Novel Baswedan dan Cairan Keras

Screen Shot 2017-04-12 at 11.01.59 AM

Novel Baswedan dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?