Skandal Freeport : Membaca Ekspresi Mereka yang Ada Dalam Rekaman

20151206210316

Berangkat dari sebuah rekaman tiga orang saja, kegaduhan politik nasional begitu riuh. Betapa tidak, orang-orang dalam rekaman itu mencatut nama Presiden, Wakil Presiden, serta pejabat negara dalam masalah kontrak karya PT Freeport Indonesia. Rekaman itu pun memunculkan spekulasi persoalan politik yang lebih besar.
Rekaman berdurasi lebih dari satu jam itu berisi percakapan antara Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha Muhammad Riza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin yang terjadi pada 8 Juni 2015.
Di tengah kegaduhan yang melanda, mereka yang terlibat maupun disebut dalam rekaman memperlihatkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan intonasi kata berbeda-beda saat semuanya diperdengarkan ke publik. Mari mulai membaca apa yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.
Pada saat menghadiri sidang MKD 2 Desember lalu, Sudirman melayani cecaran pertanyaan “Yang Mulia” seputar laporannya. Salah satu pertanyaan datang dari Akbar Faisal anggota MKD menanyakan niat Sudirman melaporkan rekaman itu.
“Secara konteks, kami merasa bahwa apa yang sedang kami kerjakan itu terganggu oleh pihak-pihak yang merasa yang bukan bidang tugasnya, tapi ikut intervensi,” jawab Sudirman dengan intonasi suara yang naik serta wajah menengadah.
Praktisi forensi kebohongan Handoko Gani menilai Sudirman ingin menyampaikan yang dilakukan ‘orang-orang’ itu tidak etis. Karena dia seorang menteri, dan ada tahu ada yang mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden, dia merasa berkepentingan melaporkan ke MKD.
Penggunaan kata pihak-pihak itu jelas mengacu pada hal jamak, bukan tunggal. Pernyataan itu bukan menyangkut keterlibatan seseorang saja, melainkan sejumlah atau banyak orang. Lalu siapakah mereka ?
Jika mengacu pada orang yang lebih dari satu, mengapa dia hanya melaporkan rekaman berdurasi 11 menit ? Saat menjelaskan ini, Sudirman mengaku hanya ingin melaporkan yang terkait dengan dirinya. Menurut Handoko, Sudirman gamang mengungkap semua fakta dalam rekaman itu.
Rekaman yang diperdengarkan ke publik di sidang MKD itu membicarakan belasan nama. Adapun nama yang paling dominan disebut adalah Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut B Pandjaitan, selain nama-nama Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri, Deputi Kantor Presiden Darmawan Prasodjo, mantan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subijanto. Adapun semua nama yang disebut dalam percakapan mewakili tokoh politik, pejabat negara, pengusaha, dan tokoh media.
Tokoh sentral dalam percakapan ini Ketua DPR Setya Novanto berusaha meluruskan apa yang berkembang usai bertemu Wakil Presiden di Kantor Wapres 17 November lalu. Saat itu, kata Handoko, ada perbedaan ekspresi wajah Novanto setelah pertemuan dengan Kalla dan sebelum bertemu Kalla.
“Saat datang, wajah Novanto masih terlihat senyum dan tidak sesumpek setelah keluar ruangan. Ekspresi wajah beliau setelah selesai pertemuan menunjukkan banyak sekali cognitive load atau banyak yang di pikiran,” kata Handoko.
Mereka yang dibicarakan
Bukan hanya pelaku percakapan, mereka yang dibicarakan dalam rekaman juga merespon dengan cara berbeda. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut B Pandjaitan menggelar jumpa pers di kantornya 19 November lalu, sebelum rekaman utuh diperdengarkan MKD di DPR.
Ketika jurnalis menanyakan apakah ada langkah hukum pada pihak-pihak yang mencatut namanya dalam rekaman. Luhut menjawab tidak ada. “Kita tidak ada waktu melakukan langkah-langkah hukum,” kata Luhut di kantornya.
Saat menyampaikan pernyataan ini, ujung bibir kiri Luhut tertarik ke atas dan keseluruhan bibir menunjukkan gerkan senyum. Senyum seperti ini dalam istirah ekspresi mikro disebut sebagai duping delight atau senyum kemenangan. “Mengapa senyum seperti muncul pada saat kalimat diatas terlontar, apa motivasi yang melatarbelakangi senyum itu,” tanya Handoko.
Justru sebaliknya, Luhut menilai aneh adanya laporan rekaman suara itu ke MKD. “Menurut kami, aneh aja mengapa hal itu dilaporkan Menteri Sudirman, ya tanya saja Menteri Sudirman. Kita fokus pada penanganan ekonomi,”kata Luhut.
Pernyataan tersebut, kata Handoko, merupakan sebuah pernyataan menarik ditelisik. Di mana letak ‘keanehan’ laporan Sudirman ?. Namun Luhut tidak menjelaskan lebih jauh terkait kata aneh yang dimaksud saat memberi keterangan pada jurnalis di kantornya.
Sikap Luhut kepada Menteri Sudirman berbeda dengan sikapnya kepada Ketua DPR Setya Novanto. Hal ini bisa jadi karena keakraban Luhut dengan Novanto sudah terjalin lama, sampai pada pesta pernikahan anak Novanto pun Luhut hadir di sana.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin selaku perekam percakapan menjelaskan motivasinya di hadapan Ýang Mulia.’ Maroef merasa posisinya tidak nyaman sehingga perlu merekam sebagai bukti ada pertemuan. Maroef mengaku tidak tahu apa isi pembicaraan sebelum pertemuan. Dan selama pertemuan, kata Handoko, Maroef “berpura-pura” larut di dalam percakapan selama perekaman berlangsung.
Handoko menangkap ada emosi marah saat Maroef menjelaskan kehadiran pengusaha Muhammad Riza Chalid pada pertemuan 8 Juni. Kemarahan ini ditujukan kepada pengusaha itu yang dianggap memanfaatkan kedekatan dengan tokoh-tokoh penting. Kehadirannya dinilai mengganggu substansi pembicaraan yang sedang dibangun.
Langkah awal
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai rekaman percakapan itu merupakan sedikit dari ruang gelap dunia politik Indonesia. Masih banyak ruang gelap yang belum terang di hadapan publik. Percakapan yang dihadiri tiga orang dan berdurasi satu jam lebih saja bisa memunculkan banyak spekulasi.
“Bagaimana dengan percakapan banyak orang dengan durasi waktu lebih panjang. Seperti apa gambaran persoalan politik kita sesungguhnya, saya yakin masih banyak yang belum terungkap,” kata Hamdi Muluk.
Di tempat lain, pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya berpendapat guncangan persoalan politik biasa terjadi pada awal pemerintahan yang menginginkan perubahan. Fenomena serupa juga terjadi di Pemprov DKI ketika Gubernur Joko Widodo dan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama memimpin di awal pemerintahannya tahun 2012.
Pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo saat ini sedang menghadapi situasi serupa. Demi kebaikan jangka panjang, guncangan politik di awal pe merintahan tidak menjadi masalah untuk kepentingan yang lebih baik. (Andy Riza Hidayat)

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *