Mengukur Diri

20151231_110818
Saya (pakai kaca mata) saat di pikap terbuka di Kabupaten Nduga, Papua, 31 Desember 2015. Foto oleh Ray Jordan.

Kadang saya merasa, keberadaan orang lain itu berguna untuk mengukur diri sendiri.

Tanpa mereka sesungguhnya saya tidak dapat mengetahui, saya seperti apa. Yang ada hanya anggapan diri sendiri, yang tentunya anggapan itu belum tentu sesuai fakta. Saya lebih senang berbincang panjang lebar dengan beberapa orang saja, daripada ngobrol dengan banyak orang. Dengan cara itu, materi obrolan dapat lebih intensif menggali masing-masing pribadi.

Hari ini, Jumat 20 Februari 2015 contohnya, saya berbincang dengan seorang kawan yang bekerja pada sebuah media cetak di Jakarta. Hanya obrolan ringan selepas menunaikan kewajiban harian. Ternyata menyisakan keinginan untuk terus memperbaiki diri, dan mengarahkan ke mana saya akan berjalan.

“Kelihatannya kamu suka mengamati gerak-gerik orang ya. Saya lihat dari tulisanmu dan cara kamu memandang orang,” kata teman saya.

Perbincangan di kedai kopi di Kota Bogor itu terus berlanjut pada pertanyaan, apa yang akan kamu lakukan setelah ini ? Saya termenung, berpikir sejenak. Tidak mudah menjawabnya. Yang jelas, saya ingin benar-benar mencintai dunia kerja yang saya tekuni saat ini. Saya merasa, belum benar-benar mati-matian untuk menekuninya. Kesana lah saya akan berjalan.

*galau ga bisa tidur karena menenggak dua gelas kopi hari ini.

Depok, 20 Feb 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s