Mengukur Diri

Kadang saya merasa, keberadaan orang lain itu berguna untuk mengukur diri sendiri.

Tanpa mereka sesungguhnya saya tidak dapat mengetahui, saya seperti apa. Yang ada hanya anggapan diri sendiri, yang tentunya anggapan itu belum tentu sesuai fakta. Saya lebih senang berbincang panjang lebar dengan beberapa orang saja, daripada ngobrol dengan banyak orang. Dengan cara itu, materi obrolan dapat lebih intensif menggali masing-masing pribadi.

Hari ini, Jumat 20 Februari contohnya, saya berbincang dengan seorang kawan yang bekerja pada sebuah media cetak di Jakarta. Hanya obrolan ringan selepas menunaikan kewajiban harian. Ternyata menyisakan keinginan untuk terus memperbaiki diri, dan mengarahkan ke mana saya akan berjalan.

“Kelihatannya kamu suka mengamati gerak-gerik orang ya. Saya lihat dari tulisanmu dan cara kamu memandang orang,” kata teman saya.

Perbincangan di kedai kopi di Kota Bogor itu terus berlanjut pada pertanyaan, apa yang akan kamu lakukan setelah ini ? Wow, pertanyaan yang perlu mikir sejenak. Saya jawab, saya perlu nyemplung dulu ke dunia yang saya tekuni saat ini. Saya belum benar-benar kecemplung. Baru kemudian saya akan ikuti kata hati saya…

*galau ga bisa tidur karena menenggak dua gelas kopi hari ini.

Depok, 20 Feb 2015

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *