Novel dan Cairan Keras

Novel dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Jejak Kuliner Presiden (2)

Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Siang itu, cuaca Kota Ambon, Maluku begitu cerah. Kunjungan Presiden ke Maluku, dalam statusnya sebagai Presiden, saat itu yang keempat kalinya. Hati itu, Presiden telah menghadiri jadwal kegiatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2017. Jika tak ada angin menghembus pelan, mungkin suhu udara terasa terik. Anginlah yang menyejukkan suasana di kota yang pernah dilanda konflik horizontal itu.

Kedamaian Ambon begitu terasa saat kami tiba di Rumah Makan Lateri Beach, Kota Ambon. Debur ombak kecil dan nanyian merdu penyanyi Ambon menemani kami. Pemilik rumah makan rupannya sudah menyiapkan menu andalannya sebelum Presiden tiba. Tidak perlu menunggu lama, sajian terbaik mereka sudah terhidang di atas meja makan.

Namun ketenangan itu pecah saat kami dikejutkan aksi spontan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Menteri Basuki tidak tahan melihat seperangkat alat musik dan nyinyian merdu di rumah makan itu. Basuki meminta izin naik panggung kecil tempat musisi memainkan alat musiknya, aktivitas makan kami terhenti sesaat.

“Bener nih, Pak Basuki mau nyanyi ?” tanya rekan jurnalis yang melihat aksi Basuki. Menteri Basuki mengambil pelantang suara dan mengajak penyanyi rumah makan itu berdendang bersama.

Basuki memilih lagu berjudul “Parcuma,” lagu pergaulan warga Maluku. Parcuma adalah salah satu lagu yang disukai Basuki selain lagu-lagu asal Maluku yang lain. Layaknya penyangi panggung, Basuki memulai melantunkan suara. Suaranya kuat dengan kepercayaan diri. “Kalo ada yang mo maso minta//nona tarima saja//jang ale pikir beta lai//perkara cinta beta cinta//mo sayang paling sayang//marsio mo biking apa//parcuma beta susah di rantau,” suara Basuki mematahkan keraguan orang.

Sepotong lagu “Parcuma” tak memuaskan mereka yang hadir di rumah makan. Basuki didaulat menambah satu lagu lagi. Basuki tak menolak dan sepertinya memang senang bernyanyi. Kali ini ini Basuki melantunkan lagu “Maluku Tanah Pusaka” ciptaan Eddie Latuharhary. Suaranya larut dengan debur ombak kecil air laut di Teluk Ambon. Sebagian ikut bernyanyi ketika sampai lirik ini, “Dari ujung Halmahera//Sampai tenggara jau//katong samua basudara.”

Sementara Basuki menyanyi, Presiden Joko Widodo berbincang-bincang dengan sejumlah menteri di depan meja makan. Presiden sesekali memerhatikan Basuki menyanyi sambil melempar senyum. Di hadapan Presiden, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Siang itu, Presiden tampak menikmati sajian olahan ikan laut di meja makan. Kenikmatan masakan itu serasa lengkap dengan nyanyian Basuki. Basuki kerap menyampaikan bahwa dia suka musik. Seni musik menjadi media yang universal untuk memperluas pergaulan. Kebetulan dia suka dan bisa memainkan alat musik.

Sementara Presiden kerap menjadi makanan sebagai media komunikasi. Lewat makan bersama, Presiden membicarakan hal yang santai hingga serius. Kebiasaan itu telah dilakukanya sejak di Solo, hingga saat dia memangku jabatan kepala negara saat ini.

Ambon, 9 Februari 2017.