Wawancara Narasumber “Bisu”

wawancara foto

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo dalam sebuah diskusi menanyakan kepada kami para jurnalis, apa yang kalian lakukan jika narasumbermu seorang yang bisu. Memaksanya bicara tidak mungkin, mempersilahkan menggunakan bahasa isyarat boleh jadi bisa. Tetapi seberapa banyak dan mendalam informasi yang bisa digali dengan mengandalkan cara-cara biasa ?

Menurut saya, pertanyaan tersebut mengandung kritik pada sebagian jurnalis yang terlalu mengandalkan omongan narasumber. Bahwa yang disampaikan narasumber merupakan satu-satunya bahan membuat berita. Kebiasaan kerja seperti ini disebut Budiman sebagai jurnalisme ‘katanya.’ Dengan kata lain, tanpa pernyataan narasumber, maka sebagian jurnalis bakal kelimpungan membuat berita. Jurnalisme katanya ini yang kemudian menyederhanakan penggalian berita, seolah-olah, hanya dari mulut narasumber lah berita keluar. Padahal tidak demikian seharusnya.

Selama menjalankan tugas liputan, jurnalis selalu dituntut kreatif. Jika hanya mengandalkan pernyataan narasumber, maka tidak bakal bunyi bahan berita yang disusun. Bahkan juga tidak akan menemukan konteks pernyataan narasumber. Beberapa menteri, bahkan Presiden Joko Widodo sendiri jarang sekali memberi pernyataan panjang lebar. Begitu pun bagi rekan-rekan jurnalis yang meliput di bidang kriminal, kemampuan menggali berita selain dari yang disampaikan narasumber menjadi sebuah tuntutan.

Tidak hanya pejabat negara, pernyataan polisi, atau tersangka kasus kriminal misalnya, kerap tak memuaskan. Lewat petunjuk yang secuil itu jurnalis harus bergerak, mengembangkan kemampuannya menggali informasi.

Cara yang sering diajarkan para mentor adalah mengasah kemampuan deskriptif ; situasi yang sedang terjadi, mengamati pakaian narasumber, mimik wajah, intonasi suara, perhiasan yang dipakai, tinggi badan, orang yang ada di sekitarnya, atau deskripsi lain yang banyak sekali ragamnya. Tidak kalah penting dengan itu, mengulas sebuah berita perlu membiasakan dengan riset literatur tentang persoalan yang diulas. Ternyata ada lagi yang lain…

Ekspresi mikro

Di sini, saya ingin bicara salah satu pendekatan kreatif yang lebih spesifik. Sejak pertengahan tahun 2015 lalu, saya mulai menggunakan teori ekspresi mikro (micro expression) sebagai salah satu cara mengulas persoalan di media tempat saya bekerja. Pendekatan itu membantu saya menganalisa yang kira-kira terjadi pada narasumber yang saya ulas. Hasilnya, tanpa harus menanyakan banyak hal pada narasumber, saya bisa mendapatkan banyak hal.

Analisa ini dipopulerkan peneliti Paul Ekman dan Wallace V Friesen tahun 1970 an. Para peneliti itu menyebutkan ada tujuh tanda emosi universal antara lain kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Emosi ini spontan muncul tanpa bisa dikontrol dan disadari. Tanda-tanda ini, oleh para peneliti dapat dilihat dari raut muka dan gerak tubuh narasumber yang akan diulas.

Melalui pisau analisa itu, saya mencoba menggunakan teori ekspresi mikro lewat bantuan praktisi Handoko Gani, analis kebohongan lulusan University of Central Lancashire, Manchester, Inggris. Melalui Handoko, saya menganalisa kegaduhan politik nasional di akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015 lalu. Kegaduhan politik terjadi ketika Presiden Joko Widodo mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Namun, tanpa diduga, tiga hari pasca pencalonan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Budi sebagai tersangka dugaan kasus gratifikasi.

Ketegangan antara KPK dan Polri memuncak. Presiden diminta ketegasannya mengambil sikap. Tetapi tidak banyak pernyataan yang muncul dari mulut Presiden. Publik hanya dapat sepenggal pernyataan tanpa mengerti hal apa yang sebenarnya terjadi pada Presiden. Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi pada Persiden ? Ini yang harus dikejar.

Analisa kami fokuskan pada peristiwa yang terjadi pada rentang waktu 23-29 Januari. Kami sama-sama melihat rekaman video yang terjadi hari Jumat (16/1), saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan Budi. Ketika itu alis mata Presiden turun, sorot mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, dan kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu. Hipotesa Handoko menyebutkan Presiden sedang marah pada situasi yang berlangsung.

Jumat (23/1), Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang jumpa pers, alis Jokowi dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik. Baru pada hari Kamis (29/1), di Istana Bogor, saat Presiden bertemu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto, kemarahan itu mulai reda.

Pisau analisa serupa juga saya pakai ketika melihat “kejujuran” Presiden saat bertemu rakyat biasa dan kalangan elit. Ternyata Presiden lebih jujur bersikap ketika bertemu dengan orang-orang biasa. Hal itu terihat dari ekspresi mikro di raut muka, senyum, dan sorot matanya. Peristiwa ini saya ulas dalam harian Kompas terbitan edisi, Sabtu 19 September 2015 dengan judul, “Presiden Saat dengan Elite dan Rakyat.”

Hal serupa saya manfaatkan ketika mengulas skandal Freeport yang melibatkan nama-nama penting. Ketika itu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia merekam pembicaraan antara dirinya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha Muhammad Riza Chalid. Masih dibiantu Handoko Gani, saya mengulas ekspresi muka nama-nama yang dominan disebut dalam rekaman suara itu. Hasil ulasan ini termuat di harian Kompas, 7 Desember 2015 dengan judul, “Ekspresi Mereka yang Ada dalam Rekaman.”

Salah satu bahan yang perlu disiapkan untuk membuat analisa seperti ini adalah rekaman video. Lewat video tersebut, gerakan kecil dapat dilihat berulang-ulang lalu mencocokkan dengan teori yang dipakai. Gerakan kecil yang terjadi dalam hitungan detik sangat menentukan sebuah hipotesa, seperti ketika Handoko menyampaikan hipotesanya terhadap tersangka pembunuh Mirna Salihin, Jessica Kumala Wongso. Jessica tertangkap kamera tersenyum, senyum kemenangan usai peristiwa itu. Hipotesa ini bukan kesimpulan, namun dapat menjadi pertimbangan penyidik menelusuri jejak pelaku.

Jadi, jika anda sedang melakukan wawancara dengan narasumber bisu sekali pun, tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan. Masih banyak hal yang bisa anda lakukan. (Andy Riza, jurnalis)

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *