Menari, Belanja, dan Memancing 

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana saat menari di Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (22/12). Foto Sekretariat Presiden RI.

Menari, Belanja, dan Memancing di Papua

Berkali-kali Presiden Joko Widodo mengunjungi Papua dan Papua Barat. Tingkat kunjungannya bahkan melebihi sejumlah daerah di tanah air. Seperti yang sering terjadi, setiap kali kunjungan kerja, kegiatan Presiden nyaris berlangsung tanpa jeda, dari pagi hingga malam. Tidak terkecuali di dua wilayah itu.


Kunjungan kali ini menyiratkan bahwa Presiden tidak main-main dengan Papua. Karenanya perlu mengakrabi segala hal yang ada di sana, termasuk budayanya. Pesan tersebut yang tertangkap saat Presiden hendak meninggalkan Bandara Douw Arturure, Nabire, Kamis (21/12) siang.


Presiden secara spontan bergabung dengan warga yang melepas kepergiannya. Bersama tabuhan tifa, petikan gitar, tiupan triton (alat musik tradisional Papua), dan tarian Mepago Saireri, Presiden ikut menari dan menyanyi sebagai tanda perpisahan. “…sapu tangan merah, kini basah sudah. Berpisah lewat pandangan, berjumpa dalam doa…” Tangan Ibu Negara Iriana terlihat bergandengan dengan perempuan Papua dengan pakaian adat Nabire.

Suasana seperti itu wajar terjadi, sebab masyarakat Nabire sangat mengharapkan kehadiran Presiden untuk mempercepat pembangunan wilayah itu. Keinginan baru mereka terwujud setelah tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi.


Siang itu, Presiden hendak melanjutkan kegiatannya ke Raja Ampat, Papua Barat untuk menghadiri peringatan hari Ibu esok harinya, Jumat (22/12) pagi. Di lapangan Waisai Torang Cinta, Presiden kembali menari, kali ini bersama personel paduan suara yang sebagian merupakan anak-anak. Lagu Yamko Rambe Yamko menarik keinginan Presiden untuk bergoyang. Dengan mengenakan batik lengan panjang, Presiden bergabung dengan paduan suara, memilih baris kedua untuk bergoyang dan menyanyi bersama. Sementara Iriana menari di baris terdepan paduan suara itu.


Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana berdialog dengan mama-mama saat menghadiri peringatan Hari Ibu di Lapangan Waisai Torang Cinta, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Jumat (22/12). Presiden terkesan dengan perjuangan para mama Papua, mengelola hasil bumi untuk menghidup keluarganya. Presiden membeli barang dagangan yang mereka gelar di tempat itu.

Belanja

Di tempat yang sama, Presiden memborong barang dagangan mama-mama dari penjuru daerah di Papua Barat. Peristiwa ini terjadi saat pidato di tepi laut Pulau Waigeo, selepas menari bersama anak-anak setempta. Presiden memanggil beberapa perwakilan mama-mama Papua Barat yang berjualan di lokasi acara.


Kepada Mama Syana, Presiden membeli salak yang dihargai 30.000 per tumpuk. Sebelum memutuskan membeli Presiden menawar salak Syana dengan harga Rp 10.000 per tumpuk. Menurut Syana buah salak saat ini sedang tidak musim, jadi wajar jika harganya lebih mahal dari biasanya. Presiden tidak keberatan dengan harganya. Presiden hanya ingin tahu alasan Mama Syana mematok harga salaknya.

Sementara kepada Mama Feli, Presiden membeli buah pinang dengan harga Rp 10.000 setumpuk. Presiden salut kepada Feli yang menyisihkan hasil penjualan pinang itu untuk membiayai kuliah anak-anaknya di Jakarta dan Bandung. “Ini yang namanya perempuan berdaya, negara jaya,” kata Presiden.

Masih melanjutkan belanjanya, Presiden menawar sagu milik Mama Selina yang dijual Rp 30.000 per potong. Kali ini Presiden menawar dengan harga yang lebih tinggi yaitu Rp 40.000 per potong. Mama Selina tertawa dengan harga yang ditawarkan Presiden. Tentu saja, tawaran itu menguntungkannya karena nilainya di atas harga yang dipatok.


Memancing

Sebelumnya kunjungan Presiden ke Raja ampat terjadi pada malam pergantian tahun 2015-2016. Presiden sepertinya sudah tahu, aktivitas apa yang harus dilakukan setibanya di Raja Ampat semalam sebelum peringatan Hari Itu. Tak sampai sejam setelah mendarat di kabupaten kepulauan itu, Presiden pergi memancing. Padahal rangkaian kegiatan di Nabire sehari sebelumnya cukup menguras energi. Tetapi, begitulah Presiden RI ke-7 ini, nyaris tanpa jeda di kegiatan kerjanya.

Dengan menggunakan kapal cepat, Presiden mencari ikan dengan kail bersama putra bungsunya Kaesang Pangarep dan Ibu Iriana. Presiden terlihat dengan kemeja putihnya, dilapisi jaket merah, celana hitam, dan sandal jepit.


Meski acara santai, Presiden masih ngobrol tentang pembangunan wilayahi Papua Barat. Di depan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Presiden menelepon Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk memastikan perpanjangan landasan pacu Bandar Udara Marinda di Kabupaten Raja Ampat. Bandara itu dianggap penting sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan ke Raja Ampat. Karena itu, perlu bandara yang memadai, sehingga pesawat besar dapat mendarat di sana. Entah dapat ikan atau tidak sore itu, tetapi melepas umpan ke laut di tengah embusan angin yang menerpa tubuh, sepertinya lebih menyegarkan.


Kehadiran Presiden di Papua dan Papua Barat kali ini semakin mendekatkan hubungan dengan rakyat di sana. Sejauh yang penulis lihat, antusiasme masyarakat tidak berkurang setelah berkali-kali mengunjungi provinsi di timur Indonesia itu. Presiden semakin terbiasa menerima kalungan noken, menari dan menyanyi bersama, dan akrab dengan segara persoalan yang dihadapi rakyat Papua. Gubernur Papua Lukas Enembe mengharapkan pembangunan di wilayah itu semakin tepat sasaran. Begitu juga harapan Gubernur Dominggus Mandacan, yang mengharapkan percepatan pengembangan kawasan wisata Raja Ampat.


Perjalanan Presiden ke Papua diawali kunjungannya ke Sorong, Papua Barat, Selasa (19/12) malam. Presiden melanjutkan ke Nabire, Papua pada Rabu (20/12) hingga Kamis (21/12). Adapun pada hari Kamis hingga Jumat (22/12), Presiden melakukan kegiatan di Raja Ampat, Papua Barat. Kunjungan kerja Presiden di Papua maupun Papua Barat merupakan satu rangkaian kegiatan di enam provinsi yang berlangsung dalam lima hari di pekan ketiga dan keempat Desember. (Andy Riza Hidayat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *