Fase Dingin Jokowi-JK

2017-04-26 14.52.58

 

Fase Dingin Jokowi-JK

Dwi tunggal sedang menghadapi fase dingin. Saya tidak mengatakan pecah lho. Biasa saja dalam hubungan kerja, ada fase di mana partner kerja sedang tidak sejalan dengan kita. Fase itu terasa dan terlihat pasca pemilihan kepala daerah (pilkkada) DKI Jakarta.

Bukan rahasia lagi, keduanya memiliki kecondongan berbeda dalam memilih calon Gubernur DKI Jakarta. Kalla terang-terangan mendukung Anies, seperti yang disampaikan pada forum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) pada 29 September 2016, http://nasional.kompas.com/read/2016/09/29/05480021/kalla.doakan.anies.baswedan.atau.sylviana.murni.menang.di.pilkada.dki.

Sementara Presiden Jokowi, sebagai mantan mitra kerja saat memimpin DKI Jakarta, lebih senang jika Basuki Tjahaja Purnama memenangkan pilkada. Saling dukung dengan tidak langsung berjalan berbulan-bulan. Hingga kemudian pada 19 April lalu, Anies-Sandi memenangkan kandidasi versi hitung cepat.

Hari ini, Rabu (26/4) Jokowi dan Jusuf Kalla masih belum membuka keakraban yang sebelumnya terjalin sebelum pilkada DKI berjalan. Gerak tubuh masih belum sepenuhnya rileks saat bertemu. Rapat terbatas yang berlangsung di Kantor Presiden memperlihatkan itu.

Presiden hadir lebih dahulu di ruang rapat. Sementara Kalla meskipun tiba lebih dahulu di kantor itu, belum terlihat di ruang rapat. Presiden menunggu sejenak dalam aktivitas yang tidak terlalu rileks. Setibanya Kalla, rapat dimulai tanpa banyak basa-basi, sesuatu yang dibutuhkan sekadarnya agar tak terlihat canggung, namun situasi sore itu begitu garing kenyataannya.

Jika pun ini bukan saat terbaik saling membuka diri, semoga fase dingin ini tidak lama. Dwi tunggal harusnya tetap tunggal, menjadi satu kesatuan memimpin negeri walau berbeda dalam pandangan politik.

 

Kendeng Bikin Puyeng

20160802ndy-kendeng di istana-1

Kendeng Bikin Puyeng

Sebagian orang Istana Kepresidenan barangkali lagi puyeng. Masalah aktivitas penambangan di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih menghadapi fase pelik. Penolakan terhadap aktivitas itu semakin kencang. Bahkan menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo, terutama saat warga Kendeng Patmi (48) meninggal dunia karena serangan jantung. Patmi kehilangan nyawanya saat berada di Jakarta dalam rangka memprotes aktivitas penambangan di sana.

Presiden memerintiahkan stafnya membentuk tim untuk membuat kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) CAT Watuputih dan KLHS pegunungan Kendeng. Persoalan ini menjadi rumit karena KLHS ini dibuat setelah keluar 21 izin usaha pertambangan di CAT Watuputih. Bagaimana jika kemudian kajian akademis menyebutkan bahwa penambangan di sana harus dihentikan ? Berapa investasi yang terbuang karena keputusan itu ?

Mungkin karena alasan itu, Kantor Staf Presiden hati-hati dalam bersikap. Hingga Rabu (12/4) sore harus mengubah tampilan di situs www.ksp.go.id. Tak seberapa sih perubahannya, tetapi perubahan itu menunjukan kehati-hatian luar biasa. Apakah standar ini juga berlaku untuk pemberitaan lain selain tentang CAT Watuputih ? Inilah perubahan tampilan situs www.ksp.go.id pada berita tentang CAT Watuputih, Rabu sore itu.

grafis ksp soal kendeng

 

Sore itu, tim KLHS Tahap I CAT Watuputih merekomendasikan penghentian sementara aktivitas penambangan di sana. Penghentian ini berlaku hingga pada batas waktu yang belum ditentukan. Kata-kata yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebagai berikut, ““Penambangan di kawasan CAT Watuputih belum dapat dilakukan sampai dengan status kawasan ini dapat ditambang atau tidak. Kira-kira ini hasil yang perlu kami sampaikan.”

Keputusan ini tidak hanya berlaku bagi PT Semen Indonesia, namun juga pemegang izin usaha pertambangan (UIP) di Watuputih. Selesaikah cerita soal Kendeng ? Belum. Masih ada KLHS Tahap II yang mencakup pegunungan Kendeng. KLHS Tahap I pun masih perlu didalami lebih jauh dengan menggunakan data-data primer oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sepertinya kokk mbulet ya ? Surono, mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM mengakui banyak tarik menarik pada persoalan ini. “Sebenarnya mudah diurai,” kata Surono singkat. Barangkali memang iya selama mau saling mendengarkan.

Novel Baswedan dan Cairan Keras

Screen Shot 2017-04-12 at 11.01.59 AM

Novel Baswedan dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?