Kekuatan Lagu Daerah

Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku
Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku

 

Kekuatan Lagu Daerah

Tak saya sangka, saya bisa tersentuh saat mendengar lagu daerah. Paling tidak, lagu “Aku Papua” dan “Maluku Tanah Pusaka” telah mencuri rasa cinta saya. Meski saya dari Jawa, mendengarkan dua lagu itu, rasanya menjadi bagian dari Papua dan Maluku.

Suatu hari ketika saya bertugas di Papua pada pengujung tahun 2015 dan awal tahun 2016, rasanya begitu manis. Menyusuri tanah Papua dari Merauke, Wamena, Timika, Nduga, dan Sorong, benar-benar pengalaman yang tak ingin saya lupakan. Saya ikut larut menyanyikan “Aku Papua” pada malam pergantian tahun di Pantai Wasai Torang Cinta, Raja Ampat, Papua Barat.

Hitam kulit keriting rambut aku papua//Hitam kulit keriting rambut aku papua//Biar nanti langit terbelah aku papua.” Penggalan lagu itu begitu kuat.

Edo Kondologit sangat pas menyanyikan lagu itu, hingga hampir semua yang ada di acara itu ikut menyanyi. Mereka yang bukan Papua seperti saya serasa menjadi satu, menjadi Papua. Bintang-bintang di atas Laut Pasifik menjadi saksi peristiwa itu.

Setahun berselang dari peristiwa itu, saya merasakan hal serupa, Kamis (9/2) siang. Kali ini di Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku. Saya mendengar lagu “Maluku Tanah Pusaka” begitu kuat. Di ujung bentangan Jembatan Merah Putih, lagu itu menjadi latar suara yang tepat, menggambarkan kondisi Maluku saat ini. Damai dalam persaudaraan yang kuat dan kokoh seperti Jembatan Merah Putih.

Dari ujung Halmahera//Sampai tenggara jau//katong samua basudara.” penggalan lagu yang akrab saya dengar, lalu saya nyanyikan lirih, ternyata juga diikuti rekan-rekan yang mendatangi Ambon saat itu.

Saya yakin, masih ada lagu-lagu daerah yang kuat lirik dan pesannya. Suatu saat, saya ingin merasakan seperti saya menikmati “Aku Papua” dan “Maluku Tanah Pusaka.” Lagu-lagu itu, membuat saya bangga menjadi Indonesia.

“Om Telolet Om,” Pendingin Panasnya Jagad Pemberitaan

Ini sebuah peristiwa kecil di Karawang, Jawa Barat, pada hari Jumat 23 Desember 2016. Ketika itu saya meliput acara Presiden Joko Widodo saat Deklarasi Pemagangan Nasional Menuju Indonesia Kompeten, di Kawasan Karawang International Industry City (KIIC). Presiden

Selain menanyakan soal pemagangan, kami ingin menanyakan hal ringan di luar isu-isu serius. Topik yang kami siapkan adalah tentang fenomena “Om Telolet Om”. Om yang berarti paman, telolet adalah bunyi klakson multinada pada bus yang kini digemari sebagian anak-anak hingga orang dewasa. “Om telolet Om” merupakan ungkapan untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson multinada yang mirip dengan pengungkapan kata telolet. Hal “sepele” ini yang sempat menjadi topik paling banyak dibicarakan di twitter (baik di Indonesia maupun dunia) pekan ketiga Desember 2016.

Ternyata presiden merespon positif, dan sesekali mengumbar senyuman ke jurnalis yang menanyakan. Ini semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa seserius apa pun situasinya, naluri manusia membutuhkan kegembiraan. Tak terkecuali Presiden Jokowi.

Saat diminta tanggapanya presiden menyampaikan, “Ini kekuatan dan potensi media sosial. Menurut saya ini sebuah kesederhanaan, kesenangan, kebahagiaan dari rakyat untuk mendapatkan hiburan atau kegemarannya. Sangat bagus sekali,” kata presiden saat berada di acara.

Presiden tidak berpikir macam-macam mengenai fenomena itu. Bahkan belum terbersit di benaknya untuk melarang riuhnya bunyi klakson di jalanan. “Masa baru muncul dilarang. Ya pasti ada batas-batasnya, masa bus baru berjalan dicegat di tengah jalan. Justru (yang mencegat bus) seperti itu yang dilarang,” kata presiden.

Ekspresi presiden ketika melayani pertanyaan tentang telolet tampak segar, cerah, dan seperti pecah dari kejumudan situasi. Usai wawancara itu,

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengundang jurnalis untuk makan siang di tempat kegemaran presiden yaitu Rumah Makan Medan Baru, Jakarta Pusat. Padahal makan siang di tempat itu, tidak terjadwal sebelumnya.

Pramono mengakui, dua bulan terakhir presiden banyak disibukkan hal-hal serius. Presiden harus membatalkan kunjungan kenegaraan ke Australia, membatalkan beberapa rapat terbatas, dan mengagendakan rangkaian pertemuan dengan pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kemasyarakatan.

Menurut Pramono, fenomena telolet menjadi salah satu penyeimbang situasi sosial politik yang sedang dinamis. Pada rentang waktu yang sama, peredam yang tidak kalah penting adalah pencapaian tim nasional Indonesia pada Piala AFF 2016. Keduanya, kata Pramono, benar-benar menyegarkan, menghibur dan menyatukan rakyat. “Kita butuh hal-hal seperti itu,” katanya.

Lalu, kami semua larut dalam perbincangan hangat, bahkan satu meja makan dengan presiden. Saya, untuk pertama kalinya, bisa makan sedekat itu dengan presiden. Beberapa kali memang ada acara makan bersama presiden, tetapi lebih banyak dalam kemasan formal.

Siang itu, karena saya duduk berhadap-hadapan dengan presiden, gulai kepala ikan khas RM Medan Baru kami makan bersama. Di antara menu-menu lain, gulai kepala ikan yang paling favorit menarik selera. “Tolong obrolan di sini (RM Medan Baru) tidak diberitakan ya,” pinta presiden mengakhiri pertemuan. Anda penasaran ?

Intuisi di Menit Terakhir

WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08WhatsApp Image 2016-12-02 at 15.56.08

Presiden Joko Widodo meninggalkan area Istana Merdeka, Jumat (2/12) siang menuju lapangan Monumen Nasional, Jakarta. Foto itu menjadi viral di media sosial setelah presiden di luar dugaan menemui peserta doa bersama yang memadati area Monas dan sekitarnya. Foto-foto dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden.

Sejak Jumat (2/12) pagi, jurnalis penasaran di mana Presiden Joko Widodo menjalankan ibadah salat Jumat. Pertanyaan itu dilayangkan ke presiden karena pada hari yang sama massa dari berbagai daerah memadati hampir seluruh kawasan Monumen Nasional di Jakarta Pusat. Apakah presiden tetap salat di masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Kepresidenan, di luar kota, atau di tempat lain ?

Jumat pukul 08.33, jurnalis belum menemukan jawaban, sebab presiden menyatakan, “Belum tahu. Yang jelas saya akan salat jumat.” Banyak kalangan mengkhawatirkan eskalase situasi di Ibu Kota memanas jika presiden meninggalkan Jakarta. Hingga menjelang tengah hari, waktunya salat jumat belum ada tanda yang meyakinkan.

Staf Biro Pers dan Media Informasi Sekretariat Presiden tiba-tiba meminta jurnalis masuk ke halaman Istana Merdeka. Sebagian besar jurnalis yang bertugas mengira akan ada pernyataan dari presiden sebelum salat jumat. Sekadar anda tahu, panggilan datang ke Istana Merdeka berarti ada hal penting yang akan terjadi.

Pukul 11.15, protokol Sekretariat Presiden menginformasikan ke para menteri, Panglima TNI, Kepala BIN akan salat jumat di Monas, bergabung dengan peserta doa bersama. Sebagian terkejut, sebab hujan mulai mengguyur kawasan istana. Sesaat setelah presiden di pelataran Istana Merdeka, Wakil Presiden Jusuf Kalla tiba untuk menunaikan salat jumat di Masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Kepresidenan.

Namun presiden mengajak Kalla ke salat di Monas, tanpa penolakan Kalla mengikuti ajakan presiden. Paspampres menyodorkan payung biru-yang kemudian menjadi viral di dunia maya- ke Jokowi dan Kalla. “Pak Kalla, jangan main hujan. Nanti sakit,” kata presiden melontarkan candaan seraya melangkah meninggalkan istana.

Di tengah situasi yang menegangkan, bagi sebagian orang, presiden terlihat santai. Saat memegang payung biru sambil berjalan, berkali-kali presiden melempar senyum.

Historical walk, jalan bersejarah dimulai saat mereka meninggalkan istana bersama para menteri dan pejabat negara. Sebelum sampai di pagar Istana Merdeka, keduanya sempat berhenti dua kali. Pada saat itulah, entah dari siapa, muncul saran untuk kesekian kalinya agar presiden tidak salat di Monas. Namun tekad sudah bulat, presiden tak mungkin membatalkan keputusanya.

Kami, para jurnalis ikut berlari-lari di depan presiden dalam hujan. Paspampres, dengan seragam militer yang jarang dipakai, telah menjaga jalur jalan presiden. Saya tidak membayangkan, jika massa tidak terkendali, apa jadinya rombongan presiden, meski ada pengawalan. Syukurlah itu tidak terjadi, massa ikut tertib dalam hujan yang kian deras.

WhatsApp Image 2016-12-02 at 16.00.05 Presiden di tengah lautan massa di Monas.

Pertemuan di beranda

Sebelum memutuskan salat di Monas, presiden bertemu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP di beranda Istana Merdeka. Obrolan kecil itu salah satunya membicarakan di mana presiden menjalankan salat Jumat. Hingga pukul 10.45, tidak ada keputusan dari obrolan itu.

Pada kesempatan berikutnya, beberapa orang datang menghadap presiden. Mereka adalah Komandan Paspampres Mayor Jenderal Bambang Suswantono, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, serta Kepala Badan Intelejen Negara Jenderal Budi Gunawan.

Mereka melaporkan kondisi terakhir yang berkembang di sekitar Monas dan Ibu Kota. Sebagian besar tidak menyarankan salat di Monas karena pertimbangan keamanan. Pertemuan tidak berlangsung lama, sekitar pukul 11.00,presiden masuk ke dalam Istana Merdeka. Sementara para pembantu presiden masuk ke ruang paviliun di sisi barat Istana Merdeka.

WhatsApp Image 2016-12-02 at 16.00.08 Presiden naik panggung doa bersama di Monas.

Intuisi presiden

Siang itu, waktu terasa panjang. Lima belas menit kemudian semua terkejut dengan keputusan presiden. Intiusi, gerak hati, bisikan hati presiden mengatakan salat di Monas. Bukan sekali ini, keputusan presiden berbeda dengan yang disarankan para pembantunya. Saat memutuskan pengelolaan kawasan kaya minyak dan gas Blok Masela di Provinsi Maluku, hal serupa juga terjadi.

Ketika itu banyak sebagian pembantu presiden berpandangan pengelolaan Blok Masela sebaiknya dilakukan di laut (off shore). Namun setelah menimbang dan menerima masukan dari sumber-sumber lain, presiden memutuskan pengelolaan Blok Masela di darat (on shore).

Meski berbeda dengan saran pembantunya, presiden tetap menjalankan keputusannya. Jumat siang itu, presiden memegang payungnya sendiri berjalan kaki sejauh 300 meter dengan wakil presiden menuju lokasi acara.

Langkah presiden mendatangi acara di Monas mendapat apresiasi banyak kalangan pengguna internet (netizen). Salah satunya wartawan senior Gunawan Muhammad lewat akun twitternya @gm_gm. Gunawan mencuit “Presiden kita: berjalan dalam hujan, membawa payung sendiri, di antara orang-orang yang membencinya dan pernah memfitnahnya.” Sementara pemilik akun twitter @Beritajail mencuit “Tetap senyum biarpun hujan deras, jalan kaki menuju salat Jumat di Monas. Terimakasih Pak Presiden @jokowi.”

Terimakasih

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto :

Meskipun menjadi rival politik pada pemilihan presiden 2014, Ketua Umum Partai Gerindra dan Presiden Joko Widodo menggelar beberapa kali pertemuan.

Pertemuan pertama berlangsung pada 17 Oktober 2014 di rumah Prabowo di Kebayoran, Jakarta Selatan, tepat tiga hari sebelum Joko Widodo dilantik sebagai Presiden RI ke-7. Pada pertemuan ini Prabowo menyampaikan selamat atas kemenangan Jokowi, Prabowo berkomitmen tidak akan “mengganggu” pemerintahan yang sah. Namun Prabowo menyampaikan posisinya di luar lingkaran pemerintahan sebagai partai oposisi.

Pertemuan balasan digelar di Istana Bogor, Jawa Barat, 29 Januari 2015 sore. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah badai polemik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri. Polemik terjadi pada saat pemerintah mengusulkan dana Komisaris Jenderal (pangkat saat itu) Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri. Namun pimpinan KPK menetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi hingga membuat publik gaduh.

Kali ini, Presiden Jokowi mendatangi kediaman Prabowo di Padepokan Garuda Yaksa, Desa Bojong Koneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Senin 31 Oktober 2016. Pada pertemuannya ini, Presiden mengatakan ke jurnalis bahwa rivaltas hanya terjadi pada pemilihan presiden. Bisa jadi keduanya akan bertarung lagi pada pilpres 2019. Pertemuan dengan jamuan nasi goreng itu berlangsung sebelum demonstrasi besar 4 November 2016.

Pertemuan berikutnya terjadi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 17 November 2016. Pertemuan ini berlangsung bersamaan dengan makan siang dengan menu ikan bakar. Usai makan, keduanya duduk di sofa kerangka kayu berbincang dengan jurnalis. Kepada jurnalis, keduanya komitmennya untuk sama-sama menjaga keutuhan, sama-sama ingin membangun, dan menjaga kekayaan bangsa Indonesia. Prabowo menjelaskan posisi sebagai pimpinan partai oposisi di luar pemerintahan. Prabowo tidak ingin membeo, atau bersikap seperti bebek dalam berdemokrasi. Namun akan aktif memberi kritik membangun ke pemerintah.

Dalam catatan saya, setelah pilpres 2014, keduanya bertemu empat kali secara personal.

semoga bermanfaat

Mereka yang Tercekam dalam Tugas

Cerita seputar 4 November

Malam itu, 4 November 2016, saya pulang tengah malam. Bahkan sudah lewat jam 24.00 hingga tanggal berganti menjadi 5 November. Saat terjadi demonstrasi besar di Ibu Kota, ratusan ribu orang turun ke jalan, saya bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan. Jumat sore, istana dikepung dari berbagai penjuru.

Jika amarah tersulut, barangkali tidak sulit massa merangsek mendekat istana. Namun situasi masih terkendali hingga magrib, sekitar pukul 18.00. Petugas keamanan siaga hingga hari menjelang malam. Begitu pun dengan pengunjuk rasa yang masih menahan diri di jalan. Namun selepas itu, situasi mulai memanas hingga berujung bentrok di Jalan Medan Merdeka Barat antara petugas keamanan dan sebagian massa.

Kali ini saya ingin bercerita tentang situasi yang saya hadapi dan rekan seprofesi di lapangan. Rekan-rekan terutama dari Kompas dan Metro TV was-was. Sebab beredar selebaran bahwa pengunjuk rasa kecewa dengan pemberitaan dua media tersebut. Mereka yang bertugas di tengah-tengah massa tidak berani menunjukkan identigas seragam atau alat peliputan lain. Mereka bekerja dalam situasi yang tidak nyaman.

Jurnalis Kompas TV Muhammad Guntur mengalami kekerasan saat bertugas. Salah seorang pengunjuk rasa memintanya menghapus video yang telah direkam. Bahkan sebagian orang di sekitarnya meminta mengeluarkan kartu memori (memory card). Tidak ada alasan jelas mengenai tindakan sebagian orang di tengah massa pengunjukrasa.

Ancaman serupa juga dialami jurnalis Jakarta Post Hairil pada jumat malam. Beberapa orang mendekatinya dan menanyakan identitasnya. Hairil menjelaskan bahwa dia jurnalis Jakarta Post. Menurut Hairil mereka sedang mencari jurnalis Metro TV dan Kompas. Peristiwa serupa juga dialami rekan-rekan lain seperti Rizal, jurnalis harian Kompas. Jumat siang, beberapa orang menanyakan identitasnya saat membaur di ribuan massa.

“Saya bilang, saya dari Makassar. Saya juga ikut demo,” jawab Rizal berusaha mengakrabkan diri dengan orang sekitarnya. Selama bertugas, Rizal sengaja tidak mengeluarkan kartu identitasnya sebagai jurnalis. Semua itu dilakukan karena situasi tidak memungkinkan bekerja normal dengan tanda pengenal di tubuh.

Laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Jakarta setidaknya ada tiga jurnalis televisi menjadi korban kekerasan. Pada saat unjuk rasa 4 November lalu, menurut laporan AJI, rombongan kru sebuah stasiun televisi diusir dari Masjid Istiqlal karena di anggap membela kelompok tertentu. Ketika terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa, lemparan baru juga mengarah pada kelompok jurnalis.

Sementara di Medan, Sumatera Utara, rombongan jurnalis dari sebuah stasiun tv juga mengalami hal yang sama, diusir dari lokasi digelarnya unjuk rasa 4 November.

Ketua Umum AJI Indonesia, Suwarjono, dalam pernyataannya Minggu (5/11) lalu menilai sejak awal ada suasana kebencian pada media yang dibangun saat demonstrasi 4 November lalu. Menurut Suwarjono, kenyataan tersebut adalah gejala buruk yang merusak kebebasan pers di Indonesia.

Semoga ke depan, jika terjadi peristiwa serupa, tidak ada lagi ancaman bagi jurnalis. Ketidakpuasan terhadap karya jurnalistik dapat ditempuh melalui prosedur hukum sebagaimana hubungan antara jurnalis, narasumber, dan pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Jakarta 4 November 2016

Dear pembaca,

Pagi ini saya melewati hari tidak seperti biasa. Kepadatan di stasiun kereta rel listrik (KRL) ke arah Jakarta dipenuhi warga dengan pakaian putih dan hitam. Mereka ingin melakukan unjuk rasa di Jakarta terkait pernyataan Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama. Pernyataan yang mengutip ayat Al Quran dinilai demonstran telah melecehkan keyakinannya. Saya tidak akan masuk ke sana, sebab saya bukan ahlinya bicara tentang itu.

Namun saya ingin memotret bahwa situasi hari ini begitu berbeda.Memasuki Stasiun Tanah Abang kepadatan makin terlihat, pengunjuk rasa dari berbagai kelompok mulai bertemu. Sementara di Jalan Abdul Muis massa yang sudah sampai di pusat kota melakukan konvoi menggunakan sepeda motor. Situasi agak mengkhawatirkan jika pengendalian massa tidak baik.

Tidak hanya demonstran, Ibu Kota dan sekitarnya juga dipadati aparat keamanan dari bermacam-macam satuan. Mereka hadir di jalan-jalan utama, lengkap dengan kendaraan operasional. Pasukan lapis berikutnya siap-siap di seputaran kantor di kawasan Monas. Mereka akan bertugas mengamankan situasi agar tidak melebar ke mana-mana.

Pembaca, Indonesia hari ini sedang menghadapi ujian. Negara yang berbhineka tunggal ika ini sedang menghadapi benturan pandangan tentang hidup bernegara. Harapan saya, semoga setelah ini Indonesia semakin menjadi negara hebat. Jika hari ini terlewati dengan baik, semua pihak memetik pelajaran dari apa yang dipersoalkan, saya yakin keinginan itu bisa terwujud.

Mengapa sebegitu massif demonstrasi hari ini ? Insiden pernyataan Ahok (panggilan akrab Basuki), menemukan momentumnya. Saat ini sedang berlangsung proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung. Kekuatan lawan politik Ahok ikut memprotes insiden itu, hingga menjadi viral, menarik simpati mereka di luar pagar Pilkada DKI. Isu kemudian bukan lagi tentang Jakarta, tetapi tentang seorang yang dinilai telah melecehkan keyakinan orang.

Ada apa dengan Indonesiaku ? Saya menaruh hormat pada mereka yang merawat Indonesia dan tetap berjuang untuk keluarganya di hari ini, di mana pun.

Salam damai, Jakarta, 4 November 2016 pukul 10.23.

 

Peristiwa-peristiwa yang Menyisakan Tanya

Peristiwa-peristiwa yang Menyisakan Tanya

Menjelang Pilkada DKI, Jakarta, segala hal bisa dikaitkan dengan pesta demokrasi itu. Tidak terkecuali ketika Presiden Joko Widodo mengunjungi lokasi proyek light rail transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) di Jakarta, Jumat (30/9/2016) pagi. Kunjungan kerja itu menjadi viral di media sosial dengan spekulasi yang bermacam.

Gara-garanya, di dua tempat terpisah itu, Presiden menyempatkan foto bersama “hanya” dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Selama berduaan itu, Jokowi dan Basuki terlibat perbincangan intim. Sesekali mereka melihat detail kondisi proyek, berhenti melangkah dan berbincang lagi. Seakan memberi kesempatan jurnalis untuk mengabadikan momen itu.

Akibatnya, sorotan sebagian orang bukan pada perkembangan proyek, melainkan pada aktivitas Presiden yang menyempatkan foto berdua dengan Basuki. Momen itu terbilang “lama” karena jurnalis mengambil sudut pandang peristiwa dengan leluasa. Setelah menyebar ke media sosial, sebagian orang mengaitkan dengan suasana Pilkada DKI yang mulai meningkat tensinya.

Kepada jurnalis, Presiden mengapresiasi pengerjaan proyek LRT dan proyek MRT yang dinilai berjalan cepat. Presiden yakin kedua proyek itu akan selesai pada waktu yang ditargetkan. Sementara itu, Basuki yang diberi kesempatan berbicara tidak menyampaikan satu patah kata pun saat berada di terowongan MRT di Stasiun Dukuh Atas.

Tidak ada masalah jika publik menilai macam-macam. Namun, hal itu perlu pembuktian untuk mengecek kebenaran dugaan publik tersebut. Hal serupa berlaku pada momen ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla mendoakan agar Anies Baswedan dan Sylviana Murni memenangi Pilkada DKI. Hal itu disampaikan ketika Kalla menghadiri hari ulang tahun ke-50 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Jakarta, Rabu (28/9/2016) malam lalu, dua hari sebelum peristiwa di LRT dan MRT terjadi.

Anies Baswedan merupakan calon gubernur yang berpasangan dengan Sandiaga Uno yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Sylviana Murni merupakan calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono yang diusung koalisi Partai Demokrat, PKB, PAN, PPP, dan sejumlah partai lain. Mengapa Kalla tidak mendoakan Basuki di forum itu. Barangkali memang karena forum itu pertemuan anggota KAHMI di mana Kalla, Anies, dan Sylviana tergabung di dalamnya. Sementara Basuki memang bukan anggota KAHMI.

Begitu pula dengan pertemuan yang digelar di rumah dinas Wakil Presiden 21 April malam. Ketika itu, Kalla mengundang sejumlah pimpinan partai politik dan organisasi kemasyarakatan Islam. Tidak ada penjelasan detail mengenai materi pertemuan yang juga dihadiri Yusril Ihza Mahendra itu. Informasi resmi yang berkembang seusai pertemuan itu menyebutkan, Kalla membicarakan mengenai konflik Timur Tengah dan terorisme agar tak menjalar ke Indonesia.

Angin istana

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanudin Muhtadi berpendapat netralitas istana dalam Pilkada DKI harus dijaga. Jangan sampai perbedaan dukungan ke pasangan calon, jika memang ada, terlalu mencolok terlihat di mata publik.

Kalaupun ada, kata Burhanudin, dukungan pihak istana, baik dari Presiden maupun Wapres ke pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur tertentu punya efek terbatas secara elektoral. Sebab, baik Presiden maupun Wapres tidak bisa berkampanye secara terbuka mendukung calonnya sehingga dukungan tersebut hanya diketahui oleh kalangan yang memahami saja.

“Dukungan istana lebih berdampak di tingkat elite saja, baik secara politik maupun secara finansial,” kata Burhanudin.

Dukungan yang dimaksud, katanya, hanya bisa dilakukan lewat pengiriman sinyal kuat bahwa restu politik, termasuk foto bersama Presiden dengan Basuki di lokasi proyek MRT atau LRT. Namun, dia yakin, lapisan masyarakat akar rumput banyak yang tidak mampu menangkap kode politik tersebut.

Terkait posisi Istana Kepresidenan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno menegaskan tetap akan menjaga netralitas. Menurut Pratikno, Presiden Joko Widodo tidak berpihak kepada calon mana pun seraya menginginkan Pilkada DKI berjalan demokratis. Terkait sosok yang diinginkan, Presiden tidak menyebut satu nama pun meski sudah ada tiga pasang calon. Hanya saja Pratikno menyebut parameter orang yang dimaksud.

“Presiden juga menginginkan munculnya pemimpin yang kuat, yang memiliki komitmen menjadikan Indonesia sebagai negara besar,” kata Pratikno, Rabu (28/9/2016), saat memberi penegasan sikap Presiden Joko Widodo mengenai Pilkada DKI Jakarta.

Menurut Pratikno, keinginan tersebut dinilai wajar sebab persoalan Ibu Kota sangat kompleks. Namun, pada kesempatan itu, Pratikno menjelaskan garis sikap tersebut bukan untuk mendukung calon mana pun. Pejabat negara akan selalu bersikap netral terkait pilkada di mana pun tempatnya.

Senada dengan Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengingatkan agar para menteri tidak menjadi juru kampanye. Meski sebagian menteri merupakan kader partai, mereka dianjurkan tetap fokus ke tugas kerja. Hal ini, kata Pramono, sejalan dengan permintaan Presiden kepada semua menteri, tanpa terkecuali.

(Andy Riza Hidayat)

Orang Dekat Presiden

 

Orang Dekat Presiden

Saya pernah menulis orang-orang dekat Presiden sebelum perombakan kabinet pertama tahun 2015 lalu. Ketika itu, nama-nama yang saya buat berdasarkan pengamatan dan wawancara beberapa orang. Hampir satu tahun berlalu dan ketika isu perombakan kabinet kembali mencuat, ada “versi baru” yang disebut-sebut sebagai tujuh orang di lingkaran dalam Presiden.

Namun tujuh orang yang disebut sebagai seven inner circle sesuai dengan versi oleh orang dalam Presiden sendiri, di mana yang menyebutnya ada di salah satu susunan nama-nama itu. Memang subyektif, sebab hanya dari sudut pandang yang bersangkutan saja. Namun, tidak salah jika hal ini diceritakan, sebagai bahan cerita saja, jangan bawa perasaan (baper) anda membaca cerita ini.

Inilah tujuh orang dalam Presiden versi orang dalam sendiri. Orang pertama yang dianggap paling dekat adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta oleh banyak orang istana dianggap paling dekat Presiden. Pratikno selain kompetensinya dalam ilmu pemerintahan, Pak Tik juga tidak tergabung dalam partai politik mana pun.

Karena posisinya yang bebas dari tarikan kepentingan parpol, memudahkan Pak Tik menjadi pendamping Presiden berkomunikasi dengan pihak mana pun. Pak Tik juga dikenal sebagai menteri yang paling terakhir keluar dari area dalam istana. Artinya, dia memiliki kesempatan bertemu Presiden paling lama dibanding menteri-menteri lain.

Pak Tik juga disebut-sebut sering menemani Presiden menikmati teh di kala senggang. Adapun tempat pertemuan itu biasanya berlangsung di dalam Istana Merdeka atau di sofa teras Istana Merdeka yang menghadap taman di kompleks Istana Kepresidenan. Jika sudah di tempat itu, obrolan bisa panjang. Persoalan negara, tamu-tamu, atau kekonyolan peristiwa hari itu menjadi bahan obrolan.

Sementara itu, Pak Tik mengaku kedekatannya dengan Presiden karena tuntutan tugas. ”Tuntutan tugas saya mengharuskan bertemu dengan Presiden,” katanya.

Saya menduga urutan berikutnya setelah Pak Tik adalah Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Sejak menjabat sebagai Sekretaris Kabinet Agustus 2015 lalu, Pramono dominan memberikan informasi dari istana. Pramono, karena tugasnya menyiapkan setiap materi rapat yang dipimpin Presiden, sewajarnya menguasai banyak informasi pemerintahan Joko Widodo. Namun ternyata dalam urutan seven innver circle (versi orang dalam itu) posisinya ada di urutan berikutnya.

Urutan setelah Pratikno adalah Anggit Noegroho (51), Sekretaris Pribadi (Sespri) Presiden. Mantan jurnalis ini sudah dekat dengan Presiden sejak 2004 ketika Jokowi masih menjadi pengusaha mebel di Solo, Jawa Tengah. Awal pertemuan dengan Jokowi diawali dengan dering telepon Anggit yang saat itu membuka jasa sebagai konsultan komunikasi. Pertemanan mereka kemudian berlanjut, seiring dengan karier politik Jokowi yang terus menanjak, mulai dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga kini menduduki kursi Presiden.

Kedekatan keduanya bisa bertahan lama, menurut Anggit, karena Jokowi tidak mudah percaya dengan orang lain. Anggit sadar, posisinya saat ini menjadi simpul masuk lobi dari banyak kepentingan. ”Mereka sudah tahu dan tidak bisa mengingkari bahwa saya dekat dengan Bapak (Jokowi).” Anggit Noegroho.

Posisi ketiga hingga kelima antara lain Tim Komunikasi Presiden Sukardi Rinakit, Kepala Kantor Kepresidenan Teten Masduki, Tim Komunikasi Presiden Johan Budi SP, dan Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana. Mereka secara berkala menggelar pertemuan sendiri-sendiri dengan Presiden, dan kadang bersama-sama saat jadwal rapat dan terima tamu sedang longgar. Mereka punya akses langsung bertemu atau menghubungi Presiden jika sewaktu-waktu diperlukan.

Baru pada urutan ke tujuh adalah Seskab Pramono Anung. Mengapa Pramono di urutan ke tujuh ? Saya sendiri tidak menduga tentang itu. Menurut penuturan orang dalam istana, Pramono meskipun dominan memberi informasi dari istna, namun dia dianggap sebagai orang partai. Sejauh ini, mantan Sekretaris Jenderal PDIP itu dapat memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Meski sudah ada tujuh orang disebut-sebut dekat, Presiden masih membutuhkan orang lain di luar itu. Tidak ada hentinya, sampai sekarang Presiden memanggil pihak-pihak dari beragam latar belakang hadir di istana sekadar berbincang-bincang. Aktivitas ini disebut Sespri Anggit Nugroho dengan istilah listening tour. Dari sana lah Presiden mendapat masukan sebelum mengambil keputusan penting. (Andy Riza, jurnalis)

Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Tarian lagu Små Groddorna atau katak kecil di Stadion Ullevi, Gothenburg saat pembukaan Gothia Cup 2010.

Pertautan Dua Bangsa Pada Seekor Katak

Pertautan bangsa-bangsa dapat terjadi melalui banyak hal. Tak disangka, entah kebetulan atau tidak, hal-hal yang dekat dengan keseharian orang Indonesia memiliki kemiripan dengan negeri yang berada nun jauh di sana, Swedia.

Cerita ini saya dapatkan saat bertugas di negara itu tahun 2010 silam. Pada sebuah acara olahraga, saya mendengarkan lagu yang mirip lagu anak-anak Jawa berjudul “Kodok Ngorek”. Lagu itu dinyanyikan dalam Bahasa Swedia Cerita dengan isi yang serupa. Bahkan lagu dinyanyikan dengan menari.

Penulis belum menemukan penjelasan lengkap mengapa lagu Kodok Ngorek sampai ke Swedia. Di negeri skandinavia itu, lagu Kodok Ngorek dikenal dengan judul “Små Groddorna,” yang berarti katak kecil. Lagu ini biasa dinyanyikan warga Swedia di musim panas dengan tariannya yang mirip kodok melompat-lompat.

Tommy Forsen, warga Swedia sudah mengenal lagu ‘Små Groddorna’ sejak kecil. Lagu ini, kata Tommy merupakan ungkapan kegembiraan warga Swedia menyambut datangnya musim panas. Lagu ini pun dinyanyikan mulai dari kalangan anak-anak sampai kalangan tua. Saya sempat menyaksikan tarian lagu ini pada saat pembukaan turnamen sepak bola Gothia Cup di Stadion Ullevi, Gothenburg.

Sama halnya lagu kodok ngorek, lagu ini berceritera mengenai kodok di pinggir kali. Baik isi maupun nada lagu ini mirip dengan lagu kodok ngorek yang saya kenal di Jawa sejak kecil.

Siapakah yang lebih dahulu menciptakannya ? Belum ada penjelasan ilmiah mengenai hal ini. Namun ada jejak sejarah yang perlu digali lebih jauh seperti yang tertuang dalam buku pelaut Swedia Collin Campbell berjudul A Passage to China.

Buku ini mengisahkan perjalanan misi dagang Swedia bernama East India Company dari Gothenburg menuju China. Dalam perjalanannya, kapal ini singgah ke Batavia dua kali 10 Agustus 1732 dan 15 Maret 1733, masing-masing kunjungan kapal Gothenburg berlabuh selama 40 hari.

Colin Campbell, pelaut Swedia yang ikut dalam pelayaran itu mencatat, penduduk Batavia ketika itu diperkirakan 100.000 jiwa. Sebagian di antaranya disebutnya sangat kaya yang menjual gula, kopi, arak, dan kain sutera. Keberadaan bisnis kaum kaya di Batavia itu membuat kota itu berkembang pesat. Pada perkembangannya, sampai sekarang di Gothenburg masih ditemui merek minuman keras bernama Arak Batavia.

kotatuagothenburg-3

Foto kiri kanal di Kota Tua Jakarta dari www.iha.com. Foto kanan foto kanal di Gothenburg hasil jepretan saya sendiri

Masih ada lagi pertautan Indonesia dengan Swedia. Kota Gothenburg dan Jakarta ternyata dibangun oleh sentuhan tangan yang sama, yakni para perancang kota dari Belanda. Mereka menjadi salah satu pihak yang dikontrak untuk membangun kota setelah sebagian wilayah kota itu hancur karena dirusak tentara Denmark abad ke-17.

Maka tidak heran, sebagian wajah kota Gothenburg mirip dengan Amsterdam, Jakarta (kawasan kota tua), dan New Amsterdam (Manhattan) yang juga dibangun perancang kota asal Belanda. Kemiripan ini terletak pada sistem blok, kanal, dan sejumlah fasilitas umum seperti stasiun kereta. Warga Indonesia yang kerap melihat Stasiun Gothenburg dengan Staisun Kota (Beos) Jakarta terlihat mirip. Hanya mungkin yang satu terawat baik, yang satu perlu dirawat lebih serius. Demikianlah sepenggal cerita saya kali ini. (Andy Riza, jurnalis)