Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Presiden menghadiri haul Guru Sekumpul di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3).

Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Sepeninggal Guru Sekumpul Agustus 2005, tidak hanya para muridnya yang kehilangan. Mereka yang pernah mendengarkan ceramahnya ikut bersedih. Sosok yang adem dalam berdakwah itu pergi saat dibutuhkan warga. Rasa kehilangan warga itu bagai sebuah sandaran yang tiba-tiba hilang, saat badan bertumpu padanya.

Salah satu cara terbaik mengenangnya adalah mengingat dan mengamalkan ajaran kebaikan Sang Guru yang bernama asli Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Tak terkecuali saat haul (peringatan hari kematian) ke-13 Guru di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3), acara ini dipakai untuk kembali mengingat ajarannya.

Tidak ada undangan resmi yang disampaikan keluarga pada khalayak umum. Namun jauh-jauh hari keluarga sudah merencanakan kegiatan ini digelar pada 25 Maret di Musala Ar Raudah, yang bersebelahan dengan makam Sang Guru. “Siapa pun yang datang, kami hormati sebagai tamunya abah (ayah). Kami hormati semampu kami,” kata Agus Syamsurijal (46), salah satu panitia acara
haul.

Menurut Agus, hampir semua unsur masyarakat terlibat di acara ini. Syaratnya mereka harus mau bekerja dengan ikhlas, mengorbankan waktu, tenaga, dan dana. Agus memperkirakan orang yang hadir di acara ini sekitar 1,2 juta jiwa. Hitungan ini didasakan pada kepadatan manusia yang tersebar hingga 2,5 kilometer dari titik acara.

Para tamu yang datang ke acara haul sudah tiba sejak tujuh hari sebelum puncak acara. Mereka menginap di rumah-rumah warga, hotel dengan berbagai kelas, serta tempat-tempat lain yang bisa dipakai untuk tinggal. Mereka tergerak datang meskipun bukan murid Guru Sekumpul. Sebagian memanfaatkannya sebagai ajang silaturahmi antar keluarga yang sama-sama terkesan dengan ajaran Guru.

Penglihatan Kompas di lokasi acara, antusiasme warga terlihat sejak lima kilometer dari titik acara. Mereka menyediakan makanan, minuman, jasa tambal ban, dan tempat untuk dipakai ibadah maupun istirahat. Semua diberikan gratis. Dalam catatan Agus, ada 43 dapur umum (yang terlapor), dan 99 posko dan tempat parkir, dengan melibatkan 10.000 relawan.

Sebelum pembacaan tahlil, panitia memutar ceramah Guru Sekumpul semasa masih hidup. Layar-layar ini terpasang di setiap jarak 500 meter. Bagi yang berada di rumah-rumah warga, rangkaian acara ini disiarkan langsung lewat televisi yang terhubung di rumah-rumah warga sekitar lokasi.

Guru Sekumpul merupakan tokoh agama yang populer di mata masyarakat Kalsel. Ajarannya disarikan dalam sepuluh wasiat Guru, antara lain menghormati ulama dan orang tua, berbaik sangka terhadap muslimin, bermurah harta, bermanis muka, tidak menyakiti orang lain, mengampuni kesalahan orang lain, tidak bermusuhan, tidak serakah, berpegang kepada Allah, dan yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Lantaran kesan yang dalam, Guru Sekumpul juga dikenal dalam sebutan
Abah Guru. Warga menganggap Zaini sebagai orang tuanya sendiri yang selalu menyampaikam masehat kebaikan pada anak-anaknya. “Karena ajaran beliau, keluarga kami bisa berkumpul saat ini. Kami ingin mengikuti haul meskipun bukan murid Abah Guru,” kata Abdurrahman (49) yang rumahnya disesaki saudara-saudaranya.

Berbeda dari sebelumnya

Tak dimungkiri, haul tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, untuk pertama kalinya, Presiden Joko Widodo menghadiri haul Guru. Namun di acara ini Presiden tidak menyampaikam sepatah kata pidato kepada semua hadirin. Panitia dan pihak Sekretariat Presiden menyepakati hal itu, merujuk pada wasiat Sang Guru yang tidak ingin tempatnya jadi tempat berpolitik.

Sama halnya dengan warga lain, Presiden hadir tanpa undangan. Pihak Sekretariat Presiden pun memahami wasiat Guru Sekumpul, sehingga tidak mempermasalahkan meski Presiden tidak berpidato. “Acaranya ya sesuai yang biasa digelar. Kami ikut saja kebiasaan yang sudah mereka jalankan,” kata Wawan Setiawan, Kepala Bidang Pers, Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Presiden tiba di lokasi acara pukul 17.45 waktu Indonesia tengah. Kedatangannya disambut massa yang memadati lokasi. Lantaran sesaknya warga di sekitar lokasi, Presiden memilih berjalan kaki sekitar 400 meter. Presiden hadir dengan mengenakan jas biru, baju putih, peci hitam, dan sarung biru. Mendampingi Presiden ke acara ini Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP.

Sesampainya di lokasi acara, Presiden menuju Musala Ar Raudah untuk mengikuti ibadah salat magrib dilanjutkan pembacaan tahlil (kalimat tauhid) hingga memasuki waktu salat isya. Presiden duduk bersila hikmat mengikuti acara hingga selesai. Sesuai kesepakatan awal, tak ada pidato dari Presiden. Di penghujung acara Presiden “hanya” bersalam-salaman dengan keluarga Guru, lalu meninggalkan lokasi acara.(Andy Riza Hidayat)