Peristiwa di Minggu Pagi

Peristiwa di Minggu Pagi

Drama pagi itu, 7 Februari 2016, dimulai sesaat sebelum subuh, sekitar pukul 04.30. Setelah azan, saya putuskan ke rumah sakit di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Ketika itu, istri saya merasakan perutnya semakin kencang, kontraksi sudah beraturan, dan tandanya harus segera mengambil keputusan.

Inikah ujung dari penantian yang sudah berjalan 38 minggu empat hari ? Hari itu, dokter Ismail Yahya, dokter kandungan yang memeriksa istri saya, memprediksi hari persalinan jabang bayi di dalam perut istri. Saya berharap semua berjalan lancar, sehat, itu saja dulu. Saya masih kepikiran kondisi istri saya sebelum persalinan yang sempat mengkhawatirkan.

Tepat sepekan sebelumnya, 1 Februari, istri saya harus menjalani rawat inap karena terserang virus tipus. Saya khawatir, sebab sudah memasuki minggu-minggu persalinan.

Pagi itu, saya kuatkan, harapan saya panjatkan, selanjutnya saya berserah diri pada sang penyelenggara kehidupan. Sesampainya di RS Buah Hati, Pamulang, saya langsung menuju Instalagi Gawat Darurat dan menyampaikan bahwa istri saya sepertinya akan melahirkan.

Layanan tak berlangsung lama, istri masuk ke ruang persalinan dan ditangani bidan. Menurut bidan, saat itu istri sudah pembukaan empat. Setengah jam kemudian meningkat menjadi pembukaan enam, dan sekitar pukul 07.00 pembukaan delapan. Saya telepon ibu mertua, ayah, dan saudara-saudara lain meminta doa.

Sekitar pukul 07.30, istri saya mengerang sakit, puncak sakit setelah berbulan-bulan mengandung jabang bayi. “Ambil napas panjang, keluarkan pelan-pelan. Sekarang boleh mengejan, tahan, kumpulkan tenaga,” kata bidang.

“Oekk, oekk,” tangis bayi memecah ketegangan. “Laki-laki!” kata bidan. Aku lega, mataku berlinang, tapi tak sampai jatuh menetes. Istriku mengangis. Aku bersyukur anak lanang akhirnya lahir ke dunia, menemani kami sekeluarga. Dia adalah anak ketiga setelah sebelumnya lahir dua perempuan cantik menemani hidup kami.

Sepekan setelah kelahirannya, kami sepakat memanggilnya Alan, anak lanang. Namanya belum kami sepakati secara final, bukan apa-apa, kami ingin benar-benar menyematkan nama yang bagus, sebesar harapan kami padanya kelak.

Bojongsari, 14 Februari 2016

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *