Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Baliho Rumah Makan Pak Elan 2 di Gresik, Jawa Timur yang menjadi tempat makan Presiden Joko Widodo, Kamis 8 Maret 2018.

Jejak Kuliner Presiden (1)

Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Hari belum benar-benar tengah hari. Jadwal kegiatan Presiden Joko Widodo yang pertama sudah selesai. Menurut urutan kegiatan, Presiden dijadwalkan makan siang di Rumah Makan Pak Elan II di Jalan Veteran No 100, Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Sementara jam belum melewati pukul 12.00 tengah hari, waktu yang kepagian bagi Presiden untuk makan siang.

Biasanya dalam kunjungan kerja di daerah-daerah, Presiden sering makan siang di atas jam 13.00. Makan siang baru sah setelah berkeringat mengikuti jadwal yang padat dan menemui warga. Namun ini begitu selesai menemui warga di GOR Tri Dharma, Gresik, Presiden dijadwalkan ke rumah makan itu.

RM Pak Elan sudah dikenal orang Gresik dan sekitarnya sejak puluhan tahun silam. Masakan favoritnya adalah aneka masakan bandeng dengan minuman legen, air minum dari fermentasi air bunga pohon siwalan. Soal ketenaran, jangan ditanya, hampir semua orang Gresik yang sudah dewasa kenal dengan rumah makan ini.

Di sepanjang jalan dari GOR Tri Dharma ke rumah makan, Presiden menyapa warga. Beberapa kali memberikan buku, dan bingkisan kecil untuk warga Gresik yang sudah siap di pinggir jalan. Dan akhirnya kami tiba di RM Pak Elan II.

Saya sendiri sudah mendengar ketenaran tempat ini. Dalam benak saya rumah makan ini punya nama besar bagi pecinta makanan Jawa Timur. Namun kebesaran nama RM Pak Elan sungguh-sungguh jadi pertanyaan siang itu. Hal mendasar yang kami sayangkan adalah lambannya pelayanan, di mana nasi untuk para tamu telat datang. “Mana nasinya, apa mungkin begini cara makannya,” Deputi Bidang Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin di depan meja makan.

Menikmati menu yang ada dahulu.

Lantaran terlalu lama, Intan seorang fotografer Biro Pers Media dan Informasi mengambil nasi sendiri ke dapur. Intan membawa tempat nasi itu ke meja tempat kami makan, langsung laris tanpa menunggu lama. Kami menduga, karena kami tidak makan semeja dengan Presiden, jadi tidak terlalu menjadi prioritas. Begitukah ?

Tidak hanya soal nasi, menu yang tersedia di meja tidak proporsional. Meja yang dihadapi sepuluh orang lebih, hanya ada satu mangkuk sayur asem. Sementara kami meminta tambahan dua mangkuk ke meja itu. Pelayan bilang ,” Iya Pak.”

Sampai sesi makan siang habis, dua mangkuk sayur asem pesanan kami tidak datang. Pelayan yang kami minta agar mendatangkan sayur itu kami tanya lagi, “Mas mana sayur asem nya ?” Dia hanya melengos, tidak menjawab. Tidak lama kemudian seorang berusia sekitar 50 an tahun mendatangi meja kami. “Bagaimana bandeng gresik nya, enak tidak ?” Kami semua tidak menjawab.

Lalu obrolan kami lanjutkan dalam kendaraan sesaat setelah makan siang usai. Kami bercerita tentang pengalaman di rumah makan itu. Di ujung obrolan, masing-masing dari kami memberi penilaian dari 1 untuk yang terendah hingga poin 10 untuk yang tertinggi. Coba tebak berapa nilainya? (Andy Riza Hidayat)