Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Presiden menghadiri haul Guru Sekumpul di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3).

Para Tamu Tanpa Undangan Itu…

Sepeninggal Guru Sekumpul Agustus 2005, tidak hanya para muridnya yang kehilangan. Mereka yang pernah mendengarkan ceramahnya ikut bersedih. Sosok yang adem dalam berdakwah itu pergi saat dibutuhkan warga. Rasa kehilangan warga itu bagai sebuah sandaran yang tiba-tiba hilang, saat badan bertumpu padanya.

Salah satu cara terbaik mengenangnya adalah mengingat dan mengamalkan ajaran kebaikan Sang Guru yang bernama asli Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Tak terkecuali saat haul (peringatan hari kematian) ke-13 Guru di Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura Kota, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (25/3), acara ini dipakai untuk kembali mengingat ajarannya.

Tidak ada undangan resmi yang disampaikan keluarga pada khalayak umum. Namun jauh-jauh hari keluarga sudah merencanakan kegiatan ini digelar pada 25 Maret di Musala Ar Raudah, yang bersebelahan dengan makam Sang Guru. “Siapa pun yang datang, kami hormati sebagai tamunya abah (ayah). Kami hormati semampu kami,” kata Agus Syamsurijal (46), salah satu panitia acara
haul.

Menurut Agus, hampir semua unsur masyarakat terlibat di acara ini. Syaratnya mereka harus mau bekerja dengan ikhlas, mengorbankan waktu, tenaga, dan dana. Agus memperkirakan orang yang hadir di acara ini sekitar 1,2 juta jiwa. Hitungan ini didasakan pada kepadatan manusia yang tersebar hingga 2,5 kilometer dari titik acara.

Para tamu yang datang ke acara haul sudah tiba sejak tujuh hari sebelum puncak acara. Mereka menginap di rumah-rumah warga, hotel dengan berbagai kelas, serta tempat-tempat lain yang bisa dipakai untuk tinggal. Mereka tergerak datang meskipun bukan murid Guru Sekumpul. Sebagian memanfaatkannya sebagai ajang silaturahmi antar keluarga yang sama-sama terkesan dengan ajaran Guru.

Penglihatan Kompas di lokasi acara, antusiasme warga terlihat sejak lima kilometer dari titik acara. Mereka menyediakan makanan, minuman, jasa tambal ban, dan tempat untuk dipakai ibadah maupun istirahat. Semua diberikan gratis. Dalam catatan Agus, ada 43 dapur umum (yang terlapor), dan 99 posko dan tempat parkir, dengan melibatkan 10.000 relawan.

Sebelum pembacaan tahlil, panitia memutar ceramah Guru Sekumpul semasa masih hidup. Layar-layar ini terpasang di setiap jarak 500 meter. Bagi yang berada di rumah-rumah warga, rangkaian acara ini disiarkan langsung lewat televisi yang terhubung di rumah-rumah warga sekitar lokasi.

Guru Sekumpul merupakan tokoh agama yang populer di mata masyarakat Kalsel. Ajarannya disarikan dalam sepuluh wasiat Guru, antara lain menghormati ulama dan orang tua, berbaik sangka terhadap muslimin, bermurah harta, bermanis muka, tidak menyakiti orang lain, mengampuni kesalahan orang lain, tidak bermusuhan, tidak serakah, berpegang kepada Allah, dan yakin keselamatan itu pada kebenaran.

Lantaran kesan yang dalam, Guru Sekumpul juga dikenal dalam sebutan
Abah Guru. Warga menganggap Zaini sebagai orang tuanya sendiri yang selalu menyampaikam masehat kebaikan pada anak-anaknya. “Karena ajaran beliau, keluarga kami bisa berkumpul saat ini. Kami ingin mengikuti haul meskipun bukan murid Abah Guru,” kata Abdurrahman (49) yang rumahnya disesaki saudara-saudaranya.

Berbeda dari sebelumnya

Tak dimungkiri, haul tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, untuk pertama kalinya, Presiden Joko Widodo menghadiri haul Guru. Namun di acara ini Presiden tidak menyampaikam sepatah kata pidato kepada semua hadirin. Panitia dan pihak Sekretariat Presiden menyepakati hal itu, merujuk pada wasiat Sang Guru yang tidak ingin tempatnya jadi tempat berpolitik.

Sama halnya dengan warga lain, Presiden hadir tanpa undangan. Pihak Sekretariat Presiden pun memahami wasiat Guru Sekumpul, sehingga tidak mempermasalahkan meski Presiden tidak berpidato. “Acaranya ya sesuai yang biasa digelar. Kami ikut saja kebiasaan yang sudah mereka jalankan,” kata Wawan Setiawan, Kepala Bidang Pers, Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Presiden tiba di lokasi acara pukul 17.45 waktu Indonesia tengah. Kedatangannya disambut massa yang memadati lokasi. Lantaran sesaknya warga di sekitar lokasi, Presiden memilih berjalan kaki sekitar 400 meter. Presiden hadir dengan mengenakan jas biru, baju putih, peci hitam, dan sarung biru. Mendampingi Presiden ke acara ini Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP.

Sesampainya di lokasi acara, Presiden menuju Musala Ar Raudah untuk mengikuti ibadah salat magrib dilanjutkan pembacaan tahlil (kalimat tauhid) hingga memasuki waktu salat isya. Presiden duduk bersila hikmat mengikuti acara hingga selesai. Sesuai kesepakatan awal, tak ada pidato dari Presiden. Di penghujung acara Presiden “hanya” bersalam-salaman dengan keluarga Guru, lalu meninggalkan lokasi acara.(Andy Riza Hidayat)

Tak Lelah Menjaga Pintu Istana

Ini bukan cerita tentang satpam. Tetapi cerita tentang mereka yang tidak mengabarkan berita dari lingkungan Istana. Kata orang, wartawan yang liputan di sana “wah”. Setelah saya alami sejak Desember 2014, tidak sepenuhnya benar.

Memang bisa disebut wah karena bertemu dengan narasumber penting. Namun soal tantangan dan kesulitan bekerja di ring 1, tidak kalah dengan medan liputan di tempat lain. Hanya bentuk tantangannya yang berbeda bro.

Kami kadang kehujanan bahan berita, karena saking banyaknya bahan yang harus kami buat, untuk makan pun sering telat.

Novel dan Cairan Keras

Novel dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Jejak Kuliner Presiden (2)

Penampilan Menteri Basuki di Teluk Ambon

Siang itu, cuaca Kota Ambon, Maluku begitu cerah. Kunjungan Presiden ke Maluku, dalam statusnya sebagai Presiden, saat itu yang keempat kalinya. Hati itu, Presiden telah menghadiri jadwal kegiatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2017. Jika tak ada angin menghembus pelan, mungkin suhu udara terasa terik. Anginlah yang menyejukkan suasana di kota yang pernah dilanda konflik horizontal itu.

Kedamaian Ambon begitu terasa saat kami tiba di Rumah Makan Lateri Beach, Kota Ambon. Debur ombak kecil dan nanyian merdu penyanyi Ambon menemani kami. Pemilik rumah makan rupannya sudah menyiapkan menu andalannya sebelum Presiden tiba. Tidak perlu menunggu lama, sajian terbaik mereka sudah terhidang di atas meja makan.

Namun ketenangan itu pecah saat kami dikejutkan aksi spontan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Menteri Basuki tidak tahan melihat seperangkat alat musik dan nyinyian merdu di rumah makan itu. Basuki meminta izin naik panggung kecil tempat musisi memainkan alat musiknya, aktivitas makan kami terhenti sesaat.

“Bener nih, Pak Basuki mau nyanyi ?” tanya rekan jurnalis yang melihat aksi Basuki. Menteri Basuki mengambil pelantang suara dan mengajak penyanyi rumah makan itu berdendang bersama.

Basuki memilih lagu berjudul “Parcuma,” lagu pergaulan warga Maluku. Parcuma adalah salah satu lagu yang disukai Basuki selain lagu-lagu asal Maluku yang lain. Layaknya penyangi panggung, Basuki memulai melantunkan suara. Suaranya kuat dengan kepercayaan diri. “Kalo ada yang mo maso minta//nona tarima saja//jang ale pikir beta lai//perkara cinta beta cinta//mo sayang paling sayang//marsio mo biking apa//parcuma beta susah di rantau,” suara Basuki mematahkan keraguan orang.

Sepotong lagu “Parcuma” tak memuaskan mereka yang hadir di rumah makan. Basuki didaulat menambah satu lagu lagi. Basuki tak menolak dan sepertinya memang senang bernyanyi. Kali ini ini Basuki melantunkan lagu “Maluku Tanah Pusaka” ciptaan Eddie Latuharhary. Suaranya larut dengan debur ombak kecil air laut di Teluk Ambon. Sebagian ikut bernyanyi ketika sampai lirik ini, “Dari ujung Halmahera//Sampai tenggara jau//katong samua basudara.”

Sementara Basuki menyanyi, Presiden Joko Widodo berbincang-bincang dengan sejumlah menteri di depan meja makan. Presiden sesekali memerhatikan Basuki menyanyi sambil melempar senyum. Di hadapan Presiden, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Siang itu, Presiden tampak menikmati sajian olahan ikan laut di meja makan. Kenikmatan masakan itu serasa lengkap dengan nyanyian Basuki. Basuki kerap menyampaikan bahwa dia suka musik. Seni musik menjadi media yang universal untuk memperluas pergaulan. Kebetulan dia suka dan bisa memainkan alat musik.

Sementara Presiden kerap menjadi makanan sebagai media komunikasi. Lewat makan bersama, Presiden membicarakan hal yang santai hingga serius. Kebiasaan itu telah dilakukanya sejak di Solo, hingga saat dia memangku jabatan kepala negara saat ini.

Ambon, 9 Februari 2017.

 

Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Baliho Rumah Makan Pak Elan 2 di Gresik, Jawa Timur yang menjadi tempat makan Presiden Joko Widodo, Kamis 8 Maret 2018.

Jejak Kuliner Presiden (1)

Pertaruhan Nama Besar di Meja Makan

Hari belum benar-benar tengah hari. Jadwal kegiatan Presiden Joko Widodo yang pertama sudah selesai. Menurut urutan kegiatan, Presiden dijadwalkan makan siang di Rumah Makan Pak Elan II di Jalan Veteran No 100, Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Sementara jam belum melewati pukul 12.00 tengah hari, waktu yang kepagian bagi Presiden untuk makan siang.

Biasanya dalam kunjungan kerja di daerah-daerah, Presiden sering makan siang di atas jam 13.00. Makan siang baru sah setelah berkeringat mengikuti jadwal yang padat dan menemui warga. Namun ini begitu selesai menemui warga di GOR Tri Dharma, Gresik, Presiden dijadwalkan ke rumah makan itu.

RM Pak Elan sudah dikenal orang Gresik dan sekitarnya sejak puluhan tahun silam. Masakan favoritnya adalah aneka masakan bandeng dengan minuman legen, air minum dari fermentasi air bunga pohon siwalan. Soal ketenaran, jangan ditanya, hampir semua orang Gresik yang sudah dewasa kenal dengan rumah makan ini.

Di sepanjang jalan dari GOR Tri Dharma ke rumah makan, Presiden menyapa warga. Beberapa kali memberikan buku, dan bingkisan kecil untuk warga Gresik yang sudah siap di pinggir jalan. Dan akhirnya kami tiba di RM Pak Elan II.

Saya sendiri sudah mendengar ketenaran tempat ini. Dalam benak saya rumah makan ini punya nama besar bagi pecinta makanan Jawa Timur. Namun kebesaran nama RM Pak Elan sungguh-sungguh jadi pertanyaan siang itu. Hal mendasar yang kami sayangkan adalah lambannya pelayanan, di mana nasi untuk para tamu telat datang. “Mana nasinya, apa mungkin begini cara makannya,” Deputi Bidang Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin di depan meja makan.

Menikmati menu yang ada dahulu.

Lantaran terlalu lama, Intan seorang fotografer Biro Pers Media dan Informasi mengambil nasi sendiri ke dapur. Intan membawa tempat nasi itu ke meja tempat kami makan, langsung laris tanpa menunggu lama. Kami menduga, karena kami tidak makan semeja dengan Presiden, jadi tidak terlalu menjadi prioritas. Begitukah ?

Tidak hanya soal nasi, menu yang tersedia di meja tidak proporsional. Meja yang dihadapi sepuluh orang lebih, hanya ada satu mangkuk sayur asem. Sementara kami meminta tambahan dua mangkuk ke meja itu. Pelayan bilang ,” Iya Pak.”

Sampai sesi makan siang habis, dua mangkuk sayur asem pesanan kami tidak datang. Pelayan yang kami minta agar mendatangkan sayur itu kami tanya lagi, “Mas mana sayur asem nya ?” Dia hanya melengos, tidak menjawab. Tidak lama kemudian seorang berusia sekitar 50 an tahun mendatangi meja kami. “Bagaimana bandeng gresik nya, enak tidak ?” Kami semua tidak menjawab.

Lalu obrolan kami lanjutkan dalam kendaraan sesaat setelah makan siang usai. Kami bercerita tentang pengalaman di rumah makan itu. Di ujung obrolan, masing-masing dari kami memberi penilaian dari 1 untuk yang terendah hingga poin 10 untuk yang tertinggi. Coba tebak berapa nilainya? (Andy Riza Hidayat)

Doktor Honoris Causa dari Hiroshima

Wapres Jusuf Kalla saat berada di depan reruntuhan gedung karena bom atom di Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2) 2018.

Penghargaan

Doktor Honoris Causa dari Hiroshima

Rabu (21/2) sore itu Jusuf Kalla (75) tertegun di depan reruntuhan gedung megah. Sesaat kemudian Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI itu menyimak cerita kehancuran gedung bernama Hiroshima Prefectural Commercial Exhibition Hall. Bangunan megah karya arsitek Cheko Jan Letzel hanya tersisa kerangka dan puingnya. Gedung ini merupakan bangunan paling “utuh” dibanding semua bangunan di sekitarnya yang hampir rata dengan tanah 78 tahun lalu.

Bangunan itu sekaligus menjadi saksi bisu kedahsyatan bom atom yang dijatuhkan di kota itu. Saat itu, hampir semua yang ada di Hiroshima hancur, puluhan ribu orang meninggal dunia. Tragedi pilu ini masih mengusik kesadaran Kalla, meskipun saat kejadian dia berumur tiga tahun. Karena itu, ”Saya ingin membagi pemikiran dan pandangan saya dengan sahabat-sahabat saya di Jepang. Jangan ada lagi perang,” kata Jusuf kalla di kampus Universitas Hiroshima saat menerima gelar doktor honoris causa (HC) di bidang perdamaian.

Gedung Hiroshima Prefectural Commercial Exhibition Hall itu kini jadi bagian dari Hiroshima Peace Memorial Park di Kota Hiroshima. Namun sekarang, tidak ada lagi bangunan yang hancur di sekitar gedung itu. Justru gedung yang dulu disebut paling “utuh” itu, kini menjadi paling hancur di antara bangunan yang berdiri megah di sekitarnya. Jepang telah bangkit tanpa konflik dan kekerasan. Dia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang disegani saat ini.

Bukan hal yang berlebihan, saat berdiri di hadapan pimpinan Universitas Hiroshima, Kalla menyampaikan bahwa peradaban tidak bisa dibangun dengan konflik dan kekerasan. Perdamaian adalah alasan yang rasional untuk membangun peradaban sebuah bangsa. Apa pun motifnya, konflik selalu mengorbankan kemanusiaan dan menghancurkan segalanya. Konflik tidak cocok dengan peradaban manusia. Hanya perdamain lah yang dapat memastikan masa depan manusia.

Berkali-kali Kalla menyampaikan itu di forum-forum terbuka. Bahwa mustahil membangun sebuah bangsa tanpa perdamaian lebih dahulu. Pemikiran ini yang ditawarkan kepada pihak-pihak yang berkonflik di Aceh, Poso, maupun Maluku. Sebab konflik kekerasan selalu menyisakan garis demarkasi antara “kita“ dan “mereka.” Bagi anak-anak dan perempuan yang menjadi korban konfli, kepedihan itu bisa mereka rasakan seumur hidupnya.

Ratusan orang yang menyimak pidato Kalla terlihat serius. Begitu pun warga Indonesia yang terdiri dari Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, peneliti dan pemerhasi masalah sosial Hermawan Sulistyo, Bupati Bantaeng (non aktif) Nurdin Abdullah, Rektor Universitas Hasanuddin Dwia Aries Tina Pulubuhu, maupun mahasiswa Jepang dan Indonesia. Sikap serupa terlihat dari utusan khusus Indonesia untuk investasi dari Jepang Rachmat Gobel, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal M Lutfi, Tim Ahli Wapres Sofyan Wanandi, Duta Besar RI di Jepang Arifin Tasrif, mantan Duta Besar RI untuk Rusia Hamid Awaludin.

Gelar doktor HC bidang perdamaian ini merupakan gelar ketiga kali Kalla. Sementara gelar ini melengkapi anugerah serupa di berbagai bidang yang seluruhnya ada 11 kali penghargaan.

Wapres Jusuf Kalla mengikuti prosesi pemberian gelar doktor honoris causa (HC) bidang perdamaian di Universitas Hiroshima, di Kota Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2). Rektor Universitas Hiroshima Mitsuo Ochi mengakui sepak terjang Kalla di bidang perdamaian. Menurut Ochi, selama menjadi pejabat publik, Kalla aktif terlibat dalam berbagai penyelesaian konflik sosial. Kepeloporan Kalla ini, kata Ochi sejalan dengan visi univeritas yang ingin aktif dalam upaya untuk membangun perdamaian dunia. Misi ini beralasan karena perguruan tinggi ini berdiri di atas lahan yang pernah hancur karena peperangan.

Pihak universitas juga mempertimbangkan kiprah Jusuf Kalla di bidang pendidikan. Menurut catatan rektor, Kalla berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan mengelola lembaga pendidikan di Sulawesi, pulau kelahiran Kalla. Karena pertimbangan itu, Kalla dinilai layak mendapat anugerah doktor HC bidang perdamaian. Pada ujung pidatonya, Ochi mengharapkan kontribusi Kalla dalam membina hubungan baik antara Jepang dan Indonesia yang tahun ini berusia 60 tahun.

Prosesi penganugerahan gelar doktor HC ini berlangsung sekitar 30 menit dimulai pukul 13.15 waktu setempat. Kalla memberi sambutan singkat pada prosesi ini yang diawali dengan ucapan terimakasih kepada pihak kampus. Selain membahagiakannya, kelualrga, dan teman-temannya, Kalla mendedikasikan penghargaan ini bangsa Indonesia mencintai perdamaian.

Setelah prosesi penganugerahan gelar doktor usai, Kalla berpidato lebih panjang dilanjutkan dengan tanya jawab dengan hadirin.

Pada tahun 2007, Kalla berturut-turut menerima gelar doktor HC bidang ekonomi dari Universitas Malaya, Malaysia dan bidang perdamaian dari Universitas Soka, Jepang. Empat tahun kemudian (2011), Kalla kembali menerima dua gelar yang sama di bidang pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung dan bidang kewirausahaan dari Universitas Brawijaya, Malang.

Gelar serupa diperoleh Kalla di bidang kepemimpinan dari Universitas Indonesia (2013), bidang perdamaian dan kemanusiaan dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh (2015), Bandung dan bidang hukum dan pemerintahan dari Universitas Hasanuddin, Makassar (2016), dan Universitas Andalas, Padang (2016). Pada bulan Maret 2017, Kalla mendapatkan gelar yang sama bidang administrasi bisnis dari Rajamangala University of Technology Isan di Bangkok, Thailand. Awal tahun ini, Kalla kembali menerima Doktor HC bidang sosiologi agama dari Universitas Islam Alauddin, Makassar.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan rasa hormatnya kepada Jusuf Kalla. Menurut Tito, penghargaan tersebut merupakan pengakuan otentik dari kalangan akademis atas kapasitas Kalla. “Tidak ada keraguan terkait kiprah beliau dalam hal perdamaian. Gelar ini merupakan kehormatan karena beliau sudah lama sekali berkecimpung dalam perdamaian. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Tito Karnavian.

Kegembiraan juga dirasakan Bupati Bantaeng (non aktif) Nurdin Abdullah di lokasi acara. Sebagai warga Sulawesi Selatan, Nurdin berharap kepeloporan Jusuf Kalla dapat diteladani bagi warga Indonesia lainnya. Dan tentunya, gelar doktor HC dari Hiroshima dapat dibaca bahwa konflik kekerasan selalu menyisakan kepedihan mendalam. (NDY)

Masa Depan Band Para Menteri

Elek Yo Band saat tampil di resepsi pernikahan putri Menteri Sekretaris Negara Pratikno di Yogyakarta, 30 Desember 2017 lalu. Foto dokumentasi Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

Masa Depan Band Para Menteri

Barangkali ini grup band satu-satunya yang dapat pujian Presiden Joko Widodo di depan peserta sidang kabinet paripurna. Tidak disangka-sangka, grup yang ketiban pujian itu adalah Elek Yo Band. Sebab grup musik para menteri ini baru “kemarin sore”terbentuk. Latihan pun baru tiga kali.

Meskipun begitu, jangan coba-coba mengundang grup musik ini, jika tidak punya modal besar. Sebab mereka sengaja pasang tarif semahal-mahalnya agar pengundang berpikir ulang menghadirkan mereka. “Melayani undangan manggung, akan cukup merepotkan. Pasti menyita waktu dan energi. Jika ini yang terjadi, kerjaan bisa jadi tidak fokus,” kata salah satu personelElek Yo Band Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Rabu (3/1), di siang di halaman Istana Negara, Jakarta.

Jadi, tarif tinggi itu bukan tanpa maksud. Justru band ini ingin agar tidak banyak orang berani mengundang mereka. Senada dengan Hanif, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki yang menjadi anggota grup, setuju mengenai ketentuan tarif manggung. Jika terlalu banyak melayani permintaan tampil, bisa-bisa kinerja mereka terganggu. Bukan tidak mungkin, Presiden mengevaluasi kinerja mereka dan berujung pada pergantian menteri. Itulah yang dihindari personel grup musik ini.

Jika pun ada pemilik modal besar yang ingin mengundang mereka, Elek Yo Band belum tentu bisa manggung. Sebab mereka harus izin ke seseorang yang diangkat sebagai manajer band yaitu Presiden Jokowi. Tanpa izin Presiden, sebesar apapun tarif yang akan diberikan, penampilan grup ini tergantung dari izin Presiden.

Personel Elek Yo Band dalam formasi lengkap, mengucapkan selamat tahun baru 2018. Foto Dokumentasi Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki.

Loncatan pertama

Tanpa tampil di pernikahan putri Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Anisa Firdia Hanum di Yogyakarta, Sabtu (30/12), mungkin nama grup ini tidak setenar sekarang. “Awalnya, ada permintaan dari Pak Tik (Pratikno), jika menteri2 tampil di acara pernikahan putrinya barangkali akan keren,” kata Hanif Dhakiri.

Selain Teten dan Hanif, anggota grup ini terdiri dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Keanggotaan grup ini cair, menteri-menteri yang lain dapat bergabung jika mereka menginginkan tampil.

Saat tampil Yogyakarta, personel grup masih masih belum hapal pada lirik lagu. Kerap kali, mereka menunduk sampbil membaca teks di depannya. Namun ini tidak mengurangi kemeriaan penampilan mereka. Lagu Rumah Kita punya God Bless memperlihatkan kekompakan mereka. Personel Elek Yo Band begitu semangat dengan lagu ini. Begitu pun dengan lagu Ku Tak Bisa dari Slank, Balikin (Slank), dan Bento (Iwan Fals).

Aksi panggung Elek Yo Band, foto dokumentasi Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

Namanya juga band baru, penampilan mereka masih dibantu musisi berpengalaman. Sehingga mampu menjadi penyeimbang penampilan mereka di pesta pernikahan itu. “Mudah-mudahan Pak Pratikno dan Ibu terhibur,” kata Teten disambut tepuk tangan hadirin.

Latihan

        Sebelum tampil di pernikahan putri Pratikno, personel Elek Yo Band latihan tiga kali, dua kali di studio musik Jakarta, dansekali di Yogyakarta. Latihan tersebut dilakukan setelah mereka bekerja, sekitar pukul 21.00. Hanif yakin, pemilik studio kagetmelihat menteri berkumpul untuk latihan menyanyi malam-malam.

Latihan juga dilakukan di rumah personel grub band, sebagaimana yang dilakukan Teten Masduki. Latihan ini memunculkan kecurigaan isteri Teten saat di rumah. Isterinya jarang melihat Teten menyanyikan lagu di rumah. “Setelah saya latihan, istri saya menegur. Lagi jatuh cinta sama siapa,” kata Teten menirukan pertanyaan isterinya.

Pada saat tampil di Yogyakarta, Elek Yo Band menyiapkan lima lagu. Namun hanya empat lagu yang sempat dinyanyikan, sebab terlalu banyak foto bersama (fans). Penampilan mereka ketika itu menjadi viral di media sosial dan pemberitaan media konvensional. Konsumen berita merespon positif penampilan mereka ketika itu.

Namun bukan itu yang mereka cari. Para menteri yang tergabung di grup ini ingin membangun kekompakan, melepaskan ketegangan, dan yang penting menjalin komunikasi sehat di antara mereka. “Ini kesempatan kita masing-masing bisa ngobrol di tempat latihan,” kata Hanif.

Setelah tampil di Yogyakarta itu, sejumlah tawaran mengalir ke personel grup musik ini. Beberapa di antaranya datang dari stasiun televisi, kantor media massa, dan permintaan langsung dari Wakil Presiden Jusuf Kalla yang akan mengawinkan kemenakannya.

Menyadari kekurangan Elek Yo Band, Teten ingin mencari pelatih vokal. Sebab pada saat tampil di Yogyakarta, suara mereka masih belum padu. Satu sama lain masih bersahut-sahutan. Namun siapakah pelatih vokal yang mereka cari ? Teten belum menjelaskan.

Memang bukan kualitas suara yang membuat grup ini dibicarakan orang. Namun karena jarang-jarang ada menteri membentuk grup band dan menyanyi bersama di satu panggung. Karena alasan ini Presiden memuji penampilan mereka saat pertama kali memimpin sidang kabinet paripurna, Rabu (3/1) di Istana Negara, Jakarta.

“Terimakasih, kemarin ada Elek Yo Band, (artinya) jelek ya biar. Saya kira itu menunjukkan juga kekompakan kita semua dalam bekerja. Terimakasih,” kata Presiden. (Andy Riza Hidayat)

 

Menari, Belanja, dan Memancing 

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana saat menari di Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (22/12). Foto Sekretariat Presiden RI.

Menari, Belanja, dan Memancing di Papua

Berkali-kali Presiden Joko Widodo mengunjungi Papua dan Papua Barat. Tingkat kunjungannya bahkan melebihi sejumlah daerah di tanah air. Seperti yang sering terjadi, setiap kali kunjungan kerja, kegiatan Presiden nyaris berlangsung tanpa jeda, dari pagi hingga malam. Tidak terkecuali di dua wilayah itu.


Kunjungan kali ini menyiratkan bahwa Presiden tidak main-main dengan Papua. Karenanya perlu mengakrabi segala hal yang ada di sana, termasuk budayanya. Pesan tersebut yang tertangkap saat Presiden hendak meninggalkan Bandara Douw Arturure, Nabire, Kamis (21/12) siang.


Presiden secara spontan bergabung dengan warga yang melepas kepergiannya. Bersama tabuhan tifa, petikan gitar, tiupan triton (alat musik tradisional Papua), dan tarian Mepago Saireri, Presiden ikut menari dan menyanyi sebagai tanda perpisahan. “…sapu tangan merah, kini basah sudah. Berpisah lewat pandangan, berjumpa dalam doa…” Tangan Ibu Negara Iriana terlihat bergandengan dengan perempuan Papua dengan pakaian adat Nabire.

Suasana seperti itu wajar terjadi, sebab masyarakat Nabire sangat mengharapkan kehadiran Presiden untuk mempercepat pembangunan wilayah itu. Keinginan baru mereka terwujud setelah tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi.


Siang itu, Presiden hendak melanjutkan kegiatannya ke Raja Ampat, Papua Barat untuk menghadiri peringatan hari Ibu esok harinya, Jumat (22/12) pagi. Di lapangan Waisai Torang Cinta, Presiden kembali menari, kali ini bersama personel paduan suara yang sebagian merupakan anak-anak. Lagu Yamko Rambe Yamko menarik keinginan Presiden untuk bergoyang. Dengan mengenakan batik lengan panjang, Presiden bergabung dengan paduan suara, memilih baris kedua untuk bergoyang dan menyanyi bersama. Sementara Iriana menari di baris terdepan paduan suara itu.


Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana berdialog dengan mama-mama saat menghadiri peringatan Hari Ibu di Lapangan Waisai Torang Cinta, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Jumat (22/12). Presiden terkesan dengan perjuangan para mama Papua, mengelola hasil bumi untuk menghidup keluarganya. Presiden membeli barang dagangan yang mereka gelar di tempat itu.

Belanja

Di tempat yang sama, Presiden memborong barang dagangan mama-mama dari penjuru daerah di Papua Barat. Peristiwa ini terjadi saat pidato di tepi laut Pulau Waigeo, selepas menari bersama anak-anak setempta. Presiden memanggil beberapa perwakilan mama-mama Papua Barat yang berjualan di lokasi acara.


Kepada Mama Syana, Presiden membeli salak yang dihargai 30.000 per tumpuk. Sebelum memutuskan membeli Presiden menawar salak Syana dengan harga Rp 10.000 per tumpuk. Menurut Syana buah salak saat ini sedang tidak musim, jadi wajar jika harganya lebih mahal dari biasanya. Presiden tidak keberatan dengan harganya. Presiden hanya ingin tahu alasan Mama Syana mematok harga salaknya.

Sementara kepada Mama Feli, Presiden membeli buah pinang dengan harga Rp 10.000 setumpuk. Presiden salut kepada Feli yang menyisihkan hasil penjualan pinang itu untuk membiayai kuliah anak-anaknya di Jakarta dan Bandung. “Ini yang namanya perempuan berdaya, negara jaya,” kata Presiden.

Masih melanjutkan belanjanya, Presiden menawar sagu milik Mama Selina yang dijual Rp 30.000 per potong. Kali ini Presiden menawar dengan harga yang lebih tinggi yaitu Rp 40.000 per potong. Mama Selina tertawa dengan harga yang ditawarkan Presiden. Tentu saja, tawaran itu menguntungkannya karena nilainya di atas harga yang dipatok.


Memancing

Sebelumnya kunjungan Presiden ke Raja ampat terjadi pada malam pergantian tahun 2015-2016. Presiden sepertinya sudah tahu, aktivitas apa yang harus dilakukan setibanya di Raja Ampat semalam sebelum peringatan Hari Itu. Tak sampai sejam setelah mendarat di kabupaten kepulauan itu, Presiden pergi memancing. Padahal rangkaian kegiatan di Nabire sehari sebelumnya cukup menguras energi. Tetapi, begitulah Presiden RI ke-7 ini, nyaris tanpa jeda di kegiatan kerjanya.

Dengan menggunakan kapal cepat, Presiden mencari ikan dengan kail bersama putra bungsunya Kaesang Pangarep dan Ibu Iriana. Presiden terlihat dengan kemeja putihnya, dilapisi jaket merah, celana hitam, dan sandal jepit.


Meski acara santai, Presiden masih ngobrol tentang pembangunan wilayahi Papua Barat. Di depan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, Presiden menelepon Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk memastikan perpanjangan landasan pacu Bandar Udara Marinda di Kabupaten Raja Ampat. Bandara itu dianggap penting sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan ke Raja Ampat. Karena itu, perlu bandara yang memadai, sehingga pesawat besar dapat mendarat di sana. Entah dapat ikan atau tidak sore itu, tetapi melepas umpan ke laut di tengah embusan angin yang menerpa tubuh, sepertinya lebih menyegarkan.


Kehadiran Presiden di Papua dan Papua Barat kali ini semakin mendekatkan hubungan dengan rakyat di sana. Sejauh yang penulis lihat, antusiasme masyarakat tidak berkurang setelah berkali-kali mengunjungi provinsi di timur Indonesia itu. Presiden semakin terbiasa menerima kalungan noken, menari dan menyanyi bersama, dan akrab dengan segara persoalan yang dihadapi rakyat Papua. Gubernur Papua Lukas Enembe mengharapkan pembangunan di wilayah itu semakin tepat sasaran. Begitu juga harapan Gubernur Dominggus Mandacan, yang mengharapkan percepatan pengembangan kawasan wisata Raja Ampat.


Perjalanan Presiden ke Papua diawali kunjungannya ke Sorong, Papua Barat, Selasa (19/12) malam. Presiden melanjutkan ke Nabire, Papua pada Rabu (20/12) hingga Kamis (21/12). Adapun pada hari Kamis hingga Jumat (22/12), Presiden melakukan kegiatan di Raja Ampat, Papua Barat. Kunjungan kerja Presiden di Papua maupun Papua Barat merupakan satu rangkaian kegiatan di enam provinsi yang berlangsung dalam lima hari di pekan ketiga dan keempat Desember. (Andy Riza Hidayat)

Kali Ketiga ke Papua

Presiden Joko Widodo menyaksikan penumpang kapal roro (roll-on roll-off) turun di Pelabuhan Nabire, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, Kamis (21/12). Pemerintah berencana mengembangkan pelabuhan ini mulai awal tahun depan. Pengembangan pelabuhan dilakukan agar kapal yang lebih besar dapat bersandar dengan lancar.

Kali Ketiga ke Papua

Papua, wilayah eksotik milik Indonesia. Aku merasa menjadi bagiannya meskipun bukan orang sana, bukan keturunan sana, dan tidak pernah besar di sana. Entah mengapa perasaan itu begitu muncul ketika tiba di provinsi paling timur Indonesia itu. Aku memang mudah jatuh cinta pada sesuatu yang mengesankan. Bahaya ini.

Kali ini perjalananku ke Papua diawali dari Sorong, Papua Barat, Selasa (19/12) malam. Lalu esok harinya ke Nabire, Papua pada Rabu (20/12) hingga Kamis (21/12). Pada hari Kamis hingga Jumat (22/12), aku ke Raja Ampat, Papua Barat. Kehadiranku ini, sekali lagi karena tugasku sebagai jurnalis peliput kegiatan Preside Joko Widodo ke sana dalam rangkaian kegiatan di enam provinsi yang berlangsung dalam lima hari di pekan ketiga dan keempat Desember.

Lalu, apa yang terjadi di Papua kali ini ? Kunjungan Presiden Papua kali ini terjadi di tengah kritikan sebagian orang tentang program bahan bakar minyak (BBM) satu harga. Pengkritik menyoroti bahwa program ini tidak berjalan sepenuhnya. Bahkan istilah BBM satu harga cenderung hanya sebagai upaya menarik perhatian orang.

Tokoh agama di Papua, Pastor John Djonga, menyebutkan, kebijakan BBM satu harga di Papua belum berjalan dengan baik. Program ini efektif berjalan hanya saat Presiden blusukan di Papua. Tak lama setelah Jokowi meninggalkan Papua, harga BBM kembali melonjak. “Beliau pulang, satu-dua minggu, harga kembali ‘normal’,” kata John saat berbicara dalam Seminar Nasional “Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Papua” di Auditorium LIPI, Jakarta, Senin (18/12/2017) sebagaimana dikutip Kompas.com.

Dandhy Dwi Laksono, lewat portal Mojok.co mempertanyakan, BBM satu harga seluruh indonesia itu mitos atau fakta ? Program ini merupakan mimpi semua orang Indonesia. Namun kenyataanya, negara kepulauan yang mahaluas seperti Indonesia tak mudah diselesaikan dengan aturan.

Presiden Joko Widodo melemparkan bingkisan ke warga Kabupaten Nabire, Provisi Papua, Rabu (20/12). Pemberian bingkisan ini dilakukan di sela-sela kunjungan kerjanya ke wilayah itu. Di Nabire Presiden melihat lokasi pembangunan bandara internasional dan meresmikan operasional pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG).

Merespon hal itu, Presiden menegaskan bahwa untuk Papua, apa pun akan dilakukannya, termasuk menyukseskan program BBM satu harga. “Untuk rakyat Papua, semua kita lakukan. BBM satu harga kita lakukan,” kata Presiden saat melihat lokasi pembangunan bandara baru Douw Arturure, Nabire, Kamis (21/12). Presiden tidak segan-segan untuk melakukan evaluasi jika ada persoalan di lapangan. Namun, saat itu, Presiden belum menerima laporan resmi yang menyebutkan adanya masalah dalam program BBM satu harga di Papua.

Sejumlah warga yang ditanya mengenai BBM satu harga cenderung menghindar. Kompas tiga kali bertanya mengenai hal itu saat berada di Nabire, Raja Ampat, maupun Sorong. Mereka yang tidak ingin disebut namanya itu menyarankan agar pengawasan di titik distribusi lebih diperketat. Tidak jarang, ada persoalan di sana sehingga merugikan banyak orang, termasuk mereka yang berusaha di sektor usaha angkutan. “Sebaiknya pengawasan diperketat, biar pemerintah tahu masalah yang sebenarnya,” kata seorang pengemudi angkutan lintas pedalaman di Nabire.

Setiap perjalanan, ada cerita, ada situasi yang melngkupinya. Salam.

Ketika Presiden Bukan Lagi Cita-cita Idaman

Tulisan ini saya buat bersama rekan jurnalis Kompas yang bertugas di Pekanbaru, Shahnan Rangkuti, saat peringatan hari anak nasional di Pekanbaru, Riau, Minggu 23 Juli 2017. Ketika itu, perhatian kami tertuju pada seorang anak siswa SD kelas VI bernama Rafi Fadilah. Dia mungkin mewakili generasi anak sekarang, di mana cita-citanya tidak lagi menjadi Presiden, dokter, tentara, atau guru, tetapi…

Ketika Presiden Bukan Lagi Cita-cita Idaman

Teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini memang telah mengubah dunia, termasuk dunia anak-anak. Apabila dulu anak-anak ditanya cita-citanya, biasanya yang disebut adalah profesi-profesi umum, seperti dokter, insinyur, bupati, gubernur, atau presiden. Kini, mereka punya mimpi berbeda tentang profesi yang dicita-citakan.

Ini terasa ketika Rafi Fadilah (11), siswa Kelas VI SD 36 Pekanbaru, Riau, menjawab pertanyaan Presiden Joko Widodo. Dia menyatakan dengan lantang ingin menjadi youtuber.

Presiden terperanjat. Sebagian besar peserta acara Hari Anak Nasional 2017 di Gedung Daerah Riau, Pekanbaru, juga tertawa riuh. Lalu, Presiden bertanya, ”Mengapa bercita-cita jadi youtuber? Pasti sering buka Youtube, ya? Bapak mau tahu, seperti apa youtuber itu,” kata Presiden, Minggu (23/7).

Menurut Rafi, jika aktif menggunakan Youtube dan mengunggah video-video menarik, akan banyak pelanggan alias subscriber-nya. ”Jika banyak subscriber-nya, nanti bisa dapat uang banyak,” kata Rafi.

Presiden geleng-geleng kepala dan mengatakan, anak-anak semuanya boleh jadi petani sukses, jadi dokter yang baik, jadi pengusaha sukses. Selanjutnya, Presiden bertanya, ”(Apakah) boleh menjadi presiden?” Semua anak menjawab, ”Boleh.”

”Boleh menjadi petani?” ”Boleeehhh,” ”Boleh jadi menteri?” ”Boleehhh,” teriak anak-anak keras. ”Boleh menjadi youtuber?” ”Boleeehhh.”

Presiden kembali terkejut ketika mendapat pertanyaan dari pelajar SD bernama Grace. ”Mengapa kalau saya membuka Facebook, harus menggunakan (akun) Facebook-nya mama?” tanya Grace.

Menurut Presiden, anak yang usianya kurang dari 13 tahun sebaiknya menggunakan akun orangtuanya di media sosial. Jika sudah lebih dari 13 tahun, boleh menggunakan akun sendiri.

”Saya minta orangtua untuk membimbing menggunakan Facebook dengan baik. Aturannya, memang baru boleh main di atas 13 tahun,” kata Presiden.

Bermain sulap

Untuk menghibur anak-anak, untuk pertama kalinya Presiden memainkan sulap di hadapan banyak orang. Pertunjukan sulap itu dilakukan Presiden setelah berdialog dengan Rafi.

Presiden mengaku mempelajari aksi sulap tersebut selama lima hari sebelum hadir di Pekanbaru. Sulap yang dimainkan Presiden Jokowi tergolong sederhana, tetapi menghibur mereka yang melihat, terutama anak-anak.

Tidak ada yang bisa menjelaskan dari siapa Presiden belajar sulap. Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin baru tahu kemarin bahwa Presiden bisa main sulap.

Presiden mengaku aksi sulapnya dipelajari dari putra bungsunya Kaesang Parangrep. ”Kalau memang ketahuan (trik) sulapnya, ya, mohon maaf. Karena memang saya bukan pesulap,” kata Presiden seraya tersenyum.

(SYAHNAN RANGKUTI/ANDY RIZA HIDAYAT)