ISIS, IS, NIIS, atau ISIL

ISIS, IS, NIIS, atau ISIL  

Belakangan singkatan ISIS kembali mengemuka setelah bom meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Narasumber berita paling banyak menyebut ISIS atau IS sebagai pengganti kelompok yang diduga terlibat dalam pengeboman itu.

ISIS mengacu pada kepanjangan Islamic State in Iraq and Syria, sedangkan IS kependekan dari Islamic State. Namun sebagian media massa memilih menggunakan NIIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Di luar itu semua, ada istilah lain yang juga mengemuka di media massa yaitu ISIL. ISIL dipakai sebagai kependekan dari The Islamic State of Iraq and the Levant.

Semua singkatan itu mengacu pada kelompok yang sama, kelompok yang diidentikkan sebagai pelaku teror dan menguasai wilayah Irak dan Syiria. Baiklah, itu persoalan lain. Bisa berkerut anda membacanya, dan sudah banyak ulasan mengenai hal itu. Kini saya ingin bicara tentang singkatan yang dimaksud.

Sebenarnya mana istilah yang tepat untuk menyebutkannya. Mengapa narasumber suka menyebut ISIS atau IS. Istilah itu kerap dipakai media luar negeri seperti New York Times, Financial Times, CNN TV, dan media lainnya.

Tak peduli siapa yang bicara dan darimana asalnya, jika menyebut ISIS atau IS seharusnya pelafalannya menggunakan ejaan Bahasa Inggris. Sehingga mengucapkannya dengan begini : ai sis. Jika IS maka menyebut dengan ; ai es.

Tetapi narasumber berita di tanah air, baik aparat, pengamat, narsum lain tetap menyebut dengan pelafalan Bahasa Indonesia (walau mengacu pada singkatan berbahasa Inggris). Mereka menyebutnya dengan ; i sis.

Kompas mencoba menggunakan istilah NIIS, yang mengacu pada kependekan berbahasa Indonesia. Penyelaras Bahasa Kompas Nur Adji mengatakan, penggunaan istilah NIIS mengacu pada istilah yang digunakan sebelumnya pada singkatan PBB. Singkatan ini dipakai untuk memendekkan lembaga dunia itu Pererikatan Bangsa Bangsa. Sehingga Kompas tidak menggunakan kependekan UN (United Nations).

Lalu mengapa Kompas menggunakan kata IMF (International Monetary Fund), mengapa tidak menggantinya dengan kata Dana Moneter Internasional (DMI) ?

“Pengunaan istilah di media massa tidak ada rumusan baku. Penggunaan itu dipengaruhi oleh rasa, ejaan, dan situasi sosial-politik yang berkembang,” kata Nur Adji.

Bagaimana pendapat anda ?

Pemenang

Warga menikmati makanan, saat berada di Tempat Pemungutan Suara di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Selatan, 19 April 2017.

 

Pilkada DKI (1)

Pemenang

Kata pemenang menjadi luas artinya di pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Bagi saya, pemenangnya adalah rakyat Ibu Kota, lebih luas lagi rakyat Indonesia. Fase ini fase sulit dalam pendewasaan demokrasi Indonesia. Sebagian orang menyebutnya, ini adalah pil pahit menuju transisi demokrasi.

Kontestasi antar calon berlangsung sengit setidaknya enam bulan terakhir. Gaung persaingan ini bahkan menasional, ke sejumlah daerah dengan balutan isu agama. Ini yang menjadikan polarisasi masyarakat menjadi kian tajam.

Pandangan personal saya, persaingan politik silahkan saja. Namun tidak enak dirasakan jika menggunakan isu agama di dalamnya. Anda boleh berbeda pandangan, silahkan tulis pandangan anda di media tulisan yang anda pilih. Tetapi persaingan sudah usai, perlu waktu untuk memulihkan luka-luka karena pertentangan politik.

Saya yakin kubu-kubu yang berseteru masih cinta Indonesia. Yang perlu dilihat saat ini adalah jangan sampai muncul segregasi, pengelompokan orang berdasarkan kesamaan ide atau yang lain. Segregasi tidak boleh dibiarkan karena tidak akan menyehatkan akal pikiran. Jika dipelihara, saya khawatir yang muncul adalah pandangan diluar yang saya pikirkan adalah salah.

Bisa jadi ada kebenaran di orang yang anda anggap musuh, atau bisa jadi ada kesalahan pada orang yang anda anggap kawan.

Mari kembali mencintai Indonesia.

Jakarta, 16 Mei 2017