“Om Telolet Om,” Pendingin Panasnya Jagad Pemberitaan

Ini sebuah peristiwa kecil di Karawang, Jawa Barat, pada hari Jumat 23 Desember 2016. Ketika itu saya meliput acara Presiden Joko Widodo saat Deklarasi Pemagangan Nasional Menuju Indonesia Kompeten, di Kawasan Karawang International Industry City (KIIC). Presiden

Selain menanyakan soal pemagangan, kami ingin menanyakan hal ringan di luar isu-isu serius. Topik yang kami siapkan adalah tentang fenomena “Om Telolet Om”. Om yang berarti paman, telolet adalah bunyi klakson multinada pada bus yang kini digemari sebagian anak-anak hingga orang dewasa. “Om telolet Om” merupakan ungkapan untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson multinada yang mirip dengan pengungkapan kata telolet. Hal “sepele” ini yang sempat menjadi topik paling banyak dibicarakan di twitter (baik di Indonesia maupun dunia) pekan ketiga Desember 2016.

Ternyata presiden merespon positif, dan sesekali mengumbar senyuman ke jurnalis yang menanyakan. Ini semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa seserius apa pun situasinya, naluri manusia membutuhkan kegembiraan. Tak terkecuali Presiden Jokowi.

Saat diminta tanggapanya presiden menyampaikan, “Ini kekuatan dan potensi media sosial. Menurut saya ini sebuah kesederhanaan, kesenangan, kebahagiaan dari rakyat untuk mendapatkan hiburan atau kegemarannya. Sangat bagus sekali,” kata presiden saat berada di acara.

Presiden tidak berpikir macam-macam mengenai fenomena itu. Bahkan belum terbersit di benaknya untuk melarang riuhnya bunyi klakson di jalanan. “Masa baru muncul dilarang. Ya pasti ada batas-batasnya, masa bus baru berjalan dicegat di tengah jalan. Justru (yang mencegat bus) seperti itu yang dilarang,” kata presiden.

Ekspresi presiden ketika melayani pertanyaan tentang telolet tampak segar, cerah, dan seperti pecah dari kejumudan situasi. Usai wawancara itu,

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengundang jurnalis untuk makan siang di tempat kegemaran presiden yaitu Rumah Makan Medan Baru, Jakarta Pusat. Padahal makan siang di tempat itu, tidak terjadwal sebelumnya.

Pramono mengakui, dua bulan terakhir presiden banyak disibukkan hal-hal serius. Presiden harus membatalkan kunjungan kenegaraan ke Australia, membatalkan beberapa rapat terbatas, dan mengagendakan rangkaian pertemuan dengan pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kemasyarakatan.

Menurut Pramono, fenomena telolet menjadi salah satu penyeimbang situasi sosial politik yang sedang dinamis. Pada rentang waktu yang sama, peredam yang tidak kalah penting adalah pencapaian tim nasional Indonesia pada Piala AFF 2016. Keduanya, kata Pramono, benar-benar menyegarkan, menghibur dan menyatukan rakyat. “Kita butuh hal-hal seperti itu,” katanya.

Lalu, kami semua larut dalam perbincangan hangat, bahkan satu meja makan dengan presiden. Saya, untuk pertama kalinya, bisa makan sedekat itu dengan presiden. Beberapa kali memang ada acara makan bersama presiden, tetapi lebih banyak dalam kemasan formal.

Siang itu, karena saya duduk berhadap-hadapan dengan presiden, gulai kepala ikan khas RM Medan Baru kami makan bersama. Di antara menu-menu lain, gulai kepala ikan yang paling favorit menarik selera. “Tolong obrolan di sini (RM Medan Baru) tidak diberitakan ya,” pinta presiden mengakhiri pertemuan. Anda penasaran ?

Intuisi di Menit Terakhir

WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08

Presiden Joko Widodo meninggalkan area Istana Merdeka, Jumat (2/12) siang menuju lapangan Monumen Nasional, Jakarta. Foto itu menjadi viral di media sosial setelah presiden di luar dugaan menemui peserta doa bersama yang memadati area Monas dan sekitarnya. Foto-foto dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Sejak Jumat (2/12) pagi, jurnalis penasaran di mana Presiden Joko Widodo menjalankan ibadah salat Jumat. Pertanyaan itu dilayangkan ke presiden karena pada hari yang sama massa dari berbagai daerah memadati hampir seluruh kawasan Monumen Nasional di Jakarta Pusat. Apakah presiden tetap salat di masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Kepresidenan, di luar kota, atau di tempat lain ?

Jumat pukul 08.33, jurnalis belum menemukan jawaban, sebab presiden menyatakan, “Belum tahu. Yang jelas saya akan salat jumat.” Banyak kalangan mengkhawatirkan eskalase situasi di Ibu Kota memanas jika presiden meninggalkan Jakarta. Hingga menjelang tengah hari, waktunya salat jumat belum ada tanda yang meyakinkan.

Staf Biro Pers dan Media Informasi Sekretariat Presiden tiba-tiba meminta jurnalis masuk ke halaman Istana Merdeka. Sebagian besar jurnalis yang bertugas mengira akan ada pernyataan dari presiden sebelum salat jumat. Sekadar anda tahu, panggilan datang ke Istana Merdeka berarti ada hal penting yang akan terjadi.

Pukul 11.15, protokol Sekretariat Presiden menginformasikan ke para menteri, Panglima TNI, Kepala BIN akan salat jumat di Monas, bergabung dengan peserta doa bersama. Sebagian terkejut, sebab hujan mulai mengguyur kawasan istana. Sesaat setelah presiden di pelataran Istana Merdeka, Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba untuk menunaikan salat jumat di Masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Kepresidenan.

Namun presiden mengajak Kalla ke salat di Monas, tanpa penolakan Kalla mengikuti ajakan presiden. Paspampres menyodorkan payung biru-yang kemudian menjadi viral di dunia maya- ke Jokowi dan Kalla. “Pak Kalla, jangan main hujan. Nanti sakit,” kata presiden melontarkan candaan seraya melangkah meninggalkan istana.

Di tengah situasi yang menegangkan, bagi sebagian orang, presiden terlihat santai. Saat memegang payung biru sambil berjalan, berkali-kali presiden melempar senyum.

Historical walk, jalan bersejarah dimulai saat mereka meninggalkan istana bersama para menteri dan pejabat negara. Sebelum sampai di pagar Istana Merdeka, keduanya sempat berhenti dua kali. Pada saat itulah, entah dari siapa, muncul saran untuk kesekian kalinya agar presiden tidak salat di Monas. Namun tekad sudah bulat, presiden tak mungkin membatalkan keputusanya.

Kami, para jurnalis ikut berlari-lari di depan presiden dalam hujan. Paspampres, dengan seragam militer yang jarang dipakai, telah menjaga jalur jalan presiden. Saya tidak membayangkan, jika massa tidak terkendali, apa jadinya rombongan presiden, meski ada pengawalan. Syukurlah itu tidak terjadi, massa ikut tertib dalam hujan yang kian deras.

WhatsApp Image 2016-12-02 at 16.00.05 Presiden di tengah lautan massa di Monas.

Pertemuan di beranda

Sebelum memutuskan salat di Monas, presiden bertemu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP di beranda Istana Merdeka. Obrolan kecil itu salah satunya membicarakan di mana presiden menjalankan salat Jumat. Hingga pukul 10.45, tidak ada keputusan dari obrolan itu.

Pada kesempatan berikutnya, beberapa orang datang menghadap presiden. Mereka adalah Komandan Paspampres Mayor Jenderal Bambang Suswantono, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, serta Kepala Badan Intelejen Negara Jenderal Budi Gunawan.

Mereka melaporkan kondisi terakhir yang berkembang di sekitar Monas dan Ibu Kota. Sebagian besar tidak menyarankan salat di Monas karena pertimbangan keamanan. Pertemuan tidak berlangsung lama, sekitar pukul 11.00,presiden masuk ke dalam Istana Merdeka. Sementara para pembantu presiden masuk ke ruang paviliun di sisi barat Istana Merdeka.

WhatsApp Image 2016-12-02 at 16.00.08 Presiden naik panggung doa bersama di Monas.

Intuisi presiden

Siang itu, waktu terasa panjang. Lima belas menit kemudian semua terkejut dengan keputusan presiden. Intiusi, gerak hati, bisikan hati presiden mengatakan salat di Monas. Bukan sekali ini, keputusan presiden berbeda dengan yang disarankan para pembantunya. Saat memutuskan pengelolaan kawasan kaya minyak dan gas Blok Masela di Provinsi Maluku, hal serupa juga terjadi.

Ketika itu banyak sebagian pembantu presiden berpandangan pengelolaan Blok Masela sebaiknya dilakukan di laut (off shore). Namun setelah menimbang dan menerima masukan dari sumber-sumber lain, presiden memutuskan pengelolaan Blok Masela di darat (on shore).

Meski berbeda dengan saran pembantunya, presiden tetap menjalankan keputusannya. Jumat siang itu, presiden memegang payungnya sendiri berjalan kaki sejauh 300 meter dengan wakil presiden menuju lokasi acara.

Langkah presiden mendatangi acara di Monas mendapat apresiasi banyak kalangan pengguna internet (netizen). Salah satunya wartawan senior Gunawan Muhammad lewat akun twitternya @gm_gm. Gunawan mencuit “Presiden kita: berjalan dalam hujan, membawa payung sendiri, di antara orang-orang yang membencinya dan pernah memfitnahnya.” Sementara pemilik akun twitter @Beritajail mencuit “Tetap senyum biarpun hujan deras, jalan kaki menuju salat Jumat di Monas. Terimakasih Pak Presiden @jokowi.”

Terimakasih