Mereka Juga Ingin Nonton Bioskop

Baru kali ini saya tahu, orang tunanetra dapat menonton bioskop. Mereka punya cara sendiri menonton agar dapat menikmati setiap adegan seperti layaknya orang lain. Mereka membuktikan, dunia tidak berbatas, oleh sekat apapun. Inilah kisahnya, ulasan yang saya buat 30 Maret, saat peringatan Hari Film Nasional ke-65 di Istana Negara Jakarta. Ulasan ini dimuat di Kompas, Rabu 1 April 2015. Selamat menikmati…

Dua Jam Presiden Menjadi Pembisik

Dunia memang tak berbatas. Kesempatan mengetahui sesuatu berlaku untuk semua orang, termasuk bagi mereka yang hidup dalam “kegelapan.” Kenichi Satria Kaffah (12), lelaki penderita low vision sejak lahir itu tetap bisa menonton film. Hanya saja, dia perlu bantuan pembisik untuk memperjelas adegan tanpa dialog selama pertunjukan.

Malam itu, Kenichi dibantu pembisik istimewa yaitu Presiden Joko Widodo. Selama 120 menit, Joko Widodo berbisik pada Kenichi di setiap adegan penting film “Cahaya dari Timur”. Kenichi yang duduk di sisi kiri Presiden menyimak suara bisikan itu. Dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Lebak Bulus, Jakarta Selatan dapat menikmati film itu seperti ratusan penonton lain.

Film peraih piala Citra 2014 itu diputar di Istana Negara dalam rangka memperingati hari perfilman nasional, Senin (30/3) malam. Kenichi hadir bersama 30 anak-anak penyandang tunanetra di ruangan itu. Mereka disebar berdampingan dengan para aktris dan aktor nasional. Sebagian tunanetra didampingi relawan dari perusahaan digital Think Web yang rela menjadi pembisik.

Selama pemutaran film, Jokowi bersandar di kursinya. Dia mendekatkan kepalanya ke kepala Kenichi. Suara Jokowi terdengar jelas di telinga Kenichi. Tanpa bertanya, Jokowi sudah tahu bahwa di sisi kirinya adalah anak yang mengalami gangguan penglihatan. Dia bertugas layaknya relawan yang sedang menggelorakan gerakan bioskop berbisik.

Kenichi gembiranya bukan main. Penjelasan Jokowi cukup memberinya gambaran memahami alur film garapan Angga Dwimas Sasongko. Pada awalnya Kenichi deg-degan, sebab baru pertama mendengar suara Presiden dari dekat. “Tetapi Pak Jokowi cepat akrab, dia langsung berbisik pada saya selama film berlangsung,” kata Kenichi.

Pada malam perayaan Hari Film Nasional ke-65 itu, Kenichi duduk di deretan bangku paling depan di Istana Negara. Selain Presiden, dia satu deret dengan sejumlah menteri Kabinet Kerja dan sineas senior nasional. Rekan-rekannya juga mendapat perlakuan serupa, sejumlah relawan membisikkan informasi selama film berlangsung.

“Itu mereka lagi berantem, yang satu ayahnya mati karena polisi, yang satuya anak polisi. Padahal mereka satu tim sepakbola, mereka mewakili Maluku,” terdengar bisikan relawan kepada penyandang tunanetra. Adegan itu begitu cepat, ketika Salembe anak Tulehu berantem dengan rekan sesama tim Maluku. Bagi orang dengan penghilatan normal, adegan itu dapat dimengerti. Namun bagi penyandang low vision perlu penjelasan lebih detail dari orang terdekat atau perangkat elektronik.

Gerakan kritis

Kenichi dan sejumlah rekannya yang mengalami gangguan penghilahan sebenarnya masih bisa melihat samar-samar. Namun untuk adegan tanpa dialog atau silent scnene, penyandang tunanetra perlu bantuan. Di sejumlah negara maju, pengelola bioskop menyediakan perangkat elektronik yang membantu tunanetra menikmati film.

Perangkat tersebut menyediakan narasi tambahan ketika adegan tanpa dialog berlangsung. Perangkat itu tersedia di kursi-kursi khusus yang ada di bioskop. Persoalannya, bioskop di Indonesia belum dilengkapi perangkat itu.

Jika pun melihat film levat DVD (digital video disk), produsen DVD seharusnya menyediakan narasi tambahan pada adegan tanpa dialog.

Humas Yayasan Mitra Netra Aria Indrawati mengatakan perlu gerakan bioskop berbisik untuk mengakomodir kepentingan tunanetra. Yayasan Mitra Netra memulai gerakan ini tahun 2007, namun belum mendapat sambutan publik. Baru tahun 2015, gerakan bioskop berbisik mulai direspon sejumlah kalangan.

Salah satu proyek awal gerakan ini adalah dengan melengkapi film Janji Jhoni dengan narasi tambahan untuk kaum tunanetra. Aria berharap, pengelola bioskop maupun produsen industri film memahami persoalan ini. Untuk sementara relawan yang mendukung gerakan ini menyediakan waktu dan tenaganya mendampingi mereka yang terganggu penglihatan menonton bioskop.

Malam itu, Presiden mencanangkan gerakan “Ayo Nonton Film Indonesia.” Gerakan ini merupakan tonggak upaya untuk membangkitkan industri film nasional di rumah sendiri. Pemerintah akan memberikan insentif produksi film dan memudahkan masyarakat menonton film. Peresmian gerakan itu dilakukan oleh Presiden Joko Widodo sebelum menjadi pembisik Kenichi di Istana Negara.

Tidak hanya komunitas bioskop berbisik, hadir dalam acara itu, komunitas Minikino Denpasar, Kremov Serang, Bandung Art Council, Kineklub Malang, SOI Medan, Dejavu Balikpapan, Sinesofia, UCDC lampung, Batam Film Festival, dan Sanggar Ciliwung Merdeka. Olga Lydia, salah satu anggota panitia menyampaikan film harusnya dapat dinikmati oleh siapapun, termasuk mereka yang terganggu penglihatannya.

Di akhir acara, Kenichi begitu bangga. Dia menyampaikan terimakasih ke Presiden yang mau menjadi pembisiknya untuk film Cahaya dari Timur. Malam itu, Kenichi semakin yakin, bahwa dunia tak berbatas oleh sekat apapun, termasuk baginya yang menderita low vision. (Andy Riza Hidayat)

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *