Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

 

Tulisan ini saya buat saat meliput pertemuan  High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Selasa (1/5/2018). Hadir di pertemuan ini ulama dan cendekiawan muslim dari dalam dan luar negeri, salah satunya Imam Besar Al Azhar. Terbersit pada pikiran saya, mereka mewakili negara, yang sebagian masih dilanda konflik dan ketegangan. Bukan mereka yang tegang, melainkan posisi negara di mana tempat mereka berada. Sementara di Bogor, mereka disatukan dalam kenikmatan kuliner nusantara. Maka, lahirlah cerita ini…

Menu pembuka di untuk ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5).

Diplomasi

Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

Berkali-kali makanan Indonesia menjadi menu utama para tamu negara. Peristiwa ini kembali terjadi pada Selasa (1/5) siang, di meja makan sebuah restoran di area Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Menu itu dihadirkan untuk menghormati kedatangan delegasi konferensi wasatiyyat (jalan tengah) Islam bertajuk High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor.

Bagi yang pertama kali datang ke Indonesia, acara makan siang ini begitu berharga. Paling tidak, acara itu dapat menjadi pengantar mengenal negeri yang memiliki keragaman budaya begitu tinggi. Pengalaman mereka ini melengkapi perkenalan Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat pembukaan konferensi pada pagi harinya di Istana Bogor, sekitar 1 kilometer dari restoran.

Setelah salat dhuhur berjamaah, para tamu bergerak ke restoran itu dengan menggunakan Kebun Raya Bogor. Mereka melintasi lembah, hutan, dan sungai sebelum akhirnya tiba di restoran yang berada di ketinggian lereng tanah rerumputan. Pada tempat itulah mereka berkenalan dengan tahu goreng isi udang sebagai menu pembuka makan siang. Tahu tersebut tampil agak berbeda dengan isi sayur, garnis acar, dan saus sambel.

Pada menu utama, para tamu menikmati nasi goreng nanas, ayam taliwang, rendang, udang, telur asin, karedok, oseng-oseng, dan aneka macam sate. Di akhir santap siang, peserta konferensi menikmati es cendol, pisang goreng, dan buah potong. Sajian yang cocok kala Bogor diterangi terik matahari.

Suasana makan siang para ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5).

Menurut Kepala Biro Umum Sekretariat Presiden Darmastuti Nugroho, semua masakan itu disiapkan di tempat. Adapun pilihan menu itu sengaja dipilih masakan Indonesia untuk mengenalkan kuliner nusantara. Memang beberapa makanan itu mewakili daerah yang berbeda, misalnya karedok populer di Jawa Barat, rendang di masyarakat Sumatera Barat, dan ayam taliwang yang dikenal di Nusa Tenggara Barat. Jadi, kata Darmastuti, keragaman budaya itu dapat terlihat dapat dinikmati di meja makan.

Keragaman inilah yang dikenalkan Presiden Jokowi saat membuka konferensi. Di hadapan para tamu Presiden menyatakan, ”Dengan ini rakyat Indonesia ingin perkenalkan diri. Indonesia adalah negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Warga negara kami yang beragama Islam sekitar 210 juta dari total penduduk 260 juta. Ada 714 etnis, ada 1.100 bahasa lokal, dan mereka hidup tersebar di 17.000 pulau. Kami hidup dalam keberagaman suku, berbeda agama, dan beragam budaya.”

Bukti keragaman

Gambaran ini membutuhkan contoh nyata, yang kemudian ditemui tamu undangan kurang dari dua jam kemudian. Begitu tiba di restoran itu, mereka disambut 20 penari Sunda yang berjingkrak-jingkrak sambil diiringi musik calung, angklung, dan degung. Entah apa yang dipikirkan tamu udangan, sebagian melempar senyum melihat atraksi seni itu.

Sebagian yang lain melihat hamparan hutan Kebun Raya Bogor dari restoran. Sebelumnya, di tempat yang sama, Presiden pernah menjamu mantan Presiden AS Barack Obama dalam jamuan makan siang, 30 Juni 2017.

Dari lokasi itu, terlihat sungai jernih yang mengalir. “Ada yang bilang mirip gambaran surga seperti tertulis di Al Quran,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini. Helmy aktif mendampingi para tamu sejak awal acara pembukaan hingga selesai. Lantara merasa nyaman, sebagian tamu menambah menu yang disajikan. Suasana pertemuan pun menjadi cair.

Presiden Joko Widodo di antara para tamu undangan pertemuan High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Jawa Barat.

Masakan nusantara bukan saja mewakili budaya Indonesia di hadapan tamu asing, melainkan menjadi saksi pertemuan para pihak yang sering dianggap “berseberangan.” Siang itu, Helmy Faishal duduk di meja makan dengan Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar dan ulama dari Arab Saudi. Keduanya tidak lagi membicarakan paham yang barangkali mereka sering berbeda pandanga. Namun siang itu, mereka menghadapi kenikmatan yang sama, masakan nusantara.

“Enak sekali. Es cendolnya banyak yang suka. Tokoh Islam dari Mesir, Italia dan Amerika bertanya, saya jelaskan seperti seorang duta es cendol,” kata Helmy.

Barangkali pandangan Sam Chapple-Sokol, pemerhati kuliner lulusan Tufts University, Amerika Serikat dapat dijadikan rujukan. Dia menyakini bahwa kuliner dapat dipakai sebagai alat diplomasi seperti yang ditulis di situsnya culinarydiplomacy.com. Tidak hanya mengenalkan budaya sebuah bangsa, namun kuliner juga dapat dipakai sebagai sarana untuk mengurangi konflik kekerasan yang terjadi.(Andy Riza Hidayat)

Kendaraan Tempur dan Badminton

Foto Biro Pers Media dan Informasi, Setpres.
Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah mencoba kendaraan tempur di Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5). Foto Biro Pers Media dan Informasi Setpres.

Kedatangan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah ke Indonesia membawa dua misi : memastikan pembelian kendaraan tempur dan bermain badminton. Misi itu tergambar pada pertemuan Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei di Istana Bogor, Jawa Barat hingga di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5/2018). Lalu, mana yang lebih penting, membeli kendaraan tempur atau main badminton ?

Mari merunut cerita dari awal. Presiden Jokowi ternyata sudah mengetahui jika Sultan Bolkiah gemar bermain badminton. Informasi itu diperoleh Presiden setelah mengonfirmasi langsung ke Sultan di berbagai pertemuan. Dalam sehari, kata Presiden, Sultan bisa main badminton tiga kali, sekali main bisa tiga set. Karena itu, Presiden mengundang Sultan untuk main badminton di Indonesia.

Barangkali belum lazim di mata dunia, jika kedua pemimpin negara bertetangga ketemu hanya untuk main badminton. Meskipun hal serupa beberapa kali dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mohamad Najib Razak, saat ke Indonesia dengan tujuan bermain golf, bukan kunjungan kenegaraan.

Walau undangan awal Presiden untuk main badminton, namun kunjungan Sultan Bolkiah ini berstatus kunjungam kenegaraan. Karenanya paket protokoler penyambutan pun dilakukan dengan standar kenegaraan, sejak upacara, dentuman meriam 21 kali, makan siang kenegaraan, hingga membicarakan kerjasama kedua negara.

Andy Riza Hidayat

Kamis sore, pertemuan Sultan dan Presiden berlanjut di Mabes TNI, di Cilangkap, Jakarta. Di tengah guyuran hujan, Sultan Bolkiah datang bersama putranya yaitu pangeran Abdul Mateen, dan petinggi kesultanan. Ribuan pasukam TNI sudah siap dengan atraksi seni, beladiri, menjinakkan binatang buas, penanganan aksi teror, hingga aksi melumpuhkan lawan dalam mata tertutup. Presiden dan Sultan yang sama-sama mengenakan seragam militer itu terlihat puas.

Tidak jauh dari lokasi acara, beragam jenis kendraan tempur dipamerkan di sana. Kendaraan tempur buatan PT Pindad itulah yang rencananya dibeli Sultan. Sepaket dengan itu, Sultan juga akan membeli beragam jenis senjata tempur. Wacana pembelian tersebut sudah muncul di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, butuh waktu dan perhitungan macam-macam hingga akhirnya dapat dipastikan (beli). Mungkin salah satunya dengan main badminton.

Foto BPMI Setpres

Pertarungan tiga set

Hari semakin petang dan hujan mulai reda. Keduanya melanjutkan perbincangan ke Gedung Olahraga Ahmad Yani di Cilangkap yang disulap menjadi lapangan badminton. Lantai lapangannya baru, begitu pun papan skor digital, dan perangkat pertandingan lain. Pihak protokol acara, menyediakan tenda khusus untuk ruang ganti Sultan dan Pangeran.

Sementara di lapangan sudah terlihat pemain senior Indonesia Alan Budi Kusuma dan isterinya Susi Susanti. bisa ditebak, keduanya akan menemani Sultan dan Pangeran Abdul Mateen bermain badminton. Alan dan Susi bukan orang lain lagi bagi Sultan dan keluarganya. Dua bintang Indonesia itu pernah diundang ke Brunei untuk bermain badminton bersama dengan Sultan dan keluarganya di tahun 1990 an, saat keduanya bersinar terang sebagai bintang badminton Indonesia.

Presiden Jokowi tiba lebih dahulu di dalam lapangan pertandingan. Presiden mulai pemanasan dengan Alan. Kurang dari sepuluh menit, Sultan dan Pangeran masuk lapangan dengan kaus dan celana olahraga yang diduga keras barang mahal untuk ukuran pegawai kantoran Jakarta.

Sultan tak banyak pemanasan, lalu segera dipandu wasit bermain ganda. Kali ini Sultan bermain melawan
Presiden berpasangan dengan Alan, sementara Sultan berpasangan dengan Hendry Syaputra, pelatih bulu tangkis. Pertandingan yang dimulai pukul 17.20 berlangsung seru. Sultan suka sekali bermain di depan net, dia jarang melakukan pukulan panjang. Sedangkan Presiden beberapa kali mencoba melakukan smesh keras.

Foto BPMI Setpres

Sempat tertinggal 16-20, pasangan Jokowi/Alan mengejar pasangan Sultan/Hendry hingga kedudukan 25-25 saat pukul 17.43. Pada saat itu, Presiden terlihat lelah, dia ingin istirahat di pinggir lapangan. Pada set berikutnya menggantikam Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto Wiranto masuk lapangan.

Sementara Sultan melanjutkan pertandingan dengan pasangan yang sama. Di set kedua, Sultan/Hendry menang 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Di set ketiga, Sultan berganti pasangan yaitu dengan Susi Susanti. Kali ini Sultan/Susi kembali menang dengan skor 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Susi yang sebelumnya di lapangan sebelah mendampingi Abdul Mateen tetap terlihat trengginas. Sisa-sisa keperkasaan peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992 itu terlihat jelas.

Sementara Alan saat ditanya mengapa tidak terlalu ngoyo, ia menjawab, “Saya menyesuaikan permainan Sultan dan Presiden saja,” kata Alan.

Lewat magrib, Presiden dan Sultan sepakat mengakhiri pertandingan badminton itu. Sultan dan Abdul Mateen sempat melambaikan tangan menyapa hadirin yang duduk di tribun penonton. Presiden pun puas, menurutnya pertandingan itu bentuk persahabatannya dengan Sultan. “Persahabatan antar negara tidak selalu dilakukan dalam sebuah forum yang formal saja. Ada yang namanya soft diplomasi,” kata Presiden.

Diplomasi itu bagian dari upaya Indonesia untuk memperlancar penjualan senjata dan kendaran tempur ke Brunei. Proses yang sudah berjalan bertahun-tahun itu baru dapat terealisir dengan acara bertajuk “main badminton.” Tidak kalah berjasa pada diplomasi ini adalah prajurit TNI yang unjuk kebolehan di tengah guyuran hujan. Dan yang boleh disebut, mereka yang telah memulai negosiasi penjualan senjata jauh sebelumnya hingga akhirnya dapat terwujud saat ini.(Andy Riza Hidayat)