Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Tarian lagu Små Groddorna atau katak kecil di Stadion Ullevi, Gothenburg saat pembukaan Gothia Cup 2010.

Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Pertautan bangsa-bangsa dapat terjadi melalui banyak hal. Tak disangka, entah kebetulan atau tidak, hal-hal yang dekat dengan keseharian orang Indonesia memiliki kemiripan dengan negeri yang berada nun jauh di sana, Swedia.

Cerita ini saya dapatkan saat bertugas di negara itu tahun 2010 silam. Pada sebuah acara olahraga, saya mendengarkan lagu yang mirip lagu anak-anak Jawa berjudul “Kodok Ngorek”. Lagu itu dinyanyikan dalam Bahasa Swedia Cerita dengan isi yang serupa. Bahkan lagu dinyanyikan dengan menari.

Penulis belum menemukan penjelasan lengkap mengapa lagu Kodok Ngorek sampai ke Swedia. Di negeri skandinavia itu, lagu Kodok Ngorek dikenal dengan judul “Små Groddorna,” yang berarti katak kecil. Lagu ini biasa dinyanyikan warga Swedia di musim panas dengan tariannya yang mirip kodok melompat-lompat.

Tommy Forsen, warga Swedia sudah mengenal lagu ‘Små Groddorna’ sejak kecil. Lagu ini, kata Tommy merupakan ungkapan kegembiraan warga Swedia menyambut datangnya musim panas. Lagu ini pun dinyanyikan mulai dari kalangan anak-anak sampai kalangan tua. Saya sempat menyaksikan tarian lagu ini pada saat pembukaan turnamen sepak bola Gothia Cup di Stadion Ullevi, Gothenburg.

Sama halnya lagu kodok ngorek, lagu ini berceritera mengenai kodok di pinggir kali. Baik isi maupun nada lagu ini mirip dengan lagu kodok ngorek yang saya kenal di Jawa sejak kecil.

Siapakah yang lebih dahulu menciptakannya ? Belum ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini. Namun ada jejak sejarah yang perlu digali lebih jauh seperti yang tertuang dalam buku pelaut Swedia Collin Campbell berjudul A Passage to China.

Buku ini mengisahkan perjalanan misi dagang Swedia bernama East India Company dari Gothenburg menuju China. Dalam perjalanannya, kapal ini singgah ke Batavia dua kali 10 Agustus 1732 dan 15 Maret 1733, masing-masing kunjungan kapal Gothenburg berlabuh selama 40 hari.

Colin Campbell, pelaut Swedia yang ikut dalam pelayaran itu mencatat, penduduk Batavia ketika itu diperkirakan 100.000 jiwa. Sebagian di antaranya disebutnya sangat kaya yang menjual gula, kopi, arak, dan kain sutera. Keberadaan bisnis kaum kaya di Batavia itu membuat kota itu berkembang pesat. Pada perkembangannya, sampai sekarang di Gothenburg masih ditemui merek minuman keras bernama Arak Batavia.

kotatuagothenburg-3

Foto kiri kanal di Kota Tua Jakarta dari www.iha.com. Foto kanan foto kanal di Gothenburg hasil jepretan saya sendiri

Masih ada lagi pertautan Indonesia dengan Swedia. Kota Gothenburg dan Jakarta ternyata dibangun oleh sentuhan tangan yang sama, yakni para perancang kota dari Belanda. Mereka menjadi salah satu pihak yang dikontrak untuk membangun kota setelah sebagian wilayah kota itu hancur karena dirusak tentara Denmark abad ke-17.

Maka tidak heran, sebagian wajah kota Gothenburg mirip dengan Amsterdam, Jakarta (kawasan kota tua), dan New Amsterdam (Manhattan) yang juga dibangun perancang kota asal Belanda. Kemiripan ini terletak pada sistem blok, kanal, dan sejumlah fasilitas umum seperti stasiun kereta. Warga Indonesia yang kerap melihat Stasiun Gothenburg dengan Staisun Kota (Beos) Jakarta terlihat mirip. Hanya mungkin yang satu terawat baik, yang satu perlu dirawat lebih serius. Demikianlah sepenggal cerita saya kali ini. (Andy Riza, jurnalis)

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *