ISIS, IS, NIIS, atau ISIL

ISIS, IS, NIIS, atau ISIL  

Belakangan singkatan ISIS kembali mengemuka setelah bom meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Narasumber berita paling banyak menyebut ISIS atau IS sebagai pengganti kelompok yang diduga terlibat dalam pengeboman itu.

ISIS mengacu pada kepanjangan Islamic State in Iraq and Syria, sedangkan IS kependekan dari Islamic State. Namun sebagian media massa memilih menggunakan NIIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah. Di luar itu semua, ada istilah lain yang juga mengemuka di media massa yaitu ISIL. ISIL dipakai sebagai kependekan dari The Islamic State of Iraq and the Levant.

Semua singkatan itu mengacu pada kelompok yang sama, kelompok yang diidentikkan sebagai pelaku teror dan menguasai wilayah Irak dan Syiria. Baiklah, itu persoalan lain. Bisa berkerut anda membacanya, dan sudah banyak ulasan mengenai hal itu. Kini saya ingin bicara tentang singkatan yang dimaksud.

Sebenarnya mana istilah yang tepat untuk menyebutkannya. Mengapa narasumber suka menyebut ISIS atau IS. Istilah itu kerap dipakai media luar negeri seperti New York Times, Financial Times, CNN TV, dan media lainnya.

Tak peduli siapa yang bicara dan darimana asalnya, jika menyebut ISIS atau IS seharusnya pelafalannya menggunakan ejaan Bahasa Inggris. Sehingga mengucapkannya dengan begini : ai sis. Jika IS maka menyebut dengan ; ai es.

Tetapi narasumber berita di tanah air, baik aparat, pengamat, narsum lain tetap menyebut dengan pelafalan Bahasa Indonesia (walau mengacu pada singkatan berbahasa Inggris). Mereka menyebutnya dengan ; i sis.

Kompas mencoba menggunakan istilah NIIS, yang mengacu pada kependekan berbahasa Indonesia. Penyelaras Bahasa Kompas Nur Adji mengatakan, penggunaan istilah NIIS mengacu pada istilah yang digunakan sebelumnya pada singkatan PBB. Singkatan ini dipakai untuk memendekkan lembaga dunia itu Pererikatan Bangsa Bangsa. Sehingga Kompas tidak menggunakan kependekan UN (United Nations).

Lalu mengapa Kompas menggunakan kata IMF (International Monetary Fund), mengapa tidak menggantinya dengan kata Dana Moneter Internasional (DMI) ?

“Pengunaan istilah di media massa tidak ada rumusan baku. Penggunaan itu dipengaruhi oleh rasa, ejaan, dan situasi sosial-politik yang berkembang,” kata Nur Adji.

Bagaimana pendapat anda ?

Pemenang

Warga menikmati makanan, saat berada di Tempat Pemungutan Suara di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Selatan, 19 April 2017.

 

Pilkada DKI (1)

Pemenang

Kata pemenang menjadi luas artinya di pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Bagi saya, pemenangnya adalah rakyat Ibu Kota, lebih luas lagi rakyat Indonesia. Fase ini fase sulit dalam pendewasaan demokrasi Indonesia. Sebagian orang menyebutnya, ini adalah pil pahit menuju transisi demokrasi.

Kontestasi antar calon berlangsung sengit setidaknya enam bulan terakhir. Gaung persaingan ini bahkan menasional, ke sejumlah daerah dengan balutan isu agama. Ini yang menjadikan polarisasi masyarakat menjadi kian tajam.

Pandangan personal saya, persaingan politik silahkan saja. Namun tidak enak dirasakan jika menggunakan isu agama di dalamnya. Anda boleh berbeda pandangan, silahkan tulis pandangan anda di media tulisan yang anda pilih. Tetapi persaingan sudah usai, perlu waktu untuk memulihkan luka-luka karena pertentangan politik.

Saya yakin kubu-kubu yang berseteru masih cinta Indonesia. Yang perlu dilihat saat ini adalah jangan sampai muncul segregasi, pengelompokan orang berdasarkan kesamaan ide atau yang lain. Segregasi tidak boleh dibiarkan karena tidak akan menyehatkan akal pikiran. Jika dipelihara, saya khawatir yang muncul adalah pandangan diluar yang saya pikirkan adalah salah.

Bisa jadi ada kebenaran di orang yang anda anggap musuh, atau bisa jadi ada kesalahan pada orang yang anda anggap kawan.

Mari kembali mencintai Indonesia.

Jakarta, 16 Mei 2017

Fase Dingin Jokowi-JK

2017-04-26 14.52.58

 

Fase Dingin Jokowi-JK

Dwi tunggal sedang menghadapi fase dingin. Saya tidak mengatakan pecah lho. Biasa saja dalam hubungan kerja, ada fase di mana partner kerja sedang tidak sejalan dengan kita. Fase itu terasa dan terlihat pasca pemilihan kepala daerah (pilkkada) DKI Jakarta.

Bukan rahasia lagi, keduanya memiliki kecondongan berbeda dalam memilih calon Gubernur DKI Jakarta. Kalla terang-terangan mendukung Anies, seperti yang disampaikan pada forum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) pada 29 September 2016, http://nasional.kompas.com/read/2016/09/29/05480021/kalla.doakan.anies.baswedan.atau.sylviana.murni.menang.di.pilkada.dki.

Sementara Presiden Jokowi, sebagai mantan mitra kerja saat memimpin DKI Jakarta, lebih senang jika Basuki Tjahaja Purnama memenangkan pilkada. Saling dukung dengan tidak langsung berjalan berbulan-bulan. Hingga kemudian pada 19 April lalu, Anies-Sandi memenangkan kandidasi versi hitung cepat.

Hari ini, Rabu (26/4) Jokowi dan Jusuf Kalla masih belum membuka keakraban yang sebelumnya terjalin sebelum pilkada DKI berjalan. Gerak tubuh masih belum sepenuhnya rileks saat bertemu. Rapat terbatas yang berlangsung di Kantor Presiden memperlihatkan itu.

Presiden hadir lebih dahulu di ruang rapat. Sementara Kalla meskipun tiba lebih dahulu di kantor itu, belum terlihat di ruang rapat. Presiden menunggu sejenak dalam aktivitas yang tidak terlalu rileks. Setibanya Kalla, rapat dimulai tanpa banyak basa-basi, sesuatu yang dibutuhkan sekadarnya agar tak terlihat canggung, namun situasi sore itu begitu garing kenyataannya.

Jika pun ini bukan saat terbaik saling membuka diri, semoga fase dingin ini tidak lama. Dwi tunggal harusnya tetap tunggal, menjadi satu kesatuan memimpin negeri walau berbeda dalam pandangan politik.

 

Kendeng Bikin Puyeng

20160802ndy-kendeng di istana-1

Kendeng Bikin Puyeng

Sebagian orang Istana Kepresidenan barangkali lagi puyeng. Masalah aktivitas penambangan di kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih menghadapi fase pelik. Penolakan terhadap aktivitas itu semakin kencang. Bahkan menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo, terutama saat warga Kendeng Patmi (48) meninggal dunia karena serangan jantung. Patmi kehilangan nyawanya saat berada di Jakarta dalam rangka memprotes aktivitas penambangan di sana.

Presiden memerintiahkan stafnya membentuk tim untuk membuat kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) CAT Watuputih dan KLHS pegunungan Kendeng. Persoalan ini menjadi rumit karena KLHS ini dibuat setelah keluar 21 izin usaha pertambangan di CAT Watuputih. Bagaimana jika kemudian kajian akademis menyebutkan bahwa penambangan di sana harus dihentikan ? Berapa investasi yang terbuang karena keputusan itu ?

Mungkin karena alasan itu, Kantor Staf Presiden hati-hati dalam bersikap. Hingga Rabu (12/4) sore harus mengubah tampilan di situs www.ksp.go.id. Tak seberapa sih perubahannya, tetapi perubahan itu menunjukan kehati-hatian luar biasa. Apakah standar ini juga berlaku untuk pemberitaan lain selain tentang CAT Watuputih ? Inilah perubahan tampilan situs www.ksp.go.id pada berita tentang CAT Watuputih, Rabu sore itu.

grafis ksp soal kendeng

 

Sore itu, tim KLHS Tahap I CAT Watuputih merekomendasikan penghentian sementara aktivitas penambangan di sana. Penghentian ini berlaku hingga pada batas waktu yang belum ditentukan. Kata-kata yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki sebagai berikut, ““Penambangan di kawasan CAT Watuputih belum dapat dilakukan sampai dengan status kawasan ini dapat ditambang atau tidak. Kira-kira ini hasil yang perlu kami sampaikan.”

Keputusan ini tidak hanya berlaku bagi PT Semen Indonesia, namun juga pemegang izin usaha pertambangan (UIP) di Watuputih. Selesaikah cerita soal Kendeng ? Belum. Masih ada KLHS Tahap II yang mencakup pegunungan Kendeng. KLHS Tahap I pun masih perlu didalami lebih jauh dengan menggunakan data-data primer oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sepertinya kokk mbulet ya ? Surono, mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM mengakui banyak tarik menarik pada persoalan ini. “Sebenarnya mudah diurai,” kata Surono singkat. Barangkali memang iya selama mau saling mendengarkan.

Novel Baswedan dan Cairan Keras

Screen Shot 2017-04-12 at 11.01.59 AM

Novel Baswedan dan Cairan Keras

Lima tahun sebelum peristiwa yang menimpa penyidik Komisi Pemberantaran Korupsi Novel Baswedan, terjadi peristiwa serupa pada 30 Maret 2012. Saat itu dilakukan ribuan mahasiswa dan buruh demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR. Tiba-tiba ada cairan keras yang disebar di tengah kerumunan. Pedih, membakar kulit, dan banyak yang tidak tahu cairan apakah itu.

Empat orang terluka pada peristiwa itu. Mereka juru kamera Jaktv Ananto Handoyo, Komisaris Besar Bimo, Brigadir Made Adamaz, dan Aiptu Sujono. Mengutip berita kompas.com pada 16 April 2012, keempatnya mengalami luka di beberapa bagian tubuh, seperti di telinga, tangan, wajah, hingga badan.

Saya pada 1 April 2012 menulis berita mengenai peristwa itu, yang kemudian dicetak di harian Kompas pada 2 April. Zat kimia yang ditemukan dalam demonstrasi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) itu diduga asam sulfat pekat (H2SO4). Hal ini terlihat dari ciri-ciri korban luka dan sisa cairan yang mengering. ”Saya yakin itu asam sulfat pekat. Zat ini sangat berbahaya jika disalahgunakan,” kata Sunardi MSi, Kepala Laboratorium Afiliasi Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), Minggu (1/4) saat itu.

Saat itu, saya juga mewawancarai narasumber yang kebetulan punya cerita tentang cairan keras. Di kampungnya, cairan itu dikenal sebagi cuko para. Cairan ini, kata rekan yang bernama Zulkifli itu, biasa dipakai orang saat berkelahi. Cuko para bukan barang aneh di duni pertarungan di kampung-kampung perkebunan karet.

Lalu, apa hubungannya dengan cairan yang disiramkan ke muka Novel Baswedan pada Selasa 11 April 2017 subuh ? Entah ada kaitannya atau tidak. Pelakunya juga mungkin berbeda. Cuma mereka yang biasa menggunakan cairan itu, sangat mungkin pernah mengenalnya. Jika bukan dia sendiri yang pernah menggunakannya, teman dan orang yang menyuruhnya yang tahu tentang cuko para. Siapakah dia ?

Jurus Penakluk Sang Presiden

Jurus Penakluk Sang Presiden

Dalam pidatonya kemarin, Selasa (7/3), Presiden Joko Widodo menyampaikan dunia saat ini sedang berubah, mengarah pada revolusi. Tidak terkecuali di bidang perdagangan, pemasar sebuah produk tidak melulu orang marketing, presiden pun bisa melakukannya. Bagaimana bisa ?

Bisa, dan itu mudah. Tidak perlu waktu lama dengan kata-kata yang berbusa untuk meyakinkan bahwa sebuah kursi rotan merupakan produk unggulan Indonesia. Cerita ini terjadi di arena Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara yang tergabung dalam Asosiasi Kerja Sama Lingkar Samudera Hindia (Indian Ocean Rim Association / IORA) di Jakarta. Lewat tengah hari, presiden mengajak sejumlah kepala pemerintahan dan kepala negara melihat stan pameran beragam produk Indonesia.

Hampir semua stan disinggahi presiden yang menyajikan produk barang hingga makanan. Namun ada satu stan yang menyimpan cerita berbeda. Presiden dan sejumlah pemimpin negara-negara IORA paling lama singgah di stan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Stan itu memamerkan produk mebel rotan asal Cirebon, Satori Rattan, diambil dari nama pemiliknya Satori

“Ini rotan dari mana ?,” tanya presiden Satori. Pengusaha rotan Cirebon itu lalu menjelaskan bahwa bahan baku dan desain semua dari dalam negeri. Presiden penasaran dengan kenyamanan kursi karena desainya terlihat bagus. Katalognya juga dibuat cantik, layak bersaing dengan produk luar negeri.

Sesaat kemudian presiden duduk di salah satu produk rotan Satori Rattan yang bernama Elena, sebuah kursi goyang dengan lebar 71 sentimeter (cm) dengan tinggi 120 cm. Presiden meminta para koleganya ikut duduk di kursi rotan yang berbeda jenis. Obrolan tentang rotan berlangsung di antara orang-orang penting itu. Sesekali mereka mendengarkan penjelasan Satori sambil merasakan kenikmatan kursi itu. Sangat ergonomis.

Jatuh cinta

Presiden duduk diapit oleh Wakil Presiden Seychelles Vincent Meriton dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull. Sementara Presiden Mozambique Filipe Jacinto Nyusi dan Perdana Menteri Bangladesh Seikh Hasina duduk di dekatnya. Entah mimpi apa Satori semalam sebelumnya, kursi-kursi rotannya diduduki para pemimpin dari lima negara.

Diam-diam PM Bangladesh Seikh Hasina memperhatikan kursi yang diduduki Presiden Jokowi. Kursi Elena itu terasa nyaman dan kokoh diduduki presiden. Mungkin cocok diduduki saat senggang di tengah-tengah kesibukannya sebagai perdana menteri. Kursi Elena dijual Satori senilai 160 dolar Amerika Serikat (AS), hanya ada satu contoh di ruang pamer siang itu.

Sebenarnya kursi yang diduduki Hasina tak kalah nyaman, yaitu kursi bernama Terace, lebar 64 cm dan tinggi 80 cm. Namun Presiden Jokowi bilang kursinya juga nyaman, Hasina lebih tertarik pada Elena. Inikah yang namanya cinta pada pandangan pertama ?

Obrolan di ruang pamer itu kurang dari 15 menit. Presiden beralih ke ruang pamer lain, salah satunya produk olahan kelapa. Di sana presiden juga mencoba meminum contoh air kelapa kemasan bernama Kara Coco yang di ekspor ke Tiongkok, Jepang, dan Australia itu. Obrolan tentang produk itu berlangsung layaknya menikmati minuman di kedai. Sambil menikmati minuman segar itu, penjaga ruang pamer menjelaskan produknya.

Acara ke ruang pamer itu diagendakan setelah kesepakatan bersama dokumen Jakarta Concord ditandatangani. Dokumen bersejarah itu lahir lewat rentetan pertemuan dan debat umum peserta konferensi. Sepantasnya, acara di ruang pamer itu menjadi semacam penyegaran di tengah ketatnya jadwal konferensi. Para delegasi menikmati.

Pemimpin negara-negara IORA kembali ke arena sidang, melanjutkan agenda berikutnya. Namun ada yang kembali ke ruang pamer Satori Rattan. Dia adalah ajudan PM Bangladesh Seikh Hasina bernama Hassan. Lelaki berkulit cokelat itu membawa amanah Hasina untuk membeli kursi Elena. Satori sempat ingin mempertahankan kursinya karena barang di ruang pamer bukan untuk dijual, melainkan contoh.

Hassan memohon dengan sangat, dia ingin membawa kursi itu langsung ke hotel tempat atasannya menginap di Jakarta. Jika ada barang serupa, dia membeli tiga kursi Elena sekaligus. Satori kewalahan menjelaskan. “Okelah, demi nama negara, saya persilahkan dibawa. Tetapi dua pesanan lain masih perlu saya buat,” kata Satori.

Kursi Elena dibuat dengan tangan manusia. Untuk membuat dua kursi pesanan lain, dia butuh waktu satu bulan. Nanti jika sudah jadi, kami kirim ke alamat anda,” kata Satori kepada Hassan. Transaksi selesai, tanpa kerumitan, dan menghasilkan. (Andy Riza Hidayat)

 

Seharian dalam Sarung

Presiden Joko Widodo saat akan memulai kunjungan kerjanya ke Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Foto diambil di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta dari Sekretariat Presiden.
Presiden Joko Widodo saat akan memulai kunjungan kerjanya ke Pekalongan, Jawa Tengah, 8 Januari 2017. Foto diambil di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta dari Sekretariat Presiden.

 

Seharian dalam Sarung

Bukan sekali saja, Presiden Joko Widodo mengenakan sarung di hadapan publik. Saat menghadiri muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang, 1 Agustus 2015, presiden mengenakan sarung dengan setelan jas, baju putih, dan kopiah hitam. Namun atribut yang sama saat dipakai ke Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (8/1) 2016, menjadi istimewa.

Sarung melekat ke tubuh presiden seharian dari pagi hingga menjelang malam. Entah bagaimana nasib sesuatu yang ada dalam sarung, mungkin hari itu bebas menikmati kelonggaran. Tetapi saya tidak sedang membicarakan itu.

Di pagi yang cerah itu, kami dikejutkan dengan atribut presiden. Serius nih ? Tetapi itu kenyataan yang kami lihat, bersarung, jas, baju putih, kopiah hitam, dan bersandal selop. Pada kesempatan berikutnya, kami bisa memaklumi saat mengetahui hari itu presiden akan menghadiri peringatan maulid nabi di Pekalongan. Dua acara lain juga digelar di pesantren setempat.

Tetapi hari itu, presiden juga menghadiri acara di luar acara keagamaan, yakni Penyerahan Bansos Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta pemberian makanan tambahan (PMT) di dua tempat berbeda. Presiden masih mengenakan sarungnya. Di tengah kegiatan itu, kami menanyakan mengapa mengenakan sarung.

Presiden menjawab karena di Pekalongan banyak bertemu dengan santri dan mendatangi pesantren. Jagad media sosial sempat menggunjingkannya. Biasa, ada yang menanggapi ringan dan positif, ada pula yang nyinyir.

Mewakili rasa penasaran pengguna media sosial, kami menanyakan merek sarung yang dikenakan presiden. “Merek ? Ya masa saya mau lepas sarungnya. Ada-ada saja,” kata presiden.

Menjelang malam, rangkaian kegiatan telah usai. Presiden masuk hotel dan beristirahat. Kami mengira tidak akan terjadi apa-apa lagi selanjutnya. Namun presiden memutuskan keluar hotel pergi ke Plaza Pekalongan sekitar pukul 20.00. Presiden telah melepas sarungnya dan berganti mengenakan celana.

Selesai sudah urusan sarung. Ternyata tidak. Presiden membeli dua sarung di pusat perbelanjaan itu. Sarung pertama berwarna putih dan yang kedua bercorak kotak. Total belanja dua sarung malam itu senilai Rp 485.000. Adapun pilihan sarung itu dibantu anak bungsu presiden, Kaesang Pangarep.

Tema hari itu, dari pagi hingga malam ketemu sarung.

Diplomasi #2

Diplomasi Total Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Hangzhou Hall International Convention Center, Hangzhou, Tiongkok, Minggu (4/9). Presiden Jokowi rencananya menjadi pembicara utama pada sesi kedua dengan tema membangun perekonomian yang efektif dan efisien. KTT ke-11 kali ini digelar dengan tema membangun ekonomi global yang inovatif, menyegarkan, terkoneksi satu sama lain, dan inklusif.   04-09-2016
Presiden Joko Widodo bersalaman dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping saat pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Hangzhou Hall International Convention Center, Hangzhou, Tiongkok, Minggu (4/9). Presiden Jokowi rencananya menjadi pembicara utama pada sesi kedua dengan tema membangun perekonomian yang efektif dan efisien. KTT ke-11 kali ini digelar dengan tema membangun ekonomi global yang inovatif, menyegarkan, terkoneksi satu sama lain, dan inklusif.
04-09-2016

Diplomasi Total Presiden Jokowi

Saya mengenal kata diplomasi menjadi semakin luas maknanya melalui Presiden Joko Widodo. Diplomasi yang dilakukan Presiden Jokowi lebih dari itu. Jokowi lebih memaknainya sebagai seni untuk mencapai kesepakatan terhadap hal-hal tertentu. Ini yang saya amati sejak bertugas meliput kegiatannya secara rutin sejak tahun 2012.

Melalui blusukan, pakaian, kuliner, olahraga, dan berbagai pendekatan lain dilakukan agar tujuannya tercapai. Tujuan yang saya maksud terkait dengan program pemerintah misalnya, memindahkan pedagang kaki lima, memindahkan warga yang ada di ruang terbuka hijau atau bantaran kali.

Pendekatan juga dilakukan untuk mencairkan situasi dengan lawan politik, jurnalis, dan kelompok masyarakat lain. Ibarat perang, Jokowi melakukan perang total, hingga perlu banyak cara untuk memenangkannya. Cara seperti ini yang saya anggap sebagai diplomasi total, selama itu efektif dijalankannya. 

Tidak masalah jika harus bersarung seharian di Pekalongan, membatalkan dua rapat dengan menteri demi menghadiri acara di sebuah hotel kecil di Tangerang, atau berkuda dengan lawan politik sekalipun. Tanpa diplomasi yang baik, tentu tak ada ruang untuk bersabar melakukan itu semua.

Saya akan menuliskannya dalam seri tulisan yang entah sampai berapa banyak. Sesederhana apapun bentuk tulisan itu, saya yakin akan menjadi jejak sejarah yang bisa dibaca siapapun kelak. Semoga.

Diplomasi #1

Kekuatan Lagu Daerah

Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku
Jembatan Merah Putih, Ambon, Maluku

 

Kekuatan Lagu Daerah

Tak saya sangka, saya bisa tersentuh saat mendengar lagu daerah. Paling tidak, lagu “Aku Papua” dan “Maluku Tanah Pusaka” telah mencuri rasa cinta saya. Meski saya dari Jawa, mendengarkan dua lagu itu, rasanya menjadi bagian dari Papua dan Maluku.

Suatu hari ketika saya bertugas di Papua pada pengujung tahun 2015 dan awal tahun 2016, rasanya begitu manis. Menyusuri tanah Papua dari Merauke, Wamena, Timika, Nduga, dan Sorong, benar-benar pengalaman yang tak ingin saya lupakan. Saya ikut larut menyanyikan “Aku Papua” pada malam pergantian tahun di Pantai Wasai Torang Cinta, Raja Ampat, Papua Barat.

Hitam kulit keriting rambut aku papua//Hitam kulit keriting rambut aku papua//Biar nanti langit terbelah aku papua.” Penggalan lagu itu begitu kuat.

Edo Kondologit sangat pas menyanyikan lagu itu, hingga hampir semua yang ada di acara itu ikut menyanyi. Mereka yang bukan Papua seperti saya serasa menjadi satu, menjadi Papua. Bintang-bintang di atas Laut Pasifik menjadi saksi peristiwa itu.

Setahun berselang dari peristiwa itu, saya merasakan hal serupa, Kamis (9/2) siang. Kali ini di Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku. Saya mendengar lagu “Maluku Tanah Pusaka” begitu kuat. Di ujung bentangan Jembatan Merah Putih, lagu itu menjadi latar suara yang tepat, menggambarkan kondisi Maluku saat ini. Damai dalam persaudaraan yang kuat dan kokoh seperti Jembatan Merah Putih.

Dari ujung Halmahera//Sampai tenggara jau//katong samua basudara.” penggalan lagu yang akrab saya dengar, lalu saya nyanyikan lirih, ternyata juga diikuti rekan-rekan yang mendatangi Ambon saat itu.

Saya yakin, masih ada lagu-lagu daerah yang kuat lirik dan pesannya. Suatu saat, saya ingin merasakan seperti saya menikmati “Aku Papua” dan “Maluku Tanah Pusaka.” Lagu-lagu itu, membuat saya bangga menjadi Indonesia.

“Om Telolet Om,” Pendingin Panasnya Jagad Pemberitaan

Ini sebuah peristiwa kecil di Karawang, Jawa Barat, pada hari Jumat 23 Desember 2016. Ketika itu saya meliput acara Presiden Joko Widodo saat Deklarasi Pemagangan Nasional Menuju Indonesia Kompeten, di Kawasan Karawang International Industry City (KIIC). Presiden

Selain menanyakan soal pemagangan, kami ingin menanyakan hal ringan di luar isu-isu serius. Topik yang kami siapkan adalah tentang fenomena “Om Telolet Om”. Om yang berarti paman, telolet adalah bunyi klakson multinada pada bus yang kini digemari sebagian anak-anak hingga orang dewasa. “Om telolet Om” merupakan ungkapan untuk meminta agar pengemudi bus membunyikan klakson multinada yang mirip dengan pengungkapan kata telolet. Hal “sepele” ini yang sempat menjadi topik paling banyak dibicarakan di twitter (baik di Indonesia maupun dunia) pekan ketiga Desember 2016.

Ternyata presiden merespon positif, dan sesekali mengumbar senyuman ke jurnalis yang menanyakan. Ini semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa seserius apa pun situasinya, naluri manusia membutuhkan kegembiraan. Tak terkecuali Presiden Jokowi.

Saat diminta tanggapanya presiden menyampaikan, “Ini kekuatan dan potensi media sosial. Menurut saya ini sebuah kesederhanaan, kesenangan, kebahagiaan dari rakyat untuk mendapatkan hiburan atau kegemarannya. Sangat bagus sekali,” kata presiden saat berada di acara.

Presiden tidak berpikir macam-macam mengenai fenomena itu. Bahkan belum terbersit di benaknya untuk melarang riuhnya bunyi klakson di jalanan. “Masa baru muncul dilarang. Ya pasti ada batas-batasnya, masa bus baru berjalan dicegat di tengah jalan. Justru (yang mencegat bus) seperti itu yang dilarang,” kata presiden.

Ekspresi presiden ketika melayani pertanyaan tentang telolet tampak segar, cerah, dan seperti pecah dari kejumudan situasi. Usai wawancara itu,

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengundang jurnalis untuk makan siang di tempat kegemaran presiden yaitu Rumah Makan Medan Baru, Jakarta Pusat. Padahal makan siang di tempat itu, tidak terjadwal sebelumnya.

Pramono mengakui, dua bulan terakhir presiden banyak disibukkan hal-hal serius. Presiden harus membatalkan kunjungan kenegaraan ke Australia, membatalkan beberapa rapat terbatas, dan mengagendakan rangkaian pertemuan dengan pimpinan partai politik, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kemasyarakatan.

Menurut Pramono, fenomena telolet menjadi salah satu penyeimbang situasi sosial politik yang sedang dinamis. Pada rentang waktu yang sama, peredam yang tidak kalah penting adalah pencapaian tim nasional Indonesia pada Piala AFF 2016. Keduanya, kata Pramono, benar-benar menyegarkan, menghibur dan menyatukan rakyat. “Kita butuh hal-hal seperti itu,” katanya.

Lalu, kami semua larut dalam perbincangan hangat, bahkan satu meja makan dengan presiden. Saya, untuk pertama kalinya, bisa makan sedekat itu dengan presiden. Beberapa kali memang ada acara makan bersama presiden, tetapi lebih banyak dalam kemasan formal.

Siang itu, karena saya duduk berhadap-hadapan dengan presiden, gulai kepala ikan khas RM Medan Baru kami makan bersama. Di antara menu-menu lain, gulai kepala ikan yang paling favorit menarik selera. “Tolong obrolan di sini (RM Medan Baru) tidak diberitakan ya,” pinta presiden mengakhiri pertemuan. Anda penasaran ?