Putra Mahkota Jadi Sopir Presiden

Ada secuil kisah menarik di tengah lawatan Presiden Joko Widodo ketiga negara di Timur Tengah. Sambutan istimewa tuan rumah berkali-kali dirasakan Presiden Joko Widodo. Tak terkecuali ketika Presiden tiba di Bandara Internasional Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab, Minggu (13/9) siang.

Siang itu Putra Mahkota Mohammed bin Sayed Al Nahyan menjemput langsung Jokowi di bandara, fenomena yang jarang terjadi pada prosesi penjemputan tamu negara. Perlakuan yang sama diterima Jokowi ketika mengunjungi Arab Saudi, Jumat (11/9) malam, saat Raja Salman bin Abdul Azis menjemputnya di pintu pesawat. Namun kisah di Abu Dhabi sungguh berbeda.

Setelah upacara kenegaraan, sesuai status kunjungannya sebagai kunjungan kenegaraan, dilanjutkan pertemuan bilateral dengan para menteri. Kemegahan bandara dan penyambutan resmi siang itu benar-benar formal. Kami, para jurnalis, menganggap prosesi itu sebagai hal yang biasa dalam ritual kenegaraan.

Usai pertemuan itu, Presiden dijadwalkan menuju Hotel Emirates Palace, yang disebut-sebut sebagai hotel paling mahal di dunia. Semua menteri dan rombongan siap di mobil yang disediakan. Pada saat itulah formalitas mulai lebur. Sang Putra Mahkota meminta Jokowi masuk ke mobilnya. Layaknya bertemu teman lama, ini anggapan yang dirasakan Jokowi, ajakan itu tak bisa ditolak.

Bukanya dikendalikan pengemudi istana, mobil mewah itu dikemudikan sendiri oleh Putra Mahkota. Tidak ada seorang pun kecuali Mohammed dan Jokowi sendiri. Pertemuan akhirnya dimanfaatkan untuk membicarakan berbagai hal sambil mengemudi.

Jokowi merasa ada nuansa kerinduan dari Putra Mahkota. Bukan sebagai pribadi, melainkan sebagai kepala negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Selama 11 tahun terakhir, belum pernah ada Presiden Indonesia yang berkunjung ke Persatuan Emirat Arab.

Sebelum berkunjung ke Abu Dhabi, pada bulan Maret lalu. Pada saat itu, Jokowi menyapa Mohammed yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan kecil. “Saya sampaikan, kenapa Emirat Arab tidak banyak menanam investasinya ke Indonesia. Banyak potensi yang bisa dikembangkan,” kata Jokowi ketika itu.

Mohammed menjawab enteng. “Bagaimana kami mau investasi, Anda belum datang ke tempat kami,” kata Mohammed. Lontaran itu langsung dijawab Jokowi. “September nanti saya ke sana,” katanya.

Rupanya Mohammed mengapresiasi Jokowi yang menepati janji. Pembicaraan dalam mobil itu pun mengalir deras. Cara Mohammed mengemudi bagi Jokowi terlalu kencang. Apalagi dilakukan sambil mengobrol.

“Mungkin dia merasa biasa, tetapi saya tidak biasa dengan kecepatan mobilnya,” kata Jokowi.

Perjalanan dari bandara ke Hotel Emirates Palace terlalu singkat. Sekitar 30 menit Presiden dan rombongan tiba di hotel itu. Jokowi masih berdebar-debar usai turun dari mobil.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang mendapat cerita itu kaget. Dia pun tidak menyangka Putra Mahkota mau menjadi pengemudi mobil yang dikendarai Presiden Jokowi. “Peristiwa ini kecil tetapi mungkin bisa berdampak besar bagi kedua negara,” kata Pramono. (NDY)

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *