Doktor Honoris Causa dari Hiroshima

Wapres Jusuf Kalla saat berada di depan reruntuhan gedung karena bom atom di Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2) 2018.

Penghargaan

Doktor Honoris Causa dari Hiroshima

Rabu (21/2) sore itu Jusuf Kalla (75) tertegun di depan reruntuhan gedung megah. Sesaat kemudian Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI itu menyimak cerita kehancuran gedung bernama Hiroshima Prefectural Commercial Exhibition Hall. Bangunan megah karya arsitek Cheko Jan Letzel hanya tersisa kerangka dan puingnya. Gedung ini merupakan bangunan paling “utuh” dibanding semua bangunan di sekitarnya yang hampir rata dengan tanah 78 tahun lalu.

Bangunan itu sekaligus menjadi saksi bisu kedahsyatan bom atom yang dijatuhkan di kota itu. Saat itu, hampir semua yang ada di Hiroshima hancur, puluhan ribu orang meninggal dunia. Tragedi pilu ini masih mengusik kesadaran Kalla, meskipun saat kejadian dia berumur tiga tahun. Karena itu, ”Saya ingin membagi pemikiran dan pandangan saya dengan sahabat-sahabat saya di Jepang. Jangan ada lagi perang,” kata Jusuf kalla di kampus Universitas Hiroshima saat menerima gelar doktor honoris causa (HC) di bidang perdamaian.

Gedung Hiroshima Prefectural Commercial Exhibition Hall itu kini jadi bagian dari Hiroshima Peace Memorial Park di Kota Hiroshima. Namun sekarang, tidak ada lagi bangunan yang hancur di sekitar gedung itu. Justru gedung yang dulu disebut paling “utuh” itu, kini menjadi paling hancur di antara bangunan yang berdiri megah di sekitarnya. Jepang telah bangkit tanpa konflik dan kekerasan. Dia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang disegani saat ini.

Bukan hal yang berlebihan, saat berdiri di hadapan pimpinan Universitas Hiroshima, Kalla menyampaikan bahwa peradaban tidak bisa dibangun dengan konflik dan kekerasan. Perdamaian adalah alasan yang rasional untuk membangun peradaban sebuah bangsa. Apa pun motifnya, konflik selalu mengorbankan kemanusiaan dan menghancurkan segalanya. Konflik tidak cocok dengan peradaban manusia. Hanya perdamain lah yang dapat memastikan masa depan manusia.

Berkali-kali Kalla menyampaikan itu di forum-forum terbuka. Bahwa mustahil membangun sebuah bangsa tanpa perdamaian lebih dahulu. Pemikiran ini yang ditawarkan kepada pihak-pihak yang berkonflik di Aceh, Poso, maupun Maluku. Sebab konflik kekerasan selalu menyisakan garis demarkasi antara “kita“ dan “mereka.” Bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban konfli, kepedihan itu bisa mereka rasakan seumur hidupnya.

Ratusan orang yang menyimak pidato Kalla terlihat serius. Begitu pun warga Indonesia yang terdiri dari Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, peneliti dan pemerhasi masalah sosial Hermawan Sulistyo, Bupati Bantaeng (non aktif) Nurdin Abdullah, Rektor Universitas Hasanuddin Dwia Aries Tina Pulubuhu, maupun mahasiswa Jepang dan Indonesia. Sikap serupa terlihat dari utusan khusus Indonesia untuk investasi dari Jepang Rachmat Gobel, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Lutfi, Tim Ahli Wapres Sofyan Wanandi, Duta Besar RI di Jepang Arifin Tasrif, mantan Duta Besar RI untuk Rusia Hamid Awaludin.

Gelar doktor HC bidang perdamaian ini merupakan gelar ketiga kali Kalla. Sementara gelar ini melengkapi anugerah serupa di berbagai bidang yang seluruhnya ada 11 kali penghargaan.

Wapres Jusuf Kalla mengikuti prosesi pemberian gelar doktor honoris causa (HC) bidang perdamaian di Universitas Hiroshima, di Kota Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2). Rektor Universitas Hiroshima Mitsuo Ochi mengakui sepak terjang Kalla di bidang perdamaian. Menurut Ochi, selama menjadi pejabat publik, Kalla aktif terlibat dalam berbagai penyelesaian konflik sosial. Kepeloporan Kalla ini, kata Ochi sejalan dengan visi univeritas yang ingin aktif dalam upaya untuk membangun perdamaian dunia. Misi ini beralasan karena perguruan tinggi ini berdiri di atas lahan yang pernah hancur karena peperangan.

Pihak universitas juga mempertimbangkan kiprah Jusuf Kalla di bidang pendidikan. Menurut catatan rektor, Kalla berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan mengelola lembaga pendidikan di Sulawesi, pulau kelahiran Kalla. Karena pertimbangan itu, Kalla dinilai layak mendapat anugerah doktor HC bidang perdamaian. Pada ujung pidatonya, Ochi mengharapkan kontribusi Kalla dalam membina hubungan baik antara Jepang dan Indonesia yang tahun ini berusia 60 tahun.

Prosesi penganugerahan gelar doktor HC ini berlangsung sekitar 30 menit dimulai pukul 13.15 waktu setempat. Kalla memberi sambutan singkat pada prosesi ini yang diawali dengan ucapan terimakasih kepada pihak kampus. Selain membahagiakannya, kelualrga, dan teman-temannya, Kalla mendedikasikan penghargaan ini bangsa Indonesia mencintai perdamaian.

Setelah prosesi penganugerahan gelar doktor usai, Kalla berpidato lebih panjang dilanjutkan dengan tanya jawab dengan hadirin.

Pada tahun 2007, Kalla berturut-turut menerima gelar doktor HC bidang ekonomi dari Universitas Malaya, Malaysia dan bidang perdamaian dari Universitas Soka, Jepang. Empat tahun kemudian (2011), Kalla kembali menerima dua gelar yang sama di bidang pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung dan bidang kewirausahaan dari Universitas Brawijaya, Malang.

Gelar serupa diperoleh Kalla di bidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia (2013), bidang perdamaian dan kemanusiaan dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (2015), Bandung dan bidang hukum dan pemerintahan dari Universitas Hasanuddin, Makassar (2016), dan Universitas Andalas, Padang (2016). Pada bulan Maret 2017, Kalla mendapatkan gelar yang sama bidang administrasi bisnis dari Rajamangala University of Technology Isan di Bangkok, Thailand. Awal tahun ini, Kalla kembali menerima Doktor HC bidang sosiologi agama dari Universitas Islam Alauddin, Makassar.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan rasa hormatnya kepada Jusuf Kalla. Menurut Tito, penghargaan tersebut merupakan pengakuan otentik dari kalangan akademis atas kapasitas Kalla. “Tidak ada keraguan terkait kiprah beliau dalam hal perdamaian. Gelar ini merupakan kehormatan karena beliau sudah lama sekali berkecimpung dalam perdamaian. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Tito Karnavian.

Kegembiraan juga dirasakan Bupati Bantaeng (non aktif) Nurdin Abdullah di lokasi acara. Sebagai warga Sulawesi Selatan, Nurdin berharap kepeloporan Jusuf Kalla dapat diteladani bagi warga Indonesia lainnya. Dan tentunya, gelar doktor HC dari Hiroshima dapat dibaca bahwa konflik kekerasan selalu menyisakan kepedihan mendalam. (NDY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *