Mereka yang Tercekam dalam Tugas

Cerita seputar 4 November

Malam itu, 4 November 2016, saya pulang tengah malam. Bahkan sudah lewat jam 24.00 hingga tanggal berganti menjadi 5 November. Saat terjadi demonstrasi besar di Ibu Kota, ratusan ribu orang turun ke jalan, saya bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan. Jumat sore, istana dikepung dari berbagai penjuru.

Jika amarah tersulut, barangkali tidak sulit massa merangsek mendekat istana. Namun situasi masih terkendali hingga magrib, sekitar pukul 18.00. Petugas keamanan siaga hingga hari menjelang malam. Begitu pun dengan pengunjuk rasa yang masih menahan diri di jalan. Namun selepas itu, situasi mulai memanas hingga berujung bentrok di Jalan Medan Merdeka Barat antara petugas keamanan dan sebagian massa.

Kali ini saya ingin bercerita tentang situasi yang saya hadapi dan rekan seprofesi di lapangan. Rekan-rekan terutama dari Kompas dan Metro TV was-was. Sebab beredar selebaran bahwa pengunjuk rasa kecewa dengan pemberitaan dua media tersebut. Mereka yang bertugas di tengah-tengah massa tidak berani menunjukkan identigas seragam atau alat peliputan lain. Mereka bekerja dalam situasi yang tidak nyaman.

Jurnalis Kompas TV Muhammad Guntur mengalami kekerasan saat bertugas. Salah seorang pengunjuk rasa memintanya menghapus video yang telah direkam. Bahkan sebagian orang di sekitarnya meminta mengeluarkan kartu memori (memory card). Tidak ada alasan jelas mengenai tindakan sebagian orang di tengah massa pengunjukrasa.

Ancaman serupa juga dialami jurnalis Jakarta Post Hairil pada jumat malam. Beberapa orang mendekatinya dan menanyakan identitasnya. Hairil menjelaskan bahwa dia jurnalis Jakarta Post. Menurut Hairil mereka sedang mencari jurnalis Metro TV dan Kompas. Peristiwa serupa juga dialami rekan-rekan lain seperti Rizal, jurnalis harian Kompas. Jumat siang, beberapa orang menanyakan identitasnya saat membaur di ribuan massa.

“Saya bilang, saya dari Makassar. Saya juga ikut demo,” jawab Rizal berusaha mengakrabkan diri dengan orang sekitarnya. Selama bertugas, Rizal sengaja tidak mengeluarkan kartu identitasnya sebagai jurnalis. Semua itu dilakukan karena situasi tidak memungkinkan bekerja normal dengan tanda pengenal di tubuh.

Laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Jakarta setidaknya ada tiga jurnalis televisi menjadi korban kekerasan. Pada saat unjuk rasa 4 November lalu, menurut laporan AJI, rombongan kru sebuah stasiun televisi diusir dari Masjid Istiqlal karena di anggap membela kelompok tertentu. Ketika terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa, lemparan baru juga mengarah pada kelompok jurnalis.

Sementara di Medan, Sumatera Utara, rombongan jurnalis dari sebuah stasiun tv juga mengalami hal yang sama, diusir dari lokasi digelarnya unjuk rasa 4 November.

Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono, dalam pernyataannya Minggu (5/11) lalu menilai sejak awal ada suasana kebencian pada media yang dibangun saat demonstrasi 4 November lalu. Menurut Suwarjono, kenyataan tersebut adalah gejala buruk yang merusak kebebasan pers di Indonesia.

Semoga ke depan, jika terjadi peristiwa serupa, tidak ada lagi ancaman bagi jurnalis. Ketidakpuasan terhadap karya jurnalistik dapat ditempuh melalui prosedur hukum sebagaimana hubungan antara jurnalis, narasumber, dan pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *