Kendeng Bikin Puyeng

20160802ndy-kendeng di istana-1

Kendeng Bikin Puyeng

Sebagian orang Istana Kepresidenan barangkali lagi puyeng. Masalah aktivitas penambangan di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih menghadapi fase pelik. Penolakan terhadap aktivitas itu semakin kencang. Bahkan menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo, terutama saat warga Kendeng Patmi (48) meninggal dunia karena serangan jantung. Patmi kehilangan nyawanya saat berada di Jakarta dalam rangka memprotes aktivitas penambangan di sana.

Presiden memerintiahkan stafnya membentuk tim untuk membuat kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) CAT Watuputih dan KLHS pegunungan Kendeng. Persoalan ini menjadi rumit karena KLHS ini dibuat setelah keluar 21 izin usaha pertambangan di CAT Watuputih. Bagaimana jika kemudian kajian akademis menyebutkan bahwa penambangan di sana harus dihentikan ? Berapa investasi yang terbuang karena keputusan itu ?

Mungkin karena alasan itu, Kantor Staf Presiden hati-hati dalam bersikap. Hingga Rabu (12/4) sore harus mengubah tampilan di situs www.ksp.go.id. Tak seberapa sih perubahannya, tetapi perubahan itu menunjukan kehati-hatian luar biasa. Apakah standar ini juga berlaku untuk pemberitaan lain selain tentang CAT Watuputih ? Inilah perubahan tampilan situs www.ksp.go.id pada berita tentang CAT Watuputih, Rabu sore itu.

grafis ksp soal kendeng

 

Sore itu, tim KLHS Tahap I CAT Watuputih merekomendasikan penghentian sementara aktivitas penambangan di sana. Penghentian ini berlaku hingga pada batas waktu yang belum ditentukan. Kata-kata yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebagai berikut, ““Penambangan di kawasan CAT Watuputih belum dapat dilakukan sampai dengan status kawasan ini dapat ditambang atau tidak. Kira-kira ini hasil yang perlu kami sampaikan.”

Keputusan ini tidak hanya berlaku bagi PT Semen Indonesia, namun juga pemegang izin usaha pertambangan (UIP) di Watuputih. Selesaikah cerita soal Kendeng ? Belum. Masih ada KLHS Tahap II yang mencakup pegunungan Kendeng. KLHS Tahap I pun masih perlu didalami lebih jauh dengan menggunakan data-data primer oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sepertinya kokk mbulet ya ? Surono, mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM mengakui banyak tarik menarik pada persoalan ini. “Sebenarnya mudah diurai,” kata Surono singkat. Barangkali memang iya selama mau saling mendengarkan.

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *