Usai Wawancara…

Presiden Joko Widodo saat memberikan pernyataan pers di Istana Negara, Jakarta. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.
Presiden Joko Widodo saat memberikan pernyataan pers di Istana Negara, Jakarta. Foto Biro Pers Istana Kepresidenan.

Usai Wawancara..

Momen kecil, kadang menentukan dalam pekerjaan. Begitupun ketika proses pencarian berita seorang jurnalis. Seringkali, jurnalis dihadapkan pada acara resmi lembaga swasta maupun pemerintah.

Saya tidak terlalu menarik mengikuti acara itu. Sebab materi yang disajikan dapat diterima semua yang hadir tanpa terkecuali. Ada potensi berita yang dibuat jurnalis di acara itu mirip-mirip. Bahkan bisa sama dalam pemilihan angle (sudut pandang), maupun runtutan cerita. Ini sangat mungkin terjadi jika sang jurnalis menerima apa adanya yang ada dalam konferensi pers itu.

Lalu bagaimana menghadapinya ? “Janga puas hanya dari acara itu.” Saya tidak akan puas dengan informasi yang begitu saja tersaji di acara resmi. Memindahkan informasi dari nara sumber ke media tempat jurnalis bekerja, nyaris mirip dengan pekerjaan tukang ketik, tidak beda jauh.

Saya butuh elaborasi, pengayaan dengan sumber lain, dan mencari celah berbeda dengan runtutan cerita yang disampaikan. Mengapa ? Jika semua berita yang tersaji kemudian sama, pembaca akan bosan. Lalu tidak ada perbedaan “menu” berita, ini yang saya hindari.

Elaborasi bisa dari sumber situs resmi, nara sumber lain yang tidak ada di tempat itu, atau data-data yang terkait dengan tema pembicaraan. Tetapi harus hati-hati memilih sumber informasi. Tidak hanya itu, saya memanfaatkan momen setelah jumpa pers itu untuk menanyakan poin-poin yang paling menarik. Konfirmasi ulang itu perlu untuk menegaskan pernyataan, maupun mencari bingkai dan konteks pernyataan yang disampaikan.

Contoh kasus ketika Presiden Joko Widodo menggelar jumpa Pers di Istana Negara, Selasa (15/12) di Jakarta. Presiden siang itu, berbicara singkat sekali, dan saya yakin memang dibuat singkat dengan maksud tertentu. Presiden tidak mau terlalu banyak bicara, namun ingin membangu opini terkait kinerja Mahakmah Kehormatan Dewan (MKD).

Begini kira-kira pernyataan Presiden :

Sidang MKD selalu saya ikuti. Saya ingin agar MKD melihat fakta-fakta yang ada, lihat fakta-faktanya. Yang kedua, dengarkan suara publik, dengarkan suara masyarakat, dengarkan suara rakyat. Cukup,” kata Presiden, seraya bergegas meninggalkan jurnalis peliput.

Kami semua melongo, mengapa hanya sepenggal itu ? Pernyataan itu tidak akan berarti apa-apa tanpa dibingkai konteks persoalan. Bagaimana dengan pernyataan sebelumnya, apa yang melatarbelakangi Presiden bicara itu. Saya berusaha memperkaya informasi, mengelaborasi pernyataan sebelumnya 7 Desember lalu. Pernyataan tajam Presiden ini merupakan yang kedua dalam dua pekan terakhir.

Mengapa Presiden bicara itu ? Saya menggali ke Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Saya curiga, bahwa ada hal-hal yang mendorong Presiden bicara itu, di depan jurnalis. Teten membenarkan asumsi saya, memang Presiden tidak menginginkan MKD memutuskan di luar harapan masyarakat. Cukup bagi saya mendapatkan bingkai pernyataan Presiden sepenggal itu.

Model pendekatan seperti ini juga saya pakai pada liputan lain dengan persoalan yang berbeda. Hasilnya bisa berbeda dengan pemberitaan umumnya, silahkan coba.

salam

Andy Riza Hidayat, 17 Desember 2015

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *