan berbasis aplikasi. Mereka menggalang solidaritas untuk mogok, yang tidak mogok dihajar, mobilnya dirusak. Sementara saat berhadapan dengan pengemudi angkutan berbasis aplikasi, mereka terlibat tawuran, saling kejar. Lalu, siapa yang salah ?

Tulisan ini tidak ingin mencari kesalahan siapa, namun ingin membawa kesadaran kita bahwa perubahan sedang terjadi begitu cepat dan dinamis. Perubahan ini yang ternyata lambat dipahami oleh banyak orang, dalam kasus ini adalah perusahaan transportasi dan pemerintah.

Penumpang angkutan mana yang tidak tergiur layanan yang nyaman, ada kepastian harga, dan murah. Ketika ada layanan ojek yang menawarkan jasa tanpa harus adu mulut soal harga lebih dulu, orang mulai berlari memilihnya. Begitu pun ketika hadir angkutan mobil dengan layanan seperti sopir pribadi, bahkan seperti memiliki mobil sendiri dengan tarif jauh di bawah tarif umum taksi, siapa yang tidak tertarik.

Bukankah mereka menerabas aturan yang sudah lama ada ? Pertanyaan ini bisa berbuntut diskusi panjang, tetapi ada hal lain yang patut dicermati. Regulasi, apapun itu, termasuk di sektor transportasi, yang membuat adalah manusia, yang menggunakan manusia, apakah tidak mungkin diubah sejalan dengan kompleksitas perubahan zaman. Saya lebih tertarik ketika ide-ide baru muncul dalam ekonomi yang disebut akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali, sebagai eranya sharing economy.

Dengan menerapkan sharing economy maka banyak hal menjadi murah. Tidak perlu ada korporasi besar, tempat parkir kendaraan, koordinator timer, atau segala perangkat lain yang ujungnya menambah biaya operasional. Karena kendaraan milik orang per orang, dapat diparkir di rumahnya sendiri, tanpa ada biaya operasional lain, cukup dengan panduan teknologi digital, angkutan penumpang berbasis aplikasi dapat beroperasi.

Bagaimana dengan legalitas mereka ? Ini yang harus diantisipasi pemerintah. Ketika konsumen membutuhkan, maka pemerintah harus mewadahinya. Usaha ini bisa jadi akan terus menjamur, tidak hanya di sektor transportasi, di dunia perhotelan mulai muncul airBnB.com yakni bisnis kamar rumah bagi para pelancong. Model bisnis ini menarik pagi pelancong yang ingin bepergian ke tempat negara-negara mahal, karena harga kamar yang ditawarkan airBnB.com bisa lebih murah.

Di sektor perdagangan, sudah lama menjamur toko online (dalam jaringan). Fenomena ini memanjakan pembelanja tanpa harus keluar rumah dengan memilih banyak penyedia barang. Lalu, apakah mereka perlu ditutup dan diprotes karena menerabas banyak aturan ? Mereka nyata-nyata tidak bayar izin usaha perdagangan seperti tempat dagang lain di pusar perdagangan konvensional.

Semoga demonstrasi para sopir tidak dilanjutkan unjuk rasa pemilik hotel dan pemilik pertokoan modern. Sebelum itu terjadi, sebaiknya merenung sebentar, apa yang sesungguhnya terjadi saat ini.

Siapa mereka ?

“Biang kerok” dari semua ini adalah anak-anak muda yang penuh kreativitas. Pembawa perubahan yang tak henti-hentinya berinovasi mencari peluang dengan bantuan teknologi digital. Dunia bisnis seakan tak berbatas di mata mereka, aktivitas dagang tidak mengenal waktu, birokrasi yang ribet mereka lipat seakan tak ada penghalang, maka wajar jika ada yang mengatakan mereka telah menerabas tatanan yang sudah lama ada.

Adalah Travis Cordell Kalanick pria Amerika Serikat kelahiran 6 Agustus pendiri Uber di San Fransisco. Pada awalnya Kalanick ingin memudahkan pengguna angkutan mencari kendaraan yang ditumpanginya tanpa harus capek-capek keluar rumah dan berdiri di tepi jalan. Kalanick, mendirikan Uber tahun 2009 untuk memediasi para pemilik kendaraan dengan penumpangnya.

Pria berusia 39 tahun ini pada tahun 2014 oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 290 dari 400 orang kaya yang terdata. Ketika itu, nilai kekayaannya mencapai 6 miliar Dollar AS dan kini semakin bertambah seiring meluasnya Uber di berbagai kota di dunia, termasuk Jakarta dan Denpasar. Tidak hanya di Jakarta, Uber juga dikecam di negara-negara Eropa bahkan di kota kelahirannya sendiri San Fransisco.

Salah satu pernyataan Kalanick tentang bisnisnya adalah “Saya sangat fokus, pro-efisiensi, dan ingin kegiatan ekonomi berjalan dengan harga serendah mungkin. Ini baik untuk semua orang, itu bukan persoalan merah atau biru,” seperti dikutip www.businessinsider.co.id.

Konsep ini yang kemudian menular hingga lahir Go-Jek Indonesia pada bulan Maret 2014. Go-Jek didirikan Nadiem Makarim, warga Indonesia yang lahir di Singapura 4 Juli 1984. Sama halnya dengan Kalanick Go-Jek mengidentifikasi dirinya sebagai perusahaan teknologi, bukan perusahaan penyedia jasa. Kehadirannya di ibu Kota sempat dikecam, beredar larangan naik Go-Jek di perumahan-perumahan warga. Kini pengemudinya makin banyak, jika tidak salah lebih dari 200.000 orang. Tidak hanya mengantar orang, Go-Jek juga menyediakan jasa pesan antar, pijat, dan belanja lewat teknologi digital.

Serupa dengan Grab, perusahaan ini didirikan teman se kampus Nadiem, yaitu Antony Tan. Pria Malaysia berumur 35 tahun ini melebarkan jaringan bisnis di sejumlah negara Asia Tenggara. Di Jakarta, nasib pengemudi Grab serupa dengan pengemudi Go-Jek sempat mengalami ancaman di banyak tempat.

Sampai hari ini, pemerintah belum mengakui legalitas Uber, Go-Jek, maupun Grab. Hanya saja, pemerintah membiarkan mereka beroperasi karena, belum menemukan cara yang tepat memperlakukannya. Rapat terakhir di Kantor Kementerian Koordinator Politik dan Hukum, Rabu (23/3) belum menghasilkan keputusan kongkret.

Sejalan dengan dinamisnya perubahan dan perkembangan zaman, sebaiknya sama-sama tanggap dengan itu semua. Semoga mereka yang punya kuasa, tidak bingung lagi dengan kreativitas baru yang akan hadir nanti.

(Andy Riza, Jurnalis)