Hari-hari Berat Pak Presiden

Hari-hari Berat Pak Presiden

Hari-hari ini begitu berat bagi Presiden Joko Widodo. Beberapa kali Presiden harus melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah, pada saat yang sama Presiden tekanan politik terkait keputusannya mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Berhari-hari jurnalis harus datang lebih pagi dan pulang lebih larut agar tidak ketinggalan peristiwa seputar suksesi di tubuh Polri.

Pada saat itu pula hanya sebagian orang tahu, Presiden menahan sakit gigi. “Sejak pekan lalu, Presiden memang ada masalah dengan gigi. Tetapi sakit itu tidak dihiraukan dan tetap bekerja,” kata salah seorang anggota Pasukan Pengawal Presiden kepada Kompas, Jumat (16/1). Karena sakitnya itu, Presiden memeriksakan gigi ke klinik gigi di Balai Kota Jakarta.

Sakit gigi itu muncul ketika Presiden harus melewati hari-hari berat sepekan terakhir. Pada saat situasi semakin memanas dan perhatian rakyat tertuju pada sikap Istana, Presiden masih didera sakit gigi.

Tekanan politik sudah terjadi saat Presiden mengajukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Situasi semakin memanas ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi, Selasa (13/1). Persoalan semakin pelik ketika sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mennyetujui usulan Presiden pada sidang paripurna, Kamis (15/1).

Rakyat gaduh, pengguna sosial media banyak yang menentang pencalonan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Hingga kemudian lahir petisi lewat situs change.org. Penolakan juga berasal dari relawan dengan mendatangi kantor KPK dan Istana Kepresidenan. Mereka tidak ingin lembaga penegakan hukum dipimpin seorang tersangka.

Presiden masih belum menyampaikan keputusan tegas sambil menahan sakit gigi. Wartawan terus mengejar penjelasan Presiden dengan melontarkan sejumlah pertanyaan di mana pun kepala negara berada. Saat mengunjungi area pabrik PT Pindad, di Bandung wartawan meminta penjelasan alasan Presiden memilih Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri.

Presiden terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Namun Presiden tetap menjawabnya, “Itu usulan dari Kompolnas memberikan usulan kepada saya. Dari sana kita pilih, dan sekarang kita tunggu proses yang ada di DPR,” kata Presiden Joko Widodo di area pabrik PT Pindad, Senin (12/1) di Bandung.

Wartawan belum puas dengan jawaban itu, kembali menanyakan ke Presiden mengapa tidak melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam proses pemilihan Kepala Polri, Presiden sejenak terdiam. Empat detik kemudian Presiden mengatakan, “Nanti kalau saya jawab larinya ke tempat lain. Sudah.” Selanjutnya Presiden tutup mulut dan meninggalkan wartawan yang menginginkan penjelasan lebih jauh.

Di hari itu, wartawan masih berusaha mengejar penjelasan Presiden saat mengunjungi PT Dirgantara Indonesia. Wartawan menanyakan sikap Presiden terkait rencana DPR memanggil Budi Gunawan. “Sudah tiga kali saya sampaikan itu. Ini yang terakhir. Proses ini sudah saya sampaikan ke dewan, silahkan tanyakan ke DPR,” kata Presiden.

Kesibukan di Istana

Seiring panasnya dinamika terkait suksesi di tubuh Polri, kompleks Istana Kepresidenan ikut sibuk. Orang-orang yang menjumpai Presiden makin banyak jumlahnya. Sebagian orang yang datang menemui Presiden di antaranya Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, Kamis (15/1). Surya diundang oleh Presiden dalam jamuan makan siang di istana.

Tak bisa dimungkiri, keduanya membicarakan polemik pemilihan Kepala Polri. Namun Surya menyerahkan persoalan itu ke Presiden sebagai pemegang hak prerogatif.

Di hari yang sama, Ketua DPR Setya Novanto datang ke Istana menyampaikan hasil sidang paripurna persetujuan penunjukan Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri.

Kesibukan di sekitar istana semakin terlihat pada Jumat (16/1) pagi. Sejumlah jenderal terlihat di kompleks Istana Kepresidenan yakni Kepala Polri Jenderal Sutarman, calon Kepala Polri yang diusulkan Presiden, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, dan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.

Presiden tersebut secara tertutup dan tidak terjadwal pada agenda pertemuan resmi presiden yang disebar ke wartawan. Sutarman meninggalkan istana lebih dahulu sekitar pukul 08.45. Sutarman melangkah dengan terburu-buru tanpa ekspresi. Dua ajudannya, mencegah wartawan melayangkan pertanyaan. “Maaf, tidak ada pertanyaan. Maaf bapak buru-buru,” kata salah seorang ajudan sambil menyilangkan tangannya mencegah wartawan mendekat.

Tidak ada keterangan apapun terkait pertemuan itu. Walaupun Presiden menggelar jumpa pers pada siang harinya, namun Presiden tidak menjelaskan materi pertemuan. Presiden langsung meninggalkan lokasi wawancara setelah mengharap rakyat sabar dan menunggu saat yang tepat.

Sampai hari Jumat kemarin, Presiden masih sakit gigi.(NDY)

PS : Bahan ini juga saya kirim ke WHY untuk kemudian digabung bersama. Terimakasih mas

Author: andy riza

Saksi dari rangkaian peristiwa, berusaha menyampaikan sebenar-benarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *