Suatu hari di Columbia University

Wakil Presiden Jusuf Kalla berbicara di World Leaders Forum di Columbia University, New York, Amerika Serikat, Jumat (22/09/2017) waktu setempat.

Beruntung sekali saya mengikuti World Leaders Forum di Columbia University, New York, pada Jumat 22 September 2017 pukul 10.00 pagi waktu Amerika Serikat. Acara ini digelar di sela-sela kesibukan Pak JK menghadiri pertemuan Sidang Umum PBB pada waktu itu. Tidak terbayang bisa main ke kampus ini. Membayangkan kuliah di sini pun tidak pernah. Kemana saja aku selama ini ..?

Di sana, JK menjadi salah satu orang yang diundang dalam pertemuan World Leaders Forum di kampus itu. Dia hadir membawakan pidato dengan judul “Harmony and Peace: The Indonesian Experience.” Adapun acara dibuka oleh David Madigan, Dekan Facultas Seni dan Ilmu Pengetahuan.

Fokus saya pada suasana diskusi di forum itu. Jika di acara-acara formal, biasanya penanya tidak bebas bertanya, baik dari segi jumlah maupun materi pertanyaan. Pagi itu, semua yang hadir yaitu mahasiswa dari berbagai universitas di sekitar New York berebut bertanya. Moderator membagi mereka sesuai posisi tempat duduk di sisi kanan hingga kiri secara merata.

Dari enam pertanyaan mahasiswa, empat di antaranya mahasiswa asing. Tiga mahasiswa asing itu terlihat berparas wajah mirip orang-orang dari India dan Pakistan. Yang saya dengar namanya Sohaker Mali, Sukmar, dan Hasan Ali. Mereka bertanya tentang perlakuan pemerintah pada kaum minoritas, komitmen Indonesia para perubahan iklim, dan upaya pemerintah menyatukan berbagai kelompok keagamaan.

Salah satu penanya dalam World Leaders Forum yang dihadiri Wapres Jusuf Kalla. Foto dari screen shot kanal youtube Columbia University.

JK sudah terbiasa menghadapi forum-forum seperti itu. Dia tidak terlihat repot menjawab berbagai pertanyaan. Sepanjang pidatonya, dia lebih banyak berbicara tanpa melihat teks, begitu pun saat dialog. Semua dijawab langsung seperti layaknya orang berdialog. Meski berbeda gaya, saya teringat Presiden Filipina Rodrigo Duterte berdialog dengan wartawan.

Saya ingin membawa cerita ke mahasiswa tadi. Ada ratusan mahasiswa hadir di forum itu. Sebagian besar mahasiswa berwajah bule (iyalah, kan di New York), sebagian berwajah Asia mulai dari India, Pakistan, Bangladesh (disebut IPB), Asia, dan tentunya wajah mahasiswa melayu (Indonesia, Malaysia).

Namun kehadiran mahasiswa berparas IPB itu menjadi fokus saya. Mereka terlihat dominan dalam mengajukan pertanyaan. Mereka seakan ingin tahu lebih jauh tentang Indonesia. Mereka sedang dalam semangat yang tinggi di kampus itu.

Pemandangan serupa saya pernah tangkap saat bertugas di Swedia pada tahun 2010 an. Mahasiswa dari IPB itu banyak mengisi kesempatan kuliah master dan doktoral. Mereka memanfaatkan peluang pemerintah setempat yang memberi beasiswa untuk kuliah di jenjang itu. Istilah IPB itu juga saya dapatkan dari mahasiswa Indonesia di sana. Karena saking banyaknya kelompok mahasiswa itu, mereka menyebutnya, mereka dari IPB.

Diskusi lengkap di Jusuf Kalla, Vice President of Indonesia, at the Columbia University World Leaders Forum

Barangkali ini ada hubungannya, mengapa kelompok dari orang-orang IPB itu banyak bekerja di perusahaan internasional.

Beberapa di antaranya adalah CEO Google Sundar Pichai dan CEO Microsoft Satya Nadella. Mereka ini adalah orang yang lahir di India, atau keturunan India. Keduanya juga mengenyam pendidikan internasional di sejumlah negara.

Apakah orang-orang asal IPB itu benar-benar sedang di atas angin ? Maksudnya apakah mereka sedang dalam posisi mengisi peran-peran penting di tataran global ? Saya sedang mengamatinya. 

Malang, 14 Maret 2019

Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Foto di atas adalah screen shot foto muka tulisan saya yang dimuat di kompas.id tentang debat capres pada 2 Maret 2019 lalu. Tulisan ini tulisan kedua tentang debat capres 2019 fokus pada ekspresi mikro, gerak tubuh, dan bahasa kandidat.

Selamat membaca…

Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Hukum panggung berlaku di panggung debat calon presiden. Di sana, masing-masing kontestan berusaha agar tampak sebagai tokoh baik (protagonis). Penampakan panggung depan ini dibangun melalui busana, mimik wajah, ekspresi muka, maupun gesture.

Surahmat, peneliti Bahasa dan Sastra Indonesia di Pusat Kajian Budaya Pesisir Universitas Negeri Semarang berpendapat, orang yang berada di panggung punya kesadaran bahwa dirinya sedang jadi perhatian banyak orang.

Karena itu, kebaikan-kebaikannya sengaja ditegaskan dan keburukan-keburukannya berusaha disembunyikan. Perilaku itu membuat sejumlah adegan saat debat Pemilu Presiden 2019, bersifat artifisial alias palsu.

Menurut Surahmat, ada dua pola yang terjadi di panggung debat. Pertama, upaya untuk menegaskan kembali sifat asli.

“Langkah ini biasanya dilakukan pada sifat-sifat bawaan yang positif, misal kesederhanaan pada capres 01 (Joko Widodo) dan ketegasan di capres 02 (Prabowo Subianto). Pola kedua, sifat yang benar-benar baru dikonsep (tim sukses),” kata Surahmat, kepada Kompas, Kamis (28/2/2019).

Dalam pengamatannya pada debat kedua di Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, Minggu (17/2/2019), capres 01 terlihat ingin membangun kesan bahwa dia paham secara detail persoalan pembangunan. Motif itu terbaca dari kerapatan Jokowi menggunakan angka di awal debat, bahkan pada konteks kalimat yang sebenarnya tidak betul-betul perlu dukungan statistik. Jokowi tampak berpikir sebelum mengucapkan angka-angka itu.

“Jeda berpikir itu menunjukkan angka-angka yang diucapkannya bukan sesuatu yang akrab,” kata Surahmat.

Artikel terkait ada di sini : Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Sementara pada penampilan Prabowo, Surahmat menyangsikan ketulusan apresiasinya kepada Jokowi. Sikap ini, menurut amatannya, tidak otentik karena berbeda dengan kesehariannya. Sikap apresiatif ini tidak sesuai dengan nada menghentak dan gerak tangan mengomando di tengah dan akhir pendapat pada debat pertama di Pilpres 2019, Kamis (17/1/2019). Sepertinya, kata Surahmat, Prabowo ingin menumbuhkan kesan bahwa dia tidak seseram yang dibayangkan orang.

Tampil sebagai orang lain

Serupa dengan penilaian tersebut, analis kebohongan Handoko Gani menangkap ada ketidakselarasan antara ekspresi mikro dengan pernyataan capres di debat kedua. Adegan ini terlihat sekelebat, hanya sepersekian detik saja. Sepintas nyaris tersamar dengan persepsi yang ingin dibangun oleh tim sukses.

Handoko Gadi. Foto diambil dari situs handokogani.com.

Lulusan Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris ini mengatakan penyimpangan ekspresi itu dibuat untuk mengingkari pernyataan. Ini terlihat di kedua kandidat, baik capres 01 maupun 02. “Saat Jokowi bertanya soal lahan yang dikuasai Prabowo misalnya. Kata-kata capres 01 terbata-bata, berhenti sebentar, dan berat,” kata Handoko.

Ekspresi ini tidak selaras dengan ekspresi sebelumnya yang lancar dan datar. Di titik ini, kata Handoko, Jokowi tidak tampil sebagai dirinya sendiri. Dia menduga, capres 01 menjalankan saran pihak tertentu untuk menyampaikannya di debat.

“Begitu pun juga ketika Pak Jokowi ditanya soal janji pangan,” kata Handoko. Pada pernyataannya, Jokowi membela diri, bahwa beliau tidak ingkar janji. Namun ada gerak tubuh singkat (micro gesture) saat Jokowi memegang kancing ketika menjelaskan ini. Handoko meyakini micro gesture itu adalah bentuk pengakuan bahwa memang ada janji pangan yang belum terpenuhi.

Sementara pada penampilan Prabowo, dia menangkap ada penyimpangan ekspresi saat ia menyampaikan tentang penguasaan lahan.

Saat itu, dia menyampaikan bahwa dirinya siap untuk mengembalikan tanah ke negara jika dibutuhkan. Tetapi pada kalimat berikutnya disampaikan, daripada diambil asing, lebih baik dikelola sendiri.

Ungkapan ini tidak selaras dengan pernyataan sebelumnya. Menurut Handoko, pada konteks ini ada penyimpangan verbal yang bisa diduga dia tidak rela menyerahkan lahan itu ke negara.

Begitu pun saat bicara soal unicorn (perusahaan rintisan dengan nilai 1 miliar dollar Amerika Serikat). Prabowo ingin memperjelas pertanyaan Jokowi dengan menanyakan pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Pada saat Jokowi menjelaskan soal itu, ada ekspresi mikro Prabowo yang menunjukkan bahwa dia tidak nyaman dengan penjelasan Jokowi.

Berangkat dari sini, kata Handoko, wajar jika sebagian kalangan menyebut capres 01 dan capres 02 sepertinya tidak tampil seperti biasanya. Minggu (17/2/2019) lalu Jokowi tampil lebih agresif, sedangkan capres 02 malam itu tampil lebih rileks. Handoko menduga, penampilan tersebut sengaja dibuat untuk membangun persepsi positif dari pemilih.

Bukan kepalsuan

Aria Bima, Direktur Program Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf menepis anggapan bahwa sikap Jokowi dibuat-buat. Menurut Aria Bima, Jokowi pada pidato-pidatonya sebagai Presiden ke-7 RI sering tampil agresif meski tetap dalam batas-batas kesantunan.

“Di tahun politik ini beliau tampil lebih politis karena memang situasi menuntutnya demikian. Dan itu menurut saya bukan agresif, beliau ingin menyampaikan kebenaran secara lugas dan argumentatif,” kata Aria Bima.

Tautan lengkap tulisan ini ada di : Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Tentang penguasaan lahan Prabowo, Aria Bima mengakui bahwa tim pemenangan mengecek data lebih dahulu sebelum debat. Temuan itu menyebutkan, bahwa Prabowo menguasai lahan di Kalimantan dan Sumatera. “Dalam era demokrasi, transparansi itu sangat penting,” kata Aria Bima.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Andre Rosiade berpendapat serupa. Tidak ada kepalsuan dalam debat kedua. Sikap rileks Prabowo di debat kedua itu, kata Andre, bagian dari cerminan sikap kesehariannya. “Saya yang menyaksikan sendiri, beliau sebenarnya ya begitu,” kata Andre.

Begitu pun juga dengan apresiasi yang diberikan Prabowo, menurut Andre itu tulus dari dirinya. Sebenarnya, kata Andre, Prabowo justru menolak bahan yang disiapkan tim kampanye. Bahan tersebut dapat dipakai Prabowo untuk berdebat dengan Jokowi jika mau.

Namun, Prabowo tidak mau memanfaatkannya. Prabowo tidak ingin menyerang pribadi Jokowi di panggung debat. “Bapak ingin adu gagasan, tidak mau menyerang pribadi calon lain,” kata Andre. (Andy Riza Hidayat)

 

Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Screen shot ulasan yang muncul di kompas.id pada 17 Februari 2019.

Semua tampak biasa saja mencermati paparan pasangan calon presiden dan wakil presiden saat berada di panggung debat. Namun, ketika mereka berkata-kata, sebenarnya ekspresi wajah kandidat ikut ”menyampaikan sesuatu”. Sebagian ahli menyebut, di sanalah kebenaran sebenarnya ada.

Pembacaan ekspresi mikro pada wajah seseorang ini dapat disaksikan di drama seri Lie To Me (2009-2011). Drama ini mengusung slogan the truth is written on all our faces atau kebenaran tertulis di semua wajah kita. Pesan yang ingin disampaikan dalam drama ini adalah kata-kata bukanlah segalanya. Kata-kata itu perlu diselaraskan dengan ekspresi mikro dengan pendekatan facial action coding system (FACS) atau sistem kode pada wajah.

Dengan modal itu, tokoh utama yang bernama Cal Lightman (diperankan Tim Roth) dan Gillian Foster (diperankan Kelli Williams) membantu aparat membongkar sejumlah kasus kejahatan di Amerika Serikat.

Salah satu aksi mereka terlihat saat Lightman berhadapan dengan tersangka kejahatan ketika ia dilarang bicara oleh pengacaranya. Lightman memancing tersangka dengan sejumlah pertanyaan tanpa mengharapkan dia berkata-kata.

Melalui gerak bahu, kedipan mata, kerutan jidat, dan gerak bibir, Lightman bisa menyimpulkan dialah pelakunya, seperti yang terlihat di episode pertama sesi pertama drama.

Ekspresi mikro makin dikenal orang ketika ilmuwan Amerika Serikat, Paul Ekman, bersama rekannya, Wallace V Friesen, memopulerkannya tahun 1978. Melalui ekspresi mikro wajah seseorang akan terlihat ekspresi senang, sedih, terkejut, marah, takut, jijik, dan muak. Ekspresi yang bersifat universal ini muncul sepersekian detik saat orang berkata-kata atau beraksi atas perkataan orang.

Beberapa adegan menarik pada debat pertama, Kamis (17/2/2019) lalu, terjadi saat Prabowo menanyakan sikap pemerintah saat ada aparat desa yang diproses hukum. Penyebabnya, aparat itu mendukung pencalonan pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menanggapi hal ini, Joko Widodo menyampaikan, ”Kalau ada bukti, sampaikan saja ke aparat hukum. Jangan grusa-grusu (terburu-buru) menyampaikan sesuatu.” Demikian diungkapkan Jokowi dengan alis mata naik.

Baca di sini : Yang Tersirat dari Wajah Kandidat

Handoko Gani, analis kebohongan lulusan Emotional Intelligence Academy, Manchester, Inggris, menilai kedua pihak sedang menguji argumentasi lawan debat. Pada titik ini, ekspresi nonverbal menjadi faktor penting daripada sekadar kata-kata. Handoko menduga, alis Jokowi yang naik ketika itu terjadi untuk memberi penegasan sebuah pernyataan. Naiknya alis ini, kata Handoko, menjadi ciri khas Jokowi ketika menekankan sesuatu di hadapan publik.

Adegan berikutnya tak kalah seru. Jokowi menanyakan komitmen Prabowo dalam memberantas korupsi, terutama karena sejumlah calon anggota legislatif yang diajukan oleh Gerindra di Pemilu 2019 adalah mantan koruptor.

”Yang saya tahu, caleg itu yang tanda tangan adalah ketua umumnya. Bagaimana Bapak menjelaskan mengenai ini,” kata Jokowi sambil menuding-nudingkan tangan ke arah Prabowo. Seperti diketahui, Prabowo juga menjabat Ketua Umum Gerindra.

Namun, Prabowo mengaku tidak tahu mengenai hal tersebut. ”Baik itu (mata kanan berkedip), mungkin ICW, saya sendiri belum dapat laporan itu (kedua mata berkedip berkali-kali). Dan, itu benar-benar saya kira sangat subyektif, saya tidak (mata kembali berkedip), saya tidak setuju itu (mata berkedip). Saya seleksi (mata kembali berkedip) caleg-caleg itu. Kalau ada bukti silakan laporan ke kami.”

Suara Prabowo lalu meninggi. ”Kalau ada kader Partai Gerindra korupsi, saya akan memasukkan ke penjara sendiri.” Meski waktu masih tersisa, Prabowo menolak memberi penjelasan lebih panjang. ”Cukup. Pokoknya kita antikorupsi!”

Memancing ekspresi

Jokowi kembali memancing ekspresi Prabowo. Dia mengulangi data ICW bahwa ada enam caleg mantan koruptor di Gerindra. Saat Jokowi memiliki waktu menjelaskan, Prabowo meminta kepada Ira Koesno untuk menyela. ”Boleh menjawab?”

Ira merespons, ”Tidak boleh.” Ini karena belum tiba saat Prabowo untuk menanggapi pernyataan Jokowi. Sejurus kemudian Prabowo menari. Tangan dan tubuhnya meliuk seperti penari.

Handoko menyebut, debat sebenarnya adalah ajang pasangan calon memancing reaksi lawan debat melalui pertanyaan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Cara ini dapat mendorong lawan debat menunjukkan ekspresi mikro tanpa sadar. Adapun ketidaksinkronan ekspresi mikro dengan pernyataan seseorang bisa diindikasikan pernyataan itu tidak sesuai fakta.

Mengutip Paul Ekman dalam bukunya, Mendeteksi Kebohongan (Penerbit Baca, 2009), pemalsuan atau penyembunyian informasi yang sebenarnya bisa disempurnakan dengan tindakan. Dengan demikian, seolah-olah informasi yang disampaikan adalah kebenaran.

Mengapa hal ini bisa terjadi, sementara jadwal debat sudah ditentukan Komisi Pemilihan Umum jauh-jauh hari? Tim sukses seharusnya memiliki waktu cukup untuk menyiapkan kandidat tampil semaksimal mungkin.

Secara umum, pada debat pertama, Handoko menangkap ekspresi Jokowi relatif stabil selama di panggung. Selain alis mata yang naik turun, Jokowi juga sempat menuding-nudingkan tangannya ke arah Prabowo. Dua hal ini dapat dianggap sebagai keinginan untuk memberi penegasan pada pernyataan yang disampaikan.

Sementara itu, Prabowo sempat memperlihatkan senyum dengan menarik sudut bibir atau biasa disebut duping delight. Senyum ini dapat diartikan sebagai perasaan menang dengan jawaban-jawabannya.

Senyum duping delight pernah diperlihatkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada 26 Januari 1998 silam saat menyangkal berhubungan seks dengan mantan anggota staf Gedung Putih, Monica Lewinsky, di Washington DC, AS. Penyangkalan ini kemudian terpatahkan. Clinton dan Lewinsky ternyata melakukan hubungan di luar nikah setelah Lewinsky dan sejumlah warga memberikan keterangan di pengadilan. ”Saya telah mengatakan, saya membuat satu kesalahan yang buruk dan ini tidak dapat dipertahankan,” kata Clinton ketika berada di Dublin, Irlandia Utara (Kompas, Sabtu (5/9/1998).

Kebocoran

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menggunakan istilah bocor untuk menyebut sikap yang tidak terkontrol di panggung debat. Kebocoran emosi terlihat dari sikap kandidat yang grogi, gelagapan, atau gerak tubuh aneh yang tidak relevan. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai sikap untuk menutupi kegugupan karena tidak siap diserang lawan debat.

”Kebocoran emosi atau emotional leaks terjadi karena orang tersebut tidak nyaman atau terganggu emosinya,” kata Hamdi.

Melalui panggung debat, dia mengharapkan publik bisa mempertimbangkan pilihannya dengan cermat. Selain rekam jejak dan kapasitas calon, juga perlu menakar bagaimana mereka menanggapi pertanyaan di depan publik.

”Semakin tajam pertanyaan semakin baik, semakin jelas dasar argumen kandidat ketika menjawab, semakin kuat basis datanya, semakin jelas elaborasinya, semakin yakin pemilih bahwa program yang ditawarkan bagus,” lanjutnya.

Baca di sini : Hukum Panggung dan Dugaan Kepalsuan Sikap

Monica Kumalasari, praktisi pemerhati ekspresi mikro, juga menangkap sejumlah ekspresi penting saat debat. Terangkatnya alis mata Jokowi disebut sebagai sikap untuk menegaskan ucapannya. Hal ini sejalan dengan adanya pengulangan kata-kata pada segmen kedua. ”Negara hukum ini, mengapa harus menuduh-nuduh seperti itu,” kata Jokowi saat menanggapi pernyataan Prabowo.

Monica menangkap ada ”sesuatu” pada kedipan mata Prabowo yang lebih sering dari kondisi normal saat Jokowi bertanya tentang caleg koruptor. Menurut dia, kedipan mata orang dalam kondisi normal terjadi setiap empat detik sekali. ”Ada kemungkinan Pak Prabowo tidak percaya dengan penjelasan,” katanya.

Malam itu, debat digelar dalam enam segmen dengan tema hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme. Adapun jalannya acara dipandu Ira Koesno dan Imam Priyono. Ira adalah mantan jurnalis televisi swasta, sedangkan Imam merupakan jurnalis TVRI. Imam Priyono menyampaikan pengalamannya bahwa malam itu tidak ada yang didesain terkait ekspresi nonverbal para kandidat. ”Semua ekspresi muncul begitu saja,” kata Imam.

Masih ada kesempatan untuk menyaksikan ajang debat-debat berikutnya. Semoga Anda menemukan kejujuran di sana.

Strategi Komunikasi Pada Pakaian Jokowi

WhatsApp Image 2018-05-24 at 22.49.09
Screen capture ulasan Strategi Komunikasi Jokowi Berpakaian yang dimuat di Kompas, 6 Mei 2018 di Halaman 2. Capture by me.

Ini adalah salah satu tulisan yang saya sukai. Saya garap bersama teman-teman saya Anita Yossihara dan Nina Susilo. Kelak saya ingin membuat riset mendalam soal ini. Selamat menikmati…(tulisan dibawah ini versi asli sebelum muncul di koran). Versi koran ada di screen capture.

Bukan sekali saja pakaian Presiden Joko Widodo menjadi pembicaraan publik. Dari sarung, sepatu, jaket jins, seragam militer, kaus oblong, hingga jaket Asian Games yang menjadi fenomena terbaru. Bukan tanpa sengaja, Presiden memang ingin menyampaikan pesan simbolik lewat pakaian yang dikenakannya. Lebih mudah diingat, tahan lama, dan minim risiko kesalahan.

Jaket Asian Games ke-18 yang dipakai Presiden pada hari Kamis (3/5/2018) dan Jumat (4/5/2018) lalu misalnya, mencuri perhatian banyak orang. Jaket itu dipakai ketika Presiden menemui 252 siswa berprestasi se-Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Jaket berwarna dasar hitam itu dihiasi motif logo Asian Games 2018 warna-warni. Sementraa bagian lengan jaket bertulisan Indonesia dengan corak logo Asian Games.

Jurnalis yang meliput acara penasaran, lalu menanyakan maksud Presiden mengenakan jaket tersebut. “Supaya bisa menjadi perhelatan besar dan rakyat juga merasa memiliki. Karena itu, semua saya ajak sama-sama mempromosikan bahwa negara kita tahun ini akan ada perhelatan besar Asian Games ke-18,” jawabnya.

Presiden balik bertanya, “Keren, nggak?,” ujarnya sambil berbalik menunjukkan lukisan di bagian belakang jaket yang menggambarkan atlet bermain basket, voli, angkat besi, tinju, dan anggar. Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi yang mendampingi Presiden terkejut. Dia tidak tahu asal muasal jaket itu.

Jas-seragam militer-kembali ke jaket

Pada hari yang sama, Presiden menerima kunjungan kenegaraan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah dan HM Duli Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Pada acara ini, Presiden Jokowi mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih, dasi merah, dan peci hitam. Pakaian senada dipakai tamunya, Sultan Bolkiah.

Saat pertemuan Sultan Bolkiah dilanjutkan di Markas Besar TNI di Cilangkap, Presiden berganti pakaian yaitu seragam militer. Pakaian doreng dengan kabaret hitam itu dipakai menyambut Sultan yang juga mengenakan baju militer. Kedua kepala negara hadir untuk melihat kemampuan prajurit TNI, senjata, dan kendaraan tempur buatan Indonesia. Acara ini bagian dari negosiasi penjualan senjata dan kendaraan tempur Indonesia ke Brunei.

Acara itu dilanjutkan dengan bermain badminton bersama di Gedung Olahraga Ahmad Yani yang berada di area Mabes TNI Cilangkap. Pada kegiatan itu, Presiden kembali mengenakan jaket Asian Games, sebelum main dengan kaus putih. Usai pertandingan, jaket Asian Games itu dipakai lagi. Presiden mengaku bangga dengan jaket yang dikenakannya.

Wajar saja jika jaket itu kembali dikenakan saat memimpin rapat terbatas tentang persiapan Asian Games 2018 di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (4/5) lalu. Jaket itu tidak hanya dikenakan saat memimpin rapat terbatas, tetapi juga saat memimpin ratas membahas peningkatan kerja sama dengan negara-negara kawasan Pasifik Selatan di hari yang sama.

Karya anak negeri

Deputi Protokol Pers dan Media Sektretariat Presiden Bey Mahmudin mengatakan Presiden Jokowi sengaja membeli jaket polos berwarna hitam agar bisa dilukis dengan logo Asian Games. “Jadi Presiden membeli jaket polos, kemudian meminta anak-anak muda untuk melukis di atas jaket,” tuturnya.

Sama seperti jaket jins bergambar peta Indonesia yang dikenakan Jokowi saat touring di Sukabumi, gambar pada jaket Asian Games juga dibuat oleh Muhammas Haudy, pendiri Never Too Lavis, sebuah kelompok pelaku industri kreatif di Tanah Air. Jaket bergambar ilustrasi berbagai cabang olahraga itu memang khusus dibuat untuk memromosikan perhelatan Asian Games 2018 yang dimulai 18 Agustus mendatang.

Presiden Jokowi seakan tak sabar ingin memromosikan Asian Games dengan caranya sendiri. Sebab hingga 100 hari menjelang pembukaan, gaung Asian Games belum begitu terdengar. Kurangnya promosi dan publikasi itulah yang dikeluhkan Jokowi sejak pertengahan April lalu.

Efektif

Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai cara Presiden menyampaikan pesan lewat pakaian itu menarik. Secara psikilogis, ingatan visual masyarakat jauh lebih kuat daripada ingatan verbal. Bentuk visual juga dapat bertahan lebih lama daripada ingatan verbal. Visual, menurut Hamdi, lebih efektif mengggugah perasan sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, satu gambar berbicara ribuan kata.

“Sejauh yang sama amati, pesan visual Presiden berdampak positif. Target pengiriman pesan juga mengenai sasaran, terutama pada anak-anak muda,” kata Hamdi.

Pandangan serupa disampaikan Monica Kumalasari, praktisi pengamat gerak tubuh dan mikroekspresi. Mengutip teori Albert Mehrabian, psikolog Armenia keturunan Iran, yang berpendapat bahwa tanda-tanda visual memegang peranan penting dalam memberikan kesan yang ingin disampaikan seseorang. Penanda visual pengaruhnya lebih besar dari penanda verval dan suara dengan perbandingan 7-38-55 (verbal – voice – visual). Dalam strategi politik, bahasa non verval selain lebih lama diingat, juga memiliki risiko kesalahan kecil.

“Bahasa non verbal lebih aman digunakan dalam konteks komunikasi massa. Walaupun merupakan bahasa persepsi, namun ini lebih mudah dipahami dan berdampak bagi penerima pesan,” kata Monica.
Sementara komunikasi verbal berisiko pada munculnya perdebatan publik jika ada kesalahan dala materi maupun cara penyampaian. Pada dampak yang lebih serius, bahasa verbal bisa berujung pada perkara hukum.

Falsafah Jawa

Menurut Monica, Presiden memahami benar falsafah Jawa yang berbunyi ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono. Artinya, harga diri seseorang dinilai dari perkataannya, begitu pun juga penghormatan pada seseorang dilihat dari pakaian yang dikenakanya. Prinsip-prinsip inilah yang melandasi Presiden adaptif dengan aneka acara yang dihadiri lewat pakaian yang dikenakan.

Jaket bermotif Asian Games 2018 misalnya, itu adalah kritik agar promosi lebih gencar dilakukan. Hal ini senada dengan yang disampaikan Presiden sebelum mengenakan jaket itu. Menyadari dirinya dapat memberi pengaruh (influencer), maka Presiden mengenakan jaket itu.

Sementara seragam militer yang dipakai Presiden saat menerima Sultan Bolkiah dinilai sebagai upaya untuk membangun kedekatan. Caranya adalah membuat kesamaan busana dengan tema acara. Dengan cara ini, terbangun kesamaan di antara kedua kepala negara. Bila ini sudah sudah terbangun, maka negosiasi kerjasama akan lebih mulus dilakukan. Hasilnya, Brunei memastikan memberi senjata dan kendraan tempur buatan Indonesia.

Begitu pun saat Presiden menghadiri pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2018 di Jakarta, (19/4/2018). Presiden saat itu mengenakan jaket jins yang sedang banyak diperbincangkan setelah dipakai sebelumnya di Sukabumi. Baju itu sengaja dipakai untuk menarik perhatian generasi muda dengan cara menanamkan kebanggaan pada kreativitas produk lokal.

Masih segar diingatan pembaca bahwa Presiden pernah mengenakan kaus kuning saat berolahraga bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Bogor (24/3/2018). Presiden ingin menyampaikan, bahwa dirinya dekat dengan Golkar. Lebih dari itu, Presiden ingin mengatakan bahwa dia bagian keluarga besar Golkar, sama seperti warna dasar lambang partai itu. Benarkah demikian ? (NDY/INA/NTA)

Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

 

Tulisan ini saya buat saat meliput pertemuan  High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Selasa (1/5/2018). Hadir di pertemuan ini ulama dan cendekiawan muslim dari dalam dan luar negeri, salah satunya Imam Besar Al Azhar. Terbersit pada pikiran saya, mereka mewakili negara, yang sebagian masih dilanda konflik dan ketegangan. Bukan mereka yang tegang, melainkan posisi negara di mana tempat mereka berada. Sementara di Bogor, mereka disatukan dalam kenikmatan kuliner nusantara. Maka, lahirlah cerita ini…

20180506ndy-menu pembuka konferensi ulama
Menu pembuka di untuk ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5). (Andy Riza Hidayat)

Diplomasi

Indonesia Tak Cukup Dikenalkan Lewat Kata

Berkali-kali makanan Indonesia menjadi menu utama para tamu negara. Peristiwa ini kembali terjadi pada Selasa (1/5/2018) siang, di meja makan sebuah restoran di area Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Menu itu dihadirkan untuk menghormati kedatangan delegasi konferensi wasatiyyat (jalan tengah) Islam bertajuk High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor.

Bagi yang pertama kali datang ke Indonesia, acara makan siang ini begitu berharga. Paling tidak, acara itu dapat menjadi pengantar mengenal negeri yang memiliki keragaman budaya begitu tinggi. Pengalaman mereka ini melengkapi perkenalan Indonesia yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat pembukaan konferensi pada pagi harinya di Istana Bogor, sekitar 1 kilometer dari restoran.

Setelah salat dhuhur berjamaah, para tamu bergerak ke restoran itu dengan menggunakan Kebun Raya Bogor. Mereka melintasi lembah, hutan, dan sungai sebelum akhirnya tiba di restoran yang berada di ketinggian lereng tanah rerumputan. Pada tempat itulah mereka berkenalan dengan tahu goreng isi udang sebagai menu pembuka makan siang. Tahu tersebut tampil agak berbeda dengan isi sayur, garnis acar, dan saus sambel.

Pada menu utama, para tamu menikmati nasi goreng nanas, ayam taliwang, rendang, udang, telur asin, karedok, oseng-oseng, dan aneka macam sate. Di akhir santap siang, peserta konferensi menikmati es cendol, pisang goreng, dan buah potong. Sajian yang cocok kala Bogor diterangi terik matahari.

20180506ndy-suasana lunch konferensi ulama
Suasana makan siang para ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5/2018).(Andy Riza Hidayat)

Menurut Kepala Biro Umum Sekretariat Presiden Darmastuti Nugroho, semua masakan itu disiapkan di tempat. Adapun pilihan menu itu sengaja dipilih masakan Indonesia untuk mengenalkan kuliner nusantara. Memang beberapa makanan itu mewakili daerah yang berbeda, misalnya karedok populer di Jawa Barat, rendang di masyarakat Sumatera Barat, dan ayam taliwang yang dikenal di Nusa Tenggara Barat. Jadi, kata Darmastuti, keragaman budaya itu dapat terlihat dapat dinikmati di meja makan.

Keragaman inilah yang dikenalkan Presiden Jokowi saat membuka konferensi. Di hadapan para tamu Presiden menyatakan, ”Dengan ini rakyat Indonesia ingin perkenalkan diri. Indonesia adalah negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Warga negara kami yang beragama Islam sekitar 210 juta dari total penduduk 260 juta. Ada 714 etnis, ada 1.100 bahasa lokal, dan mereka hidup tersebar di 17.000 pulau. Kami hidup dalam keberagaman suku, berbeda agama, dan beragam budaya.”

Bukti keragaman

Gambaran ini membutuhkan contoh nyata, yang kemudian ditemui tamu undangan kurang dari dua jam kemudian. Begitu tiba di restoran itu, mereka disambut 20 penari Sunda yang berjingkrak-jingkrak sambil diiringi musik calung, angklung, dan degung. Entah apa yang dipikirkan tamu udangan, sebagian melempar senyum melihat atraksi seni itu.

Sebagian yang lain melihat hamparan hutan Kebun Raya Bogor dari restoran. Sebelumnya, di tempat yang sama, Presiden pernah menjamu mantan Presiden AS Barack Obama dalam jamuan makan siang, 30 Juni 2017.

Dari lokasi itu, terlihat sungai jernih yang mengalir. “Ada yang bilang mirip gambaran surga seperti tertulis di Al Quran,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini. Helmy aktif mendampingi para tamu sejak awal acara pembukaan hingga selesai. Lantara merasa nyaman, sebagian tamu menambah menu yang disajikan. Suasana pertemuan pun menjadi cair.

20180506ndy-presiden dan ulama
Presiden Joko Widodo di antara para tamu undangan pertemuan High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatiyyat Islam di Bogor, Jawa Barat. (Andy Riza Hidayat)

Masakan nusantara bukan saja mewakili budaya Indonesia di hadapan tamu asing, melainkan menjadi saksi pertemuan para pihak yang sering dianggap “berseberangan.” Siang itu, Helmy Faishal duduk di meja makan dengan Wakil Presiden Republik Islam Iran Bidang Wanita dan Urusan Keluarga Masoumeh Ebtekar dan ulama dari Arab Saudi. Keduanya tidak lagi membicarakan paham yang barangkali mereka sering berbeda pandanga. Namun siang itu, mereka menghadapi kenikmatan yang sama, masakan nusantara.

“Enak sekali. Es cendolnya banyak yang suka. Tokoh Islam dari Mesir, Italia dan Amerika bertanya, saya jelaskan seperti seorang duta es cendol,” kata Helmy.

Barangkali pandangan Sam Chapple-Sokol, pemerhati kuliner lulusan Tufts University, Amerika Serikat dapat dijadikan rujukan. Dia menyakini bahwa kuliner dapat dipakai sebagai alat diplomasi seperti yang ditulis di situsnya culinarydiplomacy.com. Tidak hanya mengenalkan budaya sebuah bangsa, namun kuliner juga dapat dipakai sebagai sarana untuk mengurangi konflik kekerasan yang terjadi.(Andy Riza Hidayat)

Kendaraan Tempur dan Badminton

Sultan Brunei di Markas TNI
Presiden Joko Widodo (kiri) dan Sultan Brunei Hasanal Bolkiah saat berada di kendaraan tempur TNI di Jakarta. Foto dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden RI.

Kedatangan Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah ke Indonesia membawa dua misi : memastikan pembelian kendaraan tempur dan bermain badminton. Misi itu tergambar pada pertemuan Presiden Joko Widodo dan Sultan Brunei di Istana Bogor, Jawa Barat hingga di Cilangkap, Jakarta, Kamis (3/5/2018). Lalu, mana yang lebih penting, membeli kendaraan tempur atau main badminton ?

Mari merunut cerita dari awal. Presiden Jokowi ternyata sudah mengetahui jika Sultan Bolkiah gemar bermain badminton. Informasi itu diperoleh Presiden setelah mengonfirmasi langsung ke Sultan di berbagai pertemuan. Dalam sehari, kata Presiden, Sultan bisa main badminton tiga kali, sekali main bisa tiga set. Karena itu, Presiden mengundang Sultan untuk main badminton di Indonesia.

Barangkali belum lazim di mata dunia, jika kedua pemimpin negara bertetangga ketemu hanya untuk main badminton. Meskipun hal serupa beberapa kali dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mohamad Najib Razak, saat ke Indonesia dengan tujuan bermain golf, bukan kunjungan kenegaraan.

Walau undangan awal Presiden untuk main badminton, namun kunjungan Sultan Bolkiah ini berstatus kunjungam kenegaraan. Karenanya paket protokoler penyambutan pun dilakukan dengan standar kenegaraan, sejak upacara, dentuman meriam 21 kali, makan siang kenegaraan, hingga membicarakan kerjasama kedua negara.

 

Kamis sore, pertemuan Sultan dan Presiden berlanjut di Mabes TNI, di Cilangkap, Jakarta. Di tengah guyuran hujan, Sultan Bolkiah datang bersama putranya yaitu pangeran Abdul Mateen, dan petinggi kesultanan. Ribuan pasukam TNI sudah siap dengan atraksi seni, beladiri, menjinakkan binatang buas, penanganan aksi teror, hingga aksi melumpuhkan lawan dalam mata tertutup. Presiden dan Sultan yang sama-sama mengenakan seragam militer itu terlihat puas.

Tidak jauh dari lokasi acara, beragam jenis kendraan tempur dipamerkan di sana. Kendaraan tempur buatan PT Pindad itulah yang rencananya dibeli Sultan. Sepaket dengan itu, Sultan juga akan membeli beragam jenis senjata tempur. Wacana pembelian tersebut sudah muncul di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, butuh waktu dan perhitungan macam-macam hingga akhirnya dapat dipastikan (beli). Mungkin salah satunya dengan main badminton.

IMG-20180505-WA0001

Foto BPMI Setpres.

Pertarungan tiga set

Hari semakin petang dan hujan mulai reda. Keduanya melanjutkan perbincangan ke Gedung Olahraga Ahmad Yani di Cilangkap yang disulap menjadi lapangan badminton. Lantai lapangannya baru, begitu pun papan skor digital, dan perangkat pertandingan lain. Pihak protokol acara, menyediakan tenda khusus untuk ruang ganti Sultan dan Pangeran.

Sementara di lapangan sudah terlihat pemain senior Indonesia Alan Budi Kusuma dan isterinya Susi Susanti. bisa ditebak, keduanya akan menemani Sultan dan Pangeran Abdul Mateen bermain badminton. Alan dan Susi bukan orang lain lagi bagi Sultan dan keluarganya. Dua bintang Indonesia itu pernah diundang ke Brunei untuk bermain badminton bersama dengan Sultan dan keluarganya di tahun 1990 an, saat keduanya bersinar terang sebagai bintang badminton Indonesia.

Presiden Jokowi tiba lebih dahulu di dalam lapangan pertandingan. Presiden mulai pemanasan dengan Alan. Kurang dari sepuluh menit, Sultan dan Pangeran masuk lapangan dengan kaus dan celana olahraga yang diduga keras barang mahal untuk ukuran pegawai kantoran Jakarta.

Sultan tak banyak pemanasan, lalu segera dipandu wasit bermain ganda. Kali ini Sultan bermain melawan
Presiden berpasangan dengan Alan, sementara Sultan berpasangan dengan Hendry Syaputra, pelatih bulu tangkis. Pertandingan yang dimulai pukul 17.20 berlangsung seru. Sultan suka sekali bermain di depan net, dia jarang melakukan pukulan panjang. Sedangkan Presiden beberapa kali mencoba melakukan smesh keras.

IMG-20180505-WA0004

Foto BPMI Setpres

Sempat tertinggal 16-20, pasangan Jokowi/Alan mengejar pasangan Sultan/Hendry hingga kedudukan 25-25 saat pukul 17.43. Pada saat itu, Presiden terlihat lelah, dia ingin istirahat di pinggir lapangan. Pada set berikutnya menggantikam Presiden Jokowi, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto Wiranto masuk lapangan.

Sementara Sultan melanjutkan pertandingan dengan pasangan yang sama. Di set kedua, Sultan/Hendry menang 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Di set ketiga, Sultan berganti pasangan yaitu dengan Susi Susanti. Kali ini Sultan/Susi kembali menang dengan skor 21-16 atas pasangan Wiranto/Alan. Susi yang sebelumnya di lapangan sebelah mendampingi Abdul Mateen tetap terlihat trengginas. Sisa-sisa keperkasaan peraih medali emas olimpiade Barcelona 1992 itu terlihat jelas.

Sementara Alan saat ditanya mengapa tidak terlalu ngoyo, ia menjawab, “Saya menyesuaikan permainan Sultan dan Presiden saja,” kata Alan.

Lewat magrib, Presiden dan Sultan sepakat mengakhiri pertandingan badminton itu. Sultan dan Abdul Mateen sempat melambaikan tangan menyapa hadirin yang duduk di tribun penonton. Presiden pun puas, menurutnya pertandingan itu bentuk persahabatannya dengan Sultan. “Persahabatan antar negara tidak selalu dilakukan dalam sebuah forum yang formal saja. Ada yang namanya soft diplomasi,” kata Presiden.

Diplomasi itu bagian dari upaya Indonesia untuk memperlancar penjualan senjata dan kendaran tempur ke Brunei. Proses yang sudah berjalan bertahun-tahun itu baru dapat terealisir dengan acara bertajuk “main badminton.” Tidak kalah berjasa pada diplomasi ini adalah prajurit TNI yang unjuk kebolehan di tengah guyuran hujan. Dan yang boleh disebut, mereka yang telah memulai negosiasi penjualan senjata jauh sebelumnya hingga akhirnya dapat terwujud saat ini.(Andy Riza Hidayat)

Kebiasaan Baru Menteri Kabinet Kerja

Ada kebiasaan baru yang terlihat pada menteri Kabinet Kerja. Kebiasaan ini muncul pada saat mereka mengawali pidatonya di depan Presiden Joko Widodo. Sesuatu yang sebelumnya jarang terlihat, kini sebagian menteri mulai terbiasa meneriakkan yel yel. Inilah ceritanya…

Yel Yel Penyemangat Acara

Banjar Baru, Kompas – Sebulan tetakhir, ada yang baru dalam kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Jika sebelumnya pidato-pidato menteri itu langsung disampaikan, kini tidak lagi Menteri memekikkan yel yel penyemangat. Warga yang menghadiri acara pun ikut tergerak, acara Presiden pun diawali dengan pekik yel yel.

Sejak dilantik sebagai Menteri Pendidikan 27 Juli 2016, tidak pernah terlihat oleh penulis meneriakkan yel-yel di acara resmi. Namun belakangan Muhadjir mulai menggunakan yel. Setelah melakukanya di sejumlah tempat sebelumnya, hari Senin (26/3) ini Muhadjir melakukannya di Lapangan DR Murjani, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Di depan hadirin penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan program sertifikasi guru, Muhadjir mengawali pidato seraya mengatakan kwinginanya untuk membuat acara lebih meriah. “Seperti tadi yang diajarkan Menteri Sosial Idrus Marham, mari kita teriakkan yel yel dulu,” pinta Muhadjir kepada hadirin.

Lalu Muhadjir menuntun hadirin sambil mengatakan, “Siapa kita ?” Hadirin menjawab, “Indonesia !” “Indonesia !” Jawabnya, “Sehat dan Kuat !” “Siapa Presiden Kita ?” Jawabnya, “Haji Jokowi !”
Presiden yang menyaksikan yel-yel iti tersenyum. Begitu pum Idrus Marham yang mengusulkan adamya yel.

Mihadjir juga melakukamnya di Gedung Olah Raga (GOR) Tri Dharma, Gresik, Jawa Timur pada 8 Maret 2018 lalu. Tidak hanya Muhadjir, beberapa menteri lain juga meneriakkan yel-yel serupa. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melakukanya saat Presiden melakukan kunjungan di Tuban, Jawa Timur, 9 Maret 2018.

Saat itu Darmin menyampaikan, “Siapkah kita menyampaikan ucapan selamat datang kepada bapak Presiden?” Hadirin menjawab, “Siap !” “Saya hitung satu, dua, tiga !” Semua yang hadir menjawab, “Selamat datang bapak Presiden dan Ibu Iriana !” Hadirin menyambungnya dengan tepuk tangan.

Kebiasaan baru ini, menurut berbagai sumber berita yang sering mengikuti kegiatan Presiden, diawali oleh Menteri Sosial Idrus Marham di Padang, 8 Februari 2018. Setelah itu, sejumlah menteri mulai melakukan yel yel saat mengawali pidatonya.(NDY)

Haul. ulama besar, yg sanfat sihormati. i8ta lihat kemarin brapa juta yang datang. empat tahun lalu saya pernah ke sekumpul. dan kemudian tadi malam saya ke sini lagi.

Kepala Kantor Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko enggan mengomentari bursa Cawapres yang sedang ramai dibicarakan. Menurut Moeldoko, dia tidak terlalu mengikuti bursa pencalonan itu. “Saya tidak tahu, tidak mikir. Saya masih konsentrasi dengan tugas saya,” kata Moeldoko.