Saat Macan Asia dan Singa Afrika Mengaum

Setelah diliputi pemberitaan dalam negeri yang tiada henti, mulai 19-24 April aku bertugas meliput peringatan Konferensi Asia-Afrika ke-60. Peringatan itu diikuti 106 negara, puluhan di antaranya hadir kepala negara dan wakil kepala pemerintahan. Bahkan saat historical walk, jalan dari Hotel Safoy Homann ke Gedung Merdeka di Bandung (sekitar 100 meter), diikuti 23 kepala negara dan wakil kepala pemerintahan.

Sebagai warga negara, saya bangga. Konferensi ini ingin menguatkan solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Dua benua di mana lebih dari separuh penduduk dunia hidup. Bangsa-bangsa ini ingin menunjukkan kekuatan politiknya, bahwa mereka kekuatan alternatif dalam tatanan dunia.

Sayangnya, negara-negara ini yang kebetulan hidup di belahan dunia selatan, masih tertinggal dibanding warga di belahan bumi utara.

Presiden Joko Widodo dalam pidato pembukaan KAA, menyoroti tentang keseimbangan ekonomi dunia. Menurut Jokowi, saat ini terjadi dominasi negara-negara kaya atas negara-negara miskin. Ketika ratusan orang di belahan bumi utara menikmati kehidupan yang super kaya, sementara lebih dari 1,2 miliar orang di belahan bumi selatan berjuang hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dolar Amerika Serikat per hari. Karena alasan itulah, konferensi ini digelar.

Selama karir sebagai jurnalis, meliput konferensi internasional ini merupakan tugas pertama saya emban. Berada di ruang pers dengan luas dengan kapasitas 1.000 orang, wow. Saya tidak ingin mengulas yang lain-lain dulu, karena ingin mengulas semangat konferensi ini. Sungguh penghargaan bagi bangsa ini, didatangi pemimpin dunia dari dua benua.

Untuk pertama kali saya saksikan retorika pemipin dunia berpidato. Walau hanya lewat monitor (sebesar empat kali daun pintu rumah), saya puas menyaksikannya. Presiden Mesir, Presiden Afrika Selatan, Presiden Nepal, Presiden Tiongkok, Raja Jordania, Sultan Brunei, Perdana Menteri Jepang, Wakil Presiden Venezuela (wakil dari Amerika Latin) dan lain-lain…

Senang melihat macan Asia dan singa Afrika kembali mengaum…

Selasa, 25 April 2015

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *