Seharian dalam Sarung

Presiden Joko Widodo saat akan memulai kunjungan kerjanya ke Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Foto diambil di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta dari Sekretariat Presiden.
Presiden Joko Widodo saat akan memulai kunjungan kerjanya ke Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Foto diambil di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta dari Sekretariat Presiden.

 

Seharian dalam Sarung

Bukan sekali saja, Presiden Joko Widodo mengenakan sarung di hadapan publik. Saat menghadiri muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang, 1 Agustus 2015, presiden mengenakan sarung dengan setelan jas, baju putih, dan kopiah hitam. Namun atribut yang sama saat dipakai ke Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (8/1) 2016, menjadi istimewa.

Sarung melekat ke tubuh presiden seharian dari pagi hingga menjelang malam. Entah bagaimana nasib sesuatu yang ada dalam sarung, mungkin hari itu bebas menikmati kelonggaran. Tetapi saya tidak sedang membicarakan itu.

Di pagi yang cerah itu, kami dikejutkan dengan atribut presiden. Serius nih ? Tetapi itu kenyataan yang kami lihat, bersarung, jas, baju putih, kopiah hitam, dan bersandal selop. Pada kesempatan berikutnya, kami bisa memaklumi saat mengetahui hari itu presiden akan menghadiri peringatan maulid nabi di Pekalongan. Dua acara lain juga digelar di pesantren setempat.

Tetapi hari itu, presiden juga menghadiri acara di luar acara keagamaan, yakni Penyerahan Bansos Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta pemberian makanan tambahan (PMT) di dua tempat berbeda. Presiden masih mengenakan sarungnya. Di tengah kegiatan itu, kami menanyakan mengapa mengenakan sarung.

Presiden menjawab karena di Pekalongan banyak bertemu dengan santri dan mendatangi pesantren. Jagad media sosial sempat menggunjingkannya. Biasa, ada yang menanggapi ringan dan positif, ada pula yang nyinyir.

Mewakili rasa penasaran pengguna media sosial, kami menanyakan merek sarung yang dikenakan presiden. “Merek ? Ya masa saya mau lepas sarungnya. Ada-ada saja,” kata presiden.

Menjelang malam, rangkaian kegiatan telah usai. Presiden masuk hotel dan beristirahat. Kami mengira tidak akan terjadi apa-apa lagi selanjutnya. Namun presiden memutuskan keluar hotel pergi ke Plaza Pekalongan sekitar pukul 20.00. Presiden telah melepas sarungnya dan berganti mengenakan celana.

Selesai sudah urusan sarung. Ternyata tidak. Presiden membeli dua sarung di pusat perbelanjaan itu. Sarung pertama berwarna putih dan yang kedua bercorak kotak. Total belanja dua sarung malam itu senilai Rp 485.000. Adapun pilihan sarung itu dibantu anak bungsu presiden, Kaesang Pangarep.

Tema hari itu, dari pagi hingga malam ketemu sarung.

Diplomasi #2

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *