Mengukur Diri

Kadang saya merasa, keberadaan orang lain itu berguna untuk mengukur diri sendiri.

Tanpa mereka sesungguhnya saya tidak dapat mengetahui, saya seperti apa. Yang ada hanya anggapan diri sendiri, yang tentunya anggapan itu belum tentu sesuai fakta. Saya lebih senang berbincang panjang lebar dengan beberapa orang saja, daripada ngobrol dengan banyak orang. Dengan cara itu, materi obrolan dapat lebih intensif menggali masing-masing pribadi.

Hari ini, Jumat 20 Februari contohnya, saya berbincang dengan seorang kawan yang bekerja pada sebuah media cetak di Jakarta. Hanya obrolan ringan selepas menunaikan kewajiban harian. Ternyata menyisakan keinginan untuk terus memperbaiki diri, dan mengarahkan ke mana saya akan berjalan.

“Kelihatannya kamu suka mengamati gerak-gerik orang ya. Saya lihat dari tulisanmu dan cara kamu memandang orang,” kata teman saya.

Perbincangan di kedai kopi di Kota Bogor itu terus berlanjut pada pertanyaan, apa yang akan kamu lakukan setelah ini ? Wow, pertanyaan yang perlu mikir sejenak. Saya jawab, saya perlu nyemplung dulu ke dunia yang saya tekuni saat ini. Saya belum benar-benar kecemplung. Baru kemudian saya akan ikuti kata hati saya…

*galau ga bisa tidur karena menenggak dua gelas kopi hari ini.

Depok, 20 Feb 2015

Ekspresi Marah di Wajah Presiden

*Ulasan ini juga bisa dibaca di Kompas edisi Sabtu (14/2). Sebuah pendekatan alternatif mengulas materi politik

20150213ndy2-foto jokowi bilang sabar

Ekspresi Marah di Wajah Presiden

Suasana politik negeri ini gaduh dalam empat terakhir. Kisah ini bermula ketika Presiden mencalonkan Komisaris Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kepala Polri. Beberapa setelah pencalonan itu, Selasa (13/1), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan BG sebagai tersangka kasus korupsi.

Kegaduhan makin memuncak, dan hingga kini belum berakhir. Kompas mengajak pembaca melihat sisi lain dari kegaduhan ini melalui ekspresi wajah Presiden Joko Widodo dan tokoh-tokoh lain. Ekspresi tersebut dilihat melaui analisa micro expression (ekspresi detail) dan cepat pada wajah seseorang. Ada tujuh emosi universal sesuai penelitian Paul Ekman, profesor ilmu psikologi yang khusus meneliti ekspresi manusia.

Tujuh tanda emosi universal yang dimaksud antara lain kaget atau terkejut, senang, sedih, takut, marah, jijik, dan sangat tidak suka. Tujuh emosi ini secara spontan muncul tanpa bisa dikontrol, bahkan bisa tidak disadari pemilik wajah. Dalam rentang waktu antara 23 hingga 29 Januari, Presiden banyak terlihat tidak bahagia. Presiden lebih banyak terlihat marah. Inilah gambaran yang terpancar sepanjang kasus ini merebak di tengah masyarakat.

Sabtu 16 Januari, saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan BG, alis matanya turun, pandangan mata tajam, mulut terbuka hampir bersegi empat, kadang mulut tertutup rapat dengan kerutan pada dagu. Handoko Gani SE MBA, kandidat master science di bidang forensik emosi di Paul Ekman International Group dan University of Central Lancashire, Manchanster, Inggris menduga Presiden sedang marah.

Kemarahan Presiden terlihat jelas ketika dia menjelaskan proses dengan politik yang sudah berlangsung di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sidang paripurna DPR sebelumnya menyetujui pencalonan BG sebagai Kepala Polri, Kamis (15/1).

Ketika itu, untuk pertama kali Presiden merespon secara resmi penetapan BG sebagai tersangka oleh KPK. Anggota Komisi Kepolisian Nasional Adrianus Meliala mengatakan ada pihak yang kehilangan muka karena keputusan KPK. “Seharusnya keputusan itu tidak perlu diumumkan, tetapi dibicarakan sebelum Presiden mengambil keputusan pencalonan Kapolri. Jika begini, Kompolnas dan Presiden kehilangan muka. Sebab kami tidak memiliki informasi lengkap terkait semua calon Kapolri,” kata Adrianus.

Menurut Handoko, pernyataan Adrianus mengkonfirmasi bahwa ada pihak yang marah, termasuk Presiden.

Jumat 23 Januari, Presiden kembali menunjukkan ekspresi marah di Istana Bogor. Sepanjang acara jumpa pers dengan wartawan, alis Presiden dominan mendekati mata, sementara bibir kadang tertutup rapat dengan kulit bibir atas naik.

Ada yang menarik pada peristiwa itu. Presiden sempat beberapa kali menoleh ke Ketua KPK Abraham Samat yang berada di sisi kanan belakang. Namun hal serupa tidak dilakukan Presiden kepada Wakil Kepala Polri Komisaris Badrodin Haiti. Handoko menduga, Presiden ingin menyampaikan pesan bahwa acara itu digelar membicarakan nasib KPK.

Pagi hari sebelum jumpa pers berlangsung, penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto di Kota Depok. Pengguna internet ramai mengecam langkah itu yang dinilai sebagai upaya kriminalisasi KPK. Bahkan di dunia maya sempat muncul tanda pagar #whereareyoujokowi. Publik mempertanyakan sikap Presiden terkait penangkapan itu.

Dalam kesempatan itu, Presiden menggunakan kata-kata, ”Sebagai kepala negara saya meminta KPK dan Kapolri memastikan bahwa proses hukum yang ada, harus obyektif dan sesuai peraturan undang-undang yang ada.” Presiden juga melanjutkan pernyataanya dengan mengatakan, ”Sebagai Kepala Negara. Saya meminta agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing.”

Penggunaan kepala negara dalam kalimat itu dipakai Presiden sebagai niat untuk menegaskan sesuatu. “Kalimat ini menegaskan bahwa publik harus melihat dia sebagai Presiden, lalu Presiden ingin menggunakan cara-cara persuasif menyelesaikan persoalan tersebut,” tutur pemimpin PT Karakter Transformasi Pertiwi, perusahaan yang bergerak memberikan jasa konsultasi karakter dan emosi sumber daya manusia. Versi video peristiwa di Istana Bogor ini bisa dilihat di http://youtu.be/iTSjQcFwjnI.

Sabtu 24 Januari, saat wawancara dengan Kompas di Kantor Presiden, mantan Wali Kota Solo itu menekankan semua pihak bahwa KPK dan Polri harus diselamatkan, harus lebih dewasa sebaga institusi, dan menghormati semua proses hukum yang ada tanpa intervensi Prediden. Menariknya, Presiden memberi penegasan bahwa jangan ada yang sok di atas hukum sambil mengangkat dua bahunya.

Selama jalannya wawancara, ekspresi wajah Presiden lebih dominan terlihat, apalagi ketika menyampaikan kata “KPK.” Presiden juga memperlihatkan ekspresi sangat tidak suka ketika menyebut kata “intervensi.” hal ini ditunjukkan dengan ujung bibir kiri Presiden tertarik ke belakang. Maksudnya Presiden tidak ingin intervensi dalam persoalan ini.

Minggu 25 Januari, saat tampil bersama tim independen di Istana Merdeka Jakarta, Presiden berkali-kali menegaskan agar tidak ada kriminalisasi. Pada saat mengucapkan kata “kriminalisasi,” Bibir atas mulut tertarik ke atas mendekati hidung dan pangkal hidung tertarik ke atas sehingga terlihat kerutan horizontal di pangkal hidung. Pada saat yang sama, pangkal hidung Presiden naik membentuk kerutan.

Hipotesa Handoko, Presiden sangat tidak menginginkan peristiwa kriminalisasi. Hal inilah yang membuat dia marah tentang persoalan tersebut. Kamis 29 Januari, di Istana Bogor, Presiden bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto. Pertemuan ini banyak menyita perhatian publik. Kedua tokoh ini sempat saling melempat senyum. Menurut Prabowo Subianto sebelum menemui Presiden, dia dan Presiden sama-sama ingin bertemu. Kebetulan Prabowo belum pernah bertemu Presiden secara resmi sejak Presiden bertandang ke rumah Prabowo, 17 Oktober 2014.

Di akhir pertemuan sambil melempar senyum ke arah jurnalis, Presiden menyampaikan kata “ditunggu.” Pada saat kata tersebut keluar, kata Handoko, ada bahasa tubuh yang tidak lazim yaitu mengatupkan jempol dan telunjuk ke arah wartawan. Gerakan tubuh ini berlangsung spontan dan cepat.

Lazimnya, kata ditunggu satu makna dengan kata sabarm yang lazimnya diikuti dengan bahasa tubuh seperti orang menekan dengan jari terbuka semua. Menurut Handoko, ada pesan yang ingin disampaikan Presiden bahwa kasus ini segera akan selesai.

Namun persoalan ini berlarut hingga satu bulan terakhir. Presiden ingin menunggu kepastian hukum yang terlanjur sudah berjalan. Ekspresi wajah ini terlihat beberapa kali saat Presiden menjelaskan persoalan KPK dan Polri. Pada saat waktu yang dianggap tepat, Presiden akan menjatuhkan keputusan. Ekspresi inilah yang tersirat usai bertemu Prabowo Subianto di Istana Bogor.

“Pasti akan saya putuskan,” kata Presiden dengan ekspresi dan bahasa tubuh yang tegas. (Andy Riza Hidayat)

Senyum Presiden Kembali Mengembang

Keputusan Presiden

20150218ndy-konpres jokowi1

Senyum Presiden Kembali Mengembang

Rabu (18/2) siang, jurnalis bersiap-siap mengikuti acara blusukan Presiden Joko Widodo yang sudah dijadwalkan pukul 13.00. Namun setengah jam sebelum jadwal itu, Kepala Biro Pers Istana Kepresidenan Albiner Sitompul meminta kami merapat ke Ruang Kredensial, Istana Merdeka, Jakarta. Mendengar arahan itu, kami berpikir ada sesuatu penting yang akan terjadi. Sebab di ruangan itulah seringkali Presiden menyampaikan hal-hal penting.

“Mungkin inilah yang kalian tunggu-tunggu, Bapak Presiden meminta kalian ke sana,” kata Albiner kepada wartawan.

Bayangan kami tertuju pada putusan Presiden soal pimpinan Polri yang menjadi polemik di masyarakat. Apakah Presiden akan melantik Komjen Budi Gunawan atau tidak setelah putusan praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kami juga penasaran apakah Presiden juga mengeluarkan keputusan terkait masalah hukum yang membelit pimpinan KPK.

Sesampainya, di Ruang Kredensial, kami menunggu hampir satu jam. Sepertinya Presiden, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno sedang berdiskusi serius. Dalam diskusi itu, mereka memegang beberapa lembar kertas putih. Tiga orang yang terlibat diskusi itu, entah disengaja atau tidak, sama-sama mengenakan baju putih bawahan hitam. Hanya baju Jusuf Kalla yang warnanya krem.

Sambil menunggu pidato Presiden, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto muncul di antara kerumunan wartawan. Ternyata Andi ikut menunggu keputusan Presiden. Andi mengaku tidak dilibatkan dalam persoalan yang sedang dibicarakan. Rasa penasaran kami makin membuncah.

Pukul 14.20, Presiden keluar dari ruang rapat, dan tiba di ruang kredensial Istana Merdeka. Presiden menuju podium yang sudah disiapkan satu jam lebih sebelumnya. Presiden terlihat lepas, membuka pertemuan itu dengan permintaan maaf ke wartawan karena menunggu lama. Presiden akan menyampaikan sikapnya terkait masalah di Polri dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Soal Pimpinan Polri, Presiden memutuskan untuk tidak melantik Komisaris Jenderal (Komjen) Budi Gunawan walaupun telah memenangkan gugatan praperadilan sebelumnya. Keputusan itu diambil karena penunjukan Komjen Budi Gunawan telah menimbulkan perbedaan pendapat yang tajam di masyarakat.

Terkait pertimbangan itu, Presiden mengusulkan nama baru yaitu Komjen Badrodin Haiti untuk mendapatkan persetujuan DPR sebagai Kepala Polri. Presiden juga memutuskan Budi Gunawan untuk memberikan kontribusi terbaik untuk Polri agar semakin profesional dan dipercaya di mata masyarakat. “Kontribusi ini dapat diberikan dalam jabatan apapun yang nanti diamanatkan kepadanya,” kata Presiden.

Terkait persoalan KPK, karena ada masalah hukum pada dua pimpinan lembara tersebut, Presiden memberhentikan sementara Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Bersamaan dengan itu, Presiden juga akan mengisi kekosongan satu pimpinan KPK.

Penggantian tiga kursi pimpinan KPK itu diputuskan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang atau Perppu. Setelah itu Presiden menerbitkan Keputusan Presiden terkait pengangkatan tiga pimpinan KPK baru. Nama-nama yang dimaksud antara lain Taufiequrochman Ruki, Indriyanto Seno Aji, dan Johan Budi. Saat Presiden menyampaikan nama Johan Budi, terdengar suara, “Wahhh.” Sepertinya wartawan tidak menyangka Johan mendapat kepercayaan Presiden.

Usai membacakan keputusannya, Presiden bersalaman dengan Jusuf Kalla dan Praktikno. Presiden menebar senyum, dan mempersilahkan wartawan menanyakan hal-hal detail ke Pratikno. Sikap rileks ini sebelumnya tidak terlihat saat Presiden mengumumkan penundaan pelantikan Budi Gunawan Sabtu (16/1), meminta KPK dan Polri tidak saling bergesekan Jumat (23/1) di Bogor, maupun pada Minggu (25/1) saat Presiden meminta agar tidak ada kriminalisasi.

Senyum Presiden baru muncul saat wawancara dengan Kompas Sabtu (24/1) dan bertemu Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto Kamis (29/1) di Bogor. Rabu sore itu, senyum Presiden kembali merekah. Harapan publik, semoga Presiden terlepas dari belenggu kepentingan yang sepertinya membelit hingga sulit membuat keputusan cepat.

Handoko Gani SE MBA, kandidat master science di bidang forensik emosi di Paul Ekman International Group dan University of Central Lancashire, Manchanster, Inggris mengatakan penampilan Presiden Rabu lalu lebih ceria dibanding penampilan resmi sebelumnya. Bukan saja ketika bersalaman dengan orang-orang di sekitarnya, pada saat membacakan materi sikapnya Presiden terlihat cerah.

Jarang sekali alisnya mepet dengan mata seperti yang terlihat sebelumnya. Jumpa pers sebelumnya lebih banyak jeda, seperti sedang berpikir sambil membaca teks. Namun Rabu sore itu nada bicara Presiden lancar. Alisnya tidak turun ke mata, pandangannya juga tidak menyorot tajam. Tulang pipi Presiden terlihat wajar tidak tertarik seperti sebelumnya. Handoko menduga, Presiden merasa keputusan itu adalah yang terbaik yang bisa dilakukan.

Ada beberapa hal yang dicatat Handoko, dua kali Presiden menyatakan agar KPK dan Polri menjaga keharmonisan antar lembaga. “Saya menginstruksikan kepada Polri dan meminta KPK, mentaati rambu-rambu aturan hukum dan kode etik, untuk menjaga, untuk menjaga, keharmonisan antar lembaga,” kata Presiden.

Mengapa kepada Polri Presiden kata “menginstruksikan,” sementara pada KPK Presiden menggunakan kata “meminta” ? Apakah ada perbedaan pesan di balik penggunaan dua kata itu? Belum ada penjelasan soal itu.

Keputusan itu disambut positif banyak pihak, termasuk Komjen Badrodin Haiti yang menghadap Presiden Rabu petang di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Badrodin bersyukur atas kepercayaan Presiden. Badrodin memprioritaskan untuk menyelesaikan hubungan dengan pimpinan KPK.

Badrodin juga mengaku telah berkomunikasi dengan Budi Gunawan. Kepada Badrodin, Budi gunawan menyampaikan legowo. “Beliau 100 persen legowo dan menerima apa yang diputuskan Presiden,” kata Badrodin.(Andy Riza Hidayat)

Malaysia Pada Sebuah Piring

20150205_205530
Menu pecal paling atas

20150205_212312-120150205_212018

Ini kisah perjalanan saya ke Malaysia 5-7 Februari 2015.

Saat itu, saya ikut rombongan Presiden Joko Widodo lawatan ke tiga negara ; Malaysia, Brunei Darussalam, dan Philipina. Saya mau cerita tentang isi piring makanan pembuka di Istana Negara Malaysia.

Malam itu, Kamis 5 Februari 2015, Presiden dan seluruh delegasi Indonesia dijamu Pemerintah Malaysia dalam jamuan makan malam. Acara ini bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan ke negeri jiran itu. Proses acara makan malam diawali dengan perkenalan kerabat Kerajaan Malaysia, pejabat pemerintah, kemudian pengumandangan lagu kebangsaan kedua negara.

“Panjangnya,” (sebenarnya tidak terlalu lama sih) rangkaian acara itu membuat perut melilit, tidak sabar menunggu datangnya menu khas Melayu di meja makan. Akhirnya tiba menu pertama sebagai pembuka santap malam. Menu itu adalah PECAL.

Bila mengacu namanya mengingatkanku pada masakan pecel yang biasa kumakan di rumah dan warung-warung di Indonesia. Penilaianku tidak salah, menu pecal itu memang pecel yang ada di Indonesia. Menu ini terdiri dari sayur bayam, kacang, kecambah, dan guyuran sambel kacang. Persis seperti pecel Indonesia.

Persoalannya, ketika menu pecal sebagai menu resmi negara Malaysia, bagaimana status pecel saya? milik siapakah makanan pecel itu ? apakah kesamaan ini sebuah kebetulan karena dua negara memang ditakdirkan hidup serumpun, sehingga tidak terhindarkan hasil kebudayaannya, termasuk soal kuliner mirip dan sebagian sama.

Selain pecel, menu lain yang saya jumpah di meja makan istana itu adalah sambal goreng petai, rendang, dan sirup bandung. Ini menu resmi istana negara Malaysia lho…

sekian dulu cerita saya

Jakarta, 12 Februari 2015

Hujan dan Gerobak Dorong

Peristiwa masa kecil kadang susah hilang. Peristiwa ini terbawa dalam bayanganku saat melamun, sebelum tidur, atau pas mengamati sesuatu. Peristiwa puluhan tahun lalu melintas tiba-tiba. Peristiwa itu tergambar begitu detail, suasana, bahkan perasaan yang terjadi ketika itu.

Hujan, mengingatkanku pada kerasnya ayah mendidikku. Saat aku dan adikku Wahyu alias Bakti mengangkut potongan kayu dan buah kelapa dari kebun. Kami harus membawa hasil kebun itu sejauh sekitar 5 kilometer dari rumah. Suasana saat itu hujan deras sekitar pukul 15.00. Karena hujanlah membuat perasaan malu sebagai remaja lenyap. Yang ada semangat dan menganggapnya sebagai latihan mental.

Ketika itu aku masih SMA sekitar tahun 1993-1996. Tahun-tahun menjelang pergolakan politik di Indonesia. Ratusan buah kelapa kami dorong dengan gerobak secara bergantian, posisi yang mendorong dan yang menarik gerobak. Beberapa kali sebagian buah kelapa jatuh dan kami harus memungutnya ke atas gerobak.

Bukan hanya mengangkut hasil kebun di Desa Ngebruk, Kabupaten Malang, tetapi di awal penanaman pohon sengon kami juga “wajib” menyirami pohon itu hingga membesar. Kebun itu dibeli ayahku dari seorang warga yang butuh uang. Kebetulan ada rejeki sedikit dari pejualan tanah di tempat lain, dan pinjam bank ayahku nekat membeli tanah itu.

Jual beli tanah, walau tak pas disebut tuan tanah, sangat membantu perekonmian keluarga. Ayah dah ibuku bekerja sebagai guru. Penghasilannya biasa saja untuk menghidupi empat anak. Karena kebun itulah, pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia, sekitar tahun 1996-1998, menolong perekonomian keluarga dari krisis keuangan.

Usai krisis kebun itu dijual dan kemudian menjadi modal ayah dan ibu menunaikan haji ke tanah suci.  Saya dan anak-anaknya merasa, dapat pembelajaran dari kebun sengon itu. Hormatku untuk ayah dan alhmarhum Ibu.

Jakarta, 1 Februari 2015

 

Menunggu Ujung dari Rentetan Pertemuan…

Ketika rakyat menunggu sikap tegas Istana terkait polemik antar lembaga Polri dan KPK, Presiden terus menggelar rentetan pertemuan dengan sejumlah orang. Hal ini mengkonfirmasi sikap Presiden bahwa dia tidak akan mengambil keputusan sebelum mendengar pendapat dari banyak pihak.

“Saya tidak mau mengambil keputusan sebelum bertanya dengan banyak pihak. Itu sudah tipe saya,” kata Presiden Joko Widodo merespon harapan publik di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (24/1).

Pertemuan dengan Prabowo Kamis (29/1) melengkapi daftar tokoh yang bertemu Presiden Joko Widodo setelah polemik penegakan hukum di KPK dan Polri memanas. Pertemuan sekitar 30 menit ini mengejutkan jurnalis yang meliput kegiatan Presiden di Istana Bogor. Sebab jadwal tersebut tidak tercantum dalam daftar acara resmi Presiden yang sebar Biro Pers Istana.

Kabar pertemuan dengan Prabowo sudah merebak sehari sebelumnya. Wartawan menunggu pertemuan itu hingga Rabu (28/1) malam di kompleks Istana Kepresidenan. Namun pertemuan tidak jadi digelar. Sejak Kamis (29/1) pagi, kabar pertemuan itu semakin santer beredar.

Pertemuan dengan Prabowo ini mengingatkan pada pertemuan Presiden dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (8/12). Serupa dengan pertemuan Prabowo, pertemuan dengan Yudhoyono juga berlangsung 30 menit mulai pukul 13.05. Ketika itu, Yudhoyono tiba di istana didampingi Sudi Silalahi yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Sementara Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Sama halnya ketika menemui Prabowo, Presiden mempersilahkan tamunya Yudhoyono untuk berbicara terlebih dahulu ke jurnalis. Presiden juga mengantarkan Yudhoyono hingga ke depan pintu mobilnya. Ketika itu, suasana politik nasional sedang tertuju pada pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Wali Kota.

Tersebab Budi Gunawan

Awal mula kegaduhan soal KPK dan Polri terjadi ketika Presiden mengajukan nama Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat 9 Januari 2015. Kegaduhan makin gaduh ketika KPK menetapkan Budi sebagai tersangka kasus korupsi, Selasa 13 Januari.

Publik gerah. Mereka mendatangi Kantor KPK dan memberikan dukungannya atas pemberantasan korupsi. Pengamatan penulis, Presiden menerima sejumlah tamu petinggi partai politik pendukungnya di Istana Kepresidenan. Di tengah panasnya situasi, Polisi menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjajanto di Depok, Jumat (23/1).

Pada hari itu juga, Presiden memanggil sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara di Istana Bogor. Mereka yang dipanggil antara lain Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti, Ketua KPK Abraham Samad, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno, Jaksa Agung M Prasetyo, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Kepala Staf Kepresidenan Luhut B Panjaitan, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan Bogor yang berisi agar tidak ada gesekan antar lembaga Polri dan KPK.

Minggu (25/1), Presiden memanggil sejumlah tokoh antara lain Hikmahanto Juwana, Oegroseno, Bambang Widodo Umar, Tumpak Hatorangan Panggabean, Erry Riyana Hardjapamekas, dan Jimly Ashidiqie di Istana Merdeka. Pada pertemuan Minggu malam itu, Presiden meminta agar jangan ada kriminalisasi pada lembaga penegak hukum.

Rabu (28/1) Presiden bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden di pagi hari. Presiden menerima rekomendasi saran dan masukan terkait situasi yang berkembang. Di hari yang sama setelah pertemuan itu, Presiden menerima Tim Konsultatif Independen terkait hal yang sama.

Imam Prasodjo, salah satu anggota Tim Konsultatif Independen membenarkan bahwa Presiden lebih banyak mendengar. Selama berlangsungnya pertemuan, belum ada sinyal keputusan yang akan diambil Presiden. “Saya memahami posisi beliau, tetapi kami menyarankan agar nilai moral dikedepankan dalam mengambil keputusan,” kata Imam.

Dan sampai malam ini, Presiden masih memikirkan jalan terbaik buat negeri ini, semoga.

Hari-hari Berat Pak Presiden

Hari-hari Berat Pak Presiden

Hari-hari ini begitu berat bagi Presiden Joko Widodo. Beberapa kali Presiden harus melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah, pada saat yang sama Presiden tekanan politik terkait keputusannya mencalonkan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Berhari-hari jurnalis harus datang lebih pagi dan pulang lebih larut agar tidak ketinggalan peristiwa seputar suksesi di tubuh Polri.

Pada saat itu pula hanya sebagian orang tahu, Presiden menahan sakit gigi. “Sejak pekan lalu, Presiden memang ada masalah dengan gigi. Tetapi sakit itu tidak dihiraukan dan tetap bekerja,” kata salah seorang anggota Pasukan Pengawal Presiden kepada Kompas, Jumat (16/1). Karena sakitnya itu, Presiden memeriksakan gigi ke klinik gigi di Balai Kota Jakarta.

Sakit gigi itu muncul ketika Presiden harus melewati hari-hari berat sepekan terakhir. Pada saat situasi semakin memanas dan perhatian rakyat tertuju pada sikap Istana, Presiden masih didera sakit gigi.

Tekanan politik sudah terjadi saat Presiden mengajukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri, Jumat (9/1). Situasi semakin memanas ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi, Selasa (13/1). Persoalan semakin pelik ketika sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mennyetujui usulan Presiden pada sidang paripurna, Kamis (15/1).

Rakyat gaduh, pengguna sosial media banyak yang menentang pencalonan Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. Hingga kemudian lahir petisi lewat situs change.org. Penolakan juga berasal dari relawan dengan mendatangi kantor KPK dan Istana Kepresidenan. Mereka tidak ingin lembaga penegakan hukum dipimpin seorang tersangka.

Presiden masih belum menyampaikan keputusan tegas sambil menahan sakit gigi. Wartawan terus mengejar penjelasan Presiden dengan melontarkan sejumlah pertanyaan di mana pun kepala negara berada. Saat mengunjungi area pabrik PT Pindad, di Bandung wartawan meminta penjelasan alasan Presiden memilih Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri.

Presiden terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Namun Presiden tetap menjawabnya, “Itu usulan dari Kompolnas memberikan usulan kepada saya. Dari sana kita pilih, dan sekarang kita tunggu proses yang ada di DPR,” kata Presiden Joko Widodo di area pabrik PT Pindad, Senin (12/1) di Bandung.

Wartawan belum puas dengan jawaban itu, kembali menanyakan ke Presiden mengapa tidak melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam proses pemilihan Kepala Polri, Presiden sejenak terdiam. Empat detik kemudian Presiden mengatakan, “Nanti kalau saya jawab larinya ke tempat lain. Sudah.” Selanjutnya Presiden tutup mulut dan meninggalkan wartawan yang menginginkan penjelasan lebih jauh.

Di hari itu, wartawan masih berusaha mengejar penjelasan Presiden saat mengunjungi PT Dirgantara Indonesia. Wartawan menanyakan sikap Presiden terkait rencana DPR memanggil Budi Gunawan. “Sudah tiga kali saya sampaikan itu. Ini yang terakhir. Proses ini sudah saya sampaikan ke dewan, silahkan tanyakan ke DPR,” kata Presiden.

Kesibukan di Istana

Seiring panasnya dinamika terkait suksesi di tubuh Polri, kompleks Istana Kepresidenan ikut sibuk. Orang-orang yang menjumpai Presiden makin banyak jumlahnya. Sebagian orang yang datang menemui Presiden di antaranya Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, Kamis (15/1). Surya diundang oleh Presiden dalam jamuan makan siang di istana.

Tak bisa dimungkiri, keduanya membicarakan polemik pemilihan Kepala Polri. Namun Surya menyerahkan persoalan itu ke Presiden sebagai pemegang hak prerogatif.

Di hari yang sama, Ketua DPR Setya Novanto datang ke Istana menyampaikan hasil sidang paripurna persetujuan penunjukan Budi Gunawan sebagai calon Kepala Polri.

Kesibukan di sekitar istana semakin terlihat pada Jumat (16/1) pagi. Sejumlah jenderal terlihat di kompleks Istana Kepresidenan yakni Kepala Polri Jenderal Sutarman, calon Kepala Polri yang diusulkan Presiden, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, dan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.

Presiden tersebut secara tertutup dan tidak terjadwal pada agenda pertemuan resmi presiden yang disebar ke wartawan. Sutarman meninggalkan istana lebih dahulu sekitar pukul 08.45. Sutarman melangkah dengan terburu-buru tanpa ekspresi. Dua ajudannya, mencegah wartawan melayangkan pertanyaan. “Maaf, tidak ada pertanyaan. Maaf bapak buru-buru,” kata salah seorang ajudan sambil menyilangkan tangannya mencegah wartawan mendekat.

Tidak ada keterangan apapun terkait pertemuan itu. Walaupun Presiden menggelar jumpa pers pada siang harinya, namun Presiden tidak menjelaskan materi pertemuan. Presiden langsung meninggalkan lokasi wawancara setelah mengharap rakyat sabar dan menunggu saat yang tepat.

Sampai hari Jumat kemarin, Presiden masih sakit gigi.(NDY)

PS : Bahan ini juga saya kirim ke WHY untuk kemudian digabung bersama. Terimakasih mas

Ayam Kering Istana

Saya ingin cerita sesuatu yang ringan di tempat tugas baru di Istana Kepresidenan.

Ada banyak hal yang menyita perhatian sejak pertama meliput di istana 8 Desember 2014 lalu. Namun cerita tentang ayam kering ingin lebih dahulu saya bagi. Ayam kering adalah salah satu menu yang disediakan di ruang wartawan Istana Kepresidenan. Ruang ini sering disebut ruang bioskop, saya belum tahu mengapa disebut demikian.

Ayam kering itu menu yang paling dihindari dan dicari wartawan. Mereka menghindari karena bentuknya yang kecil banget. Bahkan sebagian wartawan menyebutnya sebagai anak ayam atau DOC lantaran saking kecilnya. Ukurannya mungkin setengah dari genggaman tangan orang dewasa.

Namun di balik bentuknya yang kecil, rasa ayam ini begitu gurih. Karena alasan inilah sebagian memburunya. Perburuan dilakukan dengan membuka satu persatu bungkus putih kotak nasi.

jika ketemu yang dicari, “Wah untung nemu ayam kering,” kata Sabrina Asril, wartawan Kompas.com penggemar ayam kering.

Rekan wartawan yang suka ayam kering tetapi tidak puas dengan bentuknya yang kecil, melakukan sedikit kecurangan. Mereka mencari bungkusan ayam kering lalu menggabungkannya dengan bungkusan yang lain. Jadi mereka memakan dua ayam kering dengan satu porsi nasi dan sayuran. Sementara bungkusan yang diambil ayamnya dibiarkan menganga tanpa ayam.

Kehadiran menu ayam kering itu memang fenomenal. Wartawan Bloomberg Indonesia Agus Salim Suhana mengatakan, menu itu sudah ada sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat. Agus tidak tahu mengapa menu itu selalu ada di ruang wartawan. Pihak Istana dua kali menyediakan makanan untuk wartawan, siang dan petang.

Saya teringat perlakuan yang serupa di kantor Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama yang kemudian menjabat sebagai Gubernur. Basuki juga menyediakan makanan untuk wartawan dua kali pada waktu yang sama. Namun menu di dua tempat ini berbeda. Staf Basuki menyediakan menu yang amat beragam setiap hari.

Usut punya usut, menu ini disediakan oleh Rumah Makan Padang “Sari Minang Baru.” Rumah makan ini beralamat di Jalan Tanah Abang I Nomor 6,  Jakarta Pusat, berjarak kurang dari 5 kilometer dari Istana. Seorang sumber di istana menyebutkan seluruh makanan yang dipasok ke sana melalui kontrak kerja sama. Mereka harus siap menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan yang tertera dalam kontrak perjanjian kerja.

Lalu menu ayam kering itu pilihan siapa ? mengapa tidak banyak variasi pada menu yang disediakan ? Rasa penasaran ini masih belum terjawab.

Cerita ini adalah awal dari banyak cerita yang akan saya buat di tempat tugas, meliput kegiatan kepala dan wakil kepala negara. Sekian…

line services that includes reused period papers which experts claim itemizes their service $5 if you want to $50 per month. Countless numbers of students already have employed those words documentation. Dress aloof from informative producing programs that just furnish you with 225 sayings a website order. Many of us jot approximately 310 put together textual content on every web page! Our company prepare fresh documents to check out to it the fact that how much your posted cardstock will be trustworthy as well as refreshed. http://buyessaynow.net/essay-on
Assistance Methods Alternate #1: Search engine optimisation Are you wanting a faculty or perhaps or perhaps article or just dissertation so quickly? Would you like to find by just keyword terminology and also right away save most of the dissertation or possibly dissertation on the desires? Donrrrt worry! You’ll easily examine content file for particulars, including analysis, part taster, referrals layout, range of terms and thus results pages by making usage of your Internet marketing Specialist. It is easy to check-out a lot more than 4000,Five-hundred specific dissertation, documents, novel reviews, explore documents, or anything else. Alternative #2: Tailor-made Investigating Will you considerably favor a genuine, interesting college writing, essay or dissertation alternatively dissertation, handbook document, dissertation, or else study conventional paper? Our new authorized tutorial qualified personnel can create a very 100% specific in addition to classic piece of writing over confident topics of your liking. We now have well over A pair of full-fledged companies here in true segments, each you along with masters-level-degree experience in order to any kind of More than 200 keyword pertaining to each web site copy basef on your own explained strategies. Starting from 12th grade much older person a single web site conclusions towards a 700 web Ph. . dissertation, we supply most suitable approvals, familiarity, and consequently encounter to offer you the transaction. Not surprisingly, we use outsourcing for expert with doctorate phase considerations just to article team utilizing balanced quantity in an exceedingly selected area of expertise and even education and learning. Approach #3: Proofreading and Editing Each of our Revising Product, may look into, increase these computer files you have before hand developed. Plagiarism We?re dissimilar to nearly all of interesting authoring record writing about products the fact that duplicate ideas on the internet companies. I will be many. Should you buy structure our free personalized explore options, reality authority might come up with an extraordinary , the right document dependent upon the necessities you will create. Prior to delivering, let’s aside from that take a look at any succesfully done control with leading plagiarism-detection request. Nearly all word have been experienced exclusive coupled with materials seem to be accurately stated all throughout your entire tutorial official document. Our company’s file are truly outstanding, offering you an enterprise foundation helpful lookup. Confidence and furthermore Well being Be skeptical of web sites whom scam enrollees. Some will probably afford that you per month gain access to his or her databases by way of stolen information. Keep from sites that expose free customized intellectual freelance writing designed for $17/page. Abroad websites online similar to these just offer mediocre items which can be over and over again made in order to really many people. To boost revenue, these guys email affordable, offshore web owners who really connect British isles as the subsequent or 1 / 3) tongue. His or her essayissts plagiarise on-line solutions and prepare budget British newspaper. You’ve got the preference for get top Indian business enterprise, although motivate you to definitely put your choose next in Task Creating Specialist. Themes Our new role-specific authors wrote nearly as much as 300,1000 areas of writing articles in relation to close to all market and consequently happy seeing that 1997. It is possible to only offer a area of the vast quantity patients most people work on to the assumption this amazing literary, politics and then helpful functions develop day-by-day. Notebook wasn’t designed, after we don?t contain your own area of interest one’s opt-in list, can be assured it is easy to obtain you for you to keep in mind this for you. Prices versus Top notch A number of us has actually been in that business enterprise since that time 1994, prior to all of the helpful simply writing companies popped-up and started simulating our favorite service. We recognise, first-hand, what can be done to make the ideal classifieds at most plausible deal. Some of our referred to fine quality support, generating fashions, helpful natural resources, along with researching program is unparalleled. You can is dependent upon our own brilliant guidelines in addition to rock-solid insure. For knowledge about the services you receive and payment course of action, go to our new assistance internet. Essential People are an effective all-American web business by using professional together with online business office spaces in both Ohio as well as Nj-new jersey. Further, our company’s well trained, doctoral-level freelancers finish prerequisites for college students in the uk not to mention Zaire, and furthermore Quarterly report. Your fees are virtually all estimated located in US$. Quotation Look as well as Informative Places Ones own significance about every one preliminary research signals might be combined together with the option from novels, online journals, magazines website pages, condition education, job interviews, rag posts, accessories. Many areas and then layout for example minor details all over most of the documents we’re going to post are offered when you buy . Supplies of records is as it should be supplied as being a account individual far-reaching experience during ticket styles and so referral kinds similar to The chicago area, APA, MLA, and then Stanford. Incomparable Posting Body Gain a 100% extraordinary statement record, case study, thesis, e book record, dissertation, coupled with check out influenced by done to you requirements. Your A pair of pro people might possibly the actual appropriate program on his or her specialist profession should pen your personal dissertation for certainly any type of issue. Compared to alternative webpages proposing academic freelance writing solutions, a person’s convention scientific studies shop for may not be arbitrarily designated to non-native Us blog writers. Your main reassurance of quality Yank publisher due to proper professional or perhaps even doctoral place education to take on your individual oder would be the warranty in our one-of-a-kind and furthermore distinctive creating strategy. Privacy In contrast to other types of websites, some of us admire our individual consumers privacy and isolation. Whenever your performed official document might be emailed for your requirements, our system by default removes the run data on your select. Consequently, it is fairly out of the question persons that will expose all the information about the transaction to any any such gives. Pay money for Research Forms On the web Developer Institution Standard paper of top quality Its certainly good to purchase preliminary research forms via internet in america. Present Good academic custom made works towards decent. We realize that it is crucial that you could Find out everything recommendations on this . expose ? This particular gain access to became posted within Wed, Oct . Tenth, 2012 to Five different:Twelve A . m . and it is filed according to Web-site. You can still adhere to nearly any responds of this posting in the Rss feed A couple of.8 provide for. Yourrrre able to walk out of a response, and also trackback from a web page. Check this to assist you to eliminate result.

Aku Tulis Pamplet Ini

Pengarang: WS. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !