Strategi Komunikasi Pada Pakaian Jokowi

Screen capture ulasan Strategi Komunikasi Jokowi Berpakaian yang dimuat di Kompas, 6 Mei 2018 di Halaman 2. Capture by me.

Ini adalah salah satu tulisan yang saya sukai. Saya garap bersama teman-teman saya Anita Yossihara dan Nina Susilo. Kelak saya ingin membuat riset mendalam soal ini. Selamat menikmati…(tulisan dibawah ini versi asli sebelum muncul di koran). Versi koran ada di screen capture.

Bukan sekali saja pakaian Presiden Joko Widodo menjadi pembicaraan publik. Dari sarung, sepatu, jaket jins, seragam militer, kaus oblong, hingga jaket Asian Games yang menjadi fenomena terbaru. Bukan tanpa sengaja, Presiden memang ingin menyampaikan pesan simbolik lewat pakaian yang dikenakannya. Lebih mudah diingat, tahan lama, dan minim risiko kesalahan.

Jaket Asian Games ke-18 yang dipakai Presiden pada hari Kamis (3/5/2018) dan Jumat (4/5/2018) lalu misalnya, mencuri perhatian banyak orang. Jaket itu dipakai ketika Presiden menemui 252 siswa berprestasi se-Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Jaket berwarna dasar hitam itu dihiasi motif logo Asian Games 2018 warna-warni. Sementraa bagian lengan jaket bertulisan Indonesia dengan corak logo Asian Games.

Jurnalis yang meliput acara penasaran, lalu menanyakan maksud Presiden mengenakan jaket tersebut. “Supaya bisa menjadi perhelatan besar dan rakyat juga merasa memiliki. Karena itu, semua saya ajak sama-sama mempromosikan bahwa negara kita tahun ini akan ada perhelatan besar Asian Games ke-18,” jawabnya.

Presiden balik bertanya, “Keren, nggak?,” ujarnya sambil berbalik menunjukkan lukisan di bagian belakang jaket yang menggambarkan atlet bermain basket, voli, angkat besi, tinju, dan anggar. Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi yang mendampingi Presiden terkejut. Dia tidak tahu asal muasal jaket itu.

Jas-seragam militer-kembali ke jaket

Pada hari yang sama, Presiden menerima kunjungan kenegaraan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah dan HM Duli Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Pada acara ini, Presiden Jokowi mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih, dasi merah, dan peci hitam. Pakaian senada dipakai tamunya, Sultan Bolkiah.

Saat pertemuan Sultan Bolkiah dilanjutkan di Markas Besar TNI di Cilangkap, Presiden berganti pakaian yaitu seragam militer. Pakaian doreng dengan kabaret hitam itu dipakai menyambut Sultan yang juga mengenakan baju militer. Kedua kepala negara hadir untuk melihat kemampuan prajurit TNI, senjata, dan kendaraan tempur buatan Indonesia. Acara ini bagian dari negosiasi penjualan senjata dan kendaraan tempur Indonesia ke Brunei.

Acara itu dilanjutkan dengan bermain badminton bersama di Gedung Olahraga Ahmad Yani yang berada di area Mabes TNI Cilangkap. Pada kegiatan itu, Presiden kembali mengenakan jaket Asian Games, sebelum main dengan kaus putih. Usai pertandingan, jaket Asian Games itu dipakai lagi. Presiden mengaku bangga dengan jaket yang dikenakannya.

Wajar saja jika jaket itu kembali dikenakan saat memimpin rapat terbatas tentang persiapan Asian Games 2018 di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (4/5) lalu. Jaket itu tidak hanya dikenakan saat memimpin rapat terbatas, tetapi juga saat memimpin ratas membahas peningkatan kerja sama dengan negara-negara kawasan Pasifik Selatan di hari yang sama.

Karya anak negeri

Deputi Protokol Pers dan Media Sektretariat Presiden Bey Mahmudin mengatakan Presiden Jokowi sengaja membeli jaket polos berwarna hitam agar bisa dilukis dengan logo Asian Games. “Jadi Presiden membeli jaket polos, kemudian meminta anak-anak muda untuk melukis di atas jaket,” tuturnya.

Sama seperti jaket jins bergambar peta Indonesia yang dikenakan Jokowi saat touring di Sukabumi, gambar pada jaket Asian Games juga dibuat oleh Muhammas Haudy, pendiri Never Too Lavis, sebuah kelompok pelaku industri kreatif di Tanah Air. Jaket bergambar ilustrasi berbagai cabang olahraga itu memang khusus dibuat untuk memromosikan perhelatan Asian Games 2018 yang dimulai 18 Agustus mendatang.

Presiden Jokowi seakan tak sabar ingin memromosikan Asian Games dengan caranya sendiri. Sebab hingga 100 hari menjelang pembukaan, gaung Asian Games belum begitu terdengar. Kurangnya promosi dan publikasi itulah yang dikeluhkan Jokowi sejak pertengahan April lalu.

Efektif

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai cara Presiden menyampaikan pesan lewat pakaian itu menarik. Secara psikilogis, ingatan visual masyarakat jauh lebih kuat daripada ingatan verbal. Bentuk visual juga dapat bertahan lebih lama daripada ingatan verbal. Visual, menurut Hamdi, lebih efektif mengggugah perasan sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, satu gambar berbicara ribuan kata.

“Sejauh yang sama amati, pesan visual Presiden berdampak positif. Target pengiriman pesan juga mengenai sasaran, terutama pada anak-anak muda,” kata Hamdi.

Pandangan serupa disampaikan Monica Kumalasari, praktisi pengamat gerak tubuh dan mikroekspresi. Mengutip teori Albert Mehrabian, psikolog Armenia keturunan Iran, yang berpendapat bahwa tanda-tanda visual memegang peranan penting dalam memberikan kesan yang ingin disampaikan seseorang. Penanda visual pengaruhnya lebih besar dari penanda verval dan suara dengan perbandingan 7-38-55 (verbal – voice – visual). Dalam strategi politik, bahasa non verval selain lebih lama diingat, juga memiliki risiko kesalahan kecil.

“Bahasa non verbal lebih aman digunakan dalam konteks komunikasi massa. Walaupun merupakan bahasa persepsi, namun ini lebih mudah dipahami dan berdampak bagi penerima pesan,” kata Monica.
Sementara komunikasi verbal berisiko pada munculnya perdebatan publik jika ada kesalahan dala materi maupun cara penyampaian. Pada dampak yang lebih serius, bahasa verbal bisa berujung pada perkara hukum.

Falsafah Jawa

Menurut Monica, Presiden memahami benar falsafah Jawa yang berbunyi ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono. Artinya, harga diri seseorang dinilai dari perkataannya, begitu pun juga penghormatan pada seseorang dilihat dari pakaian yang dikenakanya. Prinsip-prinsip inilah yang melandasi Presiden adaptif dengan aneka acara yang dihadiri lewat pakaian yang dikenakan.

Jaket bermotif Asian Games 2018 misalnya, itu adalah kritik agar promosi lebih gencar dilakukan. Hal ini senada dengan yang disampaikan Presiden sebelum mengenakan jaket itu. Menyadari dirinya dapat memberi pengaruh (influencer), maka Presiden mengenakan jaket itu.

Sementara seragam militer yang dipakai Presiden saat menerima Sultan Bolkiah dinilai sebagai upaya untuk membangun kedekatan. Caranya adalah membuat kesamaan busana dengan tema acara. Dengan cara ini, terbangun kesamaan di antara kedua kepala negara. Bila ini sudah sudah terbangun, maka negosiasi kerjasama akan lebih mulus dilakukan. Hasilnya, Brunei memastikan memberi senjata dan kendraan tempur buatan Indonesia.

Begitu pun saat Presiden menghadiri pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2018 di Jakarta, (19/4/2018). Presiden saat itu mengenakan jaket jins yang sedang banyak diperbincangkan setelah dipakai sebelumnya di Sukabumi. Baju itu sengaja dipakai untuk menarik perhatian generasi muda dengan cara menanamkan kebanggaan pada kreativitas produk lokal.

Masih segar diingatan pembaca bahwa Presiden pernah mengenakan kaus kuning saat berolahraga bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Bogor (24/3/2018). Presiden ingin menyampaikan, bahwa dirinya dekat dengan Golkar. Lebih dari itu, Presiden ingin mengatakan bahwa dia bagian keluarga besar Golkar, sama seperti warna dasar lambang partai itu. Benarkah demikian ? (NDY/INA/NTA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *