Podium Pertama Sang Presiden

*Pidato Kenegaraan

Banyak tokoh dunia menggunakan pidato untuk membakar semangat maupun menggalang solidaritas sebuah bangsa. Dari podium pidatolah Barrack Obama dikenal sebagai figur penting Amerika Serikat setelah tampil pada konvensi Partai Demokrat 27 Juli 2004.

Saat itu Obama menyerukan semangat antidiskriminasi. Dia meyakini bahwa semua manusia diciptakan sama. Mereka yang lahir ke dunia diberkati Sang Pencipta mereka dengan hak-hak asasi untuk hidup, bebas, dan mengejar kebahagiaan.

Pidato selama 16 menit itu membuat nama Obama makin dikenal di Amerika Serikat. Richard Greene, dalam bukunya “Words That Shook The World” menilai Obama telah mendobrak masalah diskriminasi yang berkembang ratusan tahun. Karena hal itulah, nama Obama naik daun ke panggung politik AS.
Mirip dengan itu, Presiden Joko Widodo ingin membangun semangat optimisme rakyat. Saat pertama kali menyampaikan pidato kenegaraan 14 Agustus lalu, Presiden banyak menyinggung tentang potensi Indonesia sebagai sebuahbangsa besar.

Di pungkasan pidato 42 paragraf itu, Presiden mengatakan, “Kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya. Untuk hidup sejahtera perlu kerja keras, butuh pengorbanan. Ayo kerja untuk bangsa! Ayo kerja untuk negara ! Ayo kerja untuk rakyat !”

Serupa dengan Obama saat di Boston AS, Jokowi juga mendapat tepuk tangan hadirin yang menyaksikan pidatonya di Gedung DPR MPR. Dr Felicia N Utorodewo, Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia berpendapat pidato Presiden mirip apologia atas hal yang terjadi sekarang ini.

Hal ini terlihat pada paragraf 18—23 pidatonya. Di paragraf-paragraf tersebut Presiden lebih banyak menyampaikan harapan dan ajakan kepada rakyat Indonesia. Di paragraf 19 misalnya, Presiden mengutarakan program mengalihkan subsidi bahan bakar minyak ke sektor-sektor produktif.

Presiden berupaya menjelaskan bahwa program itu dilakukan dengan mengalihkan dana subsidi senilia Rp 240 triliun untuk membangun sekolah, membangun rumah sakit, meningkatkan kesejahteraaan rakyat melalui program ekonomi produktif, dan perlindungan sosial, serta membangun lebih banyak lagi infrastruktur.

Sementara pada paragraf 27 dikatakan bahwa pemerintah telah memperbanyak pasar rakyat. Namun sayangnya, tidak ada angka yang menunjukkan jumlah perbanyakan pasar tersebut. Adapun di paragraf 25—35 pidato Jokowi lebih banyak berisi harapan yang ingin dicapai. Paragraf-paragraf tersebut mengandung deskripsi harapan yang ingin dicapai oleh pemerintah.
“Kita juga akan membangun kekuatan pertahanan Negara yang tangguh dengan memberdayakan alutsista produksi dalam negeri,” kata Presiden dalam pidatonya di paragraf 35.

Masih muda

Felicia berpandangan pidato tersebut belum sepenuhnya membicarakan capaian atau keberhasilan Pemerintah. Materi pidato Presiden masih minim dengan pembuktian faktual berupa rincian logis, uraian kuantitatif atau alasan kualitatif.
Dia menduga kenyataan ini terjadi karena masa pemerintahan pimpinan Jokowi masih sangat muda, belum genap setahun, belum banyak yang dapat dilaporkan oleh Presiden. Semua masih dalam rencana.

Ada sejumlah hal yang sebenarnya ditunggu publik yakni
penjelasan perombakan kabinet dari Presiden langsung. Hal ini disampaikan di paragraf 15 pidato Presiden. Namun sayang Jokowi hanya menyinggung sedikit alasan perombakan kabinet.

“Saya juga tidak tahu apakah peraturan protokoler keistanaan memilki kebijakan untuk tidak membahas hal perombakan kabinet dalam pidato kenegaraan. Padahal hal itu menjadi perhatian masyarakat,” kata Felicia.

Betata pun juga, pidato ini tetap memberi harapan baru kepada masyarakat Indonesia yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan. Pesan positif tersebut yang dapat ditangkap Felicia dari pidato perdana kenegaraan Jokowi di DPR.
Belum tersampaikan

Sutejo, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) menyoroti tentang penggunaan bahasa Presiden. Ajakan presiden untuk bersatu membangun bangsa agar berdaulat secara politik, ekonomi, dan budaya adalah hal yang baik.
Namun, Presiden sebaiknya juga menyinggung kedaulatan Bahasa Indonesia. Di usia RI yang ke-70, tidak salah jika Presiden mengingatkan salah satu unsur pemersatu bangsa adalah Bahasa Indonesia.
Dia mengapresiasi pidato Presiden yang telah mengutamakan bahasa Indonesia di dalam pidatonya. Hal ini terbukti dari minimnya penggunaan istilah asing di tiga pidatonya di hari Jumat 14 Agustus lalu. Seharusnya hal ini menjadi teladan pejabat negara lain saat menyampaikan pidato resminya di depan publik.

Tidak hanya pejabat negara, warga biasa juga menunggu materi pidato Presiden pekan lalu. Muslichun, warga Petamburan, Jakarta Pusat penasaran dengan materi pidato presiden. Sebagai keluarga kalangan pegawai negeri sipil (PNS), dia ingin tahu pandangan presiden tentang kesejahteraan pegawai.
Biasanya dalam pidato kenegaraan, maupun pidato tentang rancanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, hal itu disampaikan Presiden sebelumnya. Namun Muslichun tidak mendapatkan informasi tentang itu.
Menurut dia, pidato Presiden itu lebih mirip sebagai seorang motivator bagi rakyatnya. Bukannya tidak baik, namun sebaiknya pidato tahunan seperti itu menyentil hal-hal sedang ditunggu-tunggu publik. (Andy Riza Hidayat)

#dimuat di harian Kompas, Jumat 21 Agustus 2015

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *