Orang Dekat Presiden

 

Orang Dekat Presiden

Saya pernah menulis orang-orang dekat Presiden sebelum perombakan kabinet pertama tahun 2015 lalu. Ketika itu, nama-nama yang saya buat berdasarkan pengamatan dan wawancara beberapa orang. Hampir satu tahun berlalu dan ketika isu perombakan kabinet kembali mencuat, ada “versi baru” yang disebut-sebut sebagai tujuh orang di lingkaran dalam Presiden.

Namun tujuh orang yang disebut sebagai seven inner circle sesuai dengan versi oleh orang dalam Presiden sendiri, di mana yang menyebutnya ada di salah satu susunan nama-nama itu. Memang subyektif, sebab hanya dari sudut pandang yang bersangkutan saja. Namun, tidak salah jika hal ini diceritakan, sebagai bahan cerita saja, jangan bawa perasaan (baper) anda membaca cerita ini.

Inilah tujuh orang dalam Presiden versi orang dalam sendiri. Orang pertama yang dianggap paling dekat adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta oleh banyak orang istana dianggap paling dekat Presiden. Pratikno selain kompetensinya dalam ilmu pemerintahan, Pak Tik juga tidak tergabung dalam partai politik mana pun.

Karena posisinya yang bebas dari tarikan kepentingan parpol, memudahkan Pak Tik menjadi pendamping Presiden berkomunikasi dengan pihak mana pun. Pak Tik juga dikenal sebagai menteri yang paling terakhir keluar dari area dalam istana. Artinya, dia memiliki kesempatan bertemu Presiden paling lama dibanding menteri-menteri lain.

Pak Tik juga disebut-sebut sering menemani Presiden menikmati teh di kala senggang. Adapun tempat pertemuan itu biasanya berlangsung di dalam Istana Merdeka atau di sofa teras Istana Merdeka yang menghadap taman di kompleks Istana Kepresidenan. Jika sudah di tempat itu, obrolan bisa panjang. Persoalan negara, tamu-tamu, atau kekonyolan peristiwa hari itu menjadi bahan obrolan.

Sementara itu, Pak Tik mengaku kedekatannya dengan Presiden karena tuntutan tugas. ”Tuntutan tugas saya mengharuskan bertemu dengan Presiden,” katanya.

Saya menduga urutan berikutnya setelah Pak Tik adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Sejak menjabat sebagai Sekretaris Kabinet Agustus 2015 lalu, Pramono dominan memberikan informasi dari istana. Pramono, karena tugasnya menyiapkan setiap materi rapat yang dipimpin Presiden, sewajarnya menguasai banyak informasi pemerintahan Joko Widodo. Namun ternyata dalam urutan seven innver circle (versi orang dalam itu) posisinya ada di urutan berikutnya.

Urutan setelah Pratikno adalah Anggit Noegroho (51), Sekretaris Pribadi (Sespri) Presiden. Mantan jurnalis ini sudah dekat dengan Presiden sejak 2004 ketika Jokowi masih menjadi pengusaha mebel di Solo, Jawa Tengah. Awal pertemuan dengan Jokowi diawali dengan dering telepon Anggit yang saat itu membuka jasa sebagai konsultan komunikasi. Pertemanan mereka kemudian berlanjut, seiring dengan karier politik Jokowi yang terus menanjak, mulai dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga kini menduduki kursi Presiden.

Kedekatan keduanya bisa bertahan lama, menurut Anggit, karena Jokowi tidak mudah percaya dengan orang lain. Anggit sadar, posisinya saat ini menjadi simpul masuk lobi dari banyak kepentingan. ”Mereka sudah tahu dan tidak bisa mengingkari bahwa saya dekat dengan Bapak (Jokowi).” Anggit Noegroho.

Posisi ketiga hingga kelima antara lain Tim Komunikasi Presiden Sukardi Rinakit, Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki, Tim Komunikasi Presiden Johan Budi SP, dan Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana. Mereka secara berkala menggelar pertemuan sendiri-sendiri dengan Presiden, dan kadang bersama-sama saat jadwal rapat dan terima tamu sedang longgar. Mereka punya akses langsung bertemu atau menghubungi Presiden jika sewaktu-waktu diperlukan.

Baru pada urutan ke tujuh adalah Seskab Pramono Anung. Mengapa Pramono di urutan ke tujuh ? Saya sendiri tidak menduga tentang itu. Menurut penuturan orang dalam istana, Pramono meskipun dominan memberi informasi dari istna, namun dia dianggap sebagai orang partai. Sejauh ini, mantan Sekretaris Jenderal PDIP itu dapat memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Meski sudah ada tujuh orang disebut-sebut dekat, Presiden masih membutuhkan orang lain di luar itu. Tidak ada hentinya, sampai sekarang Presiden memanggil pihak-pihak dari beragam latar belakang hadir di istana sekadar berbincang-bincang. Aktivitas ini disebut Sespri Anggit Nugroho dengan istilah listening tour. Dari sana lah Presiden mendapat masukan sebelum mengambil keputusan penting. (Andy Riza, jurnalis)

Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Tarian lagu Små Groddorna atau katak kecil di Stadion Ullevi, Gothenburg saat pembukaan Gothia Cup 2010.

Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Pertautan bangsa-bangsa dapat terjadi melalui banyak hal. Tak disangka, entah kebetulan atau tidak, hal-hal yang dekat dengan keseharian orang Indonesia memiliki kemiripan dengan negeri yang berada nun jauh di sana, Swedia.

Cerita ini saya dapatkan saat bertugas di negara itu tahun 2010 silam. Pada sebuah acara olahraga, saya mendengarkan lagu yang mirip lagu anak-anak Jawa berjudul “Kodok Ngorek”. Lagu itu dinyanyikan dalam Bahasa Swedia Cerita dengan isi yang serupa. Bahkan lagu dinyanyikan dengan menari.

Penulis belum menemukan penjelasan lengkap mengapa lagu Kodok Ngorek sampai ke Swedia. Di negeri skandinavia itu, lagu Kodok Ngorek dikenal dengan judul “Små Groddorna,” yang berarti katak kecil. Lagu ini biasa dinyanyikan warga Swedia di musim panas dengan tariannya yang mirip kodok melompat-lompat.

Tommy Forsen, warga Swedia sudah mengenal lagu ‘Små Groddorna’ sejak kecil. Lagu ini, kata Tommy merupakan ungkapan kegembiraan warga Swedia menyambut datangnya musim panas. Lagu ini pun dinyanyikan mulai dari kalangan anak-anak sampai kalangan tua. Saya sempat menyaksikan tarian lagu ini pada saat pembukaan turnamen sepak bola Gothia Cup di Stadion Ullevi, Gothenburg.

Sama halnya lagu kodok ngorek, lagu ini berceritera mengenai kodok di pinggir kali. Baik isi maupun nada lagu ini mirip dengan lagu kodok ngorek yang saya kenal di Jawa sejak kecil.

Siapakah yang lebih dahulu menciptakannya ? Belum ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini. Namun ada jejak sejarah yang perlu digali lebih jauh seperti yang tertuang dalam buku pelaut Swedia Collin Campbell berjudul A Passage to China.

Buku ini mengisahkan perjalanan misi dagang Swedia bernama East India Company dari Gothenburg menuju China. Dalam perjalanannya, kapal ini singgah ke Batavia dua kali 10 Agustus 1732 dan 15 Maret 1733, masing-masing kunjungan kapal Gothenburg berlabuh selama 40 hari.

Colin Campbell, pelaut Swedia yang ikut dalam pelayaran itu mencatat, penduduk Batavia ketika itu diperkirakan 100.000 jiwa. Sebagian di antaranya disebutnya sangat kaya yang menjual gula, kopi, arak, dan kain sutera. Keberadaan bisnis kaum kaya di Batavia itu membuat kota itu berkembang pesat. Pada perkembangannya, sampai sekarang di Gothenburg masih ditemui merek minuman keras bernama Arak Batavia.

kotatuagothenburg-3

Foto kiri kanal di Kota Tua Jakarta dari www.iha.com. Foto kanan foto kanal di Gothenburg hasil jepretan saya sendiri

Masih ada lagi pertautan Indonesia dengan Swedia. Kota Gothenburg dan Jakarta ternyata dibangun oleh sentuhan tangan yang sama, yakni para perancang kota dari Belanda. Mereka menjadi salah satu pihak yang dikontrak untuk membangun kota setelah sebagian wilayah kota itu hancur karena dirusak tentara Denmark abad ke-17.

Maka tidak heran, sebagian wajah kota Gothenburg mirip dengan Amsterdam, Jakarta (kawasan kota tua), dan New Amsterdam (Manhattan) yang juga dibangun perancang kota asal Belanda. Kemiripan ini terletak pada sistem blok, kanal, dan sejumlah fasilitas umum seperti stasiun kereta. Warga Indonesia yang kerap melihat Stasiun Gothenburg dengan Staisun Kota (Beos) Jakarta terlihat mirip. Hanya mungkin yang satu terawat baik, yang satu perlu dirawat lebih serius. Demikianlah sepenggal cerita saya kali ini. (Andy Riza, jurnalis)